Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 66 Putri ku


__ADS_3

Sehari yang lalu kepergian pangeran Jarvis dan putri Cherry.


.


Flashback ...


Pangeran Jarvis dan putri Cherry langsung pergi ke istana barat di mana sudah ada yang menunggu seseorang yang berpakaian serba hitam.


Pangeran Jarvis tak tahu kenapa Fatih menyuruh ia pergi dan mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu dan itu akan membuat keadaan istrinya membaik.


Karena demi sang istri pangeran Jarvis percaya apalagi Fatih yang meminta.


Orang yang memakai pakaian hitam langsung membawa pangeran yang setia menggendong putri Cherry yang lemah.


Entah mau di bawa kemana mereka membuat pangeran Jarvis was-was pasalnya pertemuan sudah di mulai dan itu akan kacau.


Mobil anti peluruh itu berhenti di sebuah villa yang begitu klasik entah milik siapa.


Pangeran Jarvis tak tahu siapa yang ingin menemuinya kenapa Fatih membawanya ke sini.


"Sayang!"


"Hm, kita sudah sampai. Maaf membuat kamu lelah!"


Ucap Jarvis lembut entah kenapa Jarvis sangat mencintai Cherry padahal dulu ia mengemis cintanya Shofi, istri dari Fatih sendiri.


Satu hari lalu memang Fatih terbang ke London ketika sang adik meminta bantuan dia.


Ya, Aurora yang meminta Fatih membantu menyusun rencana semuanya karena pada siapa lagi.


Tak mungkin pada Shofi yang sedang mengurus kedua anaknya. Minta pada sang papa itu tak mungkin juga karena jarak Indonesia terlalu jauh apalagi Aurora tak mau sang Bunda kelelahan.


Aurora sudah memutuskan semuanya jika ia akan mengembalikan Zilla pada kedua orang tua aslinya dan beruntung Aurora berhasil membujuk Ezilla karena memang putrinya sangat pengertian.


Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun Ezilla memang sudah mengerti situasi karena sendari kecil dia begitu di paksa mengerti keadaan hingga ia tumbuh menjadi gadis mandiri dan cerdas.


Sesudah meyakinkan Ezilla Aurora memang langsung terbang ke London di bantu oleh Karl sendiri yang hanya bisa merelakan kepergian Aurora. Walau Karl sakit mengetahui pakta jika Aurora sudah menikah.


Suatu hantaman yang sangat menyakitkan namun ia harus rela karena memang semuanya sudah terlambat.


Ezilla yang awalnya tak terima langsung mengerti ketika bibi Nur dan pama Nu yang menasehati membuat Aurora beruntung mengenal mereka.


"Bunda, apa mommy Zilla sayang Zilla seperti bunda menyayangi Zilla?"


Bocah polos itu sepanjang jalan terus menanyakan akan hal itu karena takut ia tak di inginkan.


"Sayang, mommy Zilla adalah mommy terhebat, bahkan mommy begitu merindukan Zilla bahkan sampai sakit!"


"Sakit!"


"Iya, seperti Zilla yang sering sakit ketika merindukan Bunda!"


"Benarkah begitu!"


Ucap Ezilla berharap lebih jika memang kedua orang tua aslinya menginginkan dia. Jika tidak Ezilla tak mau bersama mereka Zilla sudah sangat menyayangi Aurora.


"Bunda kenapa dada Zilla sesak!"


Deg ..


Aurora teriris ternyata ikatan batin itu sangatlah kuat.


Sayang, itu bukan sakit tapi rasa dimana mommy Zilla begitu merindukan Zilla. Dia sudah ada di sini tapi apa bunda sanggup mendengar Zilla memanggil orang lain Mommy!

__ADS_1


Batin Aurora sakit namun ia harus kuat demi semuanya.


Putri yang sudah tujuh tahun ia besarkan kini harus kembali pada sang pemiliknya.


"Bunda menangis!"


"Tidak sayang, bunda bahagia Zilla akan ketemu mommy dan Daddy!"


"Apa Zilla menyakiti bunda!"


"Tidak sayang!"


Sungguh Aurora sangat lemah dengan semuanya ia sudah sangat menyayangi Ezilla seperti darah dagingnya sendiri.


"Apa Zilla sudah siap!"


"Zilla gugup Bun!"


Aurora tersenyum lembut menggandeng lengan putri cantiknya keluar.


Ezilla langsung bersembunyi di belakang Aurora ketika mendengar percakapan orang dewasa.


