
Lagi-lagi Aurora menghela nafas berat ketika ia bangun tak mendapati Kaka di sampingnya.
Aurora dengan kasar menyibak selimut guna membersihkan diri apalagi hari ini jadwal ia memeriksa keadaan Arsen yang sudah melewati masa kritis nya.
Entah harus menunggu sampai kapan, Aurora tak tahu.
"Apa kau marah padaku karena perkataan itu!"
Gumam Aurora karena yakin Kaka berubah karena perkataannya. Sungguh Aurora tak bermaksud begitu, ia hanya bingung menjawabnya bagaimana. Aurora sendiri bingung harus seperti apa menjawabnya.
Pernikahan seperti apa!
Apa Kaka benar-benar serius dengan ucapannya itu, jika ia berarti Aurora dalam masalah besar.
Aurora bukan tak paham akan setiap maksud ucapan yang Kaka maksud, Aurora paham betul. Namun, Aurora hanya bingung menjelaskannya seperti apa, Aurora hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan memperjelas ya tapi ku mohon pulanglah!"
Monolog Aurora menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Karena tak mau banyak berpikir Aurora segera berangkat guna memeriksa keadaan Arsen. Aurora mencoba fokus dengan semuanya tak mau uring-uringan lagi karena Aurora yakin Kaka pasti akan pulang walau entah kapan.
Para penjaga menunduk hormat ketika Aurora melewati mereka.
Semuanya sudah tahu siapa Aurora sebenarnya membuat semuanya menunduk hormat. Bahkan para dokter yang ada di sana pun menjadi segan.
Di sana Vivi sudah menunggu kedatangan Aurora.
"Ra!"
"Kamu istirahat saja, biar aku yang mengurus Arsen!"
"Hm!"
Vivi percayakan semuanya pada sahabat itu karena yakin Aurora tak akan pernah salah dalam hal apapun.
"Kondisinya semakin baik, kita lihat sampai besok apa Arsen akan sadar atau belum!"
Ucap Aurora sambil melirik jam pergelangan tangannya. Aurora yakin Arsen sebentar lagi akan sadar ia tak pernah salah dalam mendiagnosa.
Sudah selesai mengecek semuanya Aurora langsung memberikan catatannya pada salah satu dokter yang Kaka percaya membantunya.
"Jangan lupa lakukan apa yang sudah saya pelajaran!"
"Baik nyonya!"
Jawab sang dokter langsung undur diri karena tak berani berlama-lama satu ruangan dengan Aurora.
Entah kenapa padahal Aurora tak se-menyeramkan itu mereka hanya segan saja apalagi Aurora istri sang lord.
"Nyonya!"
"Rose!"
Pekik Aurora terkejut melihat keberadaan Rose yang beberapa hari ini tak terlihat entah kemana perginya.
Aurora menatap tajam Rose yang menunduk, Aurora tahu Rose pergi atas perintah Kaka jika itu benar Rose pasti tahu kemana Kaka pergi.
"Dari mana saja kau, kau pasti tahu di mana lord mu! Katakan di mana dia!"
Cecar Aurora membuat Rose menelan ludahnya kasar.
Vivi hanya diam saja menatap Aurora rumit, tak pernah Vivi melihat Aurora semarah ini namun di balik amarah itu ada ketakutan yang entah apa, Vivi tak bisa menebaknya.
"Nyonya!"
__ADS_1
"Katakan Rose!"
Tekan Aurora membuat Rose bingung harus bicara apa. Rose hanya di perintahkan membawa Aurora pada seseorang itu saja.
"Maaf nyonya!"
"Kenapa semua orang bungkam, kemana dia perginya!"
Entah kenapa emosi Aurora tak bisa di kontrol padahal Aurora diri yang sangat penyabar dalam hal apapun.
"Maafkan saya nyonya, saya tak berani!"
"Membual!"
"Dan, untuk apa kau kemari?"
Vivi lagi-lagi di buat tercengang melihat sikap Aurora yang jauh berbeda dari karakter nya. Seperti bukan Aurora sahabatnya tapi Aurora yang lain.
"Lord menyuruh saya membawa nyonya ke bangunan Timur!"
Deg ..
Aurora mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.
Apa Kaka ada di sana kenapa ia tak pulang sebenarnya ada apa di bangunan itu. Karena tak bisa menunggu lagi Aurora menyuruh Rose langsung mengantarnya.
Vivi hanya diam saja melihat punggung Aurora yang menghilang di balik pintu dengan tatapan rumit.
