
Rasa nyaman menyelimuti hati Edward tetkala membuka kedua matanya.
Pertama kali yang ia lihat wajah cantik Vivi yang tertidur.
Edward memegang tangan Vivi yang tersimpan di dadanya. Entah berapa lama Edward tertidur sampai-sampai membuat Vivi ikut tertidur juga dengan posisi duduk di mana Edward di atas pangkuannya.
Perlahan Edward bangun dengan hati-hati takut membangunkan Vivi. Melihat posisi Vivi tertidur tak terarah membuat Edward takut Vivi akan merasakan sakit pundak ketika bangun.
Dengan hati-hati Edward menggendong Vivi memindahkannya ke dalam kamar.
Vivi mungkin kelelahan karena seharian ia bermain.
Untung Vivi sudah makan malam membuat Edward lega.
Edward menyelimuti tubuh Vivi agar nyaman setelah selesai Edward meninggalkan kamar. Entah kemana perginya yang jelas Edward menuju dapur.
Di ingatan-ingat memang Edward belum makan dari tadi mengingat Edward fokus pada Vivi.
Lelaki tampan itu sibuk dengan dunianya sendiri membuat makanan untuk dirinya.
Masakan sudah tersaji seperti biasa sebelum makan Edward akan membereskan peralatan masaknya. Walau laki-laki namun Edward sangat menyukai kebersihan.
Edward duduk di kursi meja makan mengambil sumpit, sejenak Edward terdiam dengan bibir yang mengulas senyum. Entah apa yang membuat Edward tersenyum seperti nya ada sesuatu hal yang memang membuat hatinya menghangat.
Edward menyantap makanan yang ia buat sendiri dengan perasaan bahagia. Tak pernah rasanya Edward bersikap seperti itu ketika makan.
Seperti nya aku sudah gila!
Batin Edward tersenyum sendiri menerawang jauh.
Rasa ini kenapa se-menyenangkan ini, sungguh jika tahu begini sendari dulu Edward tak akan takut.
Sudah selesai makan, Edward mencuci piringnya.
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Edward belum merasa kantuk, apalagi tadi Edward sudah tidur nyaman di pangkuan Vivi.
Edward memainkan ponselnya sambil tiduran di atas shopa tadi.
Entah apa yang Edward lakukan dengan ponselnya. Matanya terlihat berbinar seolah ada sesuatu yang menyejukkan matanya.
Tangannya terus bergerak menggeser-geser layar sampai mentok pada bagian akhir.
Tak ada lagi yang harus Edward lihat karena semuanya sudah habis.
Sebuah galeri yang kini menjadi objek Edward padahal sebelumnya tak ada isi dalam galeri ponsel Edward mengingat Edward tak suka ber-poto. Namun, kali ini sepertinya Edward mempunyai hobi baru untuk pertama kalinya.
Sampai di mana mata Edward mulai berat sangat berat hingga tak bisa di tajam lagi. Pada akhirnya Edward tertidur sambil memeluk ponselnya.
.
.
Suasana hari ini nampak cerah, Edward terbangun dari tidurnya karena merasa tak nyaman.
Suara jatuhan barang membuat Edward terpaksa harus mengakhiri mimpi indahnya.
Entah apa yang terjadi kenapa pagi-pagi sekali sangatlah berisik.
Edward menatap kearah dapur karena suaranya berada dari sana.
__ADS_1
Edward beranjak menuju dapur guna melihat apa yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan!"
Deg ...
Vivi diam mematung mendengar suara bass yang sudah tahu siapa pemiliknya. Vivi tak berani berbalik takut Edward akan marah karena ia sudah menjatuhkan beberapa gelas.
Vivi niat ingin minum namun tangannya yang di perban membuat ia kesusahan dan malah menyenggol gelas yang lain.
"Stop!"
Cegah Edward ketika Vivi malah akan membersihkan pecahan gelas.
"Apa yang kau lakukan, kenapa ceroboh hah!"
"Jika tak bisa harusnya kau bangunkan aku!"
"Dasar sok kuat!"
Cerocos Edward kesal menggendong Vivi menuju shopa sana. Vivi hanya diam saja karena terkejut dengan apa yang Edward lakukan.
"Diam di sini!"
Cetus Edward mendudukkan Vivi di shopa lalu Edward kembali kearah dapur mengambil botol air yang sudah tersedia sedotan agar memudahkan Vivi minum mengingat tangannya yang masih di perban.
"Minumlah!"
Edward meletakan botol minum itu di hadapan Vivi berlalu menuju dapur lagi guna membersihkan pecahan gelas.
