Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 118 K: PC 2 (Gadis pintar)


__ADS_3

Dengan langkah gontai Vivi berjalan masuk kediaman. Sungguh hati ini ia benar-benar merasa lelah. Entah ada apa dengan baju Vivi kenapa ada banyak bercak darah di sana.


"Kenapa?"


Deg ...


Vivi terkejut mendengar suara bas khas seseorang yang Vivi kenal siapa pemiliknya.


Vivi benar-benar terkejut melihat Edward sudah ada di kediaman. Bukan kah Edward harusnya pulang malam, kenapa jam lima sore sudah ada di kediaman membuat Vivi benar-benar terkejut.


"Kenapa dengan baju mu?"


Tanya Edward memperjelas pertanyaan nya. Edward bukan tidak tahu hanya saja ia ingin kejujuran dari mulut Vivi. Apa Vivi berani membohonginya atau tidak.


"Di jalan ada kecelakaan, aku hanya membantu!"


Jawab Vivi lemah, ia memang sangat lelah sekali.


"Ya sudah mandi sana!"


Vivi menautkan kedua alisnya menatap Edward tak percaya. Vivi pikir Edward akan marah padanya.


Vivi menatap Edward yang malah duduk di shopa sana sibuk kembali dengan ponselnya.


Dalam kebingungannya Vivi pergi menuju kamar guna membersihkan tubuhnya. Apalagi tubuhnya bau amis membuat Vivi tak enak.


"Apa dia benar-benar si hantu!"


Gumam Vivi merasa takut akan perubahan Edward. Kenapa Edward benar-benar berubah, bahkan tak Edward tak mempertanyakan lagi, hanya sebatas bertanya itu saja.


Harusnya Vivi senang dengan perubahan Edward namun entah kenapa ia malah semakin takut.


Karena tak mau berpikir terlalu jauh, Vivi memutuskan segera mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Tubuh Vivi merasa fresh kembali setelah mandi seakan berat di pundaknya menghilang.


Ini sudah mulai perang seperti nya Vivi harus segera menyiapkan makan malam.


Ia keluar dengan pakaian santainya, namun langkahnya terpaku melihat siapa yang ada di dapur.


Edward, sedang sibuk memasak membuat Vivi terpaku.


"Duduklah, jangan terus berdiri kaki mu pasti pegal!"


Ucap Edward tanpa menoleh sedikitpun membuat Vivi terperanjat.


Bagaimana bisa Edward tahu akan kehadiran dirinya. Bukankah ia berjalan sangat pelan bahkan diam jauh dari posisi Edward.


Tentu, insting Edward sangatlah kuat karena ia sudah terlatih apalagi wangi parfum yang Vivi kenakan membuat Edward langsung tahu.


Wangi parfum dengan ciri khas nya sendiri tercium lembut namun menyegarkan.


"Tak usah membantu, duduk lah!"


Perintah Edward membuat Vivi menghentikan langkahnya.


Nyatanya menu yang Edward siapkan sebentar lagi selesai tinggal memindahkannya saja ke atas piring.


Vivi terus memerhatikan kemana gerakan Edward pergi. Sangat cekatan dan terampil bahkan Edward membereskannya begitu rapi kalah dengan dirinya yang asal.


Edward menyimpan satu piring di depan Vivi lalu menaruh satu piring lagi di tempat ia duduk.


"Makanlah!"


Ucap Edward sambil memberikan minum pada Vivi.

__ADS_1


"Kenapa kau baik?"


"Kau istriku!"


Dam ...


Vivi terdiam tak menyangkal itu, karena memang ia istrinya. Tapi Vivi tak suka Edward yang seperti ini.


Edward segera makan miliknya tanpa peduli dengan tatapan Vivi.


Huh ...


Vivi menghela nafas pelan baru mulai makan makanan yang sudah Edward siapkan.


Tak ada percakapan lagi di antara mereka, mereka berdua fokus makan sampai makan itu habis.


Vivi akui, masakan Edward sangatlah lezat berbanding balik dengan masakan dia yang biasa saja.


"Ka-kamu sudah memasak biar aku saja!"


Ucap Vivi menahan Edward mencuci piring. Edward menatap lengannya yang di tahan Vivi membuat Vivi tersadar.


"Maaf!"


Cicit Vivi merutuki kebodohannya yang tak sadar.


"Tak apa!"


Jawab Edward singkat dalam hal ini Edward belum terbiasa harus di bersihkan oleh orang lain.


Vivi membiarkan Edward melakukan apa saja toh ia tak bisa membantah.


