Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 144 K: PC 2 (Masih sakit)


__ADS_3

Senyuman indah terukir di bibir Edward sepanjang jalan bahkan tangannya tak lepas menggenggam tangan sang istri dengan tangan satu lagi memegang stir.


Edward benar-benar bahagia sangat bahagia sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


Ya, Vivi ternyata sedang hamil ketika tadi ia membawa Vivi kerumah sakit untuk periksa. Awalnya Vivi terkejut karena Edward tiba-tiba membawa ia ke dokter kandungan namun kabar yang tak terduga ternyata mereka dapatkan.


Vivi di nyatakan hamil dan usia kandungannya baru menginjak lima minggu.


Melihat tingkah aneh Vivi yang menginginkan Edward memakai baju cewe membuat Edward curiga hingga ia ingin memastikan dan ternyata tebakannya benar jika Vivi bersikap aneh karena hormon kehamilan nya.


"Ed?"


"Apa cinta!"


"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku hamil?"


Vivi masih tak percaya jika Edward menyadari ia mengandung sedang Vivi sendiri ia tak menyadari hal itu.


"Mengamati perubahan seseorang itu keahlian ku cinta, dan aku sadar dengan sikap kamu yang berubah-ubah membuat aku langsung mencari tahu ternyata benar!"


"Akhirnya aku akan menjadi ayah!"


Kebahagiaan tak bisa Edward sembunyikan lagi bahkan Vivi tahu itu.


Jika Edward menunjukan kebahagiaan sendari tadi berbeda dengan Vivi yang entah harus bagaimana meluapkan ekspresi nya.


Vivi tak tahu ia hanya diam sesekali tersenyum membalas senyuman Edward.


Rona bahagia itu tak bisa Edward sembunyikan, itu nyata dan sangat nyata apalagi memang Edward menginginkan hal itu.


"Cita aku tak sabar menjadi ayah, menggendong dia, mengajaknya main dan jalan-jalan rasanya aku tak sabar menunggu momen itu!"


Girang Edward mencium punggung tangan sang istri yang tak merespon apa-apa.


Edward menyadari akan hal itu, Edward mengerutkan kening menatap sang istri aneh.


Apa Vivi tak bahagia dengan kehamilannya, atau apa.


"Kenapa berhenti, Ed?"


Tanya Vivi karena terkejut Edward tiba-tiba menghentikan mobilnya.


Edward berbalik memegang kedua tangan Vivi, menatapnya intens.


" Kenapa?"


"Katakan apa kamu bahagia dengan kabar ini?"


"Ak-aku--"

__ADS_1


Bingung Vivi harus menjawab apa, bahkan Vivi menundukkan kepala takut melihat tatapan Edward yang mulai berubah.


Edward melepaskan lengan Vivi kecewa, jadi sendari tadi hanya dia yang bahagia hanya dia yang menginginkan anak.


Kenapa sangat menyakitkan, Edward diam dengan tatapan kosongnya.


Mereka sama-sama diam tak tahu harus mengungkapkan apa lagi.


Vivi meremas jemarinya terkejut dengan reaksi Edward. Vivi ingin mengungkapkan rasanya namun sanga sulit, Vivi tak seperti Edward yang mudah mengekspresikan segala hal.


Mungkin Vivi terlihat hangat namun untuk mengekpresikan segala hal Vivi sangat sulit berbeda dengan Edward yang terlihat kaku dan dingin namun ketika mengungkapkan rasa ia akan merubah hangat.


"Ed?"


Panggil Vivi pelan meraih tangan Edward namun Edward menghindarinya membuat hati Vivi mencelos.


Vivi tak bermaksud membuat Edward sedih tapi Vivi susah.


"Jika tak bahagia pada akhirnya kenapa memberiku harapan!"


Deg ..


Vivi menggelengkan kepala tak terima, ia bukan begitu.


Huh ..


Berkali-kali Vivi menghela nafas berat sungguh kenapa sangat sulit.


Vivi menangkup wajah Edward membalikkannya agar menghadap padanya.


"Tatap mata ku, Ed?"


Edward memalingkan wajah namun Vivi terus menahannya.


"Bu-bukan tak bahagia, ak-aku cuma sulit mengekspresikan nya. Percaya padaku, ak-aku sangat bahagia sungguh, aku sangat bahagia maaf jika sikapku membuat kamu terluka. Di sini, di sini aku bahagia sama seperti kamu bahkan lebih, kamu harus tahu itu!"


