
Dimana aku?
Apa aku sudah mati!
Apa aku sudah di surga?
Pertanyaan itu muncul di benak dokter Emma ketika ia membuka mata. Pertama kali yang ia lihat cahaya yang menyinari matanya.
Dokter Emma berusaha bangun namun semua badannya terasa remuk.
Kenapa aku merasakan sakit! Bukankah kalau orang mati tak akan merasakan sakit lagi!
Batin dokter Emma bingung hingga ia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru.
"Kamar!"
Deg ...
Dokter Emma baru ngeh jika ia belum mati terlihat punggung tangannya yang di pasang infus.
"Rumah siapa ini?"
Seketika pertanyaannya berubah menatap keluar jendela sana.
Sittt!!
Umpat dokter Emma ketika ia sulit menggerakkan kakinya. Dokter Emma mengingat-ingat apa yang terjadi siapa yang menolong dia namun nihil ia tak ingat sama sekali. Yang ia ingat hanya ketika mobilnya terbawa badai hingga tubuhnya terbanting sana sini mungkin ada benturan keras hingga membuat kakinya sakit.
"Kau sudah bangun!"
Deg ...
Dokter Emma terkejut melihat siapa yang ada di ambang pintu sana.
Ia menyipitkan kedua matanya tak mengenali siapa dia.
"Jangan takut, saya tak akan macam-macam bisa-bisa saya di gantung!"
Dokter Emma semakin bingung dengan ucapan peria muda yang membawa nampan. Bisa dokter Emma tebak jika itu bubur dan beberapa jenis obat.
"Ternyata benar kau memang gadis bodoh, bisa-bisa mau bunuh diri di wilayah Kaka ku!"
Dasar gadis bodoh! Kau selalu saja begini kemana otak mu!
Dokter Emma terdiam ketika mengingat kilatan bayangan kata-kata yang sama persis di lontarkan seseorang.
Tak mungkin dia!
Dokter Emma meremas dadanya kuat rasa sesak itu kembali hadir. Kenapa di saat situasi seperti ini ia malah teringat akan Hanz. Tak mungkin Hanz yang menolongnya jelas-jelas Hanz tak ada yang ada hanya laki-laki muda yang asing baginya.
Dan mungkin Hanz memang benar-benar sudah pergi meninggalkan ia untuk yang kedua kalinya.
Tidak!
Kali ini bukan Hanz yang meninggalkan ia tapi ia yang meminta Hanz untuk pergi.
"Makanlah, sebelum kakak ku datang. Jika dia melihat makanan ini belum habis tamatlah riwayat ku!"
"Cengeng!"
"Hey! Kau tak tahu kakak begitu menyeramkan!"
Kesal laki-laki muda yang mungkin lima tahun di bawah dokter Emma.
"Terimakasih sudah menolong ku!"
Tulus dokter Emma membuat laki-laki muda hanya tersenyum menanggapinya.
"Kau benar-benar tak ingat apa-apa?"
Dokter Emma tak mau menjawab ia memilih makan saja karena memang perutnya terasa lapar.
Ia tak peduli akan tatapan sinis peria muda di depannya.
"Kau memang menyebalkan sama seperti kakak! Sialnya kenapa Kakak membawa mu ke sini!"
Uhuk ...
__ADS_1
Uhuk ...
Dokter Emma keselek makanan yang ia makan membuat dadanya sesak. Dokter Emma buru-buru minum air yang ada di sampingnya.
"Jika dia bukan yang menolongku lalu siapa!"
Pikir dokter Emma bingung entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa berdebar.
"Tak mungkin dia, mereka tak mirip mungkin kakak pemuda itu tapi bukan dia!"
Gumam dokter Emma sendu tiba-tiba ia jadi tak selera makan lagi. Bahkan makanan itu baru ia makan empat suapan.
Dokter Emma berusaha menggerakkan kakinya. Terasa sakit namun ia paksa perlahan kedua kakinya turun.
Dengan sedikit tertatih dokter Emma menyeret kedua kakinya menuju pintu di mana laki-laki muda tadi keluar.
"Sedikit lagi!"
Gumam dokter Emma memaksakan diri walau tubuhnya dan kakinya terasa ngilu.
Namun, pada akhirnya ia berhasil keluar dari kamar tersebut.
Ruangan yang begitu luas sangat luas dengan desain modern.
"Kemana pemuda tadi pergi!"
"Is anyone here?"
Teriak dokter Emma walau terdengar lemah, ia hanya ingin tahu di mana ia berada dan ia ingin meminjam ponsel untuk memberitahu sang Daddy.
"Sittt!!! Kaki ku!!
Grep ...
