
Dret ...
Drett ...
Sendari tadi ponsel Aurora berdering membuat Vivi sangat kesal karena menggangu tidur ya.
Pagi-pagi sekali kenapa orang menggangu saja sedang Aurora sendiri malah damai di alam tidurnya.
Vivi membangunkan Aurora karena berisik sekali.
"Ra, kak Fatih menelepon!"
Seketika Aurora langsung bangun ketika mendengar nama sang kakak di panggil. Tak biasanya sang kakak menelepon di pagi buta sepesial ini.
Sambil menguap Aurora mengangkat panggilan sang kakak.
"Cepat ke mansion temani kak Philo, sekarang!"
Tut ...
Sit,
Umpat Aurora karena sang kakak malah mematikan sambungannya langsung.
Yang benar saja pagi-pagi begini di suruh pergi ke mansion. Entah ada apa kenapa Fatih menyuruh Aurora ke sana.
Walau kesal tapi Aurora langsung melesat ke kamar mandi guna bersiap.
"Vi, aku harus ke mansion kak Fatih kalau mau kaluar jangan lupa matikan AC nya!"
Pesan Aurora sedikit berteriak karena Vivi masih tidur.
Aurora menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut sang kakak murka jika dia tidak datang tepat waktu.
Aurora yang baru sampai di mansion sang kakak terkejut mendengar teriakan sang kakak yang memanggil para bodyguard. Entah apa yang terjadi kenapa sang kakak berteriak.
Langkah Aurora tertahan ketika beberapa bodyguard masuk.
"Cepat panggil dokter!"
Deg ...
Aurora terkejut ketika sang kakak menyuruh memanggil dokter. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga sang kakak se-panik itu.
Aurora langsung berlari menuju kamar sang kakak. Seketika Aurora diam mematung melihat kakak iparnya tak sadarkan diri.
Aurora ingin membantu namun langkahnya sangat sulit bergerak karena sang kakak belum tahu jika dia sudah menjadi seorang dokter.
Ya, tujuh tahun ini semua keluarga tak ada yang tahu jika ia adalah seorang dokter. Apalagi ketika satu tahun Aurora bekerja di rumah sakit Shofi tak lama sang papa memanggil pulang untuk mengurus perusahaan peninggalan om Alam yang nanti akan di wariskan pada Mentari ketika Mentari sudah siap.
Pada awalnya Aurora menolak karena tak mau Aurora mengutarakan keinginannya menjadi Dokter. Tapi sang papa tak mengijinkan, hingga Aurora memberikan syarat pada sang papa harus mengijinkan dirinya jadi dokter setelah usia Mentari menginjak delapan belas tahun.
Sang papa menyetujuinya sampai sekarang Aurora menjadi CEO di perusahaan itu. Tapi tiba-tiba sang kakak menelepon menyuruhnya ke rumah menemani Shofi sebelum Aurora kembali ke Indonesia sesudah perjalanan bisnisnya di Jerman.
Sudah satu minggu Aurora berada di Jerman karena perjalanan bisnis dan rencananya besok Aurora kembali.
__ADS_1
Dan di sinilah sekarang, Aurora masih diam mematung tak bisa berbuat apa-apa untuk memeriksa kakak iparnya.
Aurora tak mau Fatih mengetahui nantinya dan itu akan menjadi masalah besar.
Bahkan sampai dokter memeriksa pun Aurora masih diam dengan wajah shok nya.
Fatih sendari tadi bulak balik takut terjadi apa-apa pada sang istri.
Dokter terdiam menatap wajah pucat Shofi sambil merasakan detak nadi Shofi. Seperti ada sesuatu yang aneh namun sang dokter takut diagnosa nya akan salah.
"Apa yang terjadi pada istri saya dok?"
Tanya Fatih cepat ketika dokter sudah memeriksa Shofi. Sang dokter terdiam karena merasa takut melihat wajah Fatih yang mengeras karena cemas dan panik.
"Tuan muda tenang dulu,"
"Pertama-tama tidak ada hal yang serius terjadi, namun --"
"Apa cepat katakan!"
Kesal Fatih membuat Aurora langsung menahan lengan sang kakak agar tenang.