Vivi mencoba menjelaskan jika ia memang sangat bahagia benar-benar bahagia. Vivi hanya masih shok saja dengan berita bahagia ini, Vivi tak menyangka jika ia akan secepat ini hamil mengingat beberapa waktu lalu ia keguguran. Bahkan ia tak tahu kehadiran buah hati sendiri dan di saat sekarang Edward yang menyadari duluan membuat Vivi merasa sedih. Ia ibunya kenapa bisa tak menyadari akan hal besar itu sedang Edward menyadarinya itulah yang membuat Vivi sulit mengekspresikan kebahagiaan karena tertutup kesedihan.


Vivi takut ia tak bisa menjadi ibu yang baik, ia hanya takut akan segala hal yang sulit di ungkapkan.


Cup ... cup ...


Vivi mengecup seluruh wajah Edward dengan air mata yang mengalir tiba-tiba. Sungguh ia sangat bahagia, bahkan lebih dengan yang Edward rasakan.


"Ak-aku sangat bahagia my heart, sangat aku hanya bingung hiks ..."


Edward mengecup bibir sang istri lalu memeluknya erat. Mereka sama-sama menangis meluapkan segala rasa.


"Terimakasih cinta terimakasih!"

__ADS_1


Emosi mereka mereda bahkan tenang dengan apa yang mereka ungkapkan.


Edward menghapus lelehan bening yang membasahi kedua sisi wajah Vivi.


"Sudah jangan menangis, maaf!"


"Ak-aku iri!"


Jujur Vivi pada akhirnya, ia hanya iri dan kecewa kenapa harus Edward yang menyadari kehadiran buah hatinya kenapa bukan ia .


"Iri?"


Tanya Edward memastikan akan ucapan sang istri dengan kebingungannya, apa yang di iri-kan dan pada siapa.


"Iri, kenapa harus kamu yang terlebih dahulu menyadari akan kehadiran baby sedang aku. Aku kecewa pada diriku sendiri, aku seorang dokter tapi tak tahu akan hal sebesar ini. Ak-aku takut tak bisa jadi ibu yang baik, Ed!"


Edward terkejut akan kejujuran sang istri bagaimana bisa Vivi berpikir seperti itu. Edward sungguh tak menyangka jika sang istri berpikiran seperti itu. Sekarang Edward paham apa yang di rasakan sang istri.


"Bahkan aku tak tahu kehadiran baby kita yang pertama dan sekar--"


Vivi tak bisa melanjutkan ocehannya lagi ketika Edward membungkam bibirnya. Sungguh emosi Vivi meluap tanpa di sadari bahkan mengingat akan hal itu membuat Vivi teringat bagaimana keadaan om nya dan apa yang terjadi setelahnya karena Vivi tak tahu apa-apa, ia hanya kecewa, sakit dan benci.


"Cinta, aku tahu apa yang kamu rasakan, aku tahu. Maaf aku egois!"


Cetus Edward semakin paham dengan apa yang di rasakan Vivi, Edward tak menyangka jika sang istri masih memikirkan om nya. Ternyata Edward masih belum bisa menghilangkan kesedihan sang istri bahkan sekarang kehamilannya mengingatkan Vivi pada kehamilan pertama dan itu memicu ingatan kesakitan itu.


"Maafkan aku cinta, maaf!"


"Tidak Ed, aku tak pernah menyalahkan kamu atas semua yang menimpa ku, walau awalnya begitu. Aku sudah tak apa, maafkan aku membuat mu merasa bersalah!"


Mereka kembali saling berpelukan menumpahkan segala rasa yang ada.


"Aku janji akan menjaga baby, dia tak akan pergi lagi!"


"Terimakasih cinta, dan aku akan menjaga kalian!"


Mereka saling menghapus air mata dengan senyum yang mengembang di bibir masing-masing.


Edward menjalankan mobilnya kembali agar cepat sampai ke kastil.


Seperti nya Edward harus merayakan akan kehamilan istri. Edward yakin tuan pertama pasti bahagia dia akan menjadi kakek lagi.


"Ed?"


"Apa cinta!"


"Seperti nya aku ingin makan mangga muda!"


"Hah!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2