
"Tidak!!"
Teriak Aurora terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu membuat Kaka menatap tajam Aurora.
Aurora menatap ke sekeliling membuat ia sadar di mana ia berada.
Sesudah memasak buat suami kertasnya Aurora kelelahan hingga ia ketiduran di atas shopa ruang kerja Kaka. Karena memang Aurora ingin tahu di mana ruang kerja Kaka hingga ia bisa mengantarkan apapun nanti.
Aurora tak peduli dengan tatapan tajam Kaka, Aurora entah kenapa ia merasa cemas dan takut.
Vi!
Batin Aurora seolah ini nyata sahabatnya membutuhkan ia. Tapi bagaimana cara Aurora mendapatkan kabar itu jika ia tak bisa memegang ponsel.
Aurora menatap Kaka hanya Kaka saat ini yang bisa membantunya walau Aurora tahu pasti ada balasan akan semuanya.
Kaka menatap rumit Aurora yang seperti ketakutan dan seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Ada apa?"
Aurora bangkit berjalan perlahan pada Kaka yang setia dengan wajah datarnya duduk di kursi kebesarannya angkuh.
"To--tolong sahabatku!"
Ucap Aurora memegang lengan Kaka gemetar bahkan mata Aurora sudah memerah karena yakin pasti terjadi sesuatu pada sahabatnya.
"Apa imbalannya?"
"Apapun yang kau inginkan, ta-tapi tolong sahabat ku da-dan bolehkan aku meminjam ponsel mu?"
Mohon Aurora dia harus menurunkan egonya demi tahu bagaimana kabar sahabat nya.
Kaka hanya diam saja seolah tak peduli dengan semuanya. Membuat Aurora bingung harus bagaimana.
"Tolong hiks ,,"
Deg ...
Kaka tersentak ketika Aurora merendahkan dirinya dengan air mata yang mengalir deras. Kaka benar-benar sulit menebak bagaimana asli sikap Aurora kenap tiba-tiba ia berubah seketika.
Tak ada keangkuhan lagi yang ada hanya ketakutan yang nyata.
"Bangun!"
"Sebelum kau menyetujuinya!"
"Bangun!"
Sitt!
Umpat Kaka menarik Aurora dengan satu kali tarikan lalu Kaka mendudukkan Aurora di atas meja kerjanya dengan ia masih duduk di atas kursi kebesarannya.
"Apapun akan kau berikan sebagai imbalannya!"
Aurora mengangguk cepat tanpa pikir panjang yang penting Aurora tahu bagaimana kabar sahabat nya itu. Jika sampai Vivi dalam bahaya maka Aurora tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri karena Aurora tahu Vivi dalam bahaya pasti karenanya.
Aurora langsung mengambil ponsel Kaka lalu menekan beberapa tombol.
"Vi, ayo angkat hiks ,,,"
__ADS_1
"Jangan buat aku takut!"
Cemas Aurora mengigit ujung telunjuknya dengan satu tangan memegang ponsel.
Berkali-kali Aurora menelepon namun tak di angkat sama sekali membuat Aurora semakin cemas apalagi nomornya langsung tak aktif.
"Kau harus baik-baik saja!"
Kaka hanya diam saja melihat wajah berbeda dari Aurora seperti nya Aurora sangat menyayangi sahabat nya itu.
Deg ...
Kaka tercekat tiba-tiba Aurora duduk di atas pangkuannya karena bingung harus duduk di mana.
Aurora tak peduli Kaka akan marah atau tidak dengan kelancangannya yang terpenting Aurora dapat melacak keberadaan Vivi.
Dengan berani Aurora menggunakan laptop Kaka dan mengerikan beberapa kode si sana Aurora masih ingat karena Fatih yang mengajarkannya.
Aurora tak bisa diam dengan kecemasannya itu. Otaknya terus berputar dengan perasaan takut yang menyesakan.
Jangan di tanya bagaimana reaksi Kaka yang sudah memerah padam bukan karena amarah namun hal lain yang tak mungkin terjadi.
Bagaimana mungkin!
Geram Kaka mengepalkan kedua tangannya erat menahan sesuatu yang menyesakan di bawah sana. Kenapa bisa beraksi padahal selama ini tak begitu.
Apalagi Aurora tak bisa diam membuat Kaka benar-benar prustasi Aurora tak tahu itu.
"Jalan ini!"
Gumam Aurora mengerutkan kening Aurora sangat hapal betul jalan mana itu tapi kenapa mobil Vivi berhenti di sana apa ada sesuatu yang terjadi.
Duarr ...
Aurora membulatkan kedua matanya terkejut melihat wajah Kaka yang memerah bahkan menatap ia tajam membuat Aurora menciut namun Vivi dalam bahaya.
