
Kaka terdiam memejamkan kedua matanya erat ketika Aurora memeluknya dari belakang.
Tangan Kaka mengepal sungguh ia malu dan juga arah pada dirinya sendiri.
Kini Aurora mengetahui bagaimana dirinya apa Aurora masih mau dengannya. Sungguh Kaka tak mau kehilangan Aurora namun Kaka juga tak mau menyakitinya.
"Aku menyakiti mu!"
"Tidak!"
"Aku monster!"
"Bukan!"
"Suatu hari nanti aku pasti akan melukai mu lagi!"
"Tidak by, tidak!"
"Bohong!"
Tegas Kaka membalikan badannya lalu menarik Aurora kasar membuat Aurora terkejut dengan tempramen sang suami.
"Ini yang kau bilang tidak!"
Bentak Kaka sakit melihat memerah di punggung, tengkuk dan sikut sang istri. Bahkan pergelangan tangan Aurora juga memerah dengan badan penuh memar-memar karena memang Aurora hanya menggunakan kaca mata saja menutupi dua aset berharganya.
"Lalu kenapa aku tak peduli dengan semua luka ini!"
"Sayang!"
Lilir Kaka menggeleng kepala kuat dengan air mata yang kembali keluar.
Mereka berdua sama-sama menangis menatap satu sama lain.
Sungguh ini sangat menyakitkan bagi mereka berdua dan apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan begini.
Aurora mendekat membingkai wajah sang suami dengan jari-jari lentiknya. Menghapus air mata yang terus keluar dari netra biru favorit.
"Biarkan aku menghapus semua luka hubby!"
"Sayan--"
Kaka tak bisa bicara ketika bibirnya di bungkam oleh bibir Aurora. Ciuman lembut penuh tekanan membuat Kaka membulatkan kedua matanya namun lama kelamaan mata itu terpejam menikmati resapan yang sang istri lakukan.
"Dimana wanita sialan itu menyentuh mu, by!"
Deg ...
Kaka terkejut dengan apa yang Aurora katakan bagaimana Aurora bisa tahu apa Aurora benar-benar marah karena dia tak bisa menjaga dirinya sendiri.
Melihat kebungkaman Kaka membuat Aurora langsung mendorong Kaka membuat Kaka membulatkan kedua matanya.
Kilatan ketakutan itu terlihat jelas membuat Aurora mengepalkan kedua tangannya erat.
Aurora duduk di atas perut Kaka yang terlentang membuat Aurora tahu apa yang harus ia lakukan.
"By!"
"I Love You!"
Tubuh Kaka seketika melunak tak setegang tadi ketika Aurora memeluk tubuhnya dengan bisikan cinta yang penuh kelembutan.
Bahkan mata Kaka kembali terbuka dengan kilatan ketakutan yang mulai redup.
"Tenanglah, Rora di sini jangan takut ya!"
"Rora sayang hubby, bagaimana bisa Rora meninggalkan hubby sedang hati Rora sudah hubby miliki!"
"Rora di sini selamanya akan tetap di sini, bersama hubby!"
Bisik Aurora lembut berharap sang suami tenang.
__ADS_1
Kaka perlahan mulai bisa mengendalikan ketakutannya bahkan membalas pelukan sang istri lembut.
Aurora tersenyum tipis merasa sang suami mulai tenang. Dari cara dekapan balasan Kaka membuat Aurora sudah tahu.
Perlahan Aurora mengangkat diri agar bisa melihat wajah tampan sang suami.
Senyum indah terukir di bibir tipis sedikit berisi itu sambil mengelus lembut wajah sang suami.
"Jangan pernah berpikir untuk menyerah!"
Ucap Aurora lembut selembut sutra mendayung syahdu di telinga Kaka yang nampak diam.
"Janji!"
Kaka menatap jari kelingking sang istri tepat di depan wajahnya.
Dengan ragu Kaka menyambutnya membuat Aurora tersenyum lebar.
"Jika lima belas tahun saja bisa bertahan lantas kenapa harus menyerah. Ada dan tidak adanya Rora tetaplah bertahan!"
"Ap-apa tak takut!"
Ha .. Ha ...
Aurora malah tertawa lucu mendengar ucapan sang suami membuat Kaka malah was-was.
Kenapa Kaka jadi seperti anak kecil bertanya seperti itu, sungguh menggelikan.
"By, apa yang harus Rora takutkan!"
"Sedang Rora percaya hubby tak akan pernah menyakiti Rora!"
"Tapi ini!"
"Ini hal kecil, karena pada dasarnya hubby yang lebih sakit bukan!"
Kaka mengangguk benar, menyakiti orang yang tersayang hal yang paling menyakitkan di antara rasa sakit walau itu tanpa sengaja.
"Tak apa, Rora mengerti!"
