
"My love, ini sudah malam ayo masuk?"
Ajak Edward pada sang istri, sesudah makan malam memang Vivi mengajak Edward duduk di taman sambil menikmati sunyi nya malam dengan taburan bintang di atas sana.
Bulan membentuk senyuman manis membuat pemandangan malam ini nampak indah apalagi di temani suami tercinta.
"Bentar lagi my heart!"
"Gak baik cinta, angin juga mulai dingin!"
"Andai saja kamar kita atapnya bisa di buka jadi aku tak perlu keluar untuk sekedar menatap bintang dan bulan!"
"Nanti aku buat untuk mu!"
"Benarkah, My heart?"
"Apapun untuk mu!"
Cup ...
"Terimakasih, kau memang yang terbaik!"
Puji Vivi sambil mengecup pipi Edward lembut.
"Sekarang masuk ya?"
"Gendong!"
"Dengan senang hati!"
Edward menggendong Vivi ringan walau Vivi terlihat berisi di kehamilannya namun bagi Edward Vivi tetap lah ringan dalam gendongannya.
Edward menidurkan sang istri hati-hati, lalu ia juga berbaring di samping sang istri.
Mereka saling berpelukan satu sama lain, mencari rasa nyaman.
Edward dan Vivi tak menyangka jika hubungan mereka akan sampai ke tahap ini. Vivi pikir ia tak akan bisa mengingat ia sangat membenci Edward karena alasan kedua orang tuanya pergi.
Tapi entah kapan cinta itu muncul Vivi tak tahu. Entah karena sikap Edward yang selalu sabar atau ada hal lain Vivi tak tahu. Yang jelas Vivi sekarang sangat mencintai Edward terlepas dari rasa bencinya.
Vivi mengeratkan pelukannya, dada Edward adalah tempat ternyaman Vivi tidur. Detakan jantung Edward bak melodi pengantar tidur.
"Aku sangat mencintaimu Ed, terlepas dari rasa benciku!"
"Aku lebih dari itu!"
"Jangan pernah tinggalkan aku, aku sudah menyerahkan semuanya pada mu!"
"Tak akan cinta, kamu adalah rumah tempatku pulang. Tak akan ada rumah lain selain dirimu, kamu rumah pertama dan terakhir tempat singgah dan pulang ku. Tetap lah diam jangan pindah kelian tempat!"
"Kenapa kau begitu besar mencintai ku, Ed?"
"Aku tak tahu, aku pun bingung! yang jelas aku tak suka kamu bersedih dan menangis walau aku adalah alasan kesedihan dan tangisanmu. Aku ingin kamu bahagia di sisiku, dan hanya aku yang kamu butuhkan!"
"Kamu laki-laki hebat yang aku punya, kamu seperti Daddy, laki-laki penuh tanggung jawab dan penyayang!"
"Coba ceritakan sedikit tentang Daddy mu?"
__ADS_1
Vivi terdiam menerawang jauh tentang semuanya.
Sang Daddy sosok penuh tanggung jawab, baik dan penyayang. Selalu ada buat keluarga di tengah kesibukannya. Menyempatkan bermain di tengah lelahnya. Sosok laki-laki yang Vivi cinta, Vivi jatuh cinta pada sang Daddy yang menurut Vivi sang Daddy adalah dewa kehidupan dan cintanya.
Namun beberapa hari sebelum terjadinya insiden sikap sang Daddy berubah cuek dan tak peduli. Raut wajahnya terlihat cemas dan takut membuat Vivi tak mengerti waktu itu.
Hingga di mana Vivi terkejut ketika sang Daddy menyuruh dia membereskan barang-barangnya karena akan liburan. Vivi pikir itu adalah sebuah liburan menyenangkan melainkan liburan penuh kesakitan.
Rasa cinta dan kasih yang Vivi rasakan perlahan memudar dengan keadaan yang membuat Vivi menjadi benci pada sosok yang di anggapnya dewa.
Membuang dan menghancurkan cintanya bahkan Vivi harus melewati masa-masa sulit di negara asing.
Mengingatnya membuat Vivi sakit apalagi akan kejadian malam naas itu.
Hati Vivi sangat hancur dan mulai mengutuk takdirnya hingga kebencian itu semakin besar.
Hiks ...
"Sudah cinta, jangan di lanjutkan jika kamu tak sanggup!"
Edward mengeratkan pelukannya, sungguh Edward tak berniat mengingatkan Vivi akan luka lama.
Edward faham betul apa yang Vivi rasakan, karena rasa sakit itu sama.
