Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
100 Ektra Part (Maaf)


__ADS_3

"Alice Kimberly Aldarberto, pemimpin yang kuat, baik, pinter, manis, penuh percaya diri!"


"Nama yang cantik, apa hubby menginginkan putri kita seorang pemimpin!"


"Tidak! Hubby cuma berharap di jadi wanita kuat berjiwa kepemimpinan penuh percaya diri dalam menghadapi masalah apapun tentu memiliki hati yang baik nan manis bila tersenyum!"


Aurora tersenyum sambil melihat putri nya yang sedang asik menyusu. Sungguh perasaan apa yang menghampiri Aurora melihat putrinya yang sudah lahir menatap dunia.


Rasanya baru kemaren Aurora mengandung kini putrinya sudah ada di depan mata. Jemari mungilnya tak bisa diam memegang posesif sumber kehidupannya.


Sejauh ini Aurora sudah melangkah dan Kaka selalu berada di sampingnya. Mencoba mengerti dan paham apa yang ia inginkan.


"By!"


"Hm!"


"Maaf, apa ini sakit?"


Aurora meringis melihat bagian leher sang suami yang terkena cakar kukunya. Pasti bagian pundak dan belakang lebih dari ini.


"Tak apa sayang, rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakit yang sayang rasakan!"


Ucap Kaka lembut memegang lengan sang istri lalu menciumnya penuh kasih membuat Aurora terenyuh.


Sungguh, Aurora tak menyangka mempunyai suami penuh kasih seperti ini. Aurora pikir Kaka tak bisa bersikap seperti ini mengingat Kaka yang jarang sekali tersenyum bahkan hampir di setiap harinya wajahnya selalu datar.


Tapi!


Jika sudah bersama dia Kaka yang kaku nan dingin seolah lenyap seketika menjadi sosok baru. Walau kadang Kaka akan menjadi tegas jika Aurora ngeyel.


Sungguh Kaka benar-benar memperlakukan Aurora dengan sebaik-baiknya. Entah resep dari mana Kaka bisa bersikap seperti ini mengingat bagaimana tempramen Kaka dulu.


"Berjanjilah untuk selalu sehat, agar hubby bisa terus menjaga Rora dan Kim!"


"Kim!"


Beo Kaka mendengar putrinya di panggil Kim, terdengar menggelitik di indra pendengaran Kaka.


"Kimberly, Kim!"


"Kenapa gak Alice saja atau Berly! Kim seperti laki-laki!"


"Rora suka, lebih singkat Kim!"


"Baiklah ibu ratu, Kim dengar ya Bunda yang menginginkan kamu di panggil begitu kalau sudah besar jangan protes ya!"


Plak ...


Aurora menampar lembut wajah sang suami karena terasa geli mengadu pada putrinya. Tepatnya bukan tamparan melainkan usapan lembut.


"Kim, kamu akan menjadi wanita tangguh!"


Baby Kim langsung menggeliat melepas sumber kehidupannya menatap sang bunda dengan tatapan polosnya. Seolah ia bingung namun menyukai panggilan itu.


Baby Kim menggeliat pertanda kantuk menghampirinya membuat Aurora tersenyum memang seperti itu.


Aurora mengeratkan pelukannya agar putrinya semakin nyaman dalam dekapan lembutnya.


Kaka memeluk sang istri dari arah samping dengan tatapan terus tertuju pada putrinya yang mulai menutup mata.


"Bulu matanya sangat indah, sama seperti sayang!"


"Apa hubby menyukainya!"


"Heem!"


"Bulu ini di warisi dari papa, hanya Rora dan Aksara yang mewarisinya kak Fatih hampir sama seperti Bunda!"


"Hanya wajahnya saja mirip papa tapi di setiap garis wajahnya semuanya pada Bunda! Dulu Rora iri karena hanya kak Fatih yang sama dengan Bunda tapi sekarang gak lagi!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena kata papa sikap Rora hampir semuanya sama seperti Bunda!"


Girang Aurora menceritakannya seolah merasa bangga jika dirinya sama seperti Queen.


"Gadis keras kepala, susah di atur, ngeyel, pemberani dan sangat galak!"


Cetus Kaka memerhatikan istrinya karena memang seperti itu karakter Aurora.


"Kok gitu by!"


"Pada dasarnya memang sayang seperti itu tapi sayang akan berubah jadi penurut jika itu memang pantas di turuti dan di patuhi nan penyayang sama seperti papa walau rasa sayang itu terkadang sulit sayang ungkap, namun dari sikap sayang menunjukan itu semua seperti yang sayang lakukan pada Vivi dan Arsen padahal mereka bukan bagian dari kalian!"


