
Sudah satu Minggu pasca kejadian ledakan itu yang menggegerkan sejagat Maya. Bahkan tempat tersebut masih dalam evakuasi semuanya di larang ke sana.
Kerajaan mengucapkan terimakasih pada pemerintahan Ceko karena sudah bekerja sama. Dan tentu pihak kerajaan mengganti semua kerugian yang terjadi.
Keadaan Aurora sempat kritis akibat menghirup asap berbahaya dan juga memang keadaan tubuhnya yang sendari lemah.
Namun kini keadaan Aurora mulai membaik apalagi Farhan mendatangkan dokter terbaik untuk merawat putrinya walau sempat koma selama dua hari.
Queen dengan setia menemani putrinya bahkan merawat Aurora dengan baik. Karena kejadian itu membuat Aurora shok berat sampai saat ini ia tak banyak bicara.
Tatapannya selalu kosong entah apa yang ia pikirkan namun jika sendiri Aurora akan menangis entah karena apa.
Queen tak mau bertanya lebih apalagi keadaan putrinya masih seperti ini.
Entah apa yang terjadi di dalam sana sebelum ledakan itu terjadi dan Fatih menyelamatkannya.
Karena menyelamatkan dua makhluk itu kening Fatih terluka dan juga punggungnya. Namun sudah membaik karena luka ringan.
"Bun!"
"Kenapa sayang!"
Sahut Queen cepat ketika putrinya baru angkat bicara setelah satu Minggu bungkam.
"Apa papa tak menyayangi Rora!"
Deg ...
Queen menggeleng kuat sambil menggenggam lengan Aurora menyalurkan kasih sayang seorang ibu.
"Papa sangat menyayangi Rora, kenapa bilang begitu!"
Sakit Queen karena itu di pertanyakan walau Queen tahu Aurora pasti kecewa dengan semuanya namun semuanya demi kebaikan Aurora. Tapi, siapa sangka Aurora malah kabur dari tempat itu membuat semuanya seperti ini.
"Tapi kenapa tak ada, apa papa sibuk?"
Farhan mengepalkan tangannya kuat penuh emosi mendengar lilir-an sang putri. Sendari tadi Farhan mendengarnya, Farhan hanya tak mau putrinya semakin kecewa jika menatapnya. Bahkan Farhan mengutuk Kaka karena bisa kecolongan sampai seperti ini.
"Mau bunda panggil!"
"Tidak!"
Sakit Aurora berkaca-kaca sumpah demi apapun Aurora sangat merindukan sang papa. Namun Aurora sangat malu dan juga kecewa dengan dirinya sendiri kenapa baru menyadari.
Walau Aurora tak menampik jika ia sangat kecewa pada sang papa kenapa harus seperti ini. Bukankah ada cara lain kenapa harus cara ini.
"Apa Rora marah!"
Aurora menggelengkan kepala dengan lelehan bening yang sudah membanjiri pipinya.
"Rindu hiks ,,,"
Queen memeluk Aurora erat sungguh Queen sangat sakit dengan semuanya. Bahkan Queen hampir gila ketika Aurora sempat koma, Queen pikir putrinya akan pergi.
"Papa jahat, Rora benci hiks ,,, Papa hiks ..,"
"Maaf!"
Duarr ...
Aurora terkejut menatap laki-laki paruh baya berdiri di sampingnya. Tatapan penuh kesakitan dan juga kekecewaan namun penuh kerinduan.
"Maaf sayang!"
__ADS_1
Hiks ...
Aurora tak bisa lagi membendung kerinduannya di peluknya sang papa begitu erat sungguh Aurora sangat merindukan ini.
Setelah sekian lama mereka diam membisu bahkan tujuh tahun bukan waktu yang mudah Aurora menjalaninya.
Ini terasa nyaman Aurora merindukan ini, rindu akan pelukan hangat sang papa.
"Maafkan papa sayang, maaf!"
Farhan hanya bisa minta maafkan karena itu yang dia bisa. Ia mungkin terlalu egois menjadikan putrinya sengsara namun sumpah demi apapun Farhan tak berniat.
Andai saja ia tak bersumpah di hadapan sang mama mungkin Farhan bisa menyelesaikannya sendiri namun karena sumpah itu membuat Farhan tak bisa bergerak dan hanya dengan lewat tangan orang lain lah Farhan membalaskan semuanya setidaknya nama sang kakek akan terkenang kembali di keluarga kerajaan sebagai pengabdi bukan pengkhianat.
Kejadian itu Farhan terlalu kecil untuk mengerti namun Farhan tahu semuanya dan membuat ia harus menahan selama puluhan tahun dan sekarang semuanya sudah usai.
