Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 101 Ekstra part ( Dokter Emma dan Hanz)


__ADS_3

Suara tangisan memecah keheningan ruang dokter Emma.


Sungguh dokter Emma sangat benci ia yang lemah. Kenapa ia harus terjatuh di lobang yang sama sungguh ini sangatlah menyakitkan.


Masih teringat jelas di ingatan dokter Emma di mana ia dan semua keluarga harus menahan malu karena Hanz tak datang tepat di hari pernikahannya.


Bahkan dari kekacauan itu sang mommy harus pergi untuk selama-lamanya karena rasa malu dan juga cemooh semua orang hingga membuat penyakit jantungnya kambuh.


Pergi tanpa meninggalkan sebuah pesan menelantarkan dirinya yang bahkan masih bodoh menunggu seharian berharap Hanz akan datang.


Dan kini mereka harus di pertemukan kembali tiga tahun lalu di mana dokter Emma ikut dengan sang Daddy pergi ke kediaman Aldarberto.


Itu kali pertemuan mereka dan di sana pula dokter Emma mengetahui pakta yang membuat hatinya semakin terluka.


Pakta bahwa Hanz seorang anggota pasukan khusus. Selama mereka pacaran dulu dokter Emma tak tahu yang dokter Emma tahu Hanz adalah seorang pengusaha muda.


Entah banyak kebohongan apa lagi yang Hanz sembunyikan membuat dokter Emma menekan kebencian namun setiap kali melihat terluka kenapa rasa itu masih sama.


Kenapa?


Dokter Emma terus menangis sambil mencengkram dadanya kuat dengan kedua tangannya.


Hanz berjongkok tepat di hadapan dokter Emma yang terus menangis bak anak kecil.


Sendari awal memang salahnya karena ia harus menolehkan luka pada sang kekasih.


Masihkan luka itu bisa di sembuhkan, masihkan hubungan itu bisa di perbaiki!


Atau mereka hanya bisa saling menyakiti!


Hanz menangkup wajah dokter Emma yang sudah basah oleh air mata yang tak henti.


"Maaf, jika kata maaf ini terlambat!"


"Aku tahu, aku tak bisa membalikan semua keadaan dan tak bisa menyembuhkan luka hati mu!"


"Ke-kenapa?"


Bugh ...


"Kau brengsek, bajingan aku membenci mu hiks,,,"


Dokter Emma meninju Hanz membabi buta membuat Hanz hanya bisa diam menerima semuanya walau ia harus mengorbankan wajah tampannya.


"Pembunuh, brengsek! Aku benci benci sangat benci!!!"


Pukulan demi pukulan terus dokter Emma layangkan tentu tinjuan itu sangatlah kuat karena dokter Emma pun jago bela diri.


Tubuh Hanz sudah terlentang tak berdaya dengan dokter Emma berada di atas perutnya yang terus memukul wajah Hanz.


Darah segar keluar dari hidung dan bibir Hanz bahkan bibirnya terlihat robek. Begitu pun di bagian pelipisnya yang terlihat memar.


Kancing baju entah sudah kemana loncatnya hingga memperlihatkan dada bidang Haz yang memerah.


Hiks ...


Pukulan dokter Emma semakin melemah entah karena cape atau puas meluapkan segala kesesakan yang selama ini ia tahan.


Tinggal isakan yang masih terdengar membuat Hanz membiarkan semuanya.


Ia pantas mendapatkan semua ini bahkan harusnya lebih dan dokter Emma bisa dengan mudah membunuhnya.

__ADS_1


Hanz menarik dokter Emma kedalam pelukannya gerakan cepat bahkan dokter Emma sendiri tak menyadari akan hal itu.


Posisi Hanz sudah duduk dengan dokter Emma di atas pangkuannya.


"Terlalu banyak kebohongan yang ku buat, maaf!"


Dokter Emma tak bergeming ia masih menangis sambil mencengkram erat lengan kekar Hanz.


Suasana menjadi hening kembali, mereka sama-sama diam masih posisi sama.


"Seberapa besar kamu membenci ku?"


Tanya Hanz yang tak seharusnya ia tanyakan jika pada ujungnya ia akan sakit.


Dokter Emma berusaha melepaskan diri ketika sudah tenang. Namun Hanz menahannya hingga mata mereka kembali bertemu.


"Seberapa besar kamu membenciku?"


Hanz mengulang pertanyaan nya kembali karena tak mendapat jawaban. Ia ingin tahu apa kebencian itu lebih besar dari cinta dokter Emma dulu.


"Semuanya!"