Fatih terdiam berusaha menahan emosinya lalu duduk di samping sang istri dan mengisyaratkan sang dokter melanjutkan penjelasannya.
"Seperti nya nona muda sedang hamil!"
Deg ...
Fatih diam membeku mendengar ucapan sang dokter.
Jelas dokter panjang lebar menjelaskan secara rinci.
Fatih hanya diam saja bingung harus bereaksi apa. Fatih hanya diam saja sambil menatap wajah pucat sang istri.
Apa benar yang dokter katakan jika Shofi sedang hamil atau ini hanya salah pendengaran saja.
Sungguh Fatih tak mau berharap lebih seperti yang sudah-sudah ketika sang dokter mendiagnosa bahwa Shofi hamil namun nyatanya tak ada janin di dalam tubuh Shofi membuat Shofi semakin murung. Fatih tak mau hal itu terjadi lagi dan membuat Shofi semakin terpuruk.
Aurora yang melihat sang kakak hanya diam saja langsung menyuruh dokter keluar.
"Kakak,"
Panggil Aurora sambil menepuk pundak sang kakak.
"Apa yang harus kakak lakukan dek, kakak tak mau membuat kak Philo tambah sedih,"
Lilir Fatih memegang tangan sang istri lembut.
Aurora paham betul apa yang di rasakan sang kakak semua ini pasti menyakitkan.
"Bagaimana kalau sekarang kita bawa di saat kak Philo belum sadarkan diri. Adek yakin itu tak akan menyakitinya!"
Fatih terdiam sejenak mendengar penuturan Aurora. Apa harus seperti itu guna menjaga perasaan Shofi.
"Coba dulu, kita tak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan!"
__ADS_1
Ucap Aurora lagi karena Aurora yakin apa yang di ucapkan dokter tadi sama dengan pengamatan Aurora.
"Baiklah!"
Pada akhirnya Fatih menurut membuat Aurora tersenyum. Aurora langsung menyiapkan mobil sedang Fatih menggendong sang istri hati-hati.
Bahkan Aurora sendiri yang membawa mobilnya sedang para bodyguard mengikuti dari belakang.
Sesampai nya di rumah sakit Fatih menidurkan sang istri dengan hati-hati dokter perempuan langsung siaga. Fatih langsung mundur membiarkan ruang bagi dokter memeriksa sang istri.
Wajah tegang terlihat jelas di wajah Fatih membuat Aurora memegang tangan sang kakak. Aurora berusaha menenangkan sang kakak.
"Kenapa sangat lama dek!"
Ucap Fatih merasa cemas karena takut terjadi sesuatu. Padahal baru beberapa menit sang dokter memeriksa tapi bagi Fatih itu sangatlah lama.
"Tuan!"
Ucap dokter membuat Fatih mendekat dengan perasaan tak karuan. Melihat wajah Dokter yang tegang membuat Fatih semakin di buat tak karuan.
"Herzlichen Glückwunsch, Ihre Frau ist schwanger!"
Deg ...
Tubuh Fatih menegang dengan mata membulat seolah atmosfer di ruangan itu sangat dingin.
"Das Baby ist erst vier Monate alt,"
"Kakak apa kakak baik-baik saja!"
Bruk ....
"Kakak!"
Pekik Aurora terkejut ketika Fatih malah tak sadarkan diri.
Bukan hanya Aurora yang terkejut sang dokter pun terkejut melihat Fatih yang malah tak sadarkan diri.
Aurora jadi kebingungan melihat sang kakak yang malah pingsan di saat situasi seperti ini.
Dua bodyguard masuk mengangkat tubuh Fatih dan menidurkannya di atas shopa. Aurora memeriksa sang kakak lalu memberinya minyak telon.
"Ayolah kak bangun!"
Gumam Aurora ingin menangis kenapa bisa sang kakak malah pingsan di saat Shofi juga belum sadarkan diri.
Suami istri ini benar-benar membuat Aurora kewalahan dan sang kakak kenapa bisa pingsan di momen mengharukan ini.
Seperti nya Aurora harus segera menghubungi kabar gembira ini pada sang Bunda.
Sang bunda dan sang papa pasti bahagia mendengar kabar jika menantunya sedang hamil.
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1