
Di dunia ini pasti ada yang datang dan pergi tak lepas dari takdir itu.
Dua hari kelahiran Kim, kini profesor Tuner pergi tepat di mana kata sah itu terucap.
Beberapa jam lalu seratus Vivi dan Edward telah berubah. Kini mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Edward sendari tadi nampak bungkam berjongkok di pusaran profesor Tuner. Setengah jam lalu profesor Tuner di kebumikan dan itu menjadi pukulan keras bagi Edward begitu dengan yang lain.
Bahkan Shofi dan Fatih langsung terbang dari Jerman ke London.
Profesor Tuner sudah seperti kakek bagi Shofi tentu Shofi merasa kehilangan sosok panutan itu.
Keluarga Aldarberto benar-benar sedang berduka bahkan kepergian profesor Tuner mengguncangkan media dan masa.
Sosok yang terkenal tegas namun lembut, guru sekaligus teman bagi para junior-juniornya.
Semuanya sudah tak lagi di pemakaman hanya ada Edward dan Vivi di belakangnya yang bingung entah harus apa.
Dari kejauhan Arsen menatap sendu sang kakak. Arsen paham betul apa yang di rasakan sang kakak.
Ini pasti berat buat Vivi, namun Arsen hanya percaya pada Edward bahwa Edward akan menjaga sang kakak ketika ia jauh.
Arsen tak bisa menjaga sang kakak dua puluh empat jam karena ia harus menyelesaikan sekolahnya. Arsen hanya berharap Edward tak pernah menyakiti kakaknya.
Jika sampai itu terjadi maka Arsen tak tahu apa sang kakak akan percaya lagi dengan laki-laki atau tidak.
Tatapan Arsen begitu rumit entah apa yang terjadi di masa lalu tentu hanya Arsen yang tahu itu.
Kak tunggu Arsen kuat, Arsen akan menjaga kakak jika memang suatu saat nanti kak Ed tak bisa menepati janjinya.
Batin Arsen kuat, Arsen akan melakukan apa saja demi sang kakak. Sudah cukup selama ini sang kakak menderita karena nya. Arsen bersumpah akan membalas setiap rasa sakit yang sang kakak rasakan.
Puk ...
Sebuah tepukan jantan membuat Arsen menoleh.
"Percayalah, kakak mu akan baik-baik saja bersama Edward. Dia sudah bagian dari kami!"
Arsen tak menjawab ia menatap rumit jendral Kaka yang selalu terlihat berkarisma.
"Kita pulang!"
Lagi-lagi Arsen tak menjawab namun ia menurut walau berat meninggalkan sang kakak.
Pesona sang jendral tak bisa di bantah, aura kepemimpinan nya sangatlah kuat membuat Arsen sedikit merinding.
"Pulanglah!"
Ucap Edward pelan namun masih bisa di dengan oleh Vivi.
Edward tahu jika sendari tadi Vivi tak beranjak sedikitpun di belakangnya. Namun Edward bukan orang tak punya hati membiarkan seorang wanita menunggu dirinya.
Vivi meremas ujung bajunya tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya takut salah bicara apalagi hubungan mereka sangatlah canggung.
Edward menghela nafas berat sebelum beranjak. Dia memang kejam bagi musuhnya namun bagi orang-orang yang pantas ia lindungi Edward tak akan sekejam itu.
__ADS_1
Ia berusaha menekan egonya walau ia tak suka namun seperti nya Edward harus membiasakan diri oleh kehadiran Vivi di sampingnya yang mungkin harus banyak Edward pelajari.
Edwar hanya tahu, Vivi gadis cerewet, keras kepala dan susah di atur. Entah sikap itu akan sama atau akan berbeda Edward harus siap akan semuanya.
"Kenapa mendadak bisu!"
Vivi seketika mengangkat kepalanya menatap mata Edward.
Bohong jika Vivi tak bisa membaca garis kesedihan itu walau Edward terus berusaha baik-baik saja.
"Aku tak tahu harus bersikap apa sekarang!"
