
Aurora terus berjalan menelusuri trotoar jalan dengan lelehan bening yang sendari tadi terus keluar.
Sungguh pakta yang sangat menyakitkan membuat Aurora sulit untuk mempercayainya.
Aurora berkali-kali di jatuhkan oleh sang papa dan sekarang ia hanya di jadikan alat untuk memancing orang lain yang bahkan tak ada hubungannya dengan dia. Kenapa sang papa setega itu terhadapnya sungguh ini sangat lah menyakitkan.
Berkali-kali ia mengalah karena tak mau membuat sang Bunda bersedih namun semuanya benar-benar menyakiti dirinya.
Kenapa harus seperti ini!
Jerit Aurora benar-benar rapuh bahkan Aurora tak tahu harus kemana ia pergi. Tak ada tempat tujuan yang ia ingin datangi karena daerah ini sangat asing bagi Aurora.
Aurora hanya ingin menjauh, menjauh dari kesakitan ini kenapa lagi-lagi takdir mempermainkan hidupnya.
Pantas saja Kaka mengurung ia sebagai tawanan nyatanya memang ia tak lebih dari itu.
Tak ada yang peduli tentang perasaannya tak ada.
Sendari dulu Aurora hanya di jadikan pengganti tak lebih dari itu dan sekarang ia di jadikan umpan, miris bukan.
Aurora masih tak menyangka jika semuanya akan seperti ini.
"Itu dia!"
Aurora tak peduli jika ada seseorang yang mendekat ke arahnya mungkin hanya orang asing yang kasihan melihat kehancuran hidupnya.
Grep ...
"Emmz ,,,"
Aurora memberontak tak menyangka tiba-tiba ada orang-orang berpakaian serba hitam membekam mulutnya.
Karena terlalu lelah menangis dan berjalan membuat Aurora kehilangan kesadarannya.
"Cepat!"
Teriak salah seorang berpakaian hitam membuat orang-orang langsung menyeret Aurora tanpa kasihan.
Entah siapa orang-orang itu kenapa menculik Aurora. Sungguh nasib buruk lagi-lagi menghampiri Aurora.
Niat menjauh tapi malah tertangkap oleh orang lain.
.
"Lord!"
Panggil Qennan di mana sang lord berdiri di atas batu dengan jubah yang terus melambai-lambai di terpa angin.
Udara pegunungan Garp sangatlah dingin di gelapnya malam yang semakin pekat.
Qennan tak tahu lagi apa yang sedang di rencanakan sang lord. Bukannya tadi ia marah dan mengejar penghianat itu tapi kenapa sekarang malah berdiri di sini membuat Qennan sulit menebak apa yang ada di otak sang lord.
Edward sudah sendari tadi kembali ke Menara membereskan semuanya.
Wusssh ..
__ADS_1
Sang lord meloncat dari atas batu sana tepat di hadapan Qennan membuat Qennan jantungan.
Aura ini sungguh sangatlah menyeramkan Aura yang tak bisa di kendalikan lagi.
"Jendral, tuan pertama sudah mengamankan tuan putri!"
Tiba-tiba Hanz datang berdiri tegap di samping sang Lord.
Hanz seorang anggota militer tentu ia akan memanggil Jendral sedang Qennan dan Edward mereka di bagian kelompok mafia tentu akan memanggil sang Lord karena Kaka memang menyandang dua gelar itu.
Tak ada yang tahu jika Kaka adalah seorang Jendral muda. Seorang Jendral yang di tugaskan mengamankan istana khususnya sang pangeran karena memang keluarga Aldarberto berasal dari London dan masih kerabat dari keluarga istana.
Kaka pindah ke Jerman karena menghindari konflik yang memang sudah terjadi dan ia di beri tugas untuk menyelidiki siapa penghianat istana tentu juga memantau pergerakan pangeran Jarvis yang memang waktu itu berada di Jerman.
Bahkan Pangeran Jarvis pun tak tahu siapa Kaka sebenarnya yang Jarvis tahu Kaka adalah sahabatnya. Jarvis tahu ketika ia sudah menikah dengan Cherry dan itu sungguh sangat mengejutkan baginya.
Hingga kini penghianat itu sudah tahu dan Kaka harus memburunya.
Penghianatan pada keluarga kerajaan membuat pangeran Arnold menjadi buronan istana dan juga buronan negara karena sudah melakukan penelitian ilegal.
Tentu pangeran Arnold berurusan juga dengan lord devil Karena dia berusaha menyelundupkan senjata ilegal lewat Berto di wilayah kekuasaannya.
