Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 136 K: PC 2 (Pacaran)


__ADS_3

Sama-sama meluapkan segala rasa di hati mereka berdua dan saling minta maaf dan memaafkan satu sama lain.


Edward mengajak Vivi duduk di atas kursi sana sambil menatap setiap lukisan yang Edward buat.


Mata Vivi terus terpaku pada lukisan dirinya yang memakai baju pasien. Hal itu sudah lama membuat Vivi tak percaya tapi semua nya.


Vivi tak menyangka jika Edward tak berbohong tentang rasanya. Vivi pikir Edward hanya mempermainkannya, sebatas balas Budi.


"Ed, bisakah aku percaya tentang semuanya?"


"Apa menghabiskan waktu di Belanda tak cukup untuk membuat mu percaya, jika aku jatuh cinta pada mu!"


"Lantas beritahu aku, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?"


"Jangan tinggalkan aku, Arsen punya masa depan dirinya sendiri tak mungkin aku akan menjadi penghalangnya!"


Pinta Vivi menyandarkan kepalanya pada pundak Edward.


"Bagaimana tentang perasaan mu?"


Vivi terdiam meremas bajunya membuat Edward tersenyum kecut lalu membuang muka keluar jendela.


"Ed!"


"Hm!"


"Aku lupa bagaimana jatuh cinta setelah kejadian pilu itu. Ed, tapi ketika kamu tak pulang aku menginginkan kamu pulang!"


Vivi menengadah dengan Edward menunduk membuat mata mereka saling tatap satu sama lain.


"Waktu itu!"


"Hatiku yang meminta, ak-aku tak tahu tapi itu yang kurasakan!"


Jawab Vivi cepat karena memang itu kenyataan nya. Hati Vivi murni yang menginginkannya walau Vivi sempat menyangkal tapi sekarang Vivi tahu itu.


"Apa yang membuat mu diam waktu di Belanda dengan apa yang aku lakukan?"


"It-itu!"


Gagap Vivi memerah kenapa tiba-tiba Edward membahas itu.


Apa akan terdengar konyol jika Vivi jujur akan hal itu.


"Katakan?"


Ucap Edward menahan dagu Vivi yang berusaha membuang muka.


"Aurora bilang, aku hanya cukup percaya pada mu!"


"Jadi ketika kita bercinta yang kamu ingat hanya Aurora?"


"Hah, i-iya!"


"Baiklah, mulai saat ini yang harus kamu ingat hanya aku, aku dan aku mengerti!"


"Ed, apa yang kamu lakukan?"


Gugup Vivi ketika Edward malah memangku dia.


"Menurut mu?"


"Jangan macam-macam!"


"Apa sekarang kita pacaran?"


"Hah!"


Vivi terkejut dengan apa yang Edward katakan, pacaran yang benar saja.


"Anggap saja kamu pacar aku sekaligus istri ku!"


"Jangan konyol Ed!"

__ADS_1


"Aku anggap kamu menyetujuinya!"


 "Mana ada, aku tak menjawab apapun!"


"Karena kamu tak bisa menolak pesonaku!"


Vivi terdiam menatap intens Edward yang membuat Vivi terasa asing dengan sikap dan tingkahnya yang absurd.


Tapi Vivi menyukainya, sangat manis jika Edward bertingkah konyol seperti itu tak seperti biasanya yang selalu mode Sirius.


"Aku tahu aku tampan, kau beruntung punya suami seperti ku!"


Beruntung!


Apa Vivi harus beruntung punya suami seperti Edward atau Edward yang beruntung punya istri seperti Vivi.


"Tidak! Aku yang beruntung mendapatkan kamu!"


Ulang Edward memperbaiki perkataannya, pada kenyataannya memang Edward yang beruntung mendapatkan Vivi.


Cup ...


Edward membulatkan kedua matanya dengan keberanian Vivi yang mencium bibirnya.


"Itu jawaban atas semua perasaan ku, jangan tanya lagi karena aku tak bisa menjelaskannya!"


Edward menyunggingkan senyum manis dengan apa yang Vivi katakan, sungguh terdengar seperti syair penyejuk hati.


"Seperti nya kita benar-benar harus honeymoon!"


"Hah!"


"Kamu tak bisa menolak cinta!"


"Bagaimana dengan pekerjaan ku dan kamu!"


"Jangan pikirkan itu, ini tentang kita berdua!"


Tegas Edward tak mau di bantah membuat Vivi terdiam.


"Kemana kamu akan membawaku?"


"Indonesia, katanya banyak tempat-tempat indah di sana!"