Jujur Vivi karena ini benar-benar canggung. Ini hal baru baginya walau sebenarnya ada sebuah ketakutan besar menekan jiwa Vivi.
"Jangan pernah jadi orang lain!"
Deg ...
Vivi terpaku melihat tangannya di tarik oleh Edward. Jantungnya berdetak sangat kencang bukan karena debaran benih cinta melainkan hal lain.
"Masuk!"
Tatapan Vivi seolah kosong ia masuk begitu saja kedalam mobil. Tubuhnya menegang dengan keringat dingin mulai keluar.
Edward tak sadar akan hal itu, ia fokus melajukan mobilnya.
Bukan menuju kediaman Aldarberto melainkan kearah lain.
Entah kemana Edward membawa Vivi pergi, Vivi tak sadar akan hal itu.
Di kediaman Aldarberto tak tepat bagi mereka berbicara dari hati kehati.
Karena ada banyaknya keluarga dan kerabat Aldarberto begitu juga ada keluarga Al-biru.
"Sudah sampai!"
Seketika lamunan Vivi buyar ketika Edward menutup pintu mobil. Dengan cepat Vivi keluar keningnya mengerut melihat bangunan di depan sana.
"Ke-"
Belum sempat Vivi bicara Edward sudah terlebih dahulu pergi membuat Vivi mau tak mau mengekor dari belakang.
Ada rasa takut di hati Vivi kenapa Edward membawanya ke hotel bukan ke kediaman Aldarberto.
"Istirahat lah, aku ada sedikit keperluan di luar!"
Vivi hanya bisa mengangguk karena tenggorokannya begitu kering. Vivi tak berani bertanya walau ingin.
Namun, Vivi merasa lega setidaknya Edward tak akan macam-macam padanya.
Vivi ingin mandi namun ia tak punya baju ganti. Membuat Vivi memilih merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Badannya terasa remuk akan hal yang terjadi membuat Vivi butuh istirahat cukup.
Setelah kepergian Edward Vivi langsung terlelap ke alam mimpi.
__ADS_1
Ranjang itu rasanya nyaman membuat Vivi mudah tertidur.
Edward menelepon seseorang entah siapa itu namun dari tatapannya Edward seolah memaksa.
Entah siapa yang Edward suruh membuat seseorang di sebrang sana hanya bisa mengupat.
"Edward!!!!"
Kesal Qennan benar-benar tingkat dewa. Bagaimana tidak kesal jika Edward menyuruhnya membelikan satu stel pakaian wanita dan juga pria. jika membeli baju untuk Edward Qennan tak masalah, ini buat perempuan sungguh Qennan paling anti akan hal itu.
Setelah menelepon Qennan Edward kembali ke kamar.
Edward terpaku melihat Vivi yang sedang tertidur bak anak kecil, terlihat imut.
"Apa se-lelah itu!"
Ketus Edward ketika melihat jika Vivi belum melepas sepatunya.
Tanpa kata Edward melepaskannya hal pertama yang ia lakukan padahal seumur-umur Edward tak bisa bersikap lembut pada siapapun.
"Arsen!"
Edward mengerutkan kening ketika Vivi memanggil nama Arsen.
"Sebegitu sayang kah kau, sampai tidurpun kau memanggilnya!"
Gumam Edward menatap Vivi rumit, entah apa yang Edward pikirkan tentang Vivi.
Ning nong ...
Suara bel berbunyi membuat Edward langsung beranjak.
"Lain kali jangan menyuruhku sialan!!"
Brak ...
Qennan membulatkan kedua matanya ketika pintu itu malah di tutup bahkan tak ada kata terimakasih padanya. Padahal ia sudah mati-matian menahan malu membeli baju wanita.
"Dasar sahabat lakn**"
Edward masa bodo karena memang selalu seperti itu.
Edward memilih mandi terlebih dahulu karena tubuhnya butuh kesegaran agar kembali fresh.
Tak lama kedua mata Vivi mengerjap terkejut melihat sekeliling.
Vivi bernafas lega melihat Edward ternyata belum kembali.
"Kau sudah bangun!"
Deg ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1