 "Tak ada kah setitik kasih di sini!"


Plak ...


Dokter Emma menyingkirkan tangan Hanz agar tak menyentuh dadanya.


"Menurut mu!"


Sinis dokter Emma membuat Hanz tersenyum getir ternyata rasanya masih sama.


"Apa yang harus ku lakukan agar bisa menembus kesalahan ku?"


Deg ...


Hanz terdiam menatap kedalam bola mata dokter Emma berusaha mencari sebuah candaan namun tatapan itu mengobarkan kebencian, kesakitan dan luka.


Cup ..


Hanz tiba-tiba mengecup bibir yang sudah lama tak ia rasakan.


Plak ....


"Apa yang lakukan sialan!"


Bentak dokter Emma murka sambil mengelap bibirnya kasar membuat Hanz tersenyum.


Sebegitu jijik kah sampai seperti itu membuat Hanz miris.


"Anggap saja itu ciuman terakhir dariku!"


Deg ....


"Berjanjilah melupakan ku, dan berjanjilah untuk bahagia!"


Sudah mengatakan itu Hanz beranjak meninggalkan dokter Emma sendirian terdiam dengan pikirannya sendiri.


Sial, pukulannya masih sama!


Batin Hanz mengelap darah di bibir dan hidungnya. Namun bibir Hanz tertarik kearah samping dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


Hanz menatap chip yang memang sudah tahu. Ia harus segera pergi menjalankan tugas.


Hanz bukan tak tahu maksud dari sang Jendral. Tapi, setelah semuanya di katakan hati Hanz merasa lega dan sedikit mengurangi rasa bersalahnya.


Seseorang sudah menunggu membuat Hanz harus bergegas.


Sedang di dalam ruang dokter Emma, ia masih saja terdiam dengan posisi yang masih sama.


"Jika masih mencintai kenapa berpura-pura membenci!"


Deg ...


Dokter Emma terkejut melihat sang Daddy ada di hadapannya. Sejak kapan dokter Abe ada bukannya sang Daddy ada di keluarga utama (Jerman).


"Kepergian mommy sudah takdirnya!"


"Dad!"


Sentak dokter Emma tak terima karena bagaimana pun sang mommy mati menanggung rasa malu yang Hanz ciptakan.


Dokter Abe tersenyum menghampiri putri satu-satunya.


"Dengarkan Daddy baik-baik, sepertinya ini sedikit terlambat tapi kamu harus tahu!"


"Daddy yang meminta Hanz pergi tepat di hari pernikahan kalian!"


"Dad, jangan membual!"


Sentak dokter Emma tak habis pikir dan tak mau percaya.


"Sendari awal Daddy tahu siapa Hanz dan Daddy pula yang meminta Hanz mendekati kamu berharap kamu bisa melupakan Siwon dan bangkit dari keterpurukan.


Daddy bahagia ketika melihat kamu bangkit dan bisa melupakan semuanya bahkan Daddy semakin bahagia ketika hubungan kalian melangkah jauh. Namun, sebuah tugas negara memanggil Hanz tepat satu hari pernikahan kalian.


Hanz ingin menemui kamu namun Daddy yang melarang karena tak ingin kamu mengetahui pakta jika Hanz sama dengan Siwon Daddy tak mau trauma kamu kembali kambuh.


Maafkan Daddy, semua salah Daddy! Daddy pikir semuanya akan baik-baik saja tapi--"


Dokter Emma melangkah mundur dengan mata yang kembali berkaca-kaca menatap sang Daddy tak percaya.


Dokter Emma menggelengkan kepala kuat mencoba tak percaya.


"Hari ini hal yang sama, Hanz akan pergi karena sebuah tugas. Daddy tahu kamu sangat mencintai Hanz lebih dari kamu mencintai Siwon, kejarlah sebelum terlambat!"


"Stop dad, stop!"


Bentak dokter Emma kembali menangis karena begitu sakit mengetahui pakta yang ada. Jadi selama ini sang Daddy tahu kebenarannya dan dia sengaja menutup rapat darinya.


Dokter Emma tak mau percaya, ia sangat lelah tapi tatapan sang Daddy membuatnya percaya.


Kenapa hanya dia yang tak tahu apa-apa kenapa?


"Pergilah kejar Hanz, setidaknya katakan apa yang ingin hati kamu katakan jangan berbohong!"


"Buat apa!"


"Nak!"


Dokter Abe menatap sendu kepergian putrinya. Semua salah dirinya, ia pikir semua akan baik-baik saja nyatanya tidak.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...


__ADS_2