
Aurora tersenyum melihat makanan yang sudah siap di atas meja makan sana.
Sejak tadi Aurora sibuk memasak untuk makan malam Kaka walau Rose sudah memperingati jika sang lord pasti pulang larut namun Aurora tak peduli ia tetap memasaknya.
Bagi Aurora semalam apapun Kaka pulang, yang penting masakan ini Kaka makan.
Aurora menunggu kepulangan Kaka namun Kaka tak kunjung pulang membuat Aurora di buat kesal.
Aurora duduk di atas shopa sana berharap Kaka akan segera pulang karena ini kali pertama Aurora masak buat makan malam. Aurora bertekad akan memperbaiki hubungan mereka menjadi lebih baik lagi.
Bukankah jika dua-duanya keras kepala maka salah satunya harus berusaha menekan egonya.
Huaahh ..
Aurora mulai menguap menatap jam yang sudah pukul sebelas malam namun tak ada tanda-tanda Kaka pulang.
Bertanya sama Rose sama saja karena sendari tadi Rose hanya bilang. Lord masih kerja tapi mana ada kerja kantor sampai selarut ini.
Mata Aurora mulai menutup karena tak bisa lagi di tahan.
"Sama-sama keras kepala!"
Gumam Rose bingung melihat nyonyanya malah tertidur di atas shopa.
Ini sudah pukul dua belas malam namun sang lord belum pulang juga jika seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi.
Brak ...
Rose terkejut melihat keadaan sang lord yang tak baik-baik saja. Begitu juga dengan Qennan membuat Rose langsung siap.
Dokter Abe dan dokter Emma berlari menuju bangunan utama ketika mendengar kabar jika sang lord tertembak.
Entah kenapa sang lord suka sekali tertembak padahal dia bisa saja menghindar namun kenapa bisa begini.
"Emma urus Qennan dan Abe periksa keadaan Lord!"
Teriak Edward tak sadar membangunkan bidadari yang sedang nyaman dalam tidurnya.
Aurora tersentak kaget mendengar kegaduhan membuat Aurora langsung beranjak keluar mencari di mana kegaduhan itu berada.
Brak ..
Aurora membuka pintu kasar membuat semua yang ada di dalam tercekat. Aurora menatap tajam pada sosok yang tak berdaya dengan darah berceceran di mana-mana.
"Nyo--"
"Kenapa dengan suami ku?"
Bentak Aurora sungguh sangat jantungan melihat keadaan Kaka yang seperti itu kenapa Kaka suka sekali terluka entah apa yang suami kertasnya ini lakukan.
Dokter Abe mundur ketika Aurora datang membuat Aurora mengepalkan kedua tangannya erat. Sungguh dada Aurora sangat sakit dan sesak melihat luka itu sama persis.
__ADS_1
Srek ...
Aurora langsung merobek baju kaos yang Kaka gunakan hingga koyak membuat semuanya terdiam dengan perasaan masing-masing.
Dokter Abe terdiam melihat keterampilan lengan lentik itu memegang alat-alat dokter seperti biasa.
"Kenapa kau selalu terluka!"
Geram Aurora mencabut peluruh yang bersarang di punggung lebar Kaka entah bagian tubuh mana lagi yang akan terluka setelah di bagian perut sudah penuh.
Dengan hati-hati Aurora menjahit itu semua sampai selesai dan membalut luka itu.
Dokter Abe dan dokter Emma saling pandang rumit dengan Edward yang tersenyum seringai melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana cara Aurora melakukan semuanya.
Seperti nya dugaan sang lord benar tapi jika iya kenapa sang lord belum bertindak membuat Edward penasaran apa yang di rencanakan sang lord.
"Kenapa dia bisa begini?"
Tanya Aurora menatap tajam Edward yang hanya membisu.
Edward tak mungkin mengatakan semuanya yang ada akan semakin rumit dan Aurora pasti akan marah besar.
Edward menyuruh yang lain keluar dan membawa Qennan ke ruang lain agar Aurora bisa leluasa merawat sang lord.
"Ed!"
"Maaf nyonya, biar Lord yang menjelaskan!"
Apa ia seorang penjahat hingga banyak musuh yang menginginkan nyawanya.
Entah sudah berapa peluruh yang bersarang di tubuh Kaka tapi kenapa tubuh ini sangat kuat daya tahan tubuhnya.
