
Tak hentinya Vivi mondar mandir di depan pintu kamar Edward.
Jika saja bukan profesor Tuner yang menyuruh mana mau Vivi berada di sini.
Sejak tiga hari lalu Edward tak keluar kamar bahkan tak makan sama sekali dan kali ini tugas Vivi membuat Edward bisa makan.
Entah apa yang terjadi kenapa hingga bisa membuat Edward seperti itu.
Walau tak nampaknya Edward bagai dunia yang damai karena jika Edward muncul suasana akan semakin menyeramkan.
Tok ...
Tok ...
Dengan ragu Vivi mengetuk pintu takut-takut Edward membanting pintu karena tempramen Edward sangatlah buruk bisa-bisa Vivi yang kena imbasnya.
"Tu-tuan!"
Teriak Vivi memberanikan diri sambil tetap mengetuk pintu berharap Edward akan membukanya.
Rasa gugup dan takut menghantui Vivi namun demi misi ia tak boleh mengecewakan profesor Tuner.
"Tuan, boleh saya masuk!"
"Kalau tak ada jawaban berarti tuan mengijinkan?"
Teriak Vivi mencoba mendengar apa ada jawaban atau tidak. Lama menempelkan daun telinganya di bibir pintu tapi Vivi tak mendengar jawaban sama sekali hanya ada keheningan di sana.
Huh ...
Vivi membuang nafas kasar sebelum tangannya memegang gagang pintu.
Cklek ...
Pintu itu terbuka pelan sangat pelan karena Vivi takut Edward marah.
Gelap!
Pertama yang Vivi lihat hanya kegelapan membuat Vivi menyerngit bingung meraba-raba kontak lampu.
Tek ...
Vivi menekannya ketika sudah menemukan nya hingga suasana kamar Edward berubah terang.
Kosong!
Lagi-lagi Vivi di buat bingung melihat ranjang yang kosong walau tak serapuh biasa. Perlahan Vivi mendorong troli makan sambil mengedarkan pandangannya.
"Tuan!"
Panggil Vivi berjalan mencari karena tak mendapati barang hidung Edward. Vivi berjalan kearah gordeng guna membuka gordeng agar cahaya matahari bisa masuk.
"Beraninya kau!"
Deg ...
Seketika tubuh Vivi menegang dengan tangan yang tergantung belum sempat membuka gordeng.
Dengan sekuat keberanian Vivi berbalik kearah sumber suara.
Seketika langkah Vivi mundur melihat Edward duduk di pojokan sana sambil menatap ia tajam. Namun ada yang aneh melihat wajah sangat itu yang sedikit pucat dengan bibir bergetar.
Edward berusaha bangkit di sisa tenaganya menatap murka Vivi yang berani masuk kedalam kamarnya.
"Lancang!"
Bentak Edward lemah berjalan sempoyongan membuat Vivi takut bercampur bingung.
"Tu-tuan sa-saya tak bermaksud, prof--"
Grep ..
__ADS_1
Edward mencengkram kedua bahu Vivi kuat membuat Vivi meringis dengan ucapan yang tertahan.
"Berani sekali kau masuk ke wilayah ku!"
"Tuan maafkan saya, saya tak--"
"Pergi!"
Bruk ...
"Tuan!"
Pekik Vivi menahan tubuh Edward yang malah tersungkur ketika mendorongnya.
"Tuan!"
Panggil Vivi sambil menepuk punggung lebar Edward. Vivi mendorong tubuh Edward kuat walau hati-hati seperti nya Edward pingsan.
Dengan susah payah Vivi membopong Edward menuju ranjang untung saja pingsannya tak jauh dari ranjang membuat Vivi tidak terlalu khawatir.
Vivi membenarkan letak posisi berbaring Edward agar merasa nyaman.
"Panas!"
Gumam Vivi bingung harus meminta tolong pada siapa sedang bangunan tempat Edward tinggal sangat privasi sekali. Terpaksa Vivi keluar guna mengambil peralatan dokternya.
"Tak menakutkan, nyebelin sekarang menyusahkan dasar hantu!"
Gerutu Vivi sangat kental sekali menjuluki Edward sebagai hantu. Bagaimana Vivi tidak menjuluki Edward hantu jika Edward selalu saja muncul tiba-tiba dan menghilang begitu saja.
Tentu Vivi menjuluki Edward hantu karena seperti itulah kelakukan Edward.
Sudah mengambil peralatan medisnya Vivi segera memeriksa keadaan Edward. Seperti nya Edward kekurangan asupan gizi dan cairan mungkin karena tiga hari ia mengurung diri di dalam kegelapan kamarnya menolak siapapun masuk kedalam wilayahnya.
Dan, hanya Vivi gadis sembrono yang berani karena perintah dari profesor Tuner.
"Hantu ternyata bisa sakit juga!"
