
Vivi menghela nafas melihat pesan yang Edward kirim.
Edward bilang, ia akan pulang dua hari lagi entah kenapa membaca pesan tersebut membuat Vivi ingin marah.
Apa Edward benar-benar tak peduli dengannya.
Tapi untuk apa Vivi merasa marah, bukankah itu yang selama ini ia inginkan. Sungguh Vivi benar-benar bingung dengan dirinya kenapa ia tiba-tiba menginginkan Edward pulang bukan nanti tapi hari ini.
Pikiran Vivi sangatlah kacau bahkan ia hanya bisa memandang berkas itu tak pernah sekalipun Vivi sulit memutuskan sesuatu tapi entah kenapa kali ini ia sulit sekali.
Vivi ingin Edward membantunya, mendapatkan jawaban atas surat itu. Apa yang terbaik, sungguh baru kali ini Vivi menginginkan pendapat Edward.
Sang om terus-menerus menekan dia membuat Vivi bingung memutuskan.
"Aku tak butuh ini bukan!"
"Mereka sudah membuang ku, untuk apa aku harus menjaga aset mereka!"
"Mereka tak peduli, aku sudah bukan bagian mereka lagi. Om sangat baik, memang mereka yang pantas mendapatkannya. Aku tak peduli!"
Vivi menekankan hatinya apa yang harus ia lakukan. Rasa sakit itu masih ada kenapa harus peduli.
Vivi tak mau ikut campur dan tak mau tahu akan semuanya yang terpenting sekarang saudaranya bisa sembuh.
Srettt ...
Vivi menandatangani surat itu tanpa pikir karena kepalanya sudah pusing. Entah pusing karena surat itu atau pusing akan hatinya yang menginginkan namun logikanya terus menyangkal.
"Aku akan mengantarkannya setelah operasi!"
Gumam Vivi bersiap berangkat menuju rumah sakit. Vivi berencana akan memberikannya kerumah sang om karena tak mungkin membahas masalah ini di rumah sakit tempat sang om bekerja. Vivi sudah tahu jadwal sang om di mana hari ini sang om pulang lebih cepat.
Vivi berusaha fokus akan tugasnya sebagai seorang dokter. Vivi tak mau pikiran kacaunya menghancurkan reputasinya.
.
.
Di sebuah ruangan yang begitu luas namun terlihat menyeramkan. Bau amis tercium kental membuat siapa saja mual. Suara jeritan terdengar nyaring terdengar pilu dan menyakitkan hingga suara itu tak terdengar lagi dengan kesadaran yang mulai menghilang.
Sebuah pembedahan manusia dimana para manusia itu mengambil paksa organ-organ aktif untuk diperjualbelikan dengan harga fantastis.
Ya, ruangan itu tempat di mana pengambilan organ-organ manusia sehat untuk di jual pada orang-orang tertentu.
Perjalanan organ manusia sudah berjalan sangat lama. Mereka begitu cerdik dan licik hingga keberadaan mereka tak tercium oleh aparat.
Namun, kali ini mereka harus hati-hati karena keberadaan mereka mulai tercium oleh seseorang. Bahkan operasi mereka sebulan lalu gagal dan kini mereka beroperasi lagi.
Pembedahan memerlukan waktu yang cukup lama karena mereka harus hati-hati aga organ itu tetap aktif.
Setelah mendapatkannya mereka menyimpan di sebuah boks khusus agar organ itu tetap aman dan bisa di operasikan nantinya.
Sungguh sangatlah keji perbuatan mereka bahkan sudah selesai sisanya mereka akan memutilasi dan mencincangnya memberikannya pada hewan buas dan juga Kubang buaya.
Tak .. Tak ..
Suara langkah kaki terdengar nyaring membuat beberapa orang bersiap.
__ADS_1
"Tuan!"
"Ada berapa orang?"
"Sepuluh, satu tak bisa kita operasi!"
Ha .. Ha ...
Tawa menyeramkan terdengar nyaring membuat siapa saja akan merinding. Sungguh sangatlah kejam wajah di balik malaikat itu yang tak lebih dari iblis berwujud manusia.
"Bagus, bereskan sisanya dan kita harus segera mengirim mereka!"
"Baik tuan!"
Dokter Candra berjalan meninggalkan ruang bau amis itu di ikuti oleh sang kaki tangan.
"Tuan seperti nya kita tak bisa lagi beroperasi di gedung ini!"
"Saya tahu, kita hanya perlu bermain cerdik agar keponakan bodoh ku menandatangani surat itu!"
"Apa dia tidak akan curiga?"
"Di masih sama, haya gadis lugu yang bisa di manfaatkan bahkan dia tak tahu jika aset rumah sakit itu semua atas namanya ha ... Ha ..."
