
"Hey, cepatlah sedikit dasar lambah!"
Bentak Edward kejam membuat Vivi terus saja mengupat dalam hati dan terus menyumpahi Edward dengan sumpah serapan.
"Kau, langkah ku sudah cepat, kau saja seperti cerah!"
"Kau!"
"Apa!"
Bentak Vivi tak kalah keras karena sudah muak dengan apa yang Edward lakukan.
Setiap hari mereka pasti akan beradu mulut membuat para bodyguard hanya bisa menonton.
Bagaimana Vivi tak kesal jika Edward selalu saja menyusahkan ya bahkan sekarang dia harus membawa koper besar yang entah apa isinya sedang dia ak membawa apa-apa.
Sungguh jika saja ilmu bela diri ya tinggi sendari awal sudah Vivi tendang ke kutub Utara.
"Cepat!"
Ketus Edward melengos begitu saja tanpa peduli membuat Vivi benar-benar murka. Andai saja bukan permintaan Aurora bekerja di markas Kaka sudah di pastikan sendari awal ia angkat kaki.
Bekerja dengan manusia hantu itu membuat Vivi benar-benar naik darah.
Dan sekarang dia harus membantu Edward menyiapkan sesuatu acara besar yang entah apa.
Sepanjang jalan Vivi terus saja mengupat sambil menarik koper cukup kasar, sungguh emosi Vivi benar-benar di uji setiap harinya.
.
Di tempat lain Kaka sedang melakukan pertemuan penting dengan Jendral Anderson. Pertemuan rahasia yang hanya mereka tahu.
Ruangan kedap suara yang cukup menyesakan di mana kedua Jendral berbeda usia ini bungkam dengan tatapan permusuhan.
Tepatnya Kaka malas untuk bicara karena takut luapan emosinya akan keluar.
"Saya minta maaf atas nama putri saya!"
Ucap Jendela Anderson menghela nafas berat. Ia dengan susah payah harus merendah karena memang putrinya sudah melakukan kesalahan besar.
Apalagi sudah mengusik Jendral satu ini yang terkenal berdarah dingin.
"Saya mohon Jendral tak mencopot putri saya dari kemiliteran!"
"Itu aturan!"
Tegas Kaka karena tak bisa mentoleransi lagi. Kesalahan putri Jendral Anderson sangatlah patal.
"Dia mencintai anda!"
Brak ...
Habis sudah kesabaran Kaka, sendari tadi ia diam karena masih menghormati Jendral Anderson yang tentu lebih tua darinya tapi bukan berarti Jendral Anderson bisa seenaknya saja terhadapnya.
Kaka menatap tajam Jendral Anderson bahkan matanya memerah siap meluapkan segala amarahnya.
Bahkan sampai Jendral Anderson terkejut melihat kilatan amarah itu. Tatapan yang berbeda dari tatapan biasanya. Walau Kaka terkenal tegas dan dingin namun belum pernah jendral Anderson melihat tatapan lain yang seolah menguliti dirinya.
Mendengar suara gebrakan meja membuat Hanz langsung masuk dari tempatnya karena sudah tahu.
"Jendral silahkan keluar!"
Tegas Hanz pada jendral Anderson dengan hormat karena jika begini Kaka tak akan bisa di kendalikan.
"Jendral!"
Tekan Hanz geram karena Jendral Anderson malah diam seolah menantang.
"Pikirkan baik-baik Jend--"
__ADS_1
"Hanz!"
Bentak Kaka berdiri dari duduknya dengan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Copot jabatannya, dan pastikan ia tak bisa keluar dari wilayah dan anda, cih!"
Kaka berdecak sinis menatap Jendra Anderson tajam yang benar-benar di buat shok dengan sikap Kaka.
Sret ...
Kaka mencopot salah satu atribut yang terpasang di seragam Jendral Anderson.
"Ini tak pantas berada di sini, anda menjual aset wilayah barat pada sekutu dengan cerdiknya mengkambing hitamkan mayor Cesar!"
Deg ...
Jendral Anderson membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Kaka yang penuh penekanan. Ia melihat atribut dirinya tergeletak di lantai sana.
Jendral Anderson menatap punggung Kaka yang menghilang di balik pintu sana dengan tatapan waspada.
Hanz yang melihat itu hanya bisa tersenyum seringai.
Jendral Anderson menatap sebuah berkas yang sengaja Kaka tinggal dengan cepat ia mengambilnya.
"Sial!"
Umpat Jendral Anderson membanting berkas tersebut. Entah apa isinya yang jelas berkas itu pasti penting.
