Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 80 Ketakutan Kaka


__ADS_3

"Lelah, hm?"


Tanya Kaka ketika Aurora sudah masuk kedalam mobil.


"Heem!"


Jawab Aurora manja sambil memeluk lengan kekar Kaka posesif.


Karena mendapat pesan jika sang istri akan pulang telat Kaka berinisiatif menjemputnya apalagi pekerjaan ia memang sudah selesai.


Aurora sungguh sangat senang ini kali pertama ia di jemput. Padahal Aurora tahu pekerjaan Kaka sangat banyak namun suaminya ini masih menyempatkan waktu menjemput.


"Tidurlah, nanti hubby bangunkan jika sudah sampai!"


Aurora tak menjawab ia malah semakin mengeratkan pelukannya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya apalagi insiden tadi membuat Aurora benar-benar geram.


Mencoba ingin menjatuhkannya nyatanya tak semudah itu.


Gresela memang berniat menjatuhkan nama Aurora karena kesal dokter baru itu sudah berhasil membuat semua orang kagum bahkan menggeser posisinya.


Bahkan dokter Alden juga selalu memujinya membuat dokter Gresela semakin tak suka apalagi Aurora selalu menjadi bahan pembicaraan di kalangan dokter dan para pasien membuat posisi dia tenggelam.


Begitu lah orang jika sudah benci, padahal kalau di pikir apa alasan ia harus membenci. Bukankah Aurora tak pernah mengusiknya ataupun menyakitinya.


Aurora semakin mengeratkan pelukannya mencari rasa nyaman membuat Kaka hanya bisa tersenyum.


"Sayang, sudah sampai!"


Ucap Kaka menepuk pelan pipi Aurora bukannya bangun Aurora malah menggeliat menyusup ke belahan ketek Kaka.


Kaka yang merasa geli memilih menggendong sang istri saja dari pada membiarkan tingkah sang istri tak terkendali.


Dengan ringan Kaka membawanya ke kamar mereka lalu membaringkan Aurora di atas ranjang hati-hati.


"Begitu lelah, hm!"


Gumam Kaka langsung menyelimuti tubuh sang istri. Sedang ia beranjak ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian.


Sudah selesai semuanya Kaka mengelap wajah sang istri dan bagian tubuh yang lain agar ketika bangun Aurora tak merasa lengket.


Bahkan Kaka juga yang mengganti baju sang istri dengan piyama tidur. Aurora hanya menggeliat saja dengan mata terpejam.


"By!"


"Di sini sayang!"


Kaka menarik sang istri kedalam pelukan hangatnya. Aurora bergeser mencari posisi ternyaman walau matanya masih terpejam.


Rasa kantuk tak bisa Aurora tahan bahkan sekedar membuka pun terasa berat hingga Aurora hanya bisa bergumam tak jelas.


"Hangat!"


Gumam Aurora pelan ketika sudah berhasil mencari tempat ternyaman ya.


Sudah menjadi kebiasaan baru Aurora akan tidur di atas tubuh Kaka dengan kepala di sembunyikan di cekuk leher Kaka.


Aurora seperti baby meringkuk nyaman membuat Kaka tak masalah malah ia sangat senang begini.

__ADS_1


"Mimpi indah sayang!"


Cup ...


Kaka mengecup pelipis sang istri penuh sayang sambil mengusap-usap punggung Aurora agar nyaman.


Apa yang Kaka lakukan benar-benar membuat Aurora merasa nyaman bahkan mudah terlelap kembali.


Seperti biasa Kaka akan menurunkan sang istri dari atas tubuhnya ketika Aurora sudah benar-benar terlelap. Kaka hanya tak mau sang istri kan merasa sakit jika bangun nanti karena posisi tidur yang tak teratur.


Sudah membaringkan sang istri dengan benar barulah Kaka menarik sang istri kedalam pelukan hangatnya.


Mereka berdua benar-benar terlelap berharap hari esok adalah hari yang baik dari hari kemaren.


Jam terus berputar dengan arahnya hingga rembulan di atas sana mulai memudar berganti mentari yang tersenyum hangat menyambut penghuni bumi yang mulai menjalani aktivitas nya masing-masing.


Begitu pun dengan Kaka dan Aurora yang sedang sarapan bersama karena keduanya harus berangkat bekerja.


"By,"


"Iya sayang!"


Aurora terdiam sejenak mencoba mengatur nafasnya guna mengeluarkan keinginannya. Aurora berharap sang suami tak akan marah.


