
Aurora nampak bahagia ketika melihat sahabatnya sudah datang bersama Edward.
"Ra!"
Vivi langsung memeluk sahabatnya ini, sungguh Vivi sangat merindukan Aurora.
Ketika Edward memberitahunya jika ia harus terbang ke London atas perintah Aurora, Vivi sangat bahagia sekali walau ia juga bertanya-tanya Aurora tak akan memanggil ia jika tak butuh sesuatu.
"Bagaimana kabar kamu?"
"Aku baik bahkan sangat baik. Gimana Arsen apa ia sudah sadar?"
"Sudah, namun masih dalam tahap pemulihan!"
"Syukurlah!"
Ucap Aurora lega karena Arsen baik-baik saja.
Mereka berdua hanyut dalam obrolan ringan kadang kala tertawa dan entah apa yang mereka bicarakan.
Edward jangan di tanya, entah kemana perginya yang jelas ia sedang menyiapkan semuanya.
"Ku lihat, seperti nya kamu benar-benar bahagia?"
Aurora terdiam mendengarnya karena yang di katakan Vivi memang benar. Ia benar-benar bahagia hidup bersama Kaka.
"Ya, aku sangat bahagia!"
Girang Aurora membuat Vivi ikut bahagia sahabatnya ini sudah menemukan pawangnya.
Entah bagaimana nasib Karl Vivi tak tahu mungkin Karl hancur mengetahui kebenarannya.
Tapi, apa boleh buat jalan takdir memang seperti ini.
"Bagaimana pembelajaran kamu dengan profesor Tuner?"
"Pusing Ra, aku tak secerdas kamu!"
Kesal Vivi mengerucutkan bibirnya membuat Aurora tersenyum.
"Kau pasti bisa, kamu hanya perlu fokus!"
"Iya, tapi tetap saja susah bahkan prof marah-marah Mulu!"
Adu Vivi mengingat ia belajar banyak dari profesor Tuner setelah kepergian Aurora.
Aurora hanya bisa menggelengkan kepala saja karena Vivi pasti seperti ini. Walau begini tapi anehnya Vivi akan paham atau ingat suatu hari nanti ketika belajarnya saja ia pusing.
"Ngomong-ngomong suami Jendral mu belum pulang?"
Deg ...
Aurora terhenyak mendengarnya kenapa Aurora baru sadar jika sang suami belum pulang. Terlalu asik mengobrol membuat Aurora sedikit lupa jika suaminya belum pulang.
"Tunggu sebentar aku ambil ponsel!"
Izin Aurora karena ponsel ia ketinggalan di kamar.
Dengan cepat Aurora masuk kedalam kamar mencari dimana tadi ia meletakan ponselnya.
"Itu dia!"
Gumam Aurora melihat ponselnya ternyata sedang di chas.
Aurora membulatkan kedua matanya melihat ada beberapa panggilan masuk dari sang suami.
"By, maafin Rora!"
__ADS_1
Gumam Aurora takut sang suami marah di sana juga terdapat beberapa pesan.
Sayang maaf, ada sedikit urusan kemungkinan hubby pulang besok malam!
Jangan menunggu ya, langsung tidur saja!
Love you😘
Aurora tersenyum melihat pesan terakhir sang suami. Aurora pikir sang suami sedang marah hingga belum pulang nyatanya ada urusan.
Tapi kenapa tak ada yang memberitahunya, urusan apa sampai membuat Kaka harus tak pulang apa mendesak begitu.
Ada rasa cemas di hati Aurora kenapa tiba-tiba begini. Aurora berharap Kaka benar-benar ada urusan bukan menghindari dirinya.
Bukankah insting seorang istri selalu kuat akan sesuatu yang terjadi. Namun, Aurora berusaha menepisnya mungkin Kaka benar-benar sibuk bukan menghindarinya tapi entah kenapa Aurora merasa takut.
"By, semoga kau tak bohong!"
Gumam Aurora lemas apalagi malam ini ia harus tidur sendiri.
"Rora harap hubby baik-baik saja!"
Gumam Aurora lagi memutuskan kembali karena tak mungkin meninggalkan Vivi terlalu lama.
"Maaf aku terlalu lama meninggalkan mu?"
Sesal Aurora membuat Vivi tersenyum hangat.
"Tak apa!"
Jawab Vivi melihat gelagat aneh dari Aurora seperti ada sesuatu yang membuat hatinya sedih.
"Ngomong-ngomong di mana Edward?"
Tanya Aurora membuat Vivi langsung mencebikkan bibirnya malas mendengar nama satu itu.
Tegas Aurora membuat Vivi menghela nafas berat .
