Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 69 Kau sudah tua!


__ADS_3

"Kenapa tak istirahat!"


Deg ...


Aurora terkejut mendapati suaminya berkaca pinggang menatap ia tajam.


"Aku sudah bilang kau harus istirahat!"


Aurora terdiam dengan kebingungannya mendengar nada Kaka yang berbeda terdengar tegas namun perhatian.


Seperti nya Aurora baru ngeh jika Kaka akan begini ketika perintahnya di bantah. Akan akan bicara lembut selembut sutra ketika ia menurut.


"Maaf, ini sangat indah jadi aku ke sini!"


Kaka berjalan menghampiri sang istri lalu menggendongnya membuat Aurora terkejut akan perlakukan Kaka tiba-tiba.


"Aku tak suka di bantah sayang!"


Deg ...


Jantung Aurora berdetak lebih hebat dari sebelumnya mendengar kata sakral itu keluar dari bibir seksi Kaka.


Kaka berjalan menuju gazebo sana yang begitu megah bahkan di sana ada televisi juga untuk bersantai.


Kaka duduk di shopa singgel sana dengan Aurora yang masih berada di gendongannya.


"Kau boleh mengelilingi setiap sudut bangunan ini kapanpun kamu mau. Tapi hari ini kau harus istirahat!"


"Kenapa harus istirahat, hm?"


Tanya Aurora memberanikan diri mengalungkan kedua lengannya pada leher kokoh Kaka.


"Nanti malam kita akan melakukan perjalanan, aku tak mau kau lelah!"


"Kemana? Bahkan aku belum bertanya ini rumah siapa dan sebenarnya kita akan tinggal di mana?"


Cetus Aurora apa mereka harus pindah lagi dalam waktu singkat seperti ini. Aurora hanya ingin tahu di mana Kaka akan mengajaknya tinggal.


"Di sini, ini rumah kita! Kita akan tinggal di sini!"


Tegas Kaka karena memang ia akan membawa tinggal Aurora di rumah ini.


"Benarkah! Lalu nanti kita akan ke mana?"


"Jangan bawel, nanti juga akan tahu!"


"Tak asik!"


Rengek Aurora manja entah kenapa sipat itu spontan keluar tanpa di buat-buat.


"Sudah jangan ngeluh!"


Kaka membelit pinggang Aurora posesif membuat jarak di antara mereka begitu intim.


Kaka ingin kedekatan mereka berjalan semestinya hingga mengikis kecanggungan.


"Kau tahu! Dulu aku takut!"


Cicit Aurora memainkan rambut Kaka abstrak.


"Kenapa?"


"Setiap melihat kau terluka aku pikir kau orang jahat yang suka membunuh. Membuatku takut memilih mu!"


"Aku memang pembunuh!"


"Kau!"


"Apa kau lupa nyonya, siapa suami mu!"


Aurora menarik kepala Kaka lembut yang menyandar di dadanya nyaman.


"Tapi kau tak gitu kan!"


"Aku membunuh jika di perlukan itulah seorang lord dan aku menyiksa karena aku seorang Jendral, itu hukum bagi orang-orang bersalah!"


Aurora bernafas lega karena masuk akal, Kaka melakukan itu karena memang tugasnya seperti itu.


"Apa kau menyesal!"

__ADS_1


"Tidak!"


"Lalu!"


"Aku hanya takut kau terluka, entah sudah berapa peluruh yang bersarang di sini di sini di sini dan ini!"


Jujur Aurora sambil menunjuk bekas-bekas luka tembak di bagian tubuh Kaka.


"Aku tak takut mati!"


"Kau!"


"Karena aku tahu kau pasti menyelamatkan ku!"


Aurora mencebikkan bibirnya malas dengan jawaban tak bermutu itu.


Sungguh Aurora hanya takut Kaka kenapa-kenapa mengingat siapa Kaka pasti tugas nya tak mudah.


Ini jalan yang harus Aurora lalui bahkan mungkin suatu hari nanti Kaka akan meninggalkan ia seorang diri karena sebuah tugas negara.


Semuanya sudah Aurora pikirkan dan ia harus siap akan semuanya.


"Apa kau menyukai rumah ini?"


"Suka, apalagi disini, sangat nyaman!"


Jawab Aurora menatap taman ini yang begitu luas nan indah.


"Kaka!"


"Hm,"


"Berapa umur mu?"


"Menurut mu!"


"Aisst, kau selalu saja begitu apa susahnya tinggal jawab!"


Kesal Aurora lama-lama karena Kaka selalu seperti itu.


Kaka hanya tersenyum sangat suka melihat kekesalan sang istri yang mungkin akan menjadi hobi barunya selain menembak.


"What!"


Pekik Aurora membulatkan kedua matanya sambil membingkai wajah Kaka sampai bibir Kaka maju.


