Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 73 Percaya


__ADS_3

Hubungan Aurora dan Kaka semakin hari semakin hangat.


Apalagi Kaka selalu saja bisa membuat Aurora tersanjung dengan perlakukan nya. Kaka benar-benar me-ratu kan Aurora dalam hal apapun.


Hari ini entah kemana lagi Kaka akan membawa Aurora. Sudah banyak kejutan yang Kaka perlihatkan dan sekarang entah kejutan apa lagi yang akan Kaka berikan. Aurora hanya diam dan menurut saja kemana sang suami membawanya.


Hingga mereka berhenti tepat di sebuah rumah sakit sederhana membuat Aurora menautkan kedua alisnya bingung.


Kenapa kali ini sang suami membawanya ke rumah sakit.


"Hubby sakit?"


"Tidak!"


"Lalu, kenapa kita ke sini?"


"Ayo masuk nanti sayang akan tahu!"


Setiap orang yang melihat Kaka mereka menunduk seolah Kaka orang yang di segani di sini.


Terlihat dari cara mereka menatap dan memperlakukan Kaka.


Hingga sampai di mana mereka berhenti tepat di ruang kepala rumah sakit.


Kaka langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Jendral!"


Kaget seseorang berseragam dokter ketika melihat sang Jendral berkunjung tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.


Kaka mengisyaratkan untuk kembali duduk karena tak mau membuat istrinya tak nyaman.


"Suatu kehormatan atas kunjungan anda Jendral dan--"


"Istriku!"


Sang dokter langsung membulatkan kedua matanya menatap tak percaya. Bagaimana bisa sang jendral sudah menikah bukankah sang jendral alergi spesies satu ini.


"Salam Nyonya!"


Aurora tersenyum kaku melihat keterkejutan sang dokter yang sudah terlihat cukup umur itu.


"Istriku ingin kerja di sini!"


Deg ...


Kini Aurora membulatkan kedua matanya menatap sang suami tak percaya. Bukankah dia bilang tak akan mengijinkan lantas sekarang.


"Suatu kehormatan bagi saya Jendral, namun mohon maaf bisa saya melihat kinerja nyonya!"


Dengan rasa hormat sang dokter bicara karena tak mungkin juga ia memasukan sembarang dokter. Walau rumah sakit yang ia miliki rumah sakit sederhana dan Kaka adalah seorang Jendral peraturan tetap peraturan yang harus ia patuhi.


Sang dokter juga hanya seorang dokter biasa yang di percaya menjadi kepala bagian rumah sakit. Namun aturan itu sang pemilik yang menerapkannya walau sang kepala juga tak tahu siapa pemilik asli rumah sakit yang sudah ia pegang sepuluh tahun ini.


"Ku yakin istriku tak akan mengecewakan!"


"Hubby!"


Potong Aurora ingin bicara berdua kenapa sang suami tak membicarakannya terlebih dahulu pada dia.


"Baiklah, besok nyonya datang lagi ke sini kita akan melakukan beberapa tes!"


"Baik!"


Bukan Aurora yang menjawab melainkan Kaka membuat Aurora bungkam.


"Ingat! Perlakukan istriku sama seperti yang lain!"

__ADS_1


"Siap Jendral!"


Sudah mengatakan itu yang tak Aurora mengerti sama sekali Kaka mengajak Aurora keluar.


"Hubby apa-apa ini!"


Kesal Aurora sejak tadi ia tahan karena tak mau berdebat di hadapan orang tapi kini mereka sudah berada di dalam mobil.


"Bukankah sayang ingin bekerja, hm!"


"Tap--"


"Di sini cocok buat sayang bekerja!"


Sungguh Aurora tak menyangka Aurora pikir Kaka akan memasukan ia ke rumah sakit terbesar atau rumah sakit khusus kerajaan di man nanti dia bisa bertemu Ezilla. Tapi, Kak malah memasukannya ke rumah sakit bisa sedang prestasi dia tak di ragukan lagi.


"Bukankah ini dunia sayang!"


"Aku tahu by, dan aku berterima kasih. Bekerja di rumah sakit kecil adalah mimpiku tapi--"


"Apa kau merindukan Zilla!"


Deg ..


Aurora menundukkan kepalanya sudah bisa Kaka tebak. Aurora memang berharap ia bisa bekerja di rumah sakit khusus kerajaan agar bisa dekat dengan Ezilla.


Bohong jika Aurora tak rindu pada putri angkatnya itu. Sungguh Aurora sangat merindukannya walau rasa rindu itu harus ia pendam.


Kaka menangkup wajah murung sang istri dengan lembut.


"Percayalah sayang pasti akan bertemu! Sekarang fokus dulu ya, itu rumah sakit yang terbaik!"


