
"Dari mana by?"
Tanya Aurora ketika baru melihat suaminya muncul.
"Ruang kerja!"
"Kenapa tak ikut bergabung?"
"Hubby tak mau menggangu waktu kalian, sayang pasti merindukan semuanya!"
"Terimakasih by!"
Ucap Aurora tulus karena lagi-lagi Kaka ada di balik kebahagiaan yang saat ini ia rasakan.
Sungguh suaminya ini selalu saja memberikan kejutan.
Bahkan Kaka memboyong semua keluarga Aurora ke Kastilnya dan kini mereka semua sedang istirahat di kamar masing-masing yang sudah Kaka persiapkan.
Sedang Aurora kini berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar yang pertama kali Aurora tempati tepatnya di menara paling tinggi.
"By, lihatlah! Ternyata musim cepat berganti!"
Girang Aurora menjulurkan satu tangannya di mana salju mulai turun. Kaka memeluk Aurora dari belakang menyimpan dagunya di puncak kepala Aurora dengan satu tangan menahan tangan mungil sang istri.
"Sama seperti kebencian yang ada di sini!"
Deg ...
Aurora terdiam ketika sang suami menekan dadanya.
Ya, dulu Aurora sangat membenci Kaka bahkan ingin sekali mengoperasi setiap organ tubuhnya mengganti dengan mesin agar ia bisa mengendalikannya.
"Kebencian di sini sudah berganti musim!"
"Musim yang bersemi cinta dan kasih sayang!"
"By!"
Lilir Aurora membalikan badannya hingga kini mereka saling berhadapan.
Mata biru ini menenggelamkan kesadaran namun sayang dia begitu angkuh. Hingga ku bertemu lagi dengan manik biru yang entah kenapa membuatku selalu terhipnotis namun kesadaranku tertarik ketika mendengar rintihan bibir seksi yang berkata 'tolong'
Peluruh bersarang di tubuh bagian kirinya membuatku gemetar. Ingin berlari namun tak mampu, ku putuskan untuk mengambilnya.
Pesona itu perlahan pudar oleh ketakutan, takut jika manik biru ini seorang psicho.
Takdir mempertemukan lagi dengan sosok yang ingin di lupakan. Ketakutan itu semakin besar ketika pertemuan itu mengerikan.
Pertemuan yang mengikat ku dengan manik biru. Entah kenapa manik biru itu terlihat menakutkan dari pada sebelumnya membuat ku takut, takut membenci!
"By!"
Aurora sungguh tak tahu harus berkata apa bagaimana bisa sang suami membaca untaian kata yang sempat ia tulis. Bukankah itu sudah tak ada kenapa kata itu kembali muncul. Bahkan Kaka begitu persisnya mengucap.
"Katakan jika dulu sayang, menyukai hubby!"
"Mana ada!"
Elak Aurora bagaimana bisa sang suami mengetahui itu. Bisa jatuh harga dirinya kenapa pula sang suami bisa tahu padahal Aurora tak pernah bercerita pada siapapun.
"Mau mengelak, hm!"
Ucap Kaka memegang dagu sang istri agar tatapan matanya tak berkeliaran. Kaka mengunci tatapan polos sang istri dengan manik tajamnya.
"Du-dulu Rora .. rora!"
"Cinta!"
__ADS_1
"Mana ada, yang ada Rora benci hubby sangat benci benci dan benci!"
Ucap Aurora gelagapan bagaimana bisa sang suami tahu jika dulu ia mengaguminya tepat pada pandangan pertama ketika Aurora tak sengaja menumpahkan jus pada baju Kaka di hari pernikahan Fatih dan Shofi.
Ya, Aurora sesaat terpesona oleh manik biru tajam ini namun sayang, dulu Kaka begitu angkuh sekali.
"Benarkah!"
"Ya, sangat benci!"
"Sekarang!"
"Udah enggak!"
"Yakin!"
"Ya,"
"Hubby tak percaya!"
"Ini buktinya!"
Kesal Aurora karena sang suami terus menggoda dia.
Kaka tersenyum tipis melihat sang istri mengarahkan tangannya ke atas perut dirinya sendiri.
"Jika tak ada rasa mana mungkin Rora memilih bertahan. Jika tak ada rasa mana mungkin Rora ingin di sentuh dan sekarang ini hasilnya!"
Cetus Aurora membuktikan jika ia memang tak membenci lagi yang ada Aurora malah semakin di buat jatuh cinta setiap harinya.
"Hubby sekarang percaya bahkan sangat percaya apalagi ini!"
Deg ....
Aurora membulatkan kedua matanya melihat sebuah kotak yang sangat ia hapal apa isinya. Bagaimana bisa kotak peluruh ada di tangan Kaka. Bukankah Aurora sudah membuangnya kenapa masih ada.
