
"Aku tak setuju, Ra!"
Bantah Karl tak terima dengan keputusan Aurora yang akan menyerahkan Zilla pada kedua orang tua aslinya yang memang Karl tak tahu siapa kedua orang tua asli Zilla dan tak mau tahu.
Karl sudah sangat menyayangi Zilla seperti anaknya sendiri dan karena adanya Zilla juga ia bisa sedekat ini dengan Aurora.
Jika Zilla tak ada sungguh Karl tak bisa membuat Aurora menetap.
"Itu sudah jadi keputusan ku, dan aku tak butuh persetujuan mu!"
Tegas Aurora tak mau di bantah membuat Karl mengepalkan tangannya kuat.
"Tapi bagaimana dengan Zilla apa dia setuju!"
"Aku akan menjelaskannya perlahan, dia gadis pintar aku yakin Zilla akan mengerti!"
"Siapa kedua orang tua Zilla?"
Tanya Karl ingin tahu kenapa tiba-tiba Aurora membuat keputusan besar yang akan menyerahkan Zilla pada kedua orang tua aslinya.
"Mereka!"
Deg ...
Karl membulatkan kedua matanya menatap tak percaya Poto yang ada di layar laptop Aurora.
Ya, Karl dan Aurora sedang berada di ruang kerja Aurora yang memang di buat khusus ketika ia ke sana.
Aurora sudah mempertimbangkan semuanya jika ia akan mengembalikan Zilla pada kedua orang tuanya. Walau berat itu yang harus Aurora lakukan karena tak mungkin juga ia menyembunyikan pakta sebesar ini.
Jika Kaka tertahan di sana karena ada suatu masalah besar maka Aurora yang akan menyelesaikan semuanya. Karena Aurora yakin pasti ada sangkut pautnya dengan Zilla.
"Ja-jangan bercanda Ra!"
Gugup Karl tak menyangka seolah menyangkal semuanya namun wajah ini sangat mirip sekali dengan Zilla.
Tidak!
Sungguh Karl belum bisa melepaskan Zilla ia sudah sangat menyayangi gadis itu.
"Tapi aku harus melakukannya, maaf!"
Aurora tahu Karl pasti sangat menyayangi Ezilla sama seperti dirinya namun ia tak mungkin terus menyembunyikan Zilla dari dunia apalagi kesehatan ibunya di pertaruhkan.
"Ceritanya terlalu rumit ku jelaskan Karl, yang pasti saat ini ibunya Zilla dalam bahaya dan hanya Zilla yang bisa menyelamatkan nya!"
"Ku harap kau mengerti!"
Karl tetap bungkam karena belum rela jika harus berpisah secepat ini. Bagaimana dengan para warga yang juga menyayangi Zilla mereka pasti juga terpukul.
Karena mereka sudah menganggap Zilla kembang desa di sana mereka pasti merasa sedih jika Ezilla tak ada apalagi bibi Nur dan paman Nu yang sudah menganggap Ezilla cucunya sendiri.
"Apa jika Zilla pergi kamu akan kembali ke sini?"
Ucap Karl membuat Aurora terdiam ini yang sulit Aurora jelaskan.
Tentu Aurora tak akan kembali karena ia harus mengurus sesuatu juga.
Melihat Aurora yang terdiam membuat Karl bisa menebak jika Aurora tak akan kembali.
"Bagaimana dengan penelitian di sini, tanpa kamu semuanya hampa!"
"Ada kamu Karl, aku percaya kau bisa mengembangkannya!"
"Tapi aku bukan kamu Dokter Jingga!"
Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran nya masing-masing.
__ADS_1
Sebuah keputusan besar yang harus Aurora ambil karena itu juga menyangkut hubungannya dengan Kaka. Aurora ingin segera mengakhiri semuanya agar hidupnya tenang.
"Ku percayakan di sini pada mu!"
Tegas Aurora sudah yakin akan semuanya ia akan menyerahkan yang ada di sini pada Karl agar Karl bisa melanjutkan perjuangannya.
"Tapi Ra, ini terlalu besar!"
Bantah Karl tak mau jika Aurora menyerahkan padanya. Karl ingin Aurora ada di sini mereka sama-sama berjuang untuk semuanya.
"Itu sudah keputusan ku!"
"Ra, ak--"
"Bunda!"
Teriak Ezilla menerobos masuk membuat Karl menahan ucapannya.
Aurora tersenyum menatap putri cantiknya yang membawa setangkai bunga lili.
"Buat bunda!"
"Terimakasih sayang!"
Ucap Aurora sambil mengecup pipi gembul Ezilla.
Aurora mengisyaratkan agar Karl keluar membuat Karl tak bisa membantah.
Di sini memang Aurora yang berkuasa dia tak bisa lancang akan semuanya karena bisa saja Aurora tak menyukainya.