"Rora ingin melakukan uji coba!"


Cicit Aurora hati-hati berharap sang suami tak akan marah dengan keputusan ia, karena ini juga demi kebaikan Kaka.


"Bolehkah Rora melihat bagaimana reaksi alergi itu?"


Suasana tiba-tiba menjadi hening ketika Kaka menghentikan gerakan makannya bahkan rasanya sulit untuk menelan makanan yang sudah ada di mulutnya.


Melihat keterdiaman sang suami membuat Aurora merasa bersalah.


"By, Rora tak bermaksud menyinggung hubby!"


Ucap Aurora memegang lengan sang suami berharap sang suami mengerti niatnya.


Kaka mencoba tersenyum mengerti maksud sang istri baik. Namun Kaka hanya tak ingin orang lain tahu kelemahannya, apalagi apa orang tersebut terjamin kesetiannya.


"Siapa yang akan membantu?"


Tanya Kaka berusaha tenang tak ingin membuat istrinya merasa bersalah.


"Vivi!"


Kaka kembali terdiam tahu siapa yang sang istri maksud.


"Lakukanlah, hubby akan menyuruh Edward membawa gadis itu ke sini!"


Putus Kaka membuat Aurora menatap sang suami.


"By!"


"Tak apa, ingat jangan lewatkan makan siang. Hubby berangkat dulu!"


Aurora ingin berbicara lagi namun sang suami sudah pergi meninggalkannya bahkan tanpa meninggalkan sebuah kecupan.

__ADS_1


"By, apa kau marah!"


Gumam Aurora tak enak hati karena sudah membuat mood suaminya kacau bahkan makan pun tak di habisi.


Aurora hanya ingin sang suami sembuh tak lebih.


Aurora tak mungkin melanjutkan pengobatannya jika belum tahu bagaimana reaksi alergi itu menyebar untuk itu Aurora meminta begini.


Aurora tak tahu, kondisi itu selalu Kaka tutupi karena merasa jijik. Entah apa yang akan terjadi jika Aurora melihatnya apa akan masih sama atau berubah.


Di sepanjang jalan Kaka hanya diam dengan pikiran rumitnya membuat sang ajudan tak berani bicara.


Bahkan Hanz sekalipun hanya bungkam karena tak biasanya sang Jendral begini pasti ada sesuatu yang di pikirkan.


"Hanz!"


"Siapa Jendral!"


Ucap Hanz cepat karena terkejut tiba-tiba sang Jendral memanggil.


"Beritahu Edward malam ini bawa gadis bernama Vivi ke Kediaman!"


"Siap Jendral!"


Hanz hanya bisa patuh walau sedikit heran tak bisanya sang Jendral menyuruh Edward menghadap apalagi dengan seorang gadis.


"Bagaimana dengan penyelidikan?"


"Dugaan Jendral benar, pangeran Charles di balik ini semua karena tak terima Jendral membuat putri Safira harus di asingkan!"


Kaka tersenyum seringai tebakannya tak pernah melesat.


Mau balas dendam dengan cara seperti ini sungguh sangat memalukan.


"Pantau terus pergerakannya jangan sampai melukai istriku!"


"Siap Jendral!"


Hanz hanya patuh akan titah sang Jendral tanpa berani banyak apalagi di saat mood sang Jendral tak bagus.


Kaka terdiam kembali dengan pikiran rumitnya, seperti nya ia harus siap menghadapi kondisi semacam itu karena pasti lambat laun sang istri juga akan mengetahuinya.


Apa Kaka sanggup berubah di hadapan istrinya apalagi keadaan itu adalah keadaan yang sangat menyakitkan dan menyiksa.


Tangan Kaka mengepal erat dengan rahang mengeras ketika sekelebat kejadian mengerikan terlintas kembali.


Padahal kejadian itu sudah lima belas tahun lalu namun sampai sekarang masih membekas di ingatan Kaka.


Aku harap kau tak akan pergi meninggalkan ku setelah tahu wujud asliku!


Batin Kaka takut, takut jika sang istri akan meninggalkannya.


Jika sampai itu terjadi Kaka bersumpah tak akan pernah percaya lagi dengan yang namanya cinta.


Entah sehebat apa trauma itu hingga membuat Kaka ketakutan seperti ini. Yang jelas kejadian itu hal yang paling tak mau Kaka ingat namun ketika alergi itu kambuh maka kejadian itu akan kembali datang hingga membuat Kaka sesak.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ya ...


__ADS_2