"Aku tunggu di shopa!"


Ucap Edward tegas membuat Vivi terdiam, apa yang akan Edward katakan kali ini sepertinya ada hal yang serius.


Apa jangan-jangan Edward tahu aku berkeliaran!


Batin Vivi menduga-duga, entah kenapa kali ini Vivi benar-benar takut jika Edward benar-benar marah.


Sudah selesai mencuci tangan Vivi segera menghampiri Edward yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


Vivi duduk di hadapan Edward ragu menunggu apa yang akan Edward katakan.


"Mendekat lah!"


Perintah Edward tak mau di bantah, itu artinya Vivi harus duduk di shopa yang sama dengan Edward.


Dengan ragu Vivi mendekat walau rasa takut itu perlahan menghilang entah Vivi sadar atau tidak, mungkin karena terbiasa.


"Bukalah kotak itu!"


Tunjuk Edward pada sebuah kotak persegi panjang tanpa melihat Vivi, Edward sibuk kembali pada layar ponselnya.


Vivi menatap rumit kotak di depannya. Entah apa isinya membuat jantung Vivi berdebar.


Perlahan Vivi mengambil kotak tersebut lalu membukanya.


Deg ...


Vivi terkejut melihat dua lembar kertas di dalam kotak itu. Bahkan mata Vivi membulat sempurna seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"In-ini!"


"Kita akan pergi besok!"

__ADS_1


Glek ...


Dengan susah payah Vivi menelan ludahnya kasar. Sungguh kenapa mendadak seperti ini dan Edward baru memberi tahunya.


Bagaimana bisa, sedang Vivi berencana besok ia akan kerumah sakit tempat omnya bekerja lagi. Jika ia pergi tentu ia tak bisa bertemu dengan sang om.


"Kenapa, apa tak suka dengan kejutan ini?"


Nada kecewa terdengar jelas membuat Vivi serba salah. Apa yang harus ia katakan, jika jujur Vivi takut Edward akan marah karena berkeliaran tanpa izin.


"Aku sudah berusaha membagi waktu, apa ini akan sia-sia!"


Lagi-lagi Vivi tak bisa berkata apa-apa sungguh Vivi tak menyangka jika Edward akan mengajaknya liburan ke Belanda.


Negara yang Vivi impikan namun bukan dalam situasi seperti ini.


"Ta-tapi aku belum minta cuti!"


"Rose sudah mengurusnya!"


Kali ini Vivi tak bisa menjawab lagi karena hanya itu satu-satunya alasan.


Bagaimana ini, kenapa mendadak. Apa Edward sedang merencanakan sesuatu!


Batin Vivi benar-benar bingung cara menolaknya. Apalagi Vivi tak tahu berapa lama mereka di sana.


"Bukankah ini tempat yang kau impikan?"


"Iya!"


"Lalu kenapa terlihat tak senang!"


Sungguh Vivi benar-benar di buat mati kutu, ia kehabisan kata-kata walau sendari tadi tak banyak mengelak. Namun, Vivi gadis yang tak pandai berbohong. Jika Vivi bicara Vivi takut ia malah keceplosan.


"Kalau kau tak senang, kita batalkan saja!"


"Jangan!"


Ucap Vivi cepat, ia tak enak hati sampai harus di batalkan. Edward sudah berusaha membagi waktu untuk mengajaknya liburan. Apa Vivi setega itu sampai membuat rencana Edward berantakan.


"Artinya?"


"Ki-kita akan pergi, terimakasih!"


Ucap tulus Vivi, seperti nya Vivi harus menahan bertemu om nya. Ia tak mau mengecewakan Edward. Edward sudah berusaha harus ia hargai.


"Gadis pintar!"


Deg ..


Tubuh Vivi menegang dengan tatapan kosongnya.


Sikap Edward terlalu berani sampai mengelus kepalanya membuat Vivi benar-benar tak bisa berkata apa-apa.


Vivi terpaku menatap Edward yang menghilang di balik pintu sana, Entah ruangan apa Vivi tak tahu dan tak berani untuk tahu.


Tanpa sadar Vivi memegang puncak kepalanya yang tadi Edward elus. Entah kenapa ada kehangatan yang menyapa hati Vivi.


Bahkan jantung Vivi berdetak lebih cepat dari biasanya.


Perasaan apa ini!


Batin Vivi menyangkal semuanya apa yang ia rasakan.


Sikap hangat Edward membuat rasa itu terus menyelinap hadir tanpa permisi pada sang pemilik hati.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2