"Karena ketiga peluruh ini, peluruh pertama yang Rora keluarkan dari tubuh hubby!"
"Ternyata hubby semen pesona itu!"
"Cih!"
Aurora mendelik geli dengan kenarsisan sang suami.
"PELURUH CINTA!"
Bisik Kaka membuat Aurora tersenyum sungguh kata yang sangat aneh terdengar namun Aurora sangat menyukainya.
Ya, awal yang sangat mengerikan namun peluruh itu mampu menggetarkan hati Aurora. Bukan untuk membunuh tapi menumbuhkan rasa yang dulu tak pernah ada.
Peluruh yang membuat dua insan tak saling kenal menjadi terikat kuat.
Peluruh yang menemani perjalanan cinta mereka sampai ke titik ini.
Kebencian ( Peluruh cinta ) yang mengubah Aurora menjadi cinta bahkan sangat mencintai Kaka.
Setiap detik, menit, jam dan hari-hari rasa itu kian subur hingga tumbuh menjadi lebat dan berbuah manis.
Buah cinta mereka yang sekarang Aurora kandung memasuki bukan ke lima.
Bahagia!
Aurora sangat bahagia akan semuanya hingga tak sabar menantikan buah cinta mereka lahir. Berharap jika anak nya laki-laki ataupun perempuan mereka akan menuruni sikap Kaka yang tegas, namun penuh kasih sayang.
Aurora tak berharap menurun dari dirinya karena takut anaknya perempuan membuat laki-laki menjauh.
Aurora masih ingat jika tak suka di dekati laki-laki apalagi laki-laki itu laki-laki lemah.
__ADS_1
Dulu Aurora sama persis seperti Queen, sikap, sipat dan karakteristik nya tak jauh berbeda.
Berani mendekat harus bersiap mendapat pukulan paling tidak masuk kerumah sakit.
Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.
Kata itu memang mujarab tak pernah meleset sama sekali bak tombak melesat menancap pada targetnya.
"Terimakasih sudah menemani hubby sejauh ini!"
"Kasih kembali, sudah menjadi suami yang membuat Rora tak mau pergi!"
Kaka menekuk lututnya mencium perut buncit sang istri yang semakin hari kian jelas.
"Nak, terimakasih sudah hadir di antara kami! Sehat-sehat ya, papa dan Bunda menantikan kamu. Mau laki-laki atau perempuan papa dan Bunda tak masalah yang terpenting baby sehat dan lahir selamat!"
Cup ...
Aurora memejamkan kedua matanya ketika sang suami mengecup perutnya dengan tangan mengusap lembut rambut sang suami.
"Apa masih ada mimpi yang ingin sayang capai?"
Tanya Kaka kembali terdiri dengan tangan berada di kedua sisi pinggang sang istri.
Sejenak Aurora berpikir mimpi apa yang ingin ia capai.
Menjadi seorang dokter hebat dan membuat sebuah penelitian itu mimpinya tapi Kaka sudah mewujudkan semuanya. Tak ada lagi mimpi yang ingin Aurora capai karena semuanya sudah ia dapatkan.
"Ada!"
"Katakanlah!"
Aurora tersenyum manis sambil mengelus rahang tegas sang suami sesekali menekan jakunnya yang terlihat gagah.
"Ingin bertemu Zilla!"
"Akan terkabul!"
"Benarkah, by!"
Girang Aurora tersenyum lebar bahkan memperlihatkan deretan gigi rapihnya.
Sungguh, Aurora benar-benar bahagia ia akan bertemu dengan putrinya kembali. Zilla pasti akan senang jika dia tahu akan mempunyai adik.
"Senang!"
"Sangat, by! muachh ,,,"
Saking senangnya Aurora mengecup bibir sang suami.
Kaka ikut bahagia melihat istrinya bahagia bahkan tersenyum selepas ini. Senyum tanpa beban dengan aura kebahagiaan yang terpancar jelas.
Bibir tipis sedikit berisi dengan hidung mancung mungil pas. Bulu mata lentik memancarkan cahaya meneduhkan di balik netra hitam kecoklatan bak orang Turki.
Di padu suasana turunnya salju membuat momen itu terekam indah di pandangan Kaka. Kaka terus menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang hingga Aurora sadar jika sejak tadi sang suami terpaku menatapnya.
"By!"
"I love you, forever and always will! My love, mother of my descendants!"
Mata Aurora berkaca-kaca mendengar ungkapan cinta dan sayang dari sang suami. Terdengar tulus dan sepenuh hati membuat jantung Aurora rasanya ingin meledak menaburkan bunga-bunga cinta dan kasih.
"I love you, by! Thank you for being the reason for my happiness!"
Selesai ....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1