
"Bagaimana, apa dia sudah sadar?"
Tanya Berto pada Gerry yang mengangguk pasti. Berto tersenyum karena kali ini misi dia berhasil.
Dokter yang selama ini di cari-cari ternyata bersembunyi di Sachsen. Ternyata langkah mereka lebih cepat dari yang di duga.
"Ternyata lord Devil juga menginginkan dokter itu!"
Berto tersenyum seringai ternyata keponakan polosnya menginginkan hal yang sama. Ini menarik membuat Berto harus segera menyusul rencana.
"Bagaimana dengan adiknya?"
"Lord devil menyerang tiba-tiba, mereka membawa adik dokter itu tapi--"
"Apa yang terjadi, jangan sampai lord devil menemukan kita!"
"Adik dari dokter itu seperti nya tak selamat dan apa tuan tahu lord devil dan salah satu anak buahnya tertembak karena menyelamatkan anak penyakitan itu!"
"Bagus!"
Berto tersenyum puas akan berita itu membuat Berto yakin dokter itu benar-benar penting sampai lord Devil membahayakan nyawanya di kubah lumpur.
Berto tak peduli dengan adik dokter Jingga mau selamat atau tidak yang terpenting dokter itu ada di genggamannya dan akan menjadikan senjata untuk menghancurkan Lord devil.
"Di mana dia sekarang?"
"Di kamar yang tuan siapkan!"
Berto mengangguk mengerti lalu berjalan ke salah satu kamar istimewa karena tak mungkin Berto menyimpan Vivi di gudang yang ada gadis itu akan ketakutan dan tak mau di ajak kerja sama.
Sedikit menyanjung agar gadis itu tak terlalu ketakutan.
Berto juga penasaran dengan dokter yang di juluki Jingga itu, seorang dokter muda namun begitu ahli dalam bidang medis. Namanya tersebar ke penjuru Eropa ketika dokter itu menyelamatkan perdana Mentri Amerika yang waktu itu sedang sakit parah.
Kabarnya dokter itu juga mempunyai penelitian sendiri tentang berbagai penyakit mematikan di dunia ini.
Pantas saja tuan besar menginginkan dokter itu karena sebuah prestasi yang begitu cemerlang tentu tujuannya hanya satu membangkitkan tuan muda yang sudah lama tertidur.
Dor ..
Dor ..
"Siapapun di luar tolong buka pintunya!"
Gedoran pintu dan teriakan Vivi terdengar nyaring membuat Berto tersenyum ternyata dokter itu sudah bangun.
Vivi sangat terkejut ketika ia bangun ia berada di dalam kamar yang entah di mana. Namun, ingatan Vivi langsung tertuju pada kejadian beberapa jam lalu hingga membuat Vivi histeris teringat akan adiknya.
Vivi terus menggedor berharap ada yang membukanya.
Vivi sangat takut adiknya kenapa-kenapa entah bagaimana nasib sang adik apa orang-orang itu menemukan sang adik atau tidak.
Cklek ....
Vivi langsung mundur merasa ada yang masuk. Vivi memasang kuda-kuda takut orang-orang itu menyakitinya.
__ADS_1
"Kau!"
Sengit Vivi menatap Gerry membunuh, Vivi masih ingat kekuatan laki-laki dewasa itu sangatlah kuat.
"Maafkan asisten saya dok sudah membuat anda ketakutan!"
Vivi langsung menatap laki-laki paru baya yang berusaha bicara santai agar Vivi bisa di ajak kerja sama.
"Siapa kalian, dan apa yang kalian inginkan dari ku?"
"Anda memang seorang dokter hebat, saya cukup suka mendengar cara anda bicara sangat tak suka basa basi!"
Kekeh Berto membuat Vivi menajamkan tatapannya harus waspada seperti yang ia duga.
"Kerjasama!"
"Apa!"
Brak ...
Berto melemparkan sebuah berkas keatas meja membuat Vivi mengepalkan tangannya kuat.
Berto dengan santai duduk bertopang kaki angkuh.
"Duduk lah dok, jangan takut!"
Kekeh Berto sangat suka melihat kewaspadaan Vivi namun terlihat tenang. Pantas saja orang-orang menjulukinya dokter Jingga karena pantas dengan auranya.