Sungguh Vivi baru melihat sisi lain Aurora yang tak pernah ia tahu.
"Apa kau benar-benar jatuh cinta pada suami mu!"
Gumam Vivi yakin jika Aurora mempunyai perasaan pada suaminya walau Vivi tahun Aurora masih kebingungan akan hal itu.
"Kau sedang jatuh cinta, Ra!"
Monolog Vivi tersenyum tipis sangat bahagia jika sahabatnya sudah menemukan tambatan hati.
Terkadang Vivi merasa kasihan melihat Aurora yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan pekerjaan tanpa mempedulikan dirinya sendiri.
"Semoga kau bahagia, Ra! Aku akan ikut bahagia jika kau bahagia dengan siapapun pilihan mu!"
Monolog Vivi lagi ikut bahagia jika Aurora benar-benar jatuh cinta pada orang yang tepat. Vivi berharap suami Aurora orang yang tepat untuk menjaga Aurora.
.
Rose terus membawa Aurora pada wilayah bangunan Timur entah kenapa sang lord menyuruhnya membawa Aurora ke sana sedang di sana ruang penelitian sang lord sendiri.
Ruang di mana Kaka menciptakan obat-obatan untuk berbagai jenis penyakit dari tanaman yang di pelihara sendiri. Dan juga juga sebuah penelitian-penelitian lainnya yang nanti Aurora tahu.
Rose menempel kan sebuah kartu akses hingga pintu baja itu terbuka.
"Silahkan nyonya!"
Sopan Rose membuat Aurora langsung masuk kedalam bangunan itu.
Deg ...
Langkah Aurora terhenti melihat sebuah lab yang begitu besar dengan berbagai jenis tumbuhan ada di sana. Begitu banyak orang di sana sedang mengerjakan pekerjaan nya.
Sungguh ini sebuah lab impian Aurora yang ingin menciptakan itu karena Aurora tahu apa yang sedang orang-orang sana lakukan.
"Ini!"
"Mari nyonya!"
__ADS_1
Rose membawa Aurora pada ruangan khusus membuat Aurora melanjutkan langkahnya dengan rasa kagum yang tiada henti.
Sungguh Aurora ingin bekerja di tempat ini membuat Aurora mengingatkan pada seseorang.
"Di mana lord mu?"
"Masuklah nyonya!"
Ucap Rose tak benari menjawab ia hanya mempersilahkan Aurora masuk setelah Rose menyuruh Aurora mengganti pakaian nya dulu dengan pakaian khusus.
Aurora masuk di mana di sambut dengan berbagai tanaman yang berada di dalam tabung. Sungguh sangat indah sekali namun Aurora memfokuskan dirinya mencari Kaka.
"Kaka!"
Panggil Aurora tak sabaran terus menerobos masuk. Ruangan ini begitu luas dengan berbagai tabung berjajar rapi membuat Aurora hati-hati takut menyenggol.
"Kaka!"
Sekali lagi Aurora memanggil namun tak ada jawaban membuat Aurora prustasi.
"Kaka kau di mana hiks,,"
"Lord tak ada!"
Deg ...
Seketika tubuh Aurora terdiam kaku melihat siapa yang ada di depan sana.
Aurora tak tak menyangka ada!
Sungguh Aurora tak bisa berkata apa-apa lagi selain bungkam. Aurora tak menyangka jika mereka akan di pertemukan di sini.
Laki-laki paru baya berjalan mendekat dengan senyum yang mengembang di bibirnya melihat Aurora yang terdiam.
"Bagaimana kabar mu, dok!!"
"Oh! Tidak .. Tidak .. Nyonya!"
Ucap lembut profesor Tuner membuat Aurora kehabisan kata-kata.
"Pro-prof!"
Gagap Aurora tak menyangka dengan mata yang terus berkedip tiada henti.
Aurora seolah tak menyangka jika yang berada di hadapannya adalah profesor Tuner. Seorang profesor yang begitu ia idolakan bahkan ia ingin banyak belajar darinya.
"Ba-bagaimana mungkin!"
Gumam Aurora pelan seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bagaimana bisa profesor Tuner berada di sini dan sejak kapan! Apa hubungan mereka.
Berbagai pertanyaan terus berputar di otak cerdas Aurora.
"Saya dengar kamu ingin bertemu dengan saya!"
Ucap profesor Tuner lembut tak seperti biasanya ketus membuat Aurora benar-benar tak menyangka.
"Bagaimana bisa prof--"
"Ini dunia saya, dan di sini tempat saya!"
Duarr ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1