"Kapan berangkat?"


"Hari ini!"


"Hah, jangan gila Ed, kondisi ku bel--"


"Cinta honeymoon bukan tentang di atas ranjang saja, aku akan mengajak mu jalan-jalan di sana sampai kamu puas baru aku bisa mengurung mu di kamar!"


Blusss. ..


Wajah Vivi benar-benar memerah mendengar ucapan absurd Edward. Ah, kenapa Edward selalu membuat jantungnya tak baik-baik saja.


Jika begini terus Vivi yakin sebentar lagi ia akan punya penyakit jantung.


"Lepas Ed?"


"Tetaplah di sini, aku akan menunjukan sesuatu!"


Vivi tak lagi memaksa turun dari pangkuan Edward. Edward mengambil sebuah remote yang entah apa kegunaannya sedang di sana tak ada televisi.


Edward menekan salah satu tombol remote tersebut membuat tirai di ujung sana terbuka.


"Ed!"


"Ruangan ini menembus ke arah taman, di sini aku selalu melihat mu!"


 Vivi melangkah kearah jendela besar sana menatap keluar di mana ada sebuah taman. Beberapa waktu lalu Vivi bermain di sana pantas saja Edward melukis dia karena dari sini memang terlihat nampak indah.


"Musim gugur, langit sana akan terlihat cantik!"

__ADS_1


Melihat taman sana membuat Vivi teringat akan parfum yang ia buat Khusus untuk Edward.


"Ed, tunggu di sini aku akan mengambil sesuatu!"


Edward membiarkan Vivi keluar, ia duduk di kursi sambil membenarkan letak kertas kampas, seperti nya Edward akan mulai melukis.


Tangan Edward menari-nari di atas kampas tersebut membuat pola aneh sekolah terlihat seperti mencoret-coret saja.


"Sedang buat apa?"


"Apa yang kamu ambil?"


Edward malah balik bertanya sambil menghentikan gerakan tangannya.


"Ini!"


"Apa?"


"Parfum yang aku buat, aku mengambil bahan-bahan di taman itu ku harap kamu suka!"


Edward menatap botol parfum yang Vivi buat khusus untuk nya. Edward menyemprotkan nya sedikit di bawah pergelangan tangannya.


Edward memejamkan mata menghirup dalam-dalam parfum tersebut.


Seperti wangi musk namun ini terasa lembut tak menyengat sama sekali. Tenang, itulah yang Edward rasakan seolah ada sebuah ramuan yang tercampur di sana.


"Bagaimana apa kamu suka?"


Tanya Vivi duduk di sebelah Edward, Edward tersenyum menatap Vivi lembut.


"Aku suka, tapi seperti aku lebih suka kamu memakainya!"


"Hey, ini parfum khusus buat pria!"


"Aku tahu, tapi mau kah kau memakai jika di waktu tidur saja?"


Vivi mengerutkan kening sangat aneh dengan permintaan Edward. Bagaimana bisa ia memakai parfum yang ia buat untuk Edward.


"Tapi aku tak suka memakai parfum pria Ed, itu juga aku khusus buat untuk kamu!"


"Jadi ini yang pertama?"


"Heem!"


Edward tersenyum seringai, jika Vivi tak mau maka seperti nya Edward yang akan memakai nya. Bahaya jika Edward memakai untuk sehari-hari bisa-bisa ia di kejar-kejar wanita.


Entah kenapa bau parfum ini seolah mengikat Edward. Entah bahan-bahan apa yang Vivi campurkan.


Edward menyemprotkan parfum tersebut kebagian lehernya.


"Coba kamu cium, apa parfum ini cucuk untuk tubuh ku!"


Vivi mendekat tanpa merasa curiga sama sekali.


Edward sedikit mengangkat kepalanya hingga terlihat jelas rahang tegas Edward. Vivi mencium bau parfum di bagian sana.


Wangi yang perfek sangat cocok dengan Edward bahkan wanginya terasa nyaman.


Sesaat Vivi terdiam memerhatikan jakun Edward yang naik turun membuat Vivi terhipnotis. Maha karya yang sempurna ini terlihat indah.


Cup ...


Vivi terkejut ketika Edward malah mencium keningnya.


"Dahi mu meminta aku cium!"


"Ma-mana ada!"


Gugup Vivi kenapa ia jadi salah tingkah seperti ini, semua ini gara-gara parfum.


"Duduklah di sana, aku akan melukis mu?"


Perintah Edward membuat Vivi langsung beranjak, seperti nya dekat-dekat Edward akan membahayakan jantung Vivi.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....


__ADS_2