Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 114 K: PC 2 ( Sebuah pertanyaan)


__ADS_3

Dengan tenang mereka sarapan tanpa ada percakapan apapun.


Walau rasa canggung itu masih ada, namun Vivi berusaha terbiasa.


Sudah selesai sarapan Edward membereskan tempat sarapan ia sendiri.


"Bi-biar aku saja!"


"Tak usah, aku sudah terbiasa!"


Jawab Edward cepat mencuci piringnya sendiri.


Vivi hanya diam saja tak mau membantah mungkin memang itu yang terbaik.


"Aku tunggu di ruang tamu, hari ini kamu tak perlu ke lab!"


Ucap Edward langsung beranjak menuju ruang tamu membiarkan Vivi membereskan bekasnya sendiri.


Sudah selesai Vivi langsung menghampiri Edward di ruang tamu.


Bangunan ini memang satu lantai, desainnya berbentuk kubus namun begitu luas dan ada beberapa ruangan yang entah di dalamnya ruangan apa.


Edward sendiri tak pernah menjelaskan, hanya menunjukan satu kamar yaitu kamar mereka sendiri.


Vivi duduk di shopa berhadapan dengan Edward. Entah apa yang akan Edward bicarakan kenapa tiba-tiba dan nampak serius membuat Vivi sedikit takut.


Apa dia akan melarang ku pergi ke lab, atau..


Vivi menduga-duga apa yang akan Edward bicarakan.


"Katakanlah, apa yang kau suka dan tak suka?"


"Hah!"


Pekik Vivi terkejut dengan apa yang Edward katakan. Saking terkejutnya Vivi sampai berdiri menatap Edward aneh.


Sungguh Vivi tak pernah menyangka jika itu yang Edward katakan. Vivi pikir Edward akan melarang dirinya keluar mengingat tadi Edward meminta dia tak perlu pergi ke Lab.


Edward menatap tajam Vivi yang bereaksi berlebihan, emang ada yang salah dengan pertanyaan ku, batin Edward kesal.


Di tatap tajam seperti itu membuat Vivi langsung duduk kembali karena takut merusak mood Edward.


Walau Vivi merasa aneh, karena memang akhir-akhir ini Edward tak sekejam dulu. Edward sedikit menghargai keberadaannya.


"Cepat, aku tak punya banyak waktu!"


Seketika Vivi mencebikkan bibirnya malas mendengar kata itu lagi. Kata yang sering Edward ucapkan ketika ia diam.


"Terasa aneh!"


"Hey, ku bilang jawab bukan bicara sendiri!"


Edward mulai kesal karena Vivi belum juga menjawab pertanyaan nya. Apa sulitnya tinggal menjawab.


Edward sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi perempuan. Bagi Edward mungkin sama seperti laki-laki, jadi beginilah sikap dirinya.


Melihat Edward mulai marah Vivi memutar otak untuk menjawab pertanyaan aneh yang Edward ajukan.


Apa dia akan marah juga jika aku menjawabnya!


Batin Vivi ragu untuk menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Ak-aku suka menolong orang sakit, terutama menghabiskan waktu di lab-"


"Terus!"


Vivi menghela nafas sejenak melihat Edward tak sabaran, apa sulitnya tinggal menunggu.


"Dan--- ak-aku tak suka bahkan membenci satu ruangan dengan laki-laki!"


Edward menatap Vivi intens, jawaban terakhir begitu menggebu seolah memang ada sesuatu kesakitan yang besar.


"Hanya itu?"


"Aku tak tahu, tapi memang itu yang sedang ku pikirkan!"


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"


Vivi menatap Edward aneh, namun ia buru-buru mengalihkan pandangannya.


Vivi menatap ke jauh sana mengingat sesuatu.


"Sebenarnya aku ingin bertemu om ku, tapi sejak dulu sangat sulit mencarinya. Apa mereka juga sudah meninggal atau tidak aku tak tahu!"


"Hey, yang kutanyakan tempat, bukan orang!"


Ketus Edward membuat Vivi melotot sambil menutup mulutnya. Ia terbawa suasana jadi gagal fokus.


Vivi menghela nafas berat tempat apa yang ingin iya kunjungi. Sejenak Vivi berpikir dulu ia ingin sekali pergi ke Belanda mengunjungi Taman bunga keukenhof dan desa kinderdijk.


Namun, apa Edward benar-benar akan mewujudkannya jika ia menjawab atau Edward hanya sebatas bertanya saja.


"Hey, kenapa diam, apa susahnya menjawab!"


Edward benar-benar kesal, ia tak sesabar itu menunggu jawaban Vivi.


Jawab cepat Vivi karena tak mau Edward marah.