Aurora menelisik pahatan tampan ini seolah tak percaya usia Kaka sudah tiga puluh lima tapi kenapa terlihat masih tiga puluhan.


"Kau sudah tua!"


"Masa!"


"Iya, usia kita beda tujuh tahun!"


"Usia kau empat puluh dua!"


"Sembarangan!"


Kesal Aurora menepuk bahu kokoh Kaka yang tak sakit sama sekali.


"Usia ku dua delapan, apa aku terlihat tua?!"


Kaka menatap pahatan cantik di depannya ini. Wajah mulus tanpa celah sedikitpun, alis tebal dengan bulu mata lentik sama seperti king Asia. Hidung mancung pas dengan bibir tipis berisi, bola mata indah.


"Cantik!"


Aurora tersipu mendengar pujian itu kenapa rasanya berbeda membuat jantung Aurora tak baik.


"Apa aku boleh kerja!"


"Tidak!"


Deg ...


Aurora terdiam dengan pikiran rumitnya apa ia harus mengubur mimpinya demi tak menimbulkan perdebatan.


Hubungan mereka baru berjalan Aurora tak mau semuanya kembali canggung akan keinginannya.


Kaka tersenyum tipis melihat istrinya yang murung.

__ADS_1


Hari sudah semakin gelap seperti nya mereka harus segera bersiap karena nanti malam akan keluar.


"Jangan terlalu di pikirkan, seperti nya kau harus bersiap!"


Ucap Kaka langsung menggendong Aurora membuat Aurora berusaha tersenyum melingkarkan lengannya pada leher kokoh Kaka.


Kaka berjalan ringan masuk kedalam rumah. Aurora baru ngeh ternyata di sini tak ada penjaga bukankah seorang Jendral biasanya selalu di kelilingi ajudan.


"Di sini tak ada penjaga?"


"Ada!"


"Kemana mereka?"


"Lagi melakukan tugasnya!"


"Tapi tak ada, sendari tadi aku tak lihat!"


"Mungkin mata mu sudah minus!"


"Kau!"


"Sudah-sudah sakit sayang!"


Ringis Kaka tertahan ketika Aurora mencubit dadanya yang terdapat bekas luka.


Kaka masuk kedalam kotak baja sana di mana kotak itu akan membawa mereka ke lantai atas di mana kamar mereka.


Aurora baru tahu jika rumah ini terdapat lift.


Ting ...


Lift itu terbuka, Kaka langsung melangkah keluar menuju kamar mereka.


"Mandilah!"


Ucap Kaka sambil menurunkan Aurora di atas ranjang sana.


"Tapi aku belum mengeluarkan peralatan mandi ku!"


"Sudah ada di dalam semuanya!"


Aurora mengangguk berlari kecil kearah kamar mandi membuat Kaka menyunggingkan senyum.


Woww ...


Takjub Aurora melihat kamar mandi yang begitu luas dengan bathtub yang sudah tersedia dengan aroma terapi. Entah sejak kapan Kaka menyiapkan semuanya bukankah sendari tadi Kaka bersamanya.


Aurora tak tahu jika semuanya di kontrol oleh Kaka dari jarak jauh hingga semua benda yang ada di dalam kamar mandi bekerja sendiri.


Aurora segera membersihkan tubuhnya dengan perasaan bahagia.


Sedang Kaka menyiapkan baju sang istri yang memang sudah sendari tadi di persiapkan.


Sudah selesai Kaka keluar dari kamar menuju kamar satu lagi guna membersihkan diri juga karena tak mungkin menunggu Aurora. Kaka mengerti jika perempuan biasanya akan lama, belum lagi berhias diri untuk itu Kaka bersiap di kamar sebelah saja.


Tak membutuhkan waktu lama cukup tiga puluh menit Aurora menyelesaikan mandinya. Ia keluar dari bathtub.


Krek ...


Aurora terkejut ketika ada sebuah benda yang muncul mengelilinginya membuat Aurora ingin berteriak namun tertahan ketika benda itu mengeluarkan uap menyegarkan bahkan sampai Aurora mematung ketika tubuhnya tiba-tiba sudah kering.


Sungguh Aurora di buat takjub dengan alat-alat canggih ini.


Sudah selesai dengan kekagumannya Aurora segera keluar karena takut Kaka menunggu lama.


Namun ketika keluar Aurora tak mendapati Kaka, Aurora mencari hingga matanya terdiam melihat sebuah gaun yang begitu indah menggantung di sana.


Aurora berjalan mendekat di sana terdapat nota.


Pakai lah, ku tunggu di bawah!


Aurora tersenyum membacanya lalu memegang gaun ini.


"Apa cocok di tubuh ku!"


Gumam Aurora kagum dengan gaun yang Kaka gunakan. Entah bagaimana bisa Kaka memilih gaun secantik ini.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2