"Dasar gadis keras kepala, sok kuat! Dia benar-benar membuat ku---"
Gumam Edward ngedumel sendiri sambil membersihkan pecahan gelas itu.
Vivi hanya bisa diam menatap punggung Edward yang bergerak kesana kemari. Kenapa dirinya jadi tak berguna mana bisa Edward yang menyiapkan ia sarapan harusnya dia bukan.
Vivi menatap kedua tangannya semuanya kecerobohan ia.
Entah berapa lama lukanya akan kering hingga Vivi tak perlu merasa tak enak lagi. Edward selalu menyiapkan semua kebutuhan ia.
Apa Edward benar-benar serius dalam segala ucapannya atau ini hanya drama yang Edward ciptakan agar Vivi terjerat.
Vivi tak tahu dan tak mau tahu namun sialnya segala kemanisan yang Edward lakukan selalu membuat hatinya merasa tak nyaman.
Sial!
Vivi memilih pergi ke kamar saja karena ia belum mandi. Sebisa mungkin Vivi harus bisa jangan sampai Edward juga harus membantunya.
Awwss ...
Vivi meringis menahan perih di kedua telapak tangannya. Bahkan matanya berkaca-kaca sungguh ini sangatlah perih.
Vivi memaksakan mandi walau harus menahan ngilu di kedua tangannya.
Karena tak mau Edward tahu Vivi cepat-cepat membersihkan tubuhnya entah bersih atau tidak Vivi tak peduli.
Sudah selesai mandi Vivi memakai bajunya tak peduli rambutnya masih basah.
Dengan hati-hati ia mengeringkan rambutnya walau sedikit kesusahan. Vivi tak sadar jika luka di tangannya kembali basah bahkan meninggalkan noda di handuk kecilnya.
__ADS_1
"Stop!"
Teriak Edward terkejut dengan apa yang Vivi lakukan. Kali ini Edward benar-benar murka, Vivi benar-benar telah menguji kesabaran.
"Kau tidak lihat hah, luka mu kembali berdarah. Dan ini!!"
Geram Edward menatap tajam Vivi membuat Vivi terkejut pasalnya ia tak tahu yang lebih mengejutkan lagi Edward kembali membentaknya. Bahkan tatapan itu sama seperti tatapan dulu.
Dengan kasar Edward menarik handuk yang Vivi pegang belum selesai di sana Edward menarik lengan Vivi juga dan membawanya ke kamar mandi.
Edward mengangkat Vivi kedalam bathtub dan menyuruh Vivi tiduran.
"Harusnya kau meminta bantuan ku, dasar ceroboh!"
"Sakit bukan, itu akan sembuh lama jika kau terus keras kepala!"
Oceh Edward membuat Vivi meringis, sejak kapan Edward menjadi cerewet melebihi dia dulu.
Dengan lembut Edward kembali membantu Vivi keramas agar benar-benar bersih. Sudah selesai Edward langsung mengeringkannya.
Belum selesai di sana Edward kembali mengobati luka Vivi.
Vivi menatap Edward rumit di mana posisi Edward berjongkok membalut lengan Vivi.
"Bicaralah apa susah nya!"
"Bukankah aku suami mu!"
Deg ...
Tubuh Vivi menegang tetkala tatapan mereka bertemu.
Semuanya terasa canggung dan aneh, ini tak seperti biasanya.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu!"
Ucap Edward memutus tatapannya, Edward tak akan memaksa apapun.
"Tunggu!"
Edward menghentikan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun. Ia tetap diam membelakangi Vivi menunggu apa yang akan Vivi katakan.
"Yakinkan aku bahwa yang tuan ucapkan adalah serius!"
Seketika Edward berbalik menghadap Vivi, Edward menatap tajam Vivi lalu berjalan mendekat membuat Vivi refleks mundur hingga terjatuh di atas kursi tadi.
Edward memegang pundak Vivi membuat tubuh Vivi seketika menegang.
Cup ...
Sebuah kecupan mendarat di kening Vivi tanpa di duga.
"Aku tak suka menyentuh wanita, dan kau adalah satu-satunya orang yang mendapatkannya!"
"Di sini kau faham istriku!"
Tegas Edward mengelus wajah Vivi membuat Vivi terdiam kaku. Sungguh kejadian yang tak bisa Vivi hindari benar-benar cepat tanpa Vivi sadari.
Vivi memegang keningnya yang terasa hangat, masih terasa jelas hangatnya bibir Edward mendarat indah di keningnya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...