
Qennan bernafas lega pada akhirnya Edward kembali juga.
Saatnya bagi Qennan menyiksa Edward oleh pekerjaan siapa suruh liburan begitu lama bahkan Edward mengambil hari libur Qennan dan saatnya Qennan membalas.
Qennan tersenyum melihat tiket yang sudah ia pesan. Qennan sudah sangat rindu pada istrinya.
Dua Minggu yang lalu Eva pindah tugas ke Dubai. Qennan akan membuat kejutan pada istri nakalnya sungguh Qennan di buat geram melihat poto-poto sang istri yang berpelukan dan duduk di pangkuan para bandit.
Qennan tahu itu sebuah tugas namun tetap sana Qennan cemburu.
"Tunggu aku, baby!"
Gumam Qennan tersenyum bahagia tak sabar ia memeluk sang istri dan Qennan tak akan membiarkan sang istri turun dari ranjang sedikitpun.
Sudah dua tahun mereka tak bertemu dan baru kali ini mereka ada waktu tepatnya Qennan ada waktu karena tak mungkin istrinya yang menghampiri dia.
Edward yang mendengar kabar Qennan pergi hanya bisa mendengus kesal namun tak bisa apa-apa karena memang itu sudah menjadi kesepakatan.
Edward menghela nafas kasar melihat tumpukan berkas di mejanya membuat Edward seperti harus lembur setiap hari.
Edward hanya bisa mengirim pesan pada Vivi jika ia akan pulang telat lagi. Edward meminta Vivi tidur duluan saja jangan menunggunya.
Ya, dua hari lalu Edward dan Vivi kembali dari liburannya setelah menghabiskan liburan selama enam Minggu.
Vivi sangat bahagia karena ia bisa kembali yang artinya ia bisa ketemu dengan sang om.
Rencananya besok Vivi akan menemui rumah sakit tempat om nya bekerja mengingat ponsel Vivi masih di sita oleh Edward.
Walau kesal tapi Vivi tak bisa berbuat lebih apalagi Edward mengirim pesan lewat sang bodyguard dia akan pulang telat.
Vivi menghabiskan waktunya di ruang lab melanjutkan racikan parfum nya. Racikan yang sedikit berbeda dari biasanya.
Bahkan waktu sudah bergulir namun belum ada tanda-tanda Vivi keluar dari ruangannya.
Membuat racikan parfum tak segampang itu butuh konsentrasi penuh untuk menghasilkan wangi yang indah.
Tak ada yang berani menegur apa yang Vivi lakukan. Karena memang Edward memberikan kebebasan pada istri yang artinya semua bawahannya tak boleh ada yang menentang.
"Sedikit lagi!"
Gumam Vivi tersenyum merekah melihat hasil karyanya.
Vivi meneteskan cairan tersebut pada pergelangan bawah tangannya lalu menghirupnya dengan tenang.
"Perpeck!"
Gumam Vivi lagi dengan senyum yang semakin mengembang.
Nyatanya usahanya membuahkan hasil ia mampu menghasilkan karyanya sendiri.
"Ternyata sudah malam!"
Gumam Vivi ketika sudah keluar dari lab, Vivi berjalan menelusuri setiap koridor dan taman menuju kediamannya.
Vivi menatap kearah selatan di mana di sana ada sebuah bangunan juga. Entah tempat apa Vivi tak tahu karena semua orang di larang ke sana kecuali Edward, Qennan dan Rose yang sering keluar masuk ke bangunan itu.
Vivi menengadahkan kepalanya ke langit sana. Seperti nya musim dingin akan segera berlalu.
Cklek ...
__ADS_1
Vivi menyalakan semua lampu perutnya terasa lapar. Vivi mencari makan apa saja asal mengenyangkan perutnya. Sesudah makan Vivi langsung masuk kedalam kamar. Vivi menatap ranjang sejenak entah apa yang Vivi pikirkan nafasnya terdengar berat.
Vivi memilih berendam guna menyegarkan badan dan kepalanya. Terasa tenang dan nyaman apalagi Vivi memakai aroma terapi yang dia buat sendiri.
Vivi memejamkan kedua matanya menikmati acara mandinya.
Vivi tak bisa lama-lama berendam karena sudah malam. Sudah selesai Vivi langsung memakai piyama tidur.
Waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam namun belum ada tanda-tanda Edward pulang. Vivi memilih tidur saja toh Edward sudah berpesan. Apalagi besok ia harus bekerja ekstra.