"Tidak Ed, aku hanya menyesal telah membencinya. Padahal Daddy tetap akan selalu menjadi pahlawan ku!"
"Bukan hanya menjadi pahlawan kamu, tapi dia juga menjadi pahlawanku. Aku berhutang nyawa pada kedua orang tuamu. Maka akan ku berikan seluruh hidupku untuk mu, my love!"
"Kenapa terdengar menggelikan Ed?"
"Jangan meledek cinta!"
"Tidak cinta, aku yang bahagia, beruntung memilikimu di sisiku. Daddy Tuner benar, kamu adalah wanita istimewa, hati mu penuh kelembutan dan kasih sayang aku menjadi iri pada kedua orang tuamu, andai aku terlahir di antara mereka!"
Deg ...
Vivi tertegun mendengar curahan hati Edward, Vivi tahu apa yang di rasakan Edward. Patahnya hati Edward jauh lebih besar dari hancurnya hati Vivi. Edward jauh lebih menderita dari pada dirinya.
Walau Vivi benci setidaknya Vivi masih bisa merasakan kasih sayang dan cinta kedua orang tuanya sedang Edward tidak sama sekali.
Edward hanya laki-laki kesepian yang menginginkan cinta dan kasih yang tulus. Menginginkan tempat sandar yang nyaman untuk pulang. Merindukan pelukan hangat guna menghilangkan penat.
"Jangan bersedih, sekarang ada aku. Aku akan menjadi Daddy dan mommy mu, bukankah kamu bilang aku adalah rumah tempat mu pulang?"
"Ya, kamu adalah rumah ku! Terimakasih atas segalanya!"
"Aku di sini tak akan pernah pergi kemana-mana!"
Edward semakin mengeratkan pelukannya tanpa menyakiti. Di kecupnya bertubi-tubi puncak kepala Vivi.
Sungguh Edward benar-benar bersyukur mempunyai Vivi di sisinya.
"Oh iya my love?"
"Ada apa?"
"Besok seperti nya kita akan kembali ke Jerman!"
__ADS_1
Vivi terdiam, ia masih ingin berada di Indonesia kenapa mendadak seperti ini. Padahal Vivi ingin beberapa Minggu lagi tinggal.
"Apa kamu betah di sini?"
"Jujur Ed, aku ingin beberapa Minggu lagi tinggal, tapi jika pekerjaan kamu mendesak aku tak apa. Apa kita harus bereskan sekarang?"
"Tidak perlu, biarkan barang kita di sini agar ketika berlibur nanti kita tak perlu banyak membawa barang!"
"Benarkah?"
"Iya, mungkin kita bisa kembali ketika baby sudah agak besar!"
"Ahhh,,, rasanya aku jadi tak sabar menanti kelahiran baby?"
"Kenapa kamu begitu antusias cinta, biasanya perempuan akan takut melahirkan?"
"Ya aku juga takut Ed, tapi aku menantikan momen itu. Kamu harus janji menemani aku akan?"
"Iyalah cinta, aku akan mendampingi mu, kita berjuang sama-sama!"
"Hmm,,, anak kita cewe apa cowo ya, rasanya aku tak sabar!"
Girang Vivi tak sabar akan semuanya, entahlah Vivi kenapa bisa seantusias ini. Padahal awal ia begitu belum siap hamil dan melahirkan. Entah bagaimana Vivi bisa se-semangat ini.
"Semangat begini, kenapa cinta?"
"Entahlah, mungkin karena Aurora!"
"Aurora?"
"Ya!"
"Apa yang dia katakan?"
"Rahasia!"
"Wow, jadi sekarang mau rahasia-rahasia an sama aku?"
"Ed, ini urusan wanita jadi jangan paksa ya!"
Kekeh Vivi geli mengingat apa yang dikatakan Aurora tempo hari.
Vi, melahirkan memang sakit tapi rasa sakit itu akan hilang ketika kamu sudah melihat anak mu.
Apalagi, suami mu pasti akan semakin sayang dan cinta bahkan dia akan memperlakukan kamu lebih.
Seperti Kaka, dia begitu romantis!
Ah,,, rasanya menyenangkan bahkan aku ingin segera punya baby lagi!
Vivi senyum-senyum sendiri mengingat ucapan Aurora. Bahkan Vivi menenggelamkan kepalanya di cekuk leher Edward membuat Edward heran dengan tingkah istri yang tiba-tiba manja.
Edward semakin curiga apa sebenarnya yang di katakan Aurora pada istrinya.
Seperti nya Aurora memang pengaruh besar bagi Vivi.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...