"Sial, dia sulit sekali di kendalikan dan sekarang Akhhh..."
Teriak jendral Anderson mengamuk karena tak menyangka Kaka tahu semua kebusukannya.
Berniat ingin mengendalikan guna menguasai semuanya bahkan rela menjadikan putrinya sendiri umpan namun pada akhirnya dia sendiri yang harus mundur.
Salah jika harus berurusan dengan seorang Jendral Kaka Aldarberto. Jika musuh melangkah satu langkah di depannya maka Kaka melangkah seribu langkah di depan musuh.
Terlihat diam bukan berarti damai.
.
"Sudah Jendral, saya rasa Jendra Anderson tak akan berani!"
"Cctv!"
"Sudah di hapus, saya jamin tak akan ada yang melihat Jendral!"
Kaka menghela nafas berat berharap kali ini tak ada lagi yang mengusik ketenangannya apalagi sang istri sedang hamil.
Kaka tak akan membiarkan satu lalat pun mengendus rumah tangganya.
"Bagaimana dengan persiapan acara?"
"Sudah 80%, sahabat nyonya sedikit memberontak!"
"Katakan pada Edward jangan terlalu keras, terlalu banyak kesakitan hingga membuat watak gadis itu seperti itu!"
"Siap Jendral!"
Dret ...
Ponsel Kaka berdering menandakan panggilan masuk.
"Katakan!"
Ucap Kaka ketika panggilan sudah ia terima.
Terdengar helaan nafas berat di sebrang sana seolah berat menyampaikan sesuatu atau tepatnya ragu.
"Berto sudah meninggal!"
__ADS_1
Hening ...
Tak ada percakapan lagi, bahkan bibir Kaka bungkam.
Tak ada raut sedih atau bahagia, wajah Kaka terlihat datar tak menunjukan ekspresi lebih membuat Hanz penasaran siapa yang menelepon sang Jendral.
"Ini permintaan uncle, datanglah sebagai keponakan bukan musuh!"
Tut ...
Kaka langsung mematikan ponselnya membuat profesor Tuner di sebrang sana hanya bisa menatap sendu ponselnya.
Profesor Tuner tahu betul bagaimana yang di rasakan Kaka apalagi dia sendiri yang membantu memulihkan keadaan Kaka dari keterpurukannya.
Namun profesor Tuner tak bisa memaksa bahkan waktu tak bisa di putar ulang untuk memperbaiki semuanya.
"Bahkan ketika mati pun kau masih di benci!"
Gumam profesor Tuner sedih melihat keluarganya menjadi hancur begini.
Entah bagaimana caranya memperbaiki semuanya seperti dua puluh tahun lalu.
Profesor Tuner sudah tua bahkan dia keluarga Aldarberto paling tua dan ia harus mengemban tanggung jawab sebesar ini.
"Uncle yakin, kau seperti Daddy mu sesakit apapun hati mu!"
Monolog Profesor Tuner dengan helaan beratnya.
"Prof ... Profesor!"
Panggil Vivi membuat profesor Tuner tersentak dalam lamunannya.
"Prof kenapa di luar, kondisi anda masih sakit!"
Cemas Vivi tak mau terjadi sesuatu pada guru besarnya. Profesor Tuner tersenyum mendapat perhatian dari Vivi, sudah lama ia tak dapatkan itu dari siapapun.
Melihat Vivi membuat profesor Tuner teringat akan cucu angkatnya, Shofi. Sudah lama ia tak bertemu dan entah bagaimana sekarang keadaan rumah tangga Shofi.
"Istirahat ya!"
Profesor Tuner hanya diam namun Vivi segera membawa profesor Tuner masuk kedalam. Tak ada penolakan dari profesor Tuner membuat Vivi senang.
Vivi membaringkan profesor Tuner perlahan dengan hati-hati.
"Apa sebaiknya prof memberitahu Aurora!"
"Jangan, dia sedang hamil!"
Larang profesor Tuner tak mau membuat Aurora cemas akan keadaannya.
"Vivi!"
"Iya prof!"
Profesor Tuner terdiam sejenak menatap Vivi rumit membuat Vivi bingung.
"Jadilah menantu saya!"
Duarr ...
Vivi membulatkan kedua matanya bahkan hampir keluar mendengar tiga kata yang profesor Tuner ucapkan.
Apa-apa ini, ini bukan sebuah kata permintaan melainkan seperti sebuah paksaan seolah di balik kata itu Vivi tak boleh menolak.
"Bagaimana?"
"Sa-say--"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...