
Hari ini Aurora begitu semangat pulang karena tak sabar ingin bertemu sang suami guna menguji coba obat yang sudah ia racik.
Aurora berharap obat ini bisa menyembuhkan sang suami.
Sampai tiba di kediaman Aurora berharap sang suami sudah pulang seperti biasanya. Namun, Aurora salah kali ini Kaka belum pulang membuat Aurora sedikit kecewa.
Walau begitu tak masalah Aurora akan menunggunya.
Aurora memilih membersihkan badannya terlebih dahulu supaya fresh kembali.
Sesudah mandi Aurora mencoba menelepon sang suami namun anehnya nomornya tak aktif membuat Aurora bingung tak biasanya sang suami seperti ini.
Aurora mencoba tenang kemungkinan besar suaminya sibuk apalagi memang berangkat siang juga. Aurora hanya bisa menunggu tanpa mau menggangu apalagi Aurora tahu tadi pagi terjadi kecelakaan pada Qennan mungkin Kaka sedang mengurusnya.
Seperti biasa ketika menunggu Aurora akan membuka jendela kamarnya dengan lampu yang di matikan.
Semilir angin menerpa wajah mulus tanpa celah itu. Rambut Aurora melambai-lambai indah karena memang sengaja di gerai.
Sambil menunggu Aurora menikmati suasana malam sambil memangku laptop nya.
Entah apa yang Aurora kerjakan tatapannya begitu tajam dengan wajah serius.
Aurora hanyut dalam dunianya sendiri tanpa peduli sekeliling. Namun, aktivitas Aurora terhenti ketika melihat salah satu ajudan berjalan kebangunan belakang yang entah apa.
Aurora memang kagum dengan alat-alat canggih yang mereka gunakan bahkan semua ajudan memakai jubah transparan yang di mana tak akan terlihat oleh sekelebat mata.
Namun, karena Aurora sudah tahu itu ia menjadi penasaran apa yang ajudan itu lakukan di sana.
Hanz!
Batin Aurora memicingkan kedua matanya tak salah lihat jika itu Hanz.
Jika itu benar Hanz besar kemungkinan Kaka ada di dalam sana. Tapi kenapa ke sana bahkan ini sudah larut.
Dengan cepat Aurora meninggalkan laptop nya mengendap ke bawah sana dengan hati-hati karena takut ketahuan. Apalagi Aurora tahu suaminya selalu punya mata di mana-mana.
Jiwa penasaran itu menuntut Aurora untuk masuk kedalam bangunan tua itu.
Krek ...
Aurora bersembunyi di ruang gelap sama ketika salah satu ajudan ada yang lewat.
Menyeramkan, misterius itulah yang Aurora rasakan dari aura bangunan tua ini.
Aurora hati-hati menelusuri lorong gelap itu sampai di mana ia melihat titik cahaya.
"Ampun Jendral .. Tidak!!"
Jerit seseorang ketika dengan sadisnya Kaka menguliti kulit wajah pengkhianat itu.
Jiwa iblis itu meruak dalam diri Kaka ketika tahu ternyata salah satu ajudannya berkhianat bahkan mau mencelakai dirinya.
Beginilah sosok Kaka jika dirinya di usik maka siapapun akan mati di tangannya.
"Sekarang kau bilang ampun! Di mana otak mu ketika melakukannya hah!"
Bentak Kaka menggelegar bahkan membuat Hanz merinding. Itu resiko bagi pengkhianat dan harus menanggungnya. Jadi berpikirlah untuk berkhianat pada iblis satu ini.
Kebiasaan yang berganti menjadi hobi menguliti kulit wajah pengkhianat ini. Bagi Kaka pengkhianat tak perlu punya kulit wajah karena sejatinya wajah mereka sangatlah buruk.
"Ah .. Jendral!"
__ADS_1
Jerit tertahan sang pengkhianat ketika pisau itu mengoyak kulit wajahnya. Ia tak bisa bergerak bebas karena kepalanya di himpit percuma ia memberontak maka alat yang menghempit kepalanya semakin menusuk bahkan kaki dan lengannya di kunci hingga sang pengkhianat hanya bisa menggeram dengan air mata yang terus keluar.
Sungguh sadis apa yang Kaka lakukan namun bagi Kaka tak ada yang melebihi tingkat kejatahan paling tinggi kecuali pengkhianat. Karena wajah mereka seperti bunglon yang berubah dimana tempat.
"Katakan! Bekerja untuk siapa?"
