Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 75 Khawatir


__ADS_3

Aurora merentangkan kedua tangannya pegal karena seharian ini ia terus berada di lab. Bahkan Aurora belum sempat menyentuh makanan apapun dan ia langsung pulang karena tak mau keduluan sang suami.


Rasa lapar itu lenyap dengan semangat yang menggebu ketika ia akan menjadikan sang suami uji coba pertamanya.


Bahkan di sepanjang jalan Aurora terus tersenyum cerah tak sabar dengan semuanya.


Perjalanan rumah sakit ke mansion membutuhkan waktu satu jam hingga sampai di kediaman hari sudah benar-benar gelap.


Aurora masuk kedalam tak tahu jika ada pasang mata yang menatapnya tajam dengan tangan di simpan di sisi pinggang.


"Sudah pulang, hm!"


Deg ...


Aurora membulatkan kedua matanya melihat siapa yang ada di ujung sana menatapnya horor.


"By!"


Gugup Aurora terkejut dan juga heran melihat tatapan nyalang sang suami. Aurora tahu tatapan itu, jika begitu artinya sang suami sedang dalam mode marah.


Tapi apa yang Aurora lakukan sampai sang suami marah. Apa karena pulang telat, bagaimana bisa bukankah Kaka pulang malaman kenapa sekarang sudah ada.


"By, sudah pulang!"


Sapa Aurora berusaha tenang mendekat kearah sang suami.


Namun tanpa menjawab Kaka malah menggendong Aurora membuat Aurora terpekik.


"By!"


Bibir Kaka tetap bungkam langsung melangkah kearah lift sana menuju kamar mereka. Melihat raut wajah datar sang suami membuat Aurora diam.


Entah ada apa kenapa wajahnya terlihat datar seperti ini.


Sudah dalam kamar Kaka menurunkan Aurora.


"Buka bajumu!"


Deg ...


Aurora terkejut dengan permintaan sang suami yang tiba-tiba.


"By, kau kenapa!"


"Buka!"


Tegas Kaka membuat Aurora tercekat mendengar suara itu. Aurora sungguh bingung apa ia melakukan kesalahan hingga suaminya berubah menjadi dingin begini.


Karena tak mau membuat Kaka marah Aurora menurut saja. Ia menanggalkan seluruh bajunya tanpa kecuali walau Aurora begitu malu.


Kaka mendekat membuat Aurora memejamkan kedua matanya refleks karena tahu namun apa yang Aurora bayangkan tak sesuai dengan ekspektasi nya.


Kaka malah menggendong ia kembali bukan menuju ranjang melainkan masuk kedalam kamar mandi. Kaka menurunkan sang istri kedalam bathtub yang sudah terisi air hangat pas dengan aroma yang sudah tercampur.


Dengan wajah datar dan bibir terus terkatup Kaka memandikan sang istri membuat Aurora memerah padam.


Belum pernah ia seperti ini di perlakukan seperti anak kecil yang di mandikan oleh ayahnya. Rasa malu dan juga heran dengan apa yang sang suami lakukan. Aurora pikir sang suami sedang menginginkan dirinya nyatanya lain.

__ADS_1


Sudah selesai memandikan Aurora Kaka juga yang memakaikan pakaian Aurora tanpa terkecuali membuat Aurora hanya bisa pasrah.


"By!"


Kaka masih saja bungkam belum mau bicara sampai selesai.


Sudah selesai memakai kan baju untuk Aurora, Kaka kembali menggendong Aurora keluar kamar membuat Aurora hanya bisa menghela nafas pasrah.


Suaminya benar-benar berada dalam mode dingin dan tentu Aurora melakukan kesalahan, namun Aurora bingung kesalahan apa yang ia perbuat.


Deg ...


Aurora terpaku melihat begitu banyak hidangan makan malam di atas meja sana sudah bisa Aurora tebak jika Kaka yang menyiapkan semuanya.


Dengan telaten Kaka menyiapkan semuanya walau Aurora mencegah tapi Kaka malah melototi Aurora membuat Aurora semakin bingung dengan sikap sang suami.


Bahkan Kaka juga yang menyuapi Aurora makan membuat Aurora benar-benar greget.


"Hubby, juga makan ya!"


"Hm!"


Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kaka membuat Aurora menjadi kesal namun tak berani karena Kaka berada dalam mode tak baik.


Aurora makan saja karena perutnya memang lapar apalagi di suami membuat Aurora bertambah semangat mengesampingkan kebingungannya.


Kaka tersenyum tipis sangat tipis sampai Aurora tak menyadari itu. Kaka bahagia melihat istrinya lahap makan bahkan sampai makan dengan porsi yang begitu banyak Kaka tak masalah selagi perut istrinya menampung.