Kaka tersenyum mendengar jawaban itu membuat hati Kaka benar-benar lega dan bahagia.
Kaka memeluk sang istri lembut sambil mengecup puncak kepalanya berkali-kali membuat Aurora bahagia setidaknya suami romantis nya sudah kembali.
Kaka menggulingkan Aurora tepat di sampingnya kini membuat Kaka mengungkung sang istri gagah.
Mata Aurora terpaku pada luka di dada sang suami yang membekas. Dengan lembut Aurora mengelusnya walau hatinya teriris pasti sangat sakit.
"Bolehkah aku menghapusnya?"
Izin Aurora membuat Kaka terpaku karena luka ini.
"Hubby tak akan keluar jika luka ini masih ada!"
Jelas Aurora yakin, karena luka ini membuat Kaka terus teringat akan traumanya namun Kaka sulit keluar dari belenggu ini.
"Sekarang hubby tak sendirian ada Rora di sini!"
"Bantulah hubby!"
"Tentu!"
Cup ....
Kaka mengecup bibir menggoda sang istri dengan lembut meresapi rasa manis di sana.
Dengan Aurora sejenak Kaka bisa melupakan segala rasa yang menyesakan.
Entah pelet apa yang Aurora gunakan sampai membuat Kaka tergila-gila.
Ciuman itu semakin menggila mereka berdua tak peduli dengan orang-orang yang mencemaskan ya menunggu sendari tadi di luar. Bahkan ini sudah hampir siang namun tak ada tanda-tanda Aurora keluar membuat mereka was-was.
__ADS_1
Mereka tak tahu dengan apa yang dua pasturi itu lakukan di kamarnya. Yang jelas Aurora akan menghapus setiap jejak wanita lain yang menempel di tubuh sang suami.
Menghapusnya tanpa sisa hingga yang ada di benak Kaka hanya ada Aurora seorang.
Wangi tubuh Aurora begitu candu seolah setiap jengkal bagian tubuh Aurora menggiurkan. Terasa manis bahkan manisnya madu mengalahkan semuanya.
Kali ini Aurora yang bekerja dan menyuruh Kaka diam. Aurora akan memperlihatkan jika ia tak sama dan ingatan Kaka akan membekas dengan perasaan berbeda. Bukan rasa takut lagi melainkan rasa candu.
"Sayang!"
"Diam lah, by!"
Tegas Aurora tak akan membiarkan sang suami menguasai dirinya. Kaka hanya pasrah saja membiarkan sang istri melakukan apa saja pada tubuhnya.
Walau Kaka sedikit heran sang istri berubah menjadi agresif seperti ini bahkan membuat kepala ia ingin meledak.
Entah harus membutuhkan berapa lama mereka menyudahinya apalagi Aurora begitu pawai membuat Kaka kelimpungan.
"By!"
"Sayang!"
Pekik mereka berdua meledak, nafas mereka memburu dengan pundak naik turun sungguh apa yang Aurora lakukan sangatlah dahsyat.
Seperti nya Kaka tak akan bisa melupakan momen langka ini. Apalagi ini kali pertama Aurora menguasai dirinya. Walau ketakutan itu ada namun wangi tubuh Aurora mengalihkan semuanya seolah di otak Kaka hanya ada Aurora.
"Sudah puas, hm?"
"Heem!"
Aurora tersenyum lembut walau ia merasa lelah apalagi punggungnya terasa sakit.
Aurora membingkai wajah sang suami mengelus surai hitam membuat kening Kaka terlihat jelas.
Cup ...
Aurora mengecupnya lembut membuat Kaka memejamkan kedua matanya nyaman.
"Sudah ya, kita mandi!"
Ajak Aurora perlahan turun dari atas pangkuan sang suami.
"Hubby!!!"
Pekik Aurora lemas ketika Kaka malah sengaja menarik kembali pinggangnya membuat sesuatu di bawah sana kembali menyatu.
Sungguh Aurora langsung memeluk sang suami karena tungkainya terasa lemas.
"Tak semudah itu sayang, dia masih butuh di jinakkan!"
Ucap Kaka santai membuat Aurora hanya mencebikkan bibirnya malas.
Tadi sudah puas namun nyatanya itu bohong.
"Mau ke mana?"
"Menurut sayang!"
Kaka langsung beranjak menggendong Aurora membuat Aurora refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang suami membuat sensasi kembali panas.
Nyatanya Kaka membawa sang istri menuju kamar mandi mengguyur tubuh mereka di bawah shower.
Antara dingin dan sensasi memabukkan di bawah sana membuat Aurora terpekik hebat.
"Apa sayang merasakannya?"
"By!"
Aurora menyembunyikan wajahnya di cekuk leher sang suami, sungguh pertanyaan macam apa membuat Aurora malu.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen,, dan Vote Terimakasih .....