Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 91 Duka


__ADS_3

Aurora sendari tadi cemas sambil mondar-mandir di depan meja makan.


Sesekali Aurora melirik jam di atas sana namun tak ada tanda-tanda suaminya pulang.


Bukankah tadi memberitahu akan pulang cepat tapi kenapa sampai sekarang belum datang bahkan ini sudah hampir larut namun Kaka masih belum pulang. Entah kemana perginya Kaka membuat Aurora cemas.


Rasa kantuk membuat Aurora prustasi membuat ia dengan kaut menahannya. Namun, karena bawaan hamil Aurora tak bisa menahannya lagi hingga ia tertidur di atas shopa sana.


Tepat jam dua dini hari Kaka baru pulang dengan raut wajah lelahnya bahkan rambutnya acak-acakan dengan penampilan yang mengenaskan. Entah apa yang terjadi dengan Kaka kenapa bisa seperti itu.


"Sayang!"


Lilir Kaka gemetar menatap sang istri yang tertidur di sana.


Dengan langkah gontai Kaka menghampiri sang istri lalu duduk di lantai sana.


Di elusnya wajah sang istri dengan lembut membuat Aurora tak nyaman dalam tidurnya. Perlahan bulu mata lentik itu mengerjap memperlihatkan gradasi logam hitam kecoklatan yang selalu meneduhkan.


"By!"


Panggil Aurora serak dengan senyum tipisnya melihat sang suami sudah ada di depan wajahnya. Namun, Aurora menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan penampilan sang suami yang acak-acakan.


"Baru pulang?"


"Maaf!"


Aurora dengan hati-hati bangun di bantu Kaka hingga mereka duduk bersampingan.


"Sudah makan?"


Kaka menggeleng manja membuat Aurora menghela nafas berat mencoba menahan marah dan cemasnya.


"Makan ya!"


Kaka hanya menggeleng kuat pertanda ia tak mau makan membuat Aurora mengerti.


Tiba-tiba Aurora merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum tipis membuat Kaka dengan cepat berhambur kedalam pelukan sang istri.


Dengan penuh kasih sayang Aurora mengelus-elus rambut sang suami berharap apapun masalahnya sang suami bisa tenang.


Aurora yakin pasti ada sesuatu besar yang terjadi hingga membuat suaminya seperti ini. Ingin bertanya langsung namun Aurora tahan karena takut akan menjadi perdebatan.


Aurora hanya mencoba menenangkan Kaka terlebih dahulu agar emosi sang suami mereda.


Kaka mengeratkan pelukannya merasa nyaman dengan apa yang sang istri lakukan sungguh Aurora mampu menenangkan hatinya.


"Dia mati hiks ...,"


"Siapa by?"


"Berto!"


Deg ...

__ADS_1


Aurora terdiam sulit menjabarkannya, bahkan Aurora bingung harus berekspresi seperti apa. Tapi, melihat keadaan sang suami seperti ini membuat Aurora yakin bahwa sang suami sangat terpukul. Entah terpukul karena kepergian Berto atau ada hal yang lain sampai suaminya seperti ini.


"Ak-aku jahat hiks ,,,"


Aurora terenyuh mendengarnya, entah apa yang harus ia lakukan supaya sang suami tak menyalahkan dirinya sendiri.


"Ak-aku sudah menyakiti Edward, dia terpukul dia menangis hiks ,,,"


Aurora hanya diam saja mendengar segala keluh kesah sang suami. Tak pernah Aurora melihat sang suami serapuh ini. Aurora hanya belum mengerti apa yang terjadi dan apa yang membuat sang suami benar-benar se-kacau ini.


"Sayang!"


Gemetar Kaka melepaskan diri dari dekapan sang istri. Kaka terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.


"Hu-hubby sudah membuat Edward kehilangan kedua orang tuanya! Hubby jahat!"


"By!"


Tegas Aurora tak tahan melihat sang suami seperti ini. Aurora menangkup wajah sang suami sambil menghapus air mata yang terus keluar.


"Dengar kan Rora by, hubby tak jahat, hubby bukan pembunuh! Berto meninggal itu sudah jalannya!"


"Jangan begini by, jangan buat Rora takut!"


Karena tak tahan Aurora menarik kembali sang suami kedalam pelukannya mendekap erat berharap sang suami akan tenang. Sungguh Aurora sangat sakit melihat begini.


Bahkan Aurora memperlakukan Kaka benar-benar seperti anak kecil. Sesekali mengecup puncak kepala sang suami menyalurkan rasa tenang.