"Aku tak tahu mungkin nyasar!"
Aurora menautkan kedua alisnya dengan mata memicing melihat kekesalan di raut wajah Vivi entah apa yang terjadi seperti nya Aurora telah melewatkan sesuatu.
"Ada apa?"
"Gak ada, emang kenapa?"
"Kalian bertengkar!"
"Gak!"
Jawab ketus Vivi berani membuat Aurora sudah bisa menebak jika hubungan mereka tak baik.
"Kenapa?"
"Ah ..., dia laki-laki ngeselin sedunia!"
"Kau tahu Ra, dia itu terlalu kaku, dingin, menyeramkan dan lebih parah jika bicara nyakitin banget bahkan aku belum pernah melihat senyumannya yang lebih menyeramkan lagi dia itu kejam bahkan beberapa orang pingsan gara-gara dia!"
Cerocos Vivi tak sadar jika ia mengeluhkan kekesalannya pada Aurora.
Aurora hanya bisa menahan senyum melihat kilatan kekesalan di mata sahabatnya. Tak pernah Aurora melihat Vivi se-jengkel ini pada orang lain.
"Terus orangnya sekarang ke mana?"
Pancing Aurora karena Aurora yakin Vivi pasti tahu. Tak mungkin Vivi tiba-tiba kesal seperti ini jika tak ada sebab.
"Gak tahu, dia itu seperti hantu yang muncul dan menghilang tiba-tiba!"
__ADS_1
"Terus!"
"Dia cuma pesan jagain kamu dan jangan buat kamu kelelahan, apa coba emang aku ngajak kamu main kejar-kejaran!"
Geram Vivi masih kesal dengan perintah Edward yang tak masuk akal.
Aurora hanya bisa tertawa mendengar ocehan Vivi. Jarang sekali Aurora melihat Vivi seperti ini dan jika muncul, Vivi begitu menggemaskan.
Emosinya yang meluap-luap dengan ekspresi pas di wajahnya membuat Vivi terlihat imut dengan ocehan mulutnya yang tak henti.
"Ra!"
Rengek Vivi karena Aurora malah menertawakannya.
"Ya .. Ya .. Maaf he .. he..,"
Kikik Aurora membuat Vivi mengerucutkan bibirnya jengkel.
Aurora menghentikan tawanya mengingat sang suami. Pasti itu perintah dari Kaka, entah pekerjaan apa yang membuat sang suami tak bisa pulang.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Besok aku akan mengajak kamu berkeliling bangunan ini!"
"Ra, aku di suruh menjaga kamu, kau malah menyuruhku istirahat bisa-bisa kepalaku di penggal sama si Hantu!"
Ha .. Ha ..
Tawa Aurora kembali pecah mendengar Vivi mengatai Edward si Hantu. Sungguh julukan yang sangat menggelikan.
"Ya sudah, aku akan tidur bersama kamu jadi kau tak perlu menjaga aku!"
Putus Aurora menarik Vivi menuju kamar tamu.
Vivi pasti butuh istirahat mengingat perjalanan yang cukup jauh, tak mungkin juga Aurora membiarkan sahabatnya menjaga dia.
Woww ...
Pekik Vivi berdecak kagum melihat kamar yang begitu luas. Ini di sebut kamar tamu bak kamar utama saja, entah seberapa kaya suami Aurora itu hingga mempunyai bangunan dan alat-alat canggih.
Bahkan luasnya kamar ini mungkin seluas apartemen Vivi dulu.
"Pantas saja sahabat ku jatuh cinta, suami reel sultan!"
"Kau ini!"
"Ah, nyaman nya, Ra!"
Girang Vivi mengguling-gulingkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kau ini, sudah sana ganti baju dulu kita tidur!"
Cetus Aurora menarik Vivi karena memang Aurora sudah sangat ngantuk.
Dengan terpaksa Vivi menurut mencuci muka, gosok gigi lalu mengganti pakaiannya.
Sudah selesai dengan semuanya Vivi menyusul Aurora. Vivi tersenyum melihat Aurora sudah tertidur.
"Kangennya!"
Gumam Vivi memeluk Aurora erat mengulang momen mereka dulu zaman kuliah.
"Sesak, Vi!"
Gumam Aurora pelan mencoba melepaskan diri namun Vivi tak mau membuat Aurora pasrah saja karena matanya sudah tak bisa di kontrol.
Mereka berdua sudah terlelap saling peluk bak adik kakak yang cukup akur. Itulah yang dulu mereka lakukan ketika Vivi main ke apartemen Aurora mereka sudah biasa tidur bareng.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...