"Ah, hubby tahu semuanya tapi kenapa Rora belum tahu semua tentang hubby terkadang hubby akan jadi sosok asing bagi Rora!"


"Benarkah!"


"Heem, apalagi kalau dalam mode marah sangat menakutkan seperti papa!"


"Semua demi kebaikan!"


"Rora tahu!"


"Lihatlah baby begitu nyaman?"


Aurora menatap putrinya yang terlihat nyenyak dalam tidurnya membuat Kaka membantu sang istri membaringkan putrinya di brankar miliknya.


"Apa pegal?"


"Sedikit!"


Cicit Aurora merenggangkan otot tangan kirinya. Kaka meraih tangan sang istri lalu memijitnya perlahan.


Pijatan Kaka begitu nikmat membuat Aurora merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Sudah by!"


"Tak apa, terimakasih!"


"Kasih kembali sayang!"


Aurora menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami dengan senang hati Kaka merengkuhnya lembut.


Orang tua baru itu benar-benar merasa bahagia akan kehadiran putri kecil nya. Tergambar jelas pancaran cinta dari keduanya.


Di luar sana Hanz diam menunggu tak membiarkan seorang pun masuk kedalam karena tak mau mengganggu sang Jendral.


Dokter Emma datang sambil membawa makan karena Aurora butuh asupan gizi dan protein agar sumber kehidupan Kim semakin subur.


Dokter Emma menghentikan langkahnya karena pintu itu di jaga oleh Hanz. Tatapan mereka beradu sesaat sebelum Hanz memutus cepat lalu bergeser membiarkan dokter Emma masuk.


Tatapan dingin seperti biasanya membuat dokter Emma mencengkram troli makan lalu masuk begitu saja ketika sang Jendral sudah mengizinkan.


"Letakan di sana,"


"Baik Jendral!"


Dokter Emma meletakan makanan Aurora di atas nakas lalu undur diri karena tak mau menggangu. Seperti nya sang Jendral benar-benar menjadi suami siaga.


"Tunggu!"


Tiba-tiba Kaka menghentikan langkah dokter Emma membuat dokter Emma langsung menghentikan langkahnya.


 "Berikan ini pada Hanz, lalu obati luka di punggungnya!"


"Ba-baik Jendral!"


Dokter Emma mengambil sebuah chip dengan gugup membuat Aurora memicing. Tak biasanya dokter Emma bersikap seperti itu.

__ADS_1


Dokter Emma mengepalkan kedua tangannya kuat berusaha mengontrol rasa yang menyesakan.


"Atas perintah Jendral, ikut dengan saya!"


Suara yang nyaris tak terdengar namun Hanz bisa mendengarnya.


Hanz hanya mengangguk datar seperti biasa mengikuti langkah dokter Emma menuju ruang pribadinya setelah menyerahkan troli makan pada salah satu perawat.


"Duduk lah!"


Hanz menurut saja tak berpikir lebih.


"Buka baju atasan anda!"


Krek ..


Hanz mengepalkan kedua tangannya kuat dengan rahang mengeras.


Bagaimana bisa sang Jendral tahu, bukankah beberapa jam lalu sang Jendral pergi terlebih dahulu dan tak tahu apa yang terjadi.


"Buka!"


Hanz menatap dokter Emma yang entah sejak kapan sudah ada di hadapannya dengan alat medis di tangannya.


"Jendral akan menghukum saya jika anda--"


"Kenapa peduli!"


Tatapan mereka saling bertemu membuat suasana seketika menjadi hening.


Wajah ini masih sama walau terlihat jambang di wajahnya dengan kantung mata yang menghiasi kedua matanya.


Wajah yang ingin dokter Emma benci dan lupakan namun terlalu sulit.


"Atas perintah Jendral!"


"Lalu kenapa kau gemetar!"


"Jangan membual, cepatlah agar anda bisa keluar!"


"Maaf!"


Deg ...


Satu kata yang dulu ingin di dengar, satu kata yang di tunggu.


Kenapa baru sekarang kata itu keluar, kenapa?


Tubuh dokter Emma gemetar nyatanya ia masih lemah seperti dulu. Nyatanya ia masih bodoh seperti Emma enam tahun lalu.


Kenapa seperti ini, bukankah ia sudah kuat dan melupakan semuanya kenapa jadi begini.


Luka itu kembali terasa dan itu sangatlah menyesakan.


"Ke-kenapa?"


Pada akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir dokter Emma dengan tatapan penuh kesakitan dan kecewa.


"Negara lebih membutuhkan ku!"


"Lalu aku!"


"Maaf!"


Kata itu kembali keluar dari mulut Hanz, bukan hanya dokter Emma yang sakit Hanz pun sekarat.


Sebuah misi yang tak bisa ia hindari hingga harus mengorbankan cintanya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2