Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 79 Trik Kuman


__ADS_3

Aurora tersenyum bahagia ketika Kaka mau menjadi uji coba obat racikan dirinya. Aurora berharap obat yang ia buat bisa menyembuhkan alergi sang suami.


Walau ia belum melihat hasilnya setidaknya tak ada gejala apapun yang terjadi setelah sang suami meminum obatnya.


Langkah Aurora tinggal satu yaitu harus membuat sang suami berinteraksi dengan orang lain agar Aurora bisa melihat apa obat yang ia buat benar-benar cocok atau tidak.


Seperti nya Aurora harus membicarakan ini dengan sang suami karena Aurora takut membuat Kaka tersinggung.


Hari ini hari sedikit melelahkan bagi Aurora karena banyak sekali pasien yang datang dengan berbagai macam keluhannya.


Walau begitu Aurora tetap setia sabar menerima satu persatu pasien dengan berbagai karakter.


Belum lagi Aurora harus membantu orang-orang yang berada di lab di sisa jadwalnya.


Sangat lelah namun Aurora sangat menyukainya karena memang ini kecintaannya. Bisa membantu orang-orang sakit walau harus menghadapi beberapa proses untuk sembuh.


Semangat Aurora sungguh tak bisa di ragukan lagi karena ini cita-cita.


Jangan lupa siapa orang yang paling berjasa atas semuanya sampai Aurora melangkah sejauh ini.


Nek, apa nenek di sana bahagia melihat Rora seperti ini. Andai nenek ada di saat Rora sudah menjadi seorang dokter mungkin Rora tak akan pernah membiarkan nenek sakit dan Rora akan berusaha menyembuhkan penyakit nenek.


Tapi sayang, waktu itu Rora masih kecil bahkan nenek pergi tepat di saat ulang tahun Rora. Gara-gara Rora nenek pergi, jangan marah ya nek!


Jerit batin Aurora menatap Poto sang nenek yang selalu ia bawa kemana-mana.


Sosok yang membuat Aurora ingin menjadi dokter dan kepergiannya membuat pukulan besar bahkan Aurora dulu selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang nenek. Andai saja dulu Aurora tak memaksa sang nenek kembali ke Indonesia hanya untuk merayakan ulang tahunnya mungkin sang nenek tak akan kecapean dan masih ada.


Rora kangen nenek!


Gumam Aurora sambil mengecup Poto tersebut di mana Poto sang nenek yang sedang tersenyum sambil memeluknya dari belakang.


"Apa nenek tahu, sekarang Rora sudah besar bahkan sudah menikah dengan seorang Jendral. Doakan Rora ya nek, semoga pernikahan Rora selalu baik-baik saja!"


Monolog Aurora tersenyum getir, ia begitu merindukan sang nenek. Bagi Aurora sang nenek adalah kekuatan dan juga kelemahannya.


Aurora menyimpan kembali Poto tersebut di dalam dompetnya. Berusaha tersenyum seolah baik-baik saja. Tak ada yang tahu akan kesakitan itu, merasa bersalah atas kepergian seseorang itu begitu menyakitkan apalagi orang tersebut adalah sosok yang begitu berarti di hidup kita.


Semuanya Aurora pendam sendiri bahkan tak berani bicara dia akan berusaha seolah baik-baik saja. Apalagi dulu begitu banyak kejadian yang membuat Aurora harus bungkam dengan kesakitan itu apalagi dulu Fatih kecelakaan membuat kedua orang tuanya sibuk mengurus sang kakak.


Aurora berusaha mengerti semuanya di usianya yang masih remaja apalagi Aurora dulu harus menjaga Aksara juga.


Itulah kenapa Aurora selalu manja jika sudah bersama sang bunda dan jika di luar maka Aurora akan berubah karakter. Berperan dengan dua karakter itu sudah biasa bagi Aurora.


Keadaan yang membuat Aurora dewasa di usianya yang masih remaja apalagi dulu kondisi sang bunda tak memungkinkan ketika Fatih dinyatakan koma.

__ADS_1


Terlalu banyak berkorban sampai Aurora lupa pada kesakitannya sendiri.


Itulah yang membuat Aurora keras kepala dan tak suka di atur, Aurora hanya butuh di pahami dan orang yang begitu memahami hanya sang bunda seorang.


Tapi kini Aurora sangat bahagia karena mempunyai suami yang menggantikan peran sang bunda.


Kaka bukan hanya sebagai seorang suami tapi ada kalanya ia menjadi sosok papa yang tegas, ada kalanya ia menjadi sosok bunda yang penuh kelembutan, ada kalanya ia menjadi sosok Fatih dan Aksara yang tiba-tiba membuat ia jengkel, kesal tapi ngangenin.