"Sudah kenyang, by!"


"Benarkah!"


"Ya sudah, minum air nya!"


Hati Aurora seakan di siram kesejukan mendengar sang suami kembali bicara lembut bahkan mulai menatap ia penuh cinta.


Kaka membersihkan sisa makanan di bibir sang istri.


Sudah selesai Kaka memilih membawa sang istri untuk istirahat mengingat aktifitas sang istri besok pasti mulai padat.


"Istirahat lah!"


"Hubby mau kemana?"


"Ganti baju dulu!"


Aurora melepaskan lengan Kaka membiarkan ganti baju tak lama Kaka muncul dengan piyama tidurnya. Kaka merangkak naik keatas ranjang mendekati sang istri lalu membawa sang istri kedalam pelukan hangatnya.


"Jangan di ulangi!"


Tegas Kaka membuat Aurora menautkan kedua alisnya bingung.


"Sesibuk apapun yang sayang kerjakan, jangan pernah lupa jika perut sayang juga punya hak untuk di isi!"


Deg ..


Aurora tertegun mendengarnya jadi sendari tadi sang suami berubah karena masalah ia tak makan. Sungguh Aurora tak tahu jika akan ada yang melaporkannya.

__ADS_1


Walau begitu Aurora merasa bersalah karena sudah membuat suaminya khawatir.


"Jangan lakukan lagi, atau aku akan mengurung sayang seperti dulu!"


"Jangan!"


Pekik Aurora mengeratkan pelukannya ia tak mau di kurung seperti dulu lagi. Aurora sangat bahagia di cintai sebegitu besar sampai seperti ini. Sungguh Aurora benar-benar beruntung bersuami Kaka bahkan Aurora tak menyangka jika Kaka akan memperlakukannya seperti ini.


Aurora tak menampik jika ia sudah jatuh cinta sepenuhnya pada sang suami apalagi dengan yang pernah mereka lewati rasa cinta itu kian tumbuh subur tanpa Aurora sadari.


Aurora tak menyangka jika ia akan begini bahkan takut jika Kaka marah padanya.


"Aku akan mendukung ataupun memberikan jalan apa yang sayang inginkan. Tapi hubby hanya minta satu jagalah kesehatan, hm!"


Hiks ...


Aurora malah terisak sungguh ia tak menyangka jika Kaka akan begitu mencintainya. Bahkan tutur katanya membuat Aurora semakin merasa bersalah.


Aurora tak berniat melewatkan makannya hanya saja ia terlalu bersemangat akan semuanya apalagi ini mimpinya dan ia baru bisa mewujudkan lagi sekian lama menunggu.


Sungguh Aurora tak berniat membuat sang suami khawatir, tidak.


"Rora janji, tak akan begitu lagi hiks ..,"


Isak Aurora bak anak kecil merengek terus memeluk Kaka erat bahkan tak ada jarak sedikitpun di antara mereka.


Kaka membalas pelukan sang istri dengan penuh kasih sayang sesekali mencium puncak kepalanya.


Beginilah Kaka jika sudah menyayangi orang lain. Seluruh perhatian akan ia berikan bahkan segenap cintanya hanya saja Kaka paling benci yang namanya pengkhianat.


Maka jangan lakukan apapun yang membuat jiwa iblis Kaka keluar, jika itu terjadi siaplah untuk kabur.


"Maafin Rora, ya?"


"Jangan marah lagi?"


"Hubby tak marah, hanya khawatir!"


Aurora bak anak kecil naik keatas tubuh Kaka membaringkan tubuh kecilnya di sana jsambil memeluk Kaka dengan kepala sengaja di sembunyikan di cekuk leher Kaka.


Dengan senang hati Kaka mengeratkan pelukannya agar sang istri merasa nyaman.


Jujur Kaka tak marah, hanya saja Kaka ingin tegas. Ia ingin Aurora mengerti jika dirinya juga butuh Aurora. Bagaimana kalau Aurora sakit maka Kaka akan jauh lebih sakit karena merasa ia tak bisa menjaga sang istri.


"Sudah jangan menangis, hubby tak marah!"


Bisik Kaka membuat Aurora hanya bisa terus mengeratkan saja seolah meluapkan isi hatinya yang campur aduk antara haru, bahagia, sedih dan merasa bersalah.


"Tapi air matanya terus keluar hiks ,,,"


Kaka tersenyum lembut sambil menarik wajah sang istri dari cekuk lehernya agar bisa melihat dengan jelas.


Dengan penuh perhatian Kaka menghapus lelehan bening itu.


Cup ...


Deg ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2