
Qennan dari satu jam yang lalu sudah sampai di Sachsen salah satu kota besar di bagian Jerman Timur terdiri dari perbukitan dan pegunungan.
Sehingga udara di sini begitu kencang dan segar apalagi di pagi hari walau terasa dingin karena cuaca yang terbilang ekstrim.
Qennan salah satu kaki tangan Kaka yang mempunyai keterampilan IT tepatnya orang sering memanggil Qennan si otak robot karena selalu ada penemuan yang Qennan ciptakan.
Qennan sekarang paham kenapa sang lord yang mengirim ia ke Sachsen bukan Edward karena misi kali ini sedikit bergelut dengan otak bukan kekerasan.
Qennan menatap photo seorang gadis bersama bocah laki-laki tampan.
Terkadang Qennan tak bisa menebak isi kepala sang lord yang selalu punya rencana. Entah rencana apa hingga Qennan harus membawa gadis ini dan adiknya.
Sang lord tidak akan memerintah jika itu tak penting seperti nya Qennan harus segera bergegas sebelum terlambat.
Seperti biasa Qennan menggunakan penyamarannya dengan para anggotanya yang selalu siap di mana tempat.
Dengan gaya Coll Qennan masuk kesebuah hotel di mana tempat gadis itu berada.
Seperti biasa Qennan akan berpura-pura memesan sebuah kamar tepat di samping apartemen gadis itu.
Qennan dan dua rekan nya masuk tanpa di curigai mencari nomor yang di perlukan waktu mereka tak banyak jangan sampai misinya gagal.
Dengan santai Qennan masuk kedalam apartemen Vivi yang sudah di sabotase.
Kosong!
Apartemen ini kosong tak ada penghuninya membuat Qennan bingung harus berbuat apa. Jalan satu-satunya tinggal tempat kerja gadis itu Qennan berharap Vivi ada di sana.
Qennan menyuruh anak buahnya yang lain segera bergegas ke sana sebelum terlambat.
Sang resepsionis merasa heran melihat tuan-tuan yang tadi memesan berlari keluar seperti ada yang mendesak.
.
Sedang di sebuah jalan Vivi dengan santai mengendarai mobil bersama sang adik karena baru pulang dari rumah sakit untuk check up.
"Apa aku akan sembuh kak?"
Celetuk adik Vivi membuat Vivi memaksakan senyum terbaiknya.
"Kamu harus sembuh, karena jika sudah besar nanti kamu yang harus jaga kakak!"
"Itu tak masalah, kakak akan akan di samping Arsen!"
"Benarkah!"
Brak ...
"Kakak!"
Pekik Arsen terkejut begitu juga Vivi ketika ada beberapa mobil berusaha menghentikannya.
Sial, kenapa Vivi tak menyadari akan hal itu. Sendari tadi memang Vivi tak fokus karena memikirkan penyakit sang adik.
"Dek, kencangkan sabuk pengaman!"
Tanpa di suruh dua kali Arsen mengencangkan sabuk pengamannya sambil meremas erat bagiannya. Kepala Arsen sangat pusing akibat guncangan mobil yang terus di himpit namun Vivi berusaha keluar.
"Dek tolong tekan jam tangan kakak!"
Perintah Vivi karena ia sulit mengendalikan mobil dengan satu tangan.
Arsen dengan susah payah meraih lengan sang kakak yang sedang fokus memegang stir.
__ADS_1
Brak ..
"Kakak!"
"Arsen!"
Pekik Vivi terkejut ketika kepala sang adik terbentur bahkan hidungnya langsung mengeluarkan darah.
Jantung Vivi berdebar dengan perasaan berkecamuk. Jika terjadi sesuatu pada sang adik Vivi bersumpah akan membalas siapapun yang ingin mencelakainya.
"Arsen bertahan lah, kakak mohon!"
Vivi tak bisa membendung air matanya lagi melihat keadaan sang adik yang sudah tak sadarkan diri membuat Vivi berusaha fokus keluar dari jebakan mobil-mobil sialan yang terus membuntutinya.
Rasa cemas dan khawatir membuat Vivi hilang kefokusannya karena terlalu takut sang adik tak baik-baik saja. Alhasil semua itu mudah bagi musuh melumpuhkan Vivi yang ternyata jago mengendalikan mobil.
Brak ...
"Sitt!"
Umpat Vivi membanting stir karena tak bisa lagi mengelak. Jalan satu-satunya hanya membanting stir agar keadaan sang adik baik-baik saja.