Sungguh kejahatan yang sangat sempurna dan pangeran Arnold tak bisa mengelak lagi.
"Dan--"
"Katakan!"
Tegas Kaka menatap tajam Hanz yang menunduk.
Kaka memejamkan kedua matanya dengan tangan mengepal erat. Rahang Kaka mengeras dengan kilatan amarah yang begitu nyata.
"Ini terlalu rumit Lord!"
Timpal Qennan ketika melihat titik di layar laptop nya.
"Jendral harus memilih, menyerang dengan identitas militer atau sebagai lord devil!"
Keputusan yang sangatlah rumit karena tentu semuanya akan tahu siapa jati diri Kaka sebenarnya.
"Kita kembali ke Menara!"
Putus Kaka harus menyusun strategi, Kaka yakin pangeran Arnold tak akan bisa menyakiti Aurora karena Aurora yang ia butuhkan.
Kaka harus memberi waktu pada mereka menyiapkan semuanya sebelum datang kehancuran mereka.
Entah kenapa Kaka bisa setenang ini dan apa yang sedang ia rencanakan sungguh selalu di luar dugaan.
Semuanya kembali ke Jerman Kaka hanya ingin tahu di mana markas terbesar mereka.
Hanz dan Qennan saling pandang satu sama lain merasa bingung kenapa sang lord malah balik bukankah tadi memerintahkan untuk mengejar.
Mereka hanya bisa diam dengan pikiran rumitnya karena tak bisa menebak jalan sang lord namun mereka percaya sang lord pasti punya rencana lain.
.
__ADS_1
Jam enam pagi mereka sampai di Menara di mana Edward sudah menyambutnya dengan Rose yang sendari tadi menunduk takut.
Sang lord langsung pergi ke kamarnya di mana kamar kesayangannya sudah di hancurkan oleh Aurora. Ya, sang lord memang menyuruh Edward tak merubah apapun karena ingin melihat sehancur apa kamar kesayangannya.
Miniatur-miniatur yang terpajang di dinding semuanya berserakan dengan patung-patung mahalnya yang sudah koyak.
Kaka begitu miris melihat ranjang mahalnya menjadi hancur seperti itu dengan berkas-berkas yang berserakan. Kaka tahu Aurora marah karena itu dan ia tak peduli.
Kaka memungut satu persatu berkas penting itu dan menyimpannya di tempat aman.
Kaka menghentikan langkahnya ketika ekor matanya melihat sesuatu yang bukan miliknya.
Kaka berjongkok mengambil sebuah kotak kayu yang terkunci. Kaka menautkan kedua alisnya mem-bulak-balik kotak tersebut.
Entah apa isi kotak itu Kaka tak pernah mempunyai ya .
"Apa milik dia!"
Gumam Kaka penasaran karena ia belum pernah Aurora memegang kotak ini. Padahal di kamar ini begitu banyak cctv tapi belum pernah Kaka melihatnya. Berarti kotak ini begitu penting Aurora simpan hingga tak tertangkap cctv.
Kaka mengambil sesuatu di balik jubahnya lalu memasukan pada lubang kunci tersebut.
Krek ....
Mudah bagi Kaka membukanya karena itu sudah ahli. Perlahan Kaka membukanya seketika kening Kaka mengerut melihat ada tiga peluruh di sana.
Kaka mengambil peluruh urutan pertama yang tahu jenis apa peluruh ini.
Deg ..
Seketika Kaka terpaku menatap ukiran yang tertulis di sana.
Sebuah tanggal yang Kaka tahu tanggal apa itu.
Kaka kembali mengambil peluruh yang ke dua dan ketika. Di sana sama terdapat ukiran tanggal dari satu persatu peluruh itu.
Walau ukuran itu sangat kecil namun mata tajam Kaka bisa mengenalinya dan itu benar-benar membuat Kaka bungkam.
Di bawa sana ada sebuah note yang tertulis membuat Kaka mengambilnya hati-hati karena takut sobek.
Tulisan yang begitu indah khas seorang dokter namun Kaka masih bisa membacanya.
Untaian kata yang membuat Kaka benar-benar tak menyangka. Sungguh lagi-lagi Kaka di buat bungkam namun kali ini dadanya sesak entah karena apa.
"Ka-kau memang misterius dari pada aku!"
Lilir Kaka mencengkram kertas itu lalu melipatnya kembali ketempat semula.
"Tunggu aku!"
Gumam Kaka lalu keluar dari kamarnya menuju markas.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1