"Kau kenapa, apa sakit! Tolong jangan sakit kau harus menolong sahabat ku!"
Panik Aurora memeriksa kening Kaka yang nampak normal-normal saja tapi kenapa mukanya memerah.
"Jauhkan tangan kau di wajah ku, dan turun dari pangkuanku!"
Bentak Kaka menggelegar membuat Aurora terperanjat langsung loncat.
Aurora terhenyak melihat kilatan amarah di mata Kaka bahkan menatapnya tajam seolah akan mengikuti ia hidup-hidup.
"Ka--"
"Keluar!"
"Tap--"
"Keluarrr!!!"
Brak ....
Teriak Kaka sambil menendang meja kerjanya membuat Aurora benar-benar terkejut.
Ada apa sebenarnya kenapa Kaka semarah itu bahkan hati Aurora sangat sakit.
__ADS_1
Padahal tadi nampak biasa-biasa saja hubungan mereka tapi kenapa sekarang begini lagi. Kenapa sulit mendekati Kaka membuat Aurora prustasi.
Kaka langsung berlari kedalam kamar mandi menatap nanar di bawah sana. Bagaimana bisa bangun setelah selama ini tak begini. Apa yang sebenarnya Aurora gunakan kenapa tubuhnya selalu saja menarik sesuatu yang berbahaya.
Kaka tak mungkin melakukan hal itu tanpa adanya cinta dari keduanya kecuali Aurora ikhlas memberikannya.
Dengan terpaksa Kaka mengguyur dirinya sendiri dengan air dingin supaya mendinginkan panas di seluruh tubuhnya yang seperti akan meledak saja.
Sungguh Kaka tak menyangka jika tubuh Aurora sangatlah berbahaya. Kaka laki-laki normal jika di pancing seperti itu siapa yang tak akan bangun.
Kaka terus saja menggeram apalagi kilatan bayangan wajah sendu dan terkejut Aurora terlintas di matanya membuat Kaka merasa bersalah sudah membentak Aurora gadis itu pasti takut padanya.
Ah, kenapa sekarang sangat peduli jika Aurora takut padanya bukankah itu hal yang ia inginkan.
"Tidak! Aku tak mau merusaknya bisa-bisa king Asia mempersulit semuanya!"
Tekan Kaka pada prinsipnya yang akhir-akhir ini kehadiran Aurora membuatnya merasa berbeda.
Padahal Aurora baru sebulan menjadi istrinya namun kehadiran gadis itu seolah mempunyai magnet lain yang tak bisa Kaka tolak apalagi DNA Aurora cocok dengannya.
Jika Kaka sedang berperang dengan batin dan pikirannya berbeda dengan Aurora yang termenung kosong mengingat begitu mengerikannya jika Kaka sedang marah.
Apa Kaka marah akan kelancangan ia atau ada hal lain membuat Aurora takut semuanya jadi sulit.
Padahal Aurora sudah bahagia ketika Kaka mau berteman walau wajahnya selalu setia dengan datar dan kekakuan.
"Ini tak bisa di biarkan, aku harus minta maaf jangan sampai Kaka berubah pikiran. Bagaimana nasib Vivi dan kenapa Vivi berada di jalan sepi bahkan bersama Arsen!"
Aurora bisa menebaknya karena tanggal ini jadwal check up Arsen. Harusnya Aurora yang menangani itu semua namun semuanya berubah ketika keputusan sang papa yang tak bisa di bantah.
Mengingat itu semua membuat Aurora marah dan rindu secara bersamaan.
Sungguh! Apa keluarganya mengingat dia atau malah sebaliknya.
"Bunda!"
Lilir Aurora jika sedang sedih hanya nama itu yang sering keluar dari mulutnya.
Bahkan Aurora juga tak bisa menghubungi sang kakak karena takut sang kakak cemas.
"Kau!"
Pekik Kaka terkejut ketika Aurora masih berada di dalam ruang kerjanya.
Bukan hanya Kaka yang terkejut begitu juga Aurora yang baru pertama kali melihat dada bidang dengan perut kotak-kotak sangat seksi tanpa berpaling.
Karena sebelum-sebelumnya Aurora akan memalingkan wajahnya namun kali ini tidak karena Kaka tetap di hadapannya.
Mata Aurora terpaku pada luka tembak di perut dan bagian lengan Kaka yang masih membekas.
Aurora tahu karena ia yang mengobatinya. Kenapa masih membekas padahal itu sudah tujuh tahun lalu.
"I-ini!"
Sitt!
Geram Kaka mencengkram lengan Aurora yang mengelus lengannya. Padahal Aurora ingin melihat bekas luka tembak itu.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....