Tawa kepuasan terdengar menyakitkan namun tak peduli. Hatinya sudah gelap dan dokter Candra tak peduli akan saudaranya sendiri baginya hanya sebuah kepuasan.
"Sungguh rencana yang sempurna tuan, lima belas tahun lalu tuan membunuh kedua orang tuanya dan sekarang tuan ingin menyingkirkannya juga!"
"Harusnya dia mati bersama kedua orang tuanya, sialnya kakak angkat ku terlalu cerdik menyembunyikan Vivi tapi sekarang gadis itu datang kepadaku, bukankah ini sebuah keberuntungan ha ... Ha ..."
Ha .. Ha ...
Tawa yang sangat menyakiti seseorang yang sendari tadi bersembunyi.
Tangannya mengepal erat dengan rahang mengeras bahkan dadanya terasa sakit dan sesak hingga sulit bergerak.
Kenyataan pahit lagi-lagi harus Vivi rasakan bahkan ini lebih menyakitkan dari pada di buang.
Sungguh kenyataan apa yang barusan ia dengar.
Jadi itu alasannya!
Alasan yang selama ini Edward sembunyikan dan Vivi baru sadar dan ngeh akan semuanya.
Pantas saja cerita sang om sangatlah berbeda walau pada awalnya Vivi sempat terkecoh namun semuanya sudah jelas dan ini sangatlah menyakitkan.
Vivi berusaha bangkit di sisa tenaganya sungguh orang yang selama ini Vivi percaya dan membantunya ternyata tak lebih dari seorang binatang.
Kesakitan, kesesakan sudah tak bisa Vivi bendung lagi.
Brak ...
Dokter Candra dan sang kaki tangan terkejut melihat pintu ruangannya koyak.
"Kau menginginkan ini bukan!"
Deg ...
__ADS_1
Dokter Candra membulatkan kedua matanya melihat siapa yang masuk bagaimana bisa Vivi ada di sini.
"Kau kaget bukan kenapa aku ada di sini!"
Sinis Vivi menatap tajam sang om tergambar jelas kemarahan dan rasa kecewa.
Vivi memang tak fokus ketika akan memulai operasi hingga harus di gantikan oleh temannya dan menyuruh Vivi istirahat saja apalagi wajah Vivi sangat pucat.
Vivi juga merasa heran dengan tubuhnya namun Vivi berusaha menghiraukan nya.
Ketika perjalanan pulang, ada sebuah pesan masuk dimana sang om di sekap oleh seseorang. Tentu Vivi yang sedang tak baik-baik saja terkejut dan tak bisa berpikir dengan jernih hingga ia nekad menuju lokasi orang misterius itu berikan tanpa pikir panjang.
Di otak Vivi saat itu hanya keselamatan sang om walau ia harus menguras semua uang tabungannya demi menebus sang om.
Vivi diam-diam menyusup namun apa yang Vivi lihat dan dengar, tempat yang sangat menjijikan dan kenyataan yang membuat Vivi hancur.
Ha .. Ha ...
Dokter Candra tertawa sinis melihat keberadaan Vivi yang ada di markasnya. Jika Vivi sudah tahu maka jangan harap dia bisa keluar dari sini.
"Bagus jika kau sudah tahu, maka aku tak perlu pura-pura lagi. Jadi cepat serahkan berkas itu!"
Srek ... Srekk ...
Vivi merobek berkas itu menjadi kepingan kecil lalu melemparnya hingga berhamburan.
"Kau!"
"Kau pikir aku bodoh, jangan harap kau bisa lolos. Kau harus mati!"
Bentak Vivi menggebu berusaha menyerang, namun di hadang oleh sang kaki tangan.
"Kau pikir mau membunuhku, sebelum itu terjadi kau yang akan mati ha ... Ha ... Atau kau menjadi pengganti no sepuluh seperti nya organ mu sehat ha ... Ha ..."
"Bajingan, bi***b, ib**ssss!"
Bentak Vivi sungguh tak bisa mengontrol amarahnya lagi.
Saat ini Vivi ingin mencekik sang om yang sudah tega membunuh kedua orang tuanya dan memanipulasi kematiannya. Namun Vivi harus melawan sang kaki tangan.
Bruk ...
Ahhkkk ...
Jerit Vivi memegang perutnya yang terasa sakit akibat tendangan sang kaki tangan.
"Cih, tak masalah kau merobek surat itu tapi dengan kematian mu rumah sakit itu akan menjadi milikku seutuhnya ha .. Ha..!"
Sinis sang om mencengkram dagu Vivi membuat Vivi meringis. Ia berusaha melawan namun sakit di perutnya membuat Vivi lemas.
"Bunuh dia!"
Deg ...
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1