Semua karakter keluarganya seolah ada di dalam diri Kaka itulah salah satu hal yang membuat Aurora bisa jatuh cinta pada sosok yang kata orang begitu kejam, bengis, dingin, kaku, tempramen dan menyeramkan.


Aurora akui itu karena dulu Kaka seperti itu bahkan dia juga menjadi korban kemarahan Kaka sampai tak sadarkan diri.


Terkadang mengingat itu membuat Aurora tersenyum karena sekarang sikap itu tak ada jika bersamanya.


Aurora berharap tak ada masalah lagi yang mengguncang hubungan mereka. Aurora ingin hari-hari yang damai penuh candaan walau sedikit menjengkelkan jika Kaka sudah dalam mode diam.


Ah, kenapa Aurora jadi merindukan suaminya itu. Bahkan Aurora seolah ingin menempel terus.


Sebentar lagi jadwal Aurora pulang dengan cepat Aurora segera membereskan barang-barangnya agar waktu tiba ia tak perlu membereskannya lagi.


Brak ...


Aurora terkejut ketika tiba-tiba ruangannya di buka dengan kasar.


"Maafkan saya dok, dokter bisa bantu kami. Pasien di ruang VIP 2 kejang-kejang sedang dokter Sindi beliau tiba-tiba jatuh sakit!"


Tanpa pikir panjang Aurora langsung berdiri dan berlari mengikuti dua perawat yang tadi menggebrak pintu ruangannya. Begitu lah Aurora jika sedang di butuhkan ia pasti akan lupa pada tujuan awal padahal Aurora bisa bernegosiasi pada dokter lain.


Dan benar saja, Aurora begitu terkejut melihat kondisi pasien. Aurora tahu bagaimana aturan rumah sakit namun ini darurat apalagi dokter yang menangani pasien sedang sakit mau tak mau Aurora harus menanganinya.


Dalam keadaan kejang begini Aurora harus hati-hati salah langkah saja nyawa pasien bisa melayang.


Aurora mendekat di bantu dua perawat tadi, mata Aurora begitu tajam melihatnya namun penuh ketelitian.


Dengan hati-hati Aurora memeriksa tangan Aurora mengepal erat ketika menyadari sesuatu.


Srett ...


Aurora membuka selang infus yang menancap di punggung tangan pasien lalu menggantinya dan memasang oksigen kembali. Aurora menyuntikan cairan yang entah apa ke dalam kantong infus itu.


Lalu Aurora memeriksa bagian lainnya takut zat berbahaya itu sudah menyebar.


Huh ...


Dua orang perawat menghela nafas berat ketika pasien kembali normal. Padahal mereka sudah cemas dan takut jika terjadi sesuatu maka tamatlah riwayat dia.

__ADS_1


"Di mana dokter Sindi!"


"Beliau ada di ruang kesehatan!"


Aurora memangut mengerti dengan mata tajamnya menelisik ke seluruh ruangan. Seperti ini di sengaja bukan hal kebetulan jika dokter Sindi tiba-tiba jatuh sakit dan pasien langsung begini seperti nya ada yang sedang bermain-main.


Entah apa motif nya Aurora tak tahu apa ada seseorang yang ingin menjatuhkan nama dokter Sindi atau ada yang lain.


Untung saja pasien kembali normal kalau tidak ini berbahaya.


Aurora yang sudah terlatih tentu ia begitu tenang menghadapinya.


Brak ...


"Lihat ketua!"


Deg ..


Mereka semua sama-sama terkejut melihat keadaan pasien baik-baik saja bahkan tak terjadi apa-apa.


"Ada apa?"


Tanya Aurora santai seolah tak tahu apapun.


"Apa ada yang terjadi dengan pasien?"


"Tidak, dokter bisa memeriksanya!"


Dokter Alden menatap tajam dokter Gresela yang mengatakan jika pasien VIP 2 mengalami kejang-kejang akibat Aurora yang memeriksanya.


"Bukan-"


"Ikut saya!"


Tegas dokter Alden membuat Dokter Gresela mengepalkan kedua tangannya kuat.


Kenapa bisa gagal!


Kesalnya, berniat ingin menjebak namun nyatanya semuanya di luar kendali. Bagaimana bisa Aurora menangani pasien dalam waktu cepat begitu harusnya ketika mereka masuk pasien masih kejang-kejang dan mati.


Cih, trik kuman!


Gumam Aurora pelan sangat pelan bahkan kedua perawat tak mungkin mendengarnya.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2