Aurora menatap suami kertasnya ini, jika sedang memejamkan mata Kaka terlihat kalem bahkan wajahnya sangat meneduhkan dengan ketampanan di atas rata-rata.
Namun jika mata biru bening ini terbuka semuanya terasa mencengkam bahkan wajah teduhnya berubah menjadi garang.
"Kenapa kau selalu tertembak! Apa peluruh sudah menjadi teman mu!"
Gumam Aurora membersihkan sisa-sisa darah di tubuh Kaka.
Walau Aurora tak peduli sebagai istri namun sebagai seorang dokter itu kewajiban Aurora mengurus pasiennya.
"Entah sudah berapa peluruh yang bersarang di tubuh ini! Bagaimana jika suatu hari nanti peluruh itu membuat mu tak bisa bangun lagi!"
"Apa kau tak memikirkan keluarga mu, bahkan kau terlihat sayang pada tuan putri!"
Aurora terus saja mengoceh sambil membersihkan tubuh seksi ini. Tak ada hasrat lebih melihatnya bahkan wajah Aurora sangat datar seperti biasa.
"Kau selalu membahayakan dirimu sendiri tanpa peduli orang lain!"
Monolog Aurora menghela nafas berat jika ia berada di posisi keluarga Kaka tentu Aurora akan sangat cemas bahkan gila.
__ADS_1
Suami kertasnya ini seolah tak takut mati, entah siapa sebenarnya suami kertasnya ini selalu saja misterius.
Andai saja Aurora mempunyai alat ia akan melacak semuanya namun itu mustahil bahkan ponsel pun tak pegang.
"Mom!"
Aurora mengerutkan kening mendengar suara lemah Kaka yang memanggil ibunya.
"Mom!"
Suara itu semakin jelas terdengar seperti nya tidur Kaka tidak nyaman terlihat dari kerutan di keningnya.
Namun lama kelamaan Aurora terkejut melihat keringat yang terus bercucuran membasahi dahi Kaka seolah di bawah alam sadar sana Kaka mengalami ketakutan apalagi Kaka tiba-tiba mencengkram lengan Aurora membuat Aurora terpekik.
"Ti-tidak,, tidak jangan bunuh, mom!"
"Mom, ti-tidak,,,"
Aurora tersentak mendengar kalimat yang Kaka ucapkan.
Bunuh!
Satu kata membuat tubuh Aurora menegang. Apa kedua orang tua Kaka meninggal karena di bunuh, jika ia sungguh Aurora sangat merinding.
Aurora belum pernah melihat keadaan orang seperti ini seolah mental terdalam Kaka terganggu. Terlihat sekali jika Kaka begitu mengalami sesuatu yang hebat membuat Aurora jadi penasaran bagaimana sebenarnya kehidupan Kaka sebenarnya.
Apa se-mengerikan itu!
"Kau aman, tenanglah!"
Ucap Aurora mengelus rambut hitam kecoklatan ini dengan lembut. Untuk kedua kalinya Aurora menarik Kaka kedalam pelukannya saat Kaka sedang sakit.
"Apa kau melakukan ini juga saat aku sakit!"
Aurora memang sudah mengingatnya walau sempat tak sadar. Namun, Aurora merasakan pelukan hangat seseorang yang Aurora anggap itu sang Bunda namun Aurora tahu sang bunda tak ada di sampingnya.
"Aku tak mau terjebak dalam pernikahan seperti ini. Andai kita bertemu dengan keadaan berbeda mungkin situasinya juga berbeda. Maaf aku hanya ingin bebas mewujudkan cita-cita ku, di sana semua orang pasti membutuhkan aku!"
"Jika waktu itu tiba, hiduplah dengan normal bukan seperti ini, kau harus sayang pada diri mu sendiri!"
Monolog Aurora terus mengelus rambut Kaka membuat Kaka perlahan tenang di alam bawah sadar sana seolah apa yang Aurora lakukan bak magnet pemenangnya.
Sudah lama Kaka tak seperti ini bahkan ia hanya melawan kesakitannya sendiri dan baru kali ini ada Aurora yang mampu menenangkannya.
"Jangan tinggalkan aku mom!"
Gumam Kaka terlihat hancur mengeratkan pelukannya membuat Aurora bertambah sesak.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1