.
.
Waktu telah bergulir memaksa Vivi menyudahi mimpi indahnya.
Vivi menengadahkan pandangannya ke seluruh ruang kamar.
"Apa dia tak pulang!"
Gumam Vivi karena tak merasa ada tanda-tanda Edward pulang bahkan wangi tubuh Edward tak ada.
"Mungkin banyak kerjaan!"
Gumam Vivi langsung beranjak menuju kamar mandi ia harus segera membersihkan tubuh karena harus segera menuju rumah sakit.
Tak lupa Vivi sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.
"Nona!"
Ucap salah satu bodyguard mendekat membuat Vivi terdiam.
"What!"
"Tuan mungkin beberapa hari tak akan pulang!"
Vivi terdiam mendengarnya, Vivi berpikir keras. Jika ia di antar jemput pergerakan dia semakin sempit namun mendengar Edward sibuk dan beberapa hari tak akan pulang membuat Vivi sedikit bernafas lega setidaknya dia bisa sedikit mengelabui sang bodyguard.
"Apa sesibuk itu!"
Sang bodyguard mengangguk membuat Vivi paham. Setidaknya ada waktu untuk Vivi bertemu dengan sang om.
"Mari!"
Vivi masuk tak mau protes yang terpenting baginya ia segera sampai rumah sakit.
"Ini!"
Deg ...
Vivi terdiam melihat ponsel yang di berikan sang bodyguard. Itu ponselnya sendiri kenapa ada di tangan sang bodyguard.
"Tuan yang mengirimnya!"
Tanpa kata lagi Vivi langsung mengambil ponselnya. Sungguh Vivi sangatlah lega ternyata Edward mengembalikan ponselnya.
Dengan cepat Vivi menghidupkan ponselnya guna memeriksa apa omnya sudah menelepon atau belum.
Sittt, aku lupa ponsel ku pasti mati!
__ADS_1
Batin Vivi kesal karena ponselnya mati membuat Vivi harus sabar.
Perjalanan membutuhkan satu jam untuk Vivi sampai di rumah sakit.
"Hay!"
Sapa teman Vivi sambil melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Cie yang sudah honeymoon muka ceria banget!"
Goda dokter Cleo membuat Vivi memerah semuanya gara-gara Edward.
"Apaan sih!"
Malu Vivi membuat dokter Cleo terkekeh gemas melihat Vivi yang malu-malu.
"Pinjam charger!"
"Kau tak bawa!"
"Hm!"
Vivi langsung mencharger ponselnya membuat dokter Cleo mengerutkan kening.
"Jadwal ku hari ini?"
"Semuanya ada di ruangan kamu!"
"Sip, aku titip ponsel ku!"
Teriak Vivi langsung berlari ke ruangannya Vivi harus segera memeriksa agendanya hari ini mengingat ia sudah lama.
Huh ...
Vivi menghela nafas kasar melihat agenda hari ini. Karena ia mengambil libur lama otomatis agenda Vivi sedikit padat mengingat jadwal dia di kensel oleh dokter lain dan sekarang jadwal ia begitu padat.
Vivi melirik jam pergelangan tangannya seperti nya setiap hari Vivi punya waktu satu jam untuk keluar dan ia tak punya waktu lagi.
"Baiklah Vivi, semangat!"
Monolog Vivi menyemangati dirinya sendiri sambil memeriksa riwayat pasien yang akan ia ambil alih. Untung saja tak ada hal yang serius kecuali satu pasien yang memang membutuhkan pengobatan intensif.
Vivi segera menjalankan tugasnya karena waktu dia tak banyak.
Satu persatu Vivi periksa bagaimana perkembangannya. Seperti nya pasien memang sudah mulai membaik.
Rasa lelah Vivi rasakan namun ia tetap semangat sampai jam istirahat pun tiba.
Tinggal tiga pasien lagi yang harus ia periksa mungkin di mulai sesudah jam istirahat selesai.
Vivi memilih istirahat di ruangannya sendiri bahkan makan siang pun di antarkan ke dalam ruangannya.
Walau sedang makan namun mata Vivi fokus pada ponsel yang baru dia hidupkan.
Mata Vivi melotot melihat ratusan panggilan masuk dan puluhan pesan. Jantung Vivi berdebar membayangkan jika ia bertemu dengan sang om, ini sudah sangat lama apa sang om akan mengenalinya.
"Tunggu aku om!"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...