"Ma!"
Vivi terpekik tertahan ketika tangannya di genggam erat oleh Edward.
Keringat dingin bercucuran membasahi dahi Edward dengan bibir yang terus bergumam memanggil panggilan 'mama' dan 'ayah' bahkan bulir bening memaksa keluar membuat Vivi tertegun.
Baru kali ini ia melihat seorang hantu menangis pilu bahkan Vivi bisa merasakan kesakitan yang amat dalam.
Entah kesakitan apa yang Edward alami hingga seperti ini.
Vivi hanya diam menyaksikan tak berani melepaskan diri membiarkan Edward mencengkram tangannya kuat walau Vivi meringis kesakitan.
Entah kenapa Vivi membiarkannya melihat wajah kesakitan itu membuat Vivi merasa rasa lain yang tak bisa ia jabarkan.
Cukup lama Edward seperti itu kini keadaan Edward mulai tenang. Dengan hati-hati Vivi merawat Edward seperti Vivi merawat adik ya sendiri, Arsen.
Rasa benci yang kian terlihat ketika melihat Edward kini berganti menjadi iba.
Aneh bukan!
Ketika seseorang yang selalu membuat kita jengkel, marah dan benci malah sakit dan kita pula yang merawatnya. Apalagi profesor Tuner tak mengizinkan siapapun mengurus Edward selain dari pada Vivi.
Kadang Vivi ingin menolak dan juga heran kenapa harus dia. Apa jangan-jangan yang profesor Tuner maksud adalah ...
Tidak!
Pekik Vivi langsung membekap mulutnya sendiri karena kelepasan. Vivi menggeleng-gelengkan kepala kuat tak mungkin Edward. Edward bukan putra profesor Tuner melainkan keponakannya tak mungkin karena profesor Tuner bicara jika yang akan di jodohkan dengannya putra profesor Tuner sendiri.
Vivi mencoba membuang prasangka yang salah berusaha tetap fokus merawat Edward.
"Cepatlah bangun, aneh rasanya melihat kau begini!"
Gumam Vivi mengelap wajah tampan Edward namun tak membuat Vivi tertarik.
__ADS_1
Vivi hanya sedang berusaha bersikap profesional saja menganggap Edward pasien nya sama seperti yang lain.
"Buka jangan!"
Monolog Vivi menggantungkan tangannya yang ingin membuka kancing kemeja Edward. Tubuh Edward harus di lap dan di ganti bajunya agar tak iritasi karena Edward dari kemaren memang belum ganti baju. Apalagi baju Edward sudah bau keringat walau tetap wangi.
"Anggap Arsen, Vi!"
Monolog Vivi lagi mencoba membayangkan jika di hadapannya adalah adiknya bukan sosok dewasa.
"Mau apa kau!"
Deg ...
Vivi membulatkan kedua matanya gemetar ketika Edward membuka kedua matanya dengan tangan dia di cekal erat oleh Edward.
"Maaf tuan, saya tak bermaksud saya hanya ingin membersihkan tubuh anda!"
Ucap Vivi berusaha tenang walau jantungnya sudah mau copot.
"Syukurlah kalau tuan sudah sadar!"
Ucap Vivi lagi menahan ketakutannya, takut jika Edward akan murka karena kelancangannya.
Edward menatap tajam Vivi lalu melirik sekilas ada baskom dan kain basah membuat Edward mengerti.
Sittt!
Umpat Edward memegang kepalanya yang terasa pusing ketika ia akan bangun.
"Tuan!"
Panik Vivi refleks memegang lengan Edward membantunya bangun.
Edward menatap lengan Vivi tajam yang berani menyentuhnya.
"Ah, .. Maaf!"
Gugup Vivi langsung menjauhkan tangannya dari lengan Edward.
"Kenapa dengan ku?"
"Anda pingsan dari kemaren, akibat kekurangan asupan dan cairan!"
"Ku pikir sudah mati!"
Glek ....
Vivi menelan ludahnya kasar mendengar ucapan menyeramkan Edward entah kenapa membuat Vivi emosi.
"Ada apa!"
"Ada banyak di luar sana yang menginginkan sembuh dari sakit tapi anda!"
Ketus Vivi benar-benar terbawa suasana merasa geram dengan wajah menyebalkan ini.
Edward tak tahu bagaimana perjuangan Vivi ingin adik ya sembuh tapi Edward dengan entengnya berkata sembarangan tentang kematian.
"Apa peduli mu!"
"Kau!"
"Cepat periksa dan enyahlah!"
Ketus Edward membuat Vivi benar-benar naik darah namun sebisa mungkin menahannya karena yang Vivi hadapi memang seorang hantu, berwujud tanpa punya hati dan jantung.
Dengan menahan kekesalan Vivi memeriksa keadaan Edward
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen,, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1