Queen tersenyum haru walau kedua matanya mengeluarkan bulir bening. Sungguh momen yang sudah lama Queen tunggu melihat putri dan suaminya baikan.
Mereka terlalu lama berdiam diri membuat benteng kerinduan semakin membendung namun ego mereka sama-sama keras.
"Semuanya sudah usai, hm. Kamu harus cepat sembuh!"
Aurora hanya diam saja mengeratkan pelukannya menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang papa.
Bagaimana kabar Kaka?
Ingin sekali Aurora bertanya namun ia tak berani. Hubungan mereka masih abu-abu tak berani lebih walau Aurora sangat mengkhawatirkan keadaan Kaka.
Masih teringat jelas di ingatan Aurora bagaimana Kaka melindunginya dari ledakan itu padahal tubuh Kaka sudah sangat rapuh namun Kaka memaksakan diri agar dirinya aman.
Bukan hanya dari ledakan saja namun juga dari reruntuhan beton dan juga api membiarkan punggung Kaka terbakar agar tak menyentuh kulit Aurora barang sejengkal pun.
Pengorbanan yang begitu hebat namun Aurora masih bertanya-tanya kenapa Kaka melakukan itu semuanya.
"Kau harus selamat,"
"Tidak!"
"Perjalanan mu masih panjang!"
"Kau, juga harus selamat!"
Kaka hanya tersenyum di balik rasa sakitnya menatap Aurora rumit. Ia berusaha membawa Aurora keluar sebelum ada ledakan yang sangat besar.
Uhuk ...
"Kaka!"
"Aku baik-baik saja!"
Aurora sudah menangis melihat keadaan Kaka yang tak baik-baik saja.
"Pergilah,"
"Tidak!"
"Pergi!"
"Tidak hiks ..,"
"Aurora!"
Deg ...
__ADS_1
Aurora terkejut mendengar teriakan Fatih kenapa ada di sini membuat Aurora linglung.
"Bawa dia!"
"Kakak hiks .., tidak!"
Fatih menyeret lengan Aurora membiarkan Kaka menahan reruntuhan itu agar tak menimpa mereka.
Bruk ..
"Kaka hiks ..,"
Beton itu rubuh membuat Aurora menjerit namun Fatih terus menyeretnya keluar bahkan sampai tak sadarkan diri akibat kesesakan.
Di sana Aurora tak mengingat apa-apa lagi membuat Aurora memejamkan kedua matanya.
Apa kau selamat, atau tidak!
Batin Aurora rumit, hatinya sungguh sangat gelisah dan bingung.
Ingin bertanya namun urung karena takut jika Kaka tak baik-baik saja.
Melihat Aurora yang melamun membuat Farhan paham apa yang Aurora pikirkan.
"Suami kamu selamat!"
Deg ...
Aurora menatap sang papa yang menghela nafas berat.
Setidaknya Aurora harus tahu apapun keputusannya nanti Farhan dan Queen hanya bisa mendukung.
Mereka tak akan lagi menekan keputusan Aurora mereka cuma berharap Aurora membuat keputusan yang bijak.
"Kaka selamat tapi keadaan nya sangat kritis, dia masih koma sampai sekarang!"
Aurora tetap diam bahkan wajahnya terlihat tak berekspresi sama sekali membuat Farhan paham.
"Papa keluar dulu, ada yang harus papa urus!"
Farhan dan Queen membiarkan Aurora sendiri. Aurora pasti butuh berpikir dengan jernih tanpa ada gangguan.
Aurora membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi pintu masuk. Aurora memejamkan kedua matanya mencoba berpikir dengan apa yang terjadi.
Apa hubungan mereka akan berakhir sampai di sini. Setelah perjanjian itu usai, karena memang semuanya sudah selesai.
"Zilla!"
Gumam Aurora teringat akan putri cantiknya entah bagaimana kabar dia sekarang membuat Aurora rindu.
"Nak, mungkin bunda sebentar lagi akan melepas mu!"
Gumam Aurora sakit, bagaimana bisa ia melepaskan Zilla. Putri cantik yang selalu menjadi penyemangat dirinya. Namun ada yang lebih berhak dari pada dia dan Aurora harus siap akan semuanya.
"Andai kita bertemu dengan keadaan berbeda mungkin aku akan berpikir dua kali melepaskan mu!"
"Tapi--"
Aurora mengigit bibir bawahnya sakit, sungguh dadanya sangat sesak jika mengingat kata itu. Kata yang Kaka ucapkan ketika mendapatkan tembakan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1