
Hari-hari Edward lewati dengan semangat menuruti setiap permintaan bumil. Walau terkadang Vivi menginginkan hal yang aneh-aneh.
Menurut Edward itu makanan aneh karena ia belum pernah memakannya seumur hidup Tapi bagi Vivi itu hal biasa karena ia sering memakannya ketika Aurora pulang ke Indonesia.
Walau begitu Edward tetap mencarikannya demi istri dan buah hatinya. Apapun yang Vivi inginkan Edward akan menurutinya.
Hal nya sekarang di mana Vivi ingin memakan buah jambu air dan sialnya Edward harus memanjatnya langsung. Vivi ingin memakannya tepat di bawah pohonnya.
Walau malu, baru kali ini Edward meminta sesuatu pada orang lain seumur-umur. Padahal bisa saja Edward memborong ya di pasar namun sang istri pengen yang ada di pohonnya langsung.
Untung saja yang punya mengerti dan mengizinkan walau Edward harus menjadi tontonan para ibu-ibu dan anak muda karena baru kali ini mereka melihat bule manjat pohon.
Jika Edward sedang menahan malu berbeda dengan Vivi yang malah asik makan dengan istri sang pemilih buah jambu dengan lahapnya seolah itu tidaklah masam.
Edward berkali-kali menelan slavina nya melihat sang istri yang begitu lahap, padahal Edward bergidik ngeri tak tahu gimana rasanya jika di campur bumbu aneh itu.
"Ed, cobain?"
Tawar Vivi sambil mengunyah jambu tersebut.
"No, cinta melihatnya saja sudah merinding!"
"Ini enak my heart, asam-asam manis gitu, iya kan Bu!"
"Benar, rasanya sangat nikmat apalagi di bawah trik matahari begini!"
Timpal istri sang pemilik buah membuat Vivi semakin semangat. Edward hanya diam saja menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istri nya.
Lama Vivi menikmati rujak jambunya sambil main juga pada akhirnya mereka memutuskan pulang.
Edward sudah tak tahan apalagi sendari tadi tangannya terus di tarik sana sini oleh para ibu-ibu dan anak muda yang memintanya ber-poto.
Bahkan wajah Edward sudah memerah karena kepanasan namun sang istri malah asik tak peduli.
"Cinta besok-besok mintanya jangan yang aneh-aneh lagi ya?"
"Kamu keberatan, Ed?"
"Bukan cinta, apapun yang kamu inginkan aku pasti mengabulkannya. Tapi kamu tahu aku kurang suka jika harus terlalu dekat dengan orang asing!"
Keluh Edward cemberut bercampur kesal karena Vivi tak mengerti bahkan tak ada rasa cemburu sama sekali ketika ia di kerumuni anak muda.
Vivi tersenyum geli mendengar keluhan sang suami. Sebenarnya Vivi cemburu ketika suaminya di kerumuni tapi melihat Edward yang tersiksa membuat Vivi percaya dan tak takut.
"Ya, besok-besok jangan gitu lagi?"
"Aku tak janji Ed, ini maunya baby!"
Elak Vivi membawa-bawa calon anaknya.
Tiba-tiba Edward menghentikan mobilnya membuat Vivi heran.
Edward berbalik memegang perut sang istri.
"Baby tolong Daddy ya, jangan minta yang aneh-aneh lagi sama mommy. Daddy tak suka deket-deket orang, mintanya yang gampang ya jangan buat Daddy tersiksa. Tolong bilangin mommy ya, kamu sayang kan sama Daddy!"
Adu Edward mengelus perut datar Vivi, Vivi hanya diam saja menahan tawa mendengar setiap kalimat yang sang suami ucapkan sungguh menggelikan.
"Spaghetti, sandwich, omelet atau apa lah, yang bisa Daddy buat di rumah. Janji ya, kamu harus dukung Daddy!"
Ha .. Ha ...
Vivi sudah tak bisa lagi menahan tawanya yang pada akhirnya tawa Vivi langsung meledak. Sungguh Vivi sangat geli mendengar kalimat-kalimat absurd yang Edward ucapkan.
__ADS_1
Edward cemberut melihat istrinya malah menertawakan dia.
Istrinya benar-benar membuatnya kesal hari ini. Seperti nya Edward harus segera kembali ke Jerman agar istri nya tak minta yang aneh-aneh lagi. Apalagi mereka sudah lama tinggal di Indonesia saatnya mereka kembali.
Vivi sungguh geli melihat sisi lain dari pada Edward. Rasanya aneh dan menggemaskan, jarang-jarang Vivi melihat Edward begini.
"Lihatlah baby, Daddy sangat lucu bukan he .. He .."