Walau mereka berjuang sama-sama namun Karl tahu Aurora sangat menjaga batasan itulah salah satu yang membuat Karl sulit menyentuh hati Aurora.
"Ayah mau kemana?"
Tanya Ezilla tiba-tiba membuat langkah Karl terhenti.
"Ok!"
Karl tak bisa memanfaatkan situasi ini karena Aurora tak suka membuat Karl dengan terpaksa meninggalkan ruang kerja Aurora.
Padahal Karl ingin mengetakan isi hatinya sebelum Aurora benar-benar pergi. Ia tak bisa terus menahan berharap Aurora akan sama.
"Sayang, ada yang ingin bunda bicarakan?"
"Apa bunda!"
Jawab polos Ezilla di mana Aurora mendudukkan Ezilla di atas pangkuannya.
Aurora sudah yakin jika ia harus memberi pengertian karena Aurora tak bisa menunggu lagi.
Dari data yang ia retas tadi semuanya sudah jelas jika ia harus segera berangkat.
"Zilla tahu, bunda sangat menyayangi Zilla!"
"Zilla tahu, dan Zilla juga sangat menyayangi bunda!"
Jawab polos Zilla membuat Aurora tersenyum.
"Apa Zilla merindukan Daddy?"
Tanya Aurora lembut karena memang selama ini Ezilla tahu bahwa Karl bukan ayah kandungnya hanya saja Zilla merindukan sosok itu membuat ia memanggil Karl sang ayah.
"Apa Daddy merindukan Zilla?"
Polos Ezilla berkaca-kaca karena memang selama ini ia sangat merindukan sosok sang Daddy namun Aurora selalu tak mau membahasnya membuat Ezilla takut Aurora marah jika ia terus menanyakannya.
"Daddy sangat merindukan Zilla!"
__ADS_1
"Tapi kenapa bunda baru membahas sekarang, Zilla pikir hanya ayah Karl yang menyayangi Zilla!"
Aurora memeluk Ezilla ia harus hati-hati, Aurora paham apa yang sedang Ezilla rasakan. Ini salahnya yang tak mau tahu tentang semuanya Aurora berharap Ezilla mengerti apalagi Ezilla memang gadis pintar.
"Apa Zilla ingin melihat Poto Daddy!"
Ezilla mengangguk sambil menyeka air matanya sendiri gemas.
Aurora perlahan memperlihatkan Poto pada pada Ezilla yang menautkan kedua alisnya.
"Maafkan Daddy ya, Daddy sangat sibuk hingga tak bisa menemui Zilla. Zilla mau kan memaafkan Daddy?"
Ezilla kembali menangis sambil mengelus Poto tersebut dengan tangan mungilnya. Sungguh Ezilla sangat bahagia bisa melihat Poto sang Daddy yang selam ini ia rindukan.
"Bukankah mirip sama Zilla!"
"Daddy!"
"Bunda apa kita akan menemui Daddy!"
Aurora mengangguk membuat Ezilla menangis memeluk Aurora.
Sungguh hati Aurora sangat sakit mendengarnya. Tinggal satu lagi yang harus Aurora jelaskan dan ia harus siap akan semuanya dengan reaksi yang Ezilla berikan nanti.
"Daddy Bun, Daddy hiks ..,"
"Iya sayang, maafkan bunda ya yang memisahkan kalian!"
Sungguh Aurora akan semakin jahat jika ia tak memberi tahunya sekarang walau Aurora harus siap.
"Jangan menangis lagi ya, kita kan sebentar lagi bertemu Daddy!"
"Bukankah Daddy Zilla sangat tampan!"
"Daddy!"
Deg ...
Ezilla terdiam menatap Poto sang Daddy dengan perempuan lain membuat Ezilla bingung.
"Bunda ini siapa, kok Poto bareng Daddy harusnya bunda di sini!"
Bingung Ezilla membuat Aurora memejamkan kedua matanya menguatkan diri.
"Zilla sayang, dengarkan bunda!"
Ucap Aurora teriris ia menangkup wajah putri cantiknya.
"Perempuan ini Mommy Zilla, orang yang melahirkan Zilla!"
"Bunda bohong!"
Teriak Ezilla tak terima sang bunda berkata seperti itu.
Aurora langsung memeluk Ezilla yang pasti sakit akan semuanya namun ini lebih baik dari pada tahu sendiri.
"Maafkan bunda sayang, tapi ini kenyataannya. Bunda sama seperti ayah Karl dan mereka ini kedua orang tua asli Zilla!"
"Tidak! Bunda jahat, bunda bohong kenapa bukan bunda ibu Zilla hiks ,,"
"Zilla!"
Lilir Aurora sakit tak bisa mengejar Ezilla di mana Karl menggeleng mengisyaratkan untuk memberi waktu pada Ezilla.
Ya, dari tadi Karl mendengarnya dan ia sudah sangat sakit tak tega dengan semuanya.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...