"Aku tak masalah by, hubby masukan kerumah sakit sederhana atau kecil sekalipun. Karena aku lebih menyukai tempat itu karena dengan begitu aku bisa mengembangkannya dengan mudah. Tapi apa sulit bertemu Zilla nanti!"


"Tak akan sayang, sekarang fokuslah dulu ya! Apalagi besok sayang harus melakukan tes!"


Aurora percaya sang suami tak mungkin sembarangan menempatkan dia di rumah sakit itu. Apalagi dari cara interaksi mereka bahkan peraturan rumah sakit itu yang tak gentar walau di hadapi seorang Jendral.


Biasanya semuanya akan ketakutan dan akan menerima langsung apa lagi itu titah tapi dokter tadi begitu tegas harus masuk dalam tes dulu membuat Aurora menjadi penasaran siapa orang yang berkuasa menerapkan aturan seperti itu Aurora yakin orang itu punya pengaruh besar sampai tak takut berurusan dengan seorang Jendral.


"Baiklah, aku percaya hubby tak mungkin menempatkan aku di sembarang tempat!"


"Se-percaya itulah!"


"Ya!"


Kaka tersenyum begitupun Aurora karena entah kenapa Aurora sangat percaya sekali pada sang suami.


Kaka bahagia bisa di percayai sepenuhnya oleh sang istri. Tentu, Kaka tak mungkin membiarkan istrinya dalam bahaya atau di tempatkan di tempat tak nyaman.


"Terimakasih, by!"


Ucap Aurora tulus sungguh Aurora tak menyangka Kaka bisa bersikap sehangat ini walau pada orang lain terlihat dingin dan kaku.


"Apa pun untuk mu sayang!"


Tak pernah Aurora merasa bahagia sebahagia ini bersama orang lain selain keluarganya. Nyatanya Kaka memperlakukan ia dengan baik bahkan sangat baik.


Terimakasih pah, sudah mengirim sosok sempurna ini!


Batin Aurora bergelayut manja di lengan kekar sang suami.


Sungguh Aurora tak menyangka, dulu ia membenci keadaan ini dan menganggapnya telah menghancurkan mimpinya. Namun nyatanya keadaan yang Aurora benci ini adalah takdir yang mengantarkan dia pada mimpinya.


Mimpi menjadi seorang dokter dan mengembangkan rumah sakit-sakit kecil menjadi besar dan dengan Kaka mimpi itu perlahan terlihat.


Papa benar, Kaka adalah takdir ku! Orang yang dulu aku sangat benci tapi nyatanya aku mencintainya. Sungguh hatiku adalah pengkhianat ulung!

__ADS_1


Kiki Aurora menertawakan dirinya sendiri yang merasa bodoh soal asmara.


Kaka menautkan kedua alisnya mendengar istrinya tertawa sendiri seolah sedang membayangkan hal-hal indah.


"Kenapa sayang?"


"Tidak!"


"Sebahagia itulah!


"Lebih dari ini, by!"


"Benarkah!"


"Iya!"


"Kalau begitu berikan aku hadiah karena sudah membahagiakan istri cantikku ini!"


 Cup ...


Kaka melebarkan kedua matanya ketika benda kenyal milik sang istri menyentuh bibirnya. Ini kali pertama Aurora mencium ia duluan sungguh Kaka tak menyangka.


"Sudah!"


Ucap Aurora menjauhkan kembali bibirnya membuat Kaka menatap kosong.


"By!"


"Masih kurang sayang!"


Rengek Kaka ketika baru sadar saking terkejutnya dengan apa yang Aurora lakukan.


"Mau di cium lagi?"


"Boleh lebih!"


Bluss ...


Wajah Aurora merah padam mendengar kata itu yang tahu maksudnya kemana.


Membayangkannya saja membuat Aurora bergidik ngeri.


Grep ...


Tanpa menunggu lama Kaka menarik sang istri ke atas pangkuannya.


"By, ini di mobil!"


"Lalu!"


"Malu!"


Cicit Aurora mengigit bibir bawahnya sensual apa yang Aurora lakukan malah semakin membuat jiwa laki-laki Kaka bangkit.


Deg ...


Aurora terkejut ketika sebuah pembatas keluar membatasi antara kursi depan dan belakang. Bahkan Aurora lebih terkejut lagi ketika kursi yang ia duduki bersama Kaka mengubah posisi seperti ranjang. Sungguh mobil yang sudah di desain khusus bahkan walaupun ada guncangan tak akan mengusik sang supir.


"Apa akan di sini?"


Ragu Aurora mana bisa ia melayani sang suami begini.


"Menurut sayang!"


Aurora bungkam ketika Kaka langsung menyerangnya tiba-tiba bahkan tak membiarkan ia bicara.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2