Sebuah lengan kekar melingkar di perut dokter Emma agar dokter Emma tak terjatuh.
"Kau benar-benar gadis ceroboh dan bodoh!"
Duarrr ...
Dokter Emma membulatkan kedua matanya mendengar kata-kata yang begitu menohok hatinya.
"Kau harus istirahat! Rafael awas kau!!!"
Geram Hanz jantungnya hampir saja meloncat melihat dokter Emma akan terjatuh. Untung saja ia tepat waktu menahannya.
Hanz benar-benar geram pada adiknya di titip sebentar saja adik pembuat onar itu malah meninggalkan dokter Emma sendiri.
Hanz menggendong dokter Emma kembali ke kamar.
Dokter Emma hanya diam saja melihat wajah yang ingin ia lihat. Tatapannya terpaku seolah ini hanyalah mimpi. Kedua matanya berembun siap meluncurkan bulir bening.
"Kau harus cukup istirahat, sudah tiga hari kau tak sadarkan diri!"
Dokter Emma menahan lengan Hanz yang akan beranjak membuat Hanz langsung terdiam.
"Ada apa, apa kau butuh sesuatu?"
Dokter Emma menarik lengan Hanz dan menyimpannya di wajah dia.
Ini nyata!
Aku tak mimpi!
Hanz!
Jerit batin dokter Emma dengan bulir bening yang sendari tadi mendesak keluar. Bahkan air mata dokter Emma membasahi lengan Hanz.
"Kenapa menangis, kau selalu saja begini!"
Hanz mengusap air mata yang terus mengalir seolah tak mau berhenti.
"Hanz!!"
Dokter Emma memeluk Hanz erat seolah tak mau kehilangan dengan isakan yang semakin keras.
Dokter Emma tak menyangka jika ia masih bisa melihat Hanz. Hanz ada di hadapannya dia ada, dia tak pergi.
__ADS_1
"Ma-maaf hiks .. Maaf!!!"
Isak tangis itu semakin menjadi bahkan tubuh Hanz sampai terguncang.
"Maaf!"
Dokter Emma semakin mengeratkan pelukannya membuat Hanz perlahan membalas pelukan dokter Emma.
Mereka saling peluk seolah tak mau lepas. Rasa sesak itu masih ada tapi entah kenapa mereka bahagia.
Lama mereka dalam posisi seperti itu hingga isakan dokter Emma perlahan mereda namun ia tak mau melepaskan pelukannya seolah takut jika ia lepaskan Hanz akan pergi benar-benar pergi.
"Hanz ,,,,"
"Hm!"
"Jangan pergi!"
Hanz terdiam mendengarnya kalimat ini berbeda balik dengan kalimat yang tiga hari lalu dokter Emma katakan.
"Jangan pergi! wak-waktu it-itu ,,,"
Sutttt ...
Hanz mengisyaratkan agar dokter Emma terdiam. Hanz tahu dan sangat paham apa yang dokter Emma rasakan apalagi memang dokter Abe sudah menjelaskan.
"Jangan jelaskan apapun, aku mengerti!"
Dokter Emma menunduk malu dengan semuanya. Ia yang meminta pergi namun ia juga yang merengek agar Hanz jangan pergi.
"Semua salah ku, kamu begini karena aku. Maukah kamu memaafkan ku atas segala luka yang ku toler kan?"
Dokter Emma mengangguk dengan bulir bening yang kembali keluar.
"Kenapa kau suka sekali menangis, hm!"
Bukannya berhenti dokter Emma malah kembali menjadi membuat Hanz menghela nafas pelan.
Apa memang begini perempuan, sedikit-sedikit menangis sedikit-sedikit menangis, batin Hanz.
Walau begitu Hanz tetap membawa dokter Emma kedalam pelukannya. Mencoba menenangkan sang kekasih.
"Jangan lakukan hal ceroboh lagi!"
"Heem!"
"Sudah ku duga, kalian menjalin kasih!"
Deg ...
Dokter Emma terkejut akan keberadaan Rafael membuat dokter Emma tersipu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hanz.
Hanz menatap tajam adiknya membuat Rafael seketika menelan ludah ya kasar. Dia harus kabur sebelum kena semprot manusia balok itu.
"Rafael, kau!!"
"Kabur!!!"
"Kenapa lihatin aku begitu!"
Ketus Hanz membuat dokter Emma mengerutkan kening.
"Apa benar kalian kakak beradik?!"
"Iya!"
"Tapi kalian tak mirip!"
"Berbeda ayah!"
"Jangan bilang ini rumah ka--"
"Iya! Kita sedang berada di rumah orang tua ku!"
Deg .....
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...