Dengan ragu Vivi duduk mengambil berkas yang tadi Berto lempar.
Vivi terus membaca teliti sampai selesai namun masih ada lembaran lagi yang harus ia baca.
Seketika mata Vivi melotot tak percaya dengan apa yang ia baca, sungguh ini tak manusiawi.
"Aku tak Sudi melakukan pekerjaan ini!"
"Oh ya!"
Ketus Berto tersenyum seringai mendengar penolakan Vivi.
"Aku bisa melakukan pekerjaan pertama tapi tidak yang kedua, itu melanggar hukum! Aku tak mau jadi pembunuh!"
"Bagaimana dengan ini!"
Deg ...
Vivi mengepalkan kedua tangannya kuat dengan mata berkaca-kaca melihat keadaan sang adik yang tak baik-baik saja.
"Kau apakan adikku!"
Bugh ...
Gerry terpental ketika menghadang serangan Vivi tiba-tiba. Serangan yang begitu cepat sangat tepat sasaran membuat Gerry menggeram.
Darah Vivi mendidih melihat bagaimana adiknya di perlakukan dengan darah yang terus keluar dari mulut dan hidung Arsen.
__ADS_1
Berto tersenyum seringai untung ia pintar merekam dulu adik Vivi untuk menjadi senjata dan ternyata itu berguna walau Berto sudah tak peduli bagaimana nasib bocah itu karena ia sudah membuangnya ke jurang.
"Lepaskan dia, Arsen sedang sakit hiks ..,"
Sungguh Vivi sangat lemah jika begini bagaimana bisa ia bertahan sedang adiknya sekarat.
"Tergantung!"
"Kau selamatkan tuan muda, maka adikmu selamat dan--"
Berto mencondongkan dadanya mencengkram wajah Vivi membuat Vivi meringis tertahan.
"Kau harus mengembangkan penelitianku maka hidup mu aman!"
Hiks ...
Vivi menangis bingung harus memutuskan apa. Ia tak mungkin membongkar jati dirinya sendiri Aurora akan dalam bahaya tapi bagaimana nasib sang adik.
"Malam ini kita berangkat, bersiaplah karena besok kau harus melihat kondisi tuan muda!"
Berto dan Gerry meninggalkan Vivi yang menangis pilu. Vivi tak menyangka jika hidupnya akan seperti ini, menyandang dokter Jingga pengganti membuatnya dalam bahaya.
Siapa orang-orang itu kenapa sangat kejam sekali dan siapa tuan muda yang mereka maksud.
Jika Bedebah itu menyebutnya tuan muda berarti ada orang lain yang jauh lebih berkuasa selain Berto.
Vivi harus memutar otak bagaimana ia bisa kabur dari tempat ini bahkan Vivi tidak tahu dia berada di mana.
Vivi tak sadar jika ia tidak lagi berada di negara Jerman melainkan sudah berada di negara Ceko sebuah negara yang dekat dengan perbatasan Jerman bagian Barat.
Vivi mencari-cari barangnya namun tak ada hingga Vivi terpaku pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini!"
Gumam Vivi seolah mendapatkan angin segar. Vivi berharap Aurora bisa membantunya karena jam yang Vivi pakai sebuah jam khusus di mana terdapat GPS di dalamnya.
"Ra, semoga kau menemukan ku!"
Monolog Vivi berharap lebih dengan semuanya.
Vivi berharap Aurora dapat menyelamatkannya terutama sang adik. Vivi tak tahu jika keadaan Aurora juga tak baik-baik saja.
Bahkan saat ini Aurora sedang merawat Kaka yang masih demam tak tahu apapun.
Entah bagaimana nasib dua sahabat itu yang saling membutuhkan satu sama lain tapi mereka tak tahu jika keduanya berada dalam masa sulit.
Entah siapa yang akan menolong mereka berdua hanya Tuhan yang tahu.
"Jika manusia itu menganggap aku dokter Jingga berarti aku harus bisa memerankan peran Aurora jika tidak aku tak tahu harus apa. Karl dan yang lain pasti dalam bahaya juga, orang-orang itu tak boleh ada yang tahu bahwa aku bukan dokter Jingga!"
Tekan Vivi waspada dengan pikiran yang terus berkecamuk.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1