"Salam pangeran, tuan putri!"


Hormat Aurora membuat Jarvis terkejut akan keberadaan Aurora begitupun dengan Cherry yang langsung posesif memegang lengan sang suami. Entah kenapa Cherry selalu tak nyaman akan pandangan Aurora pada suaminya.


Pandangan yang entah apa membuat Cherry takut.


"Fatih apa ini yang kau maksud!"


Geram Jarvis jauh-jauh dia datang ternyata Aurora yang ingin bertemu, istri dari seorang Kaka Aldarberto.


"Pangeran!"


"Sayang, keluarlah mommy dan Daddy Zilla di sini!"


Isak Aurora tertahan bahkan menggigit bibir bawahnya kuat sungguh keadaan ini membuat Aurora emosi.


Deg ...


Jarvis dan Cherry terdiam bungkam melihat seorang gadis bak peri keluar dari balik punggung Aurora.


Mata mereka bertemu membuat ketiga manusia itu saling tatap satu sama lain.


"Putri Arabelle!"


Ucap Aurora sambil mengeluarkan sebuah kalung yang menghiasi leher Ezilla.


Ya, semenjak Aurora bertemu Jarvis dan Cherry di kediaman Aldarberto membuat Aurora sadar jika wajah Jarvis begitu mirip dengan Ezilla putrinya.


Itulah kenapa Aurora selalu menatap Jarvis berbeda karena mengingatkan Aurora pada putrinya. Apalagi sebuah kalung kerajaan yang memang sudah terpasang dari kecil di leher Ezilla membuat Aurora menyembunyikan fakta itu karena yakin nyawa Ezilla dalam bahaya.


"Sungguh Jarvis dan Cherry tak bisa berkata-kata menatap putri yang mereka anggap meninggal nyatanya masih hidup bahkan tumbuh dengan sehat.


"Pu-putri ku!"


Bruk ....


Cherry terjatuh tak sanggup menggapai putrinya karena ini seakan mimpi membuat Aurora diam ketika lengannya di lepas oleh tangan mungil itu.


"Arabelle, put-putriku!"


"Mommy!"

__ADS_1


Pekik Ezilla terkejut ketika Cherry tiba-tiba tak sadarkan diri. Membuat Jarvis dengan sigap langsung menahan keduanya.


"Relakan!"


Ucap Fatih pelan menepuk pundak adiknya yang tahu rapuhnya seperti apa.


"Bawa dia ke kamar!"


Jarvis langsung menggendong Cherry menuju kamar yang Fatih tunjuk membuat Ezilla mengekor dengan kebingungannya.


"Bunda, mommy kenapa?"


Tanya Ezilla membuat Aurora memejamkan kedua matanya sejenak kenapa ia tak rela mendengar Ezilla memanggil orang lain mommy walau itu ibunya sendiri.


"Mommy Akan baik-baik saja, bunda periksa dulu ya!"


Ezilla mengangguk berdiri dengan kebingungannya dimana para orang dewasa begitu sibuk.


Jarvis menatap Ezilla dari atas sampai bawah dengan mata berkaca-kaca.


"Nak!"


Lilir Jarvis tak bisa menahan lelehan bening itu.


"Putriku!"


"Daddy!"


Mereka berdua hanyut dalam pelukan kerinduan yang memang ini di nantikan Ezilla.


Bunda, apa ini rasanya di peluk Daddy, terasa berbeda dengan pelukan ayah!


Batin Ezilla rindu sungguh selama ini Ezilla menginginkan ini.


"Maafkan Daddy nak, maaf!"


"Daddy hiks ..,"


Fatih hanya diam saja melihat suasana di depan sana pasti berat buat Aurora.


Suasana yang begitu haru namun menyakitkan tapi apa boleh buat semuanya memang seperti ini.


"Putriku, putri ku .. Arabelle ..!"


Gumam Cherry mulai sadar kembali terus memanggil nama putrinya.


"Lihatlah sayang, bahkan dala mimpi pun mommy merindukan Zilla!"


"Mendekat lah, panggil Mommy agar mommy sadar!"


Dengan ragu Ezilla mendekat merangkak naik keatas ranjang di bantu Jarvis.


Ezilla mengelus lembut pipi Cherry yang sudah banjir oleh lelehan bening.


"Mommy .. Mommy bangun!"


"Mommy Zilla kangen hiks ,,,"


Flashback On ...


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ..

__ADS_1


__ADS_2