Kepala Vivi sudah berdarah dengan rasa pusing menghantui dirinya.
Vivi berusaha keluar agar para musuh tak mendekati adiknya.
"Siapa kalian, hah!"
Bentak Vivi mencoba berdiri Kokok melihat orang-orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil.
"Ikut kami baik-baik atau secara paksa!"
"Siapa kalian, saya tak kenal dengan kalian semua!"
"Kami katakan, ikut atau di paksa!"
Bentak Gerry menatap tajam Vivi yang begitu berani. Gerry mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menyeret Vivi karena seperti nya gadis ini mempunyai ilmu bela diri.
"Jangan mendekat!"
Waspada Vivi tak mungkin melawan banyaknya orang dalam keadaan seperti ini. Dalam keadaan begini membuat Vivi jadi menyesal kenapa tak rajin belajar bela diri seperti Aurora.
Ra, tolong aku!
Jerit Vivi berusaha berlari menjauh dari mobil agar para penjahat itu tak menyadari keberadaan adiknya.
Hingga perkelahian pun terjadi ketika Vivi merasa sudah cukup jauh menghindar guna mengalihkan perhatian saja.
Vivi terus menghindar dari berbagai serangan bertubi-tubi namun ia tak mungkin bisa bertahan bebas di antara tujuh orang ang menyerangnya.
Bugh ..
Uhuk ...
Vivi mengeluarkan darah akibat tendangan dari Gerry yang geram akan buahnya lambah melumpuhkan satu perempuan saja.
Kelincahan Vivi dan cara bertahan Vivi membuat Gerry meyakinkan sesuatu bahwa ia tak salah menargetkan orang.
Bugh ...
Sekali lagi Vivi tersungkur langsung tak sadarkan diri akibat pukulan Gerry yang bukan lawannya.
"Cih, kalian harus belajar ulang!"
__ADS_1
Ketus Gerry pada anak buahnya yang langsung membawa Vivi masuk kedalam mobil.
.
"Cepat sialan!"
Bentak Qennan pada anak buahnya agar membawa mobilnya lebih cepat lagi.
Qennan terus fokus menatap layar laptop nya di mana memperlihatkan mobil Vivi sedang di kejar-kejar oleh beberapa mobil.
"Sial!"
Geram Qennan di mana mobil Vivi berhasil di lumpuhkan.
"Sialan kalian!"
Geram Qennan menyeret anak buahnya dari kursi kemudi di mana Qennan yang langsung mengambil alih kemudi itu.
Jika sampai dia telat sudah di pastikan sang lord akan marah besar kepadanya karena misi dia gagal.
Cittt!!!
Para anak buah Qennan berpegangan ketika tuan mereka sedang tak waras bahkan aksi Qennan cukup membahayakan.
"Tuan itu mobil mereka!"
Teriak salah satu anak buah Qennan membuat Qennan terus memacu mobilnya lagi gila.
"Bereskan!"
Perintah Gerry menyuruh anak buahnya menghadang kedatangan Qennan yang tentu sudah tahu maksudnya.
"Serahkan gadis itu!"
Seru Qennan meloncat dari mobil yang masih berjalan membuat anak buahnya jantungan.
Perkelahian sengit tak bisa di hindari tapi Qennan gagal akan hal itu walau bisa melumpuhkan musuh namun Vivi sudah di bawa kabur oleh Gerry.
Sialnya Qennan kehilangan jejak entah apa yang harus ia laporkan jika misi kali ini gagal dan tak menyangka jika Gerry menginginkan Vivi juga.
Qennan harus secepatnya menemukan gadis itu jika tidak maka hidupnya dalam bahaya.
Entah siapa gadis itu kenapa sang lord ingin menyelamatkannya. Jika itu di butuhkan berarti gadis itu benar-benar penting atau bermanfaat.
"Tuan!"
"Lacak semua cctv kemana Bedebah itu membawanya!"
"Siap tuan!"
Qennan langsung menelepon Edward untuk memberitahu semuanya walau Qennan tahu bagaimana konsekuensi yang dia dapatkan.
"Tuan mereka menuju bandara!"
"Sial! Kita kejar!"
Umpat Qennan langsung berlari kearah mobilnya. Namun langkahnya seketika terhenti ketika melihat mobil yang terdiam kemungkinan itu mobil Vivi.
Queen berlari kearah mobil Vivi berharap ia akan mendapat petunjuk.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1