Kikik Vivi memegang perutnya menatap Edward gemas.
Edward memalingkan wajahnya kesal dengan apa yang sang istri katakan.
"Ed, cup .. Cup ..."
Vivi membalikan wajah sang suami sambil menghujaninya sebuah kecupan agar Edward merasa tenang.
"Sudah Daddy jangan marah ya, mommy tak akan mengulangi lagi!"
"Mommy janji, iya kan baby!"
"Beneran?"
"Iya, Daddy lucu deh kalau begini he ..."
Edward mendengus kesal melihat sang istri yang terus menggoda dan menertawakannya.
Emmzz ...
Vivi menahan tawanya ketika Edward tiba-tiba membungkam bibirnya rakus.
Saking rakusnya bahkan Vivi sulit mengimbanginya.
"Kau nakal cinta!"
Vivi mengatur nafasnya karena perbuatan Edward tadi yang tak merasa bersalah. Kini bagian Vivi yang cemberut menatap Edward kesal.
Sampai di villa Edward menggendong sang istri masuk. Tiba-tiba kembali mencium sang istri. Kali ini ciumannya nampak lembut membuat Vivi yang awalnya terkejut menjadi tenang bahkan menerima setiap apa yang Edward perbuat.
Bukannya menidurkan Vivi di atas ranjang Edward malah membawa Vivi menuju kamar mandi.
Edward berniat mandi bersama karena mereka harus mandi.
Tak ada hal lebih yang Edward lakukan, mereka benar-benar mandi saling membasuh sambil berendam di dalam bathub.
"Kamu nampak berisi cinta,"
"Oh ya!"
"Heem, seperti begitu!"
"Apa kamu tak masalah?"
"Tidak, itu wajar bagi perubahan bumil. Malahan kamu terlihat semakin seksi!"
"Benarkah!"
"Iya, apalagi bagian ini!"
Plak ...
"Jangan coba-coba Ed, katanya cuma mandi!"
Ucap Vivi mengingatkan, menahan tangan sang suami.
__ADS_1
"Sedikit cinta, tak masalah bukan. Aku ingin menengok baby?"
"No, kita harus segera menyelesaikan mandi!"
"Ini masih ada waktu cinta, boleh lah!"
Rengek Edward memelas dengan mata berkaca-kaca bak anak kucing.
Ingin sekali Vivi menjitak kepala suaminya dan juga gemas. Sejak kapan Edward suka merajuk seperti ini, seolah ini bukan sosok Edward sebenarnya.
"Tapi tak di sini!"
"Benarkah?"
"Ya, tapi jangan lebih?"
"Aku tak menjamin cinta!"
Edward menggendong sang istri keluar kamar setelah membilas tubuh mereka.
Seperti nya Edward sudah tergila-gila dengan istrinya sendiri.
Apalagi di kehamilannya Vivi nampak seksi di mata Edward bahkan tak sekali pun Edward berpaling. Ingin rasanya Edward terus mengurung sang istri di bawah kungkungan ya tapi tak bisa karena Vivi pasti akan marah.
"Pelan-pelan Ed, nanti baby kesakitan?"
"Siap!"
"Tunggu Ed!"
"Kenapa Hm?"
"Berarti jatahnya sekarang, nanti malam tidak!"
"Iya, tapi tak janji!"
"Ed, jangan curang!"
"Cinta, jangan bicara dulu kapan aku masuknya!"
Kesal Edward karena sendari tadi Vivi terus mengulur waktu dengan mengajak ia bicara. Padahal Edward sudah semangat tadi, tapi Vivi terus saja membuyar kan konsentrasi nya.
"Janji dulu?"
"Iya!"
"Jangan bohon-- eemmz,,,"
Vivi tak bisa lagi protes ketika Edward membungkam bibirnya. Sungguh Edward sangat kesal dan satu-satunya cara hanya dengan membungkam bibir cerewet sang istri yang membuat telinga dan kepalanya pusing.
Di sekian drama yang mereka buat pada akhirnya Edward bisa menuntaskan keinginannya.
Sore yang indah mereka lewatkan dengan berbagai kasih dan cinta walau Edward harus membuat sang istri diam.
Sungguh istrinya benar-benar menguji kesabaran dia dari pagi. Dan kekesalan itu sudah hilang ketika ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Edward tersenyum puas bahkan sangat puas apalagi istrinya memberikan servis yang sangat baik.
Edward pikir Vivi akan membiarkannya bekerja sendiri tapi nyatanya Vivi ikut adil karena Vivi juga menginginkan Edward. Hanya saja malu-malu, entahlah hari ini Vivi benar-benar menjengkelkan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1