Dasar hantu, tempramen akuttttt ...


Batin Vivi kesal karena Edward selalu saja tak sabaran. Tapi, lihatlah, ketika Vivi sudah menjawab Edward malah diam entah apa yang dia pikirkan.


"Hm, baiklah!"


"Tapi ngomong-ngomong tadi kau menyebut om mu. Apa kau masih punya keluarga?"


"Aku tak tahu, setahun yang lalu aku berkunjung kerumah dulu tapi rumah itu sudah menjadi milik orang lain!"


Sendu Vivi padahal Vivi berharap ia bisa bertemu omnya.


"Apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau percaya mengkhianati mu!"


Vivi menautkan kedua alisnya menatap rumit Edward yang entah kenapa pembahasannya semakin aneh.


"Aku tak tahu, semuanya sangat menyakitkan hanya Aurora yang ku percaya di dunia ini!"


"Apa kau benar-benar ingin bertemu om mu?"


"Ya, apa kamu tahu di mana mereka, tolong beri tahu aku--"


"Hey, kau begitu antusias tentang mereka tapi dari tadi kau tak bertanya tentang ku!"


Glek ...

__ADS_1


Vivi menelan ludahnya kasar mendengar nada jengkel Edward. Vivi tak seberani itu bertanya, memangnya siapa dia, lancang akan hal itu.


"Ku perintahkan, kau yang harus bertanya sekarang!"


Tegas Edward seenak jidatnya membuat Vivi benar-benar merasa heran. Tak biasanya Edward bersikap seperti itu.


"Aku ingin bertemu Om, bisakah kau memban--"


"Tidak! Sebelum kau memberikan pertanyaan!"


Potong Edward bak anak kecil yang merajuk membuat Vivi benar-benar merasa aneh, heran dan mulai emosi.


Vivi memutar otak apa yang harus ia tanyakan agar Edward membantunya bertemu sang om.


"Apa yang kamu sukai dan tak kamu sukai?"


Tanya Vivi memberikan pertanyaan yang pertama kali Edward tanyakan.


"Kau typo pertanyaan ku! Tapi ... Tak mengapa!"


Cetus Edward santai membuat Vivi ingin sekali menjahit mulutnya.


"Aku menyukai kebersihan dan tak suka wanita!"


"Apa karena mommy mu!"


Edward menatap intens Vivi, sudah Edward duga pasti Kaka memberi tahu Vivi akan tentangnya.


"Aku tak tahu, se-kecewa apa kamu terhadap mommy mu. Namun, tak semua wanita menjual harga dirinya demi nafsu atau pun uang!"


"Sama! Dan aku tak seperti laki-laki yang kau takutkan!"


Deg ..


Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran rumitnya.


Tanpa mereka sadari mereka terlalu lama mengobrol sampai tak sadar jika mereka telah terbuka satu sama lain.


Edward ci paling anti dekat dengan wanita namun kehadiran Vivi sejak pertama selalu mencuri perhatiannya. Apalagi Vivi orang yang sangat menyebalkan dengan mulut cerewetnya.


Kekecewaan Edward mungkin tak sebesar trauma yang Vivi alami membuat Edward lebih dengan mudah terbiasa akan kehadiran Vivi. Namun, sulit bagi Vivi memeriksa kehadiran Edward tepatnya Vivi belum bisa terbiasa di ruang yang sama tanpa ada jarak.


"Kemarilah!"


Edward meminta Vivi duduk di sampingnya. Semenjak Kaka memberitahu tentang kisah Vivi membuat Edward mengerti di sini Vivi yang lebih menyedihkan dari pada dirinya.


Untuk itu Edward akan menuruti kata-kata Kaka agar dirinya menerima Vivi seutuhnya jangan ada kata melepas.


Semalaman berpikir dan inilah hasilnya, Edward yang akan memutuskan.


Dia gadis yang baik, Daddy yakin Vivi orang yang tepat menyembuhkan luka mu.


Masih teringat jelas di ingatan Edward profesor Tuner bicara sebelum benar-benar pergi.


Dengan ragu dan mulai ada sedikit rasa takut Vivi duduk di samping Edward walau masih ada jarak di antara mereka.


"Bisakah kamu menyembuhkan luka ku, maka akan ku sembuhkan seluruh luka mu!"


Ucap Edward tegas bahkan tak ada keraguan sedikitpun membuat Vivi benar-benar mematung.


Jantung Vivi berdetak lebih cepat dari biasanya menatap Edward tak percaya. Vivi seolah menatap sosok lain dari diri Edward. Benarkah ini Edward yang ia kenal, kemana sikap angkuh, menyebalkan, tempramen dan pemarah itu.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2