Kaka terdiam dengan tangis yang mulai reda, tubuhnya lelah dengan kesakitan yang nyata dan pikiran yang berkecamuk membuat Kaka benar-benar lelah.


Aurora memeluk sang suami erat sambil menepuk-nepuk pelan punggung lebar sang suami. Kaka semakin merapat membuat mereka tak ada jarak sama sekali sampai di mana Kaka benar-benar terlelap.


Sudah memastikan sang suami benar-benar tertidur dengan pelan Aurora sedikit mundur guna melihat wajah damai sang suami.


Di belainya lembut wajah tampan sedikit pucat ini. Matanya terlihat sembab dengan hidung memerah.


"Apa yang kau maksud by!"


Gumam Aurora pelan dengan berbagai pertanyaan bersarang di otaknya.


"Edward!"


Bingung Aurora menerka-nerka siapa Edward sebenarnya.


.


Jerman ...


Di ruang gelap seseorang duduk di pojokan sana sambil memeluk kedua lututnya erat dengan kepala sengaja di tenggelamkan kedalam dua lututnya.


Isakan tertahan terdengar pelan seolah sengaja di tahan agar tak keluar.


Rasa sakit yang tak bisa di ungkapkan dengan kata. Dadanya terlalu sesak untuk sekedar mengucap.

__ADS_1


Ia ingin berteriak mengutuk takdirnya namun tak kuasa.


Dia hanya seorang anak yang membutuhkan pengakuan dan kasih sayang namun semuanya hanya sebuah impian semata.


Ingin marah namun pada siapa!


Kenapa kedua orang tuanya pergi dengan cara tragis.


Tak bisakah mereka berpikir jika ada anak yang terlantar, terbuang, dan terlupakan bahkan sampai detik akhir nafas Berto.


Ya, Berto tak mengakui Edward sebagai anaknya. Bagi Berto Edward adalah pembawa sial di hidupnya.


Sekejam itukah Berto membenci bahkan di akhir hayat pun enggan untuk menganggap Edward sebagai putranya hanya kerena alasan Edward yang melaporkan pemberontakan delapan belas tahun lalu.


Hingga Berto terusir dari keluarga dan menjadi buruan aparat polisi.


Apa salah!


Apa salah menjadi Edward, ia hanya seorang putra yang tak ingin ayah ya terjerumus.


Sungguh sangat menyakitkan bukan!


Bukan hanya Kaka yang menjadi korban, tentu Edward juga sama bahkan ia memutus mengabdikan dirinya pada Kaka karena ingin menebus semua kesalahan sang mama yang telah membuat Kaka depresi bahkan mengalami hari-hari buruk dan sang ayah yang sudah merenggut kedua orang tua Kaka.


Lantas pantaskah Edward di hukum seperti ini. Hingga menjadikan Edward orang yang keras bahkan ia tak akan pernah mendengarkan siapapun kecuali Kaka dan tuan pertama.


Dan sekarang lihatnya bagaimana sesaknya Edward melihat sang ayah mati dengan cara tragis.


Mungkin di luar Edward terlihat baik-baik saja bahkan terkesan kejam dan menghakimi. Namun, nyatanya di kesendirian Edward begitu lemah dan rapuh.


Tak ada yang merangkulnya dengan kasih sayang dan cinta, walau profesor Tuner yang selama ini mengurus Edward namun semuanya tak sama.


Sungguh malang bukan!


"Kenapa, Yah!"


Tanya Edward sendari dulu namun pertanyaan itu sampai sekarang tak membawakan jawaban.


Ia sangat mencintai kedua orang tuanya walau bagaimana mereka membuangnya.


Edward hanya ingin damai tak ada perpecahan antar keluarga dan saudara tapi inilah takdir yang harus Edward telan.


Di luar sana profesor Tuner mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar Edward yang sudah ia anggap putranya sendiri.


Profesor Tuner paham betul apa yang di rasakan Edward. Sungguh profesor Tuner tak menyangka jika adiknya, Berto sekeras itu hatinya bahkan matanya telah di butakan oleh obsesi dan nafsu dunia.


Di kastil itu nampaknya suasana tak secerah hari-hari yang kemaren. Suasana nampak sepi dan tak ada satupun orang yang lalu lalang.


Vivi yang melihat profesor Tuner hanya berdiri di depan pintu Edward tak tahu harus berbuat apa. Vivi tak tahu tentang keluarga ini dan tak mau tahu.


Namun melihat keadaan seperti ini membuat Vivi merasa, entahlah.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2