Tanya Kaka menyudahi aksinya sambil mengelap pisau itu dengan sapu tangan yang Hanz berikan.
"Ampun Jendral!"
"Ampun, hm!"
"Bagaimana kalau pisau ini mengoyak kulit wajah satunya lagi!"
"Tidak .... Tidak .. Jendral ampun!"
Jerit sang pengkhianat sungguh ia tak menyangka jika Kaka akan sesadis ini.
Bahkan Kaka jauh lebih menyeramkan dari pada tuannya.
"Maka katakan!"
Sang penghianat bungkam karena tak mungkin menjawab. Tubuh dia sudah di pasang penyadap jika ia angkat bicara maka istri dan anaknya dalam bahaya.
Pilihan yang sangat sulit entah apa yang harus ia katakan.
Menjadi mainan dan di permainkan sangatlah melelahkan dan menyakitkan.
"Baiklah, kau tetap bungkam!"
Geram Kaka mencengkram dagu sang pengkhianat membuat sang pengkhianat kembali merasakan sakit bahkan ini lebih sakit dari yang pertama karena entah pisau apa yang Kaka pakai untuk mengulitinya.
Deg ...
Prang ...
Seketika pisau yang Kaka pegang terjatuh ketika mendengar suara seseorang yang begitu ia hapal siapa pemiliknya. Bahkan tubuh Kaka menegang menatap tajam Hanz yang sudah gemetar.
"Apa ini suami ku!"
Lilir Aurora gemetar ketakutan melihat sosok suaminya yang seperti iblis. Sendari tadi Aurora bersembunyi melihat semuanya namun Aurora tetap bungkam karena ingin melihat sejauh mana sosok itu bergerak.
"Sayang!"
Aurora berlari dengan linang air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi.
"Hanz!"
"Maaf Jendral, tadi nyonya sudah tidur!"
"Kau!"
Umpat Kaka tertahan percuma ia memarahi Hanz saat ini yang paling utama Kaka harus mengejar Aurora. Kaka yakin Aurora pasti shok akan semuanya.
Kaka berlari mengejar sang istri, Kaka benar-benar mengutuk Hanz yang ceroboh bagaimana bisa sang istri masuk ke bangunan tua ini.
"Sayang!"
Teriak Kaka namun Aurora tak menggubrisnya ia terus berlari tanpa peduli.
"By!"
__ADS_1
Teriak Aurora terkejut ketika tubuhnya sudah melayang di atas pundak Kaka.
Ya, Kaka menggendong Aurora di pundaknya membuat Aurora terlihat seperti karung beras. Aurora terus memberontak sambil memukul-mukul punggung Kaka namun Kaka tak melepaskannya.
Hingga Kaka masuk ke sebuah ruang kaca yang di penuhi bunga-bunga dengan air sungai yang mengalir. Terlalu jauh Kaka membawa Aurora ke kamar hingga Kaka memilihnya masuk ke surga dunianya.
"Marah lah!"
Ucap Kaka ketika sudah menurunkan Aurora dari pundaknya.
Kaka menekuk kedua lututnya dengan kepala menunduk tepat di hadapan Aurora.
Aurora hanya diam dengan tangis yang memecah keheningan malam.
Marah!
Aurora tak marah melihat hal itu karena memang sendari awal Kaka sudah menjelaskannya.
Kecewa!
Aurora tak kecewa karena ini sudah menjadi keputusan ia menerima Kaka.
Takut!
Ya, Tangisan Aurora hanya sebuah ketakutan melihat sisi lain dari sang suami. Dan, Shok atas semuanya ternyata Kaka begitu menyeramkan.
Sekarang Aurora bingung meluapkannya seperti apa, apa itu juga sebagian dari seorang Jendral. Walau Aurora tahu Kaka tak mungkin melakukan hal lebih jika orang tersebut bukan sebuah ancaman.
"By!"
Lilir Aurora gemetar dari sekian lama menangis.
Aurora menangkup wajah sang suami yang menunduk. Aurora menekukkan kedua lututnya sama membuat mereka saling berhadapan.
"Rora takut!"
"Maafkan hubby sayang!"
Ucap Kaka menarik sang istri kedalam pelukannya sumpah demi apapun Kaka tak berniat membuat takut sang istri.
"Ayo marah lah, jangan begini!"
Kaka siap menanggung apapun yang akan sang istri luapkan Kaka akan menerima.
"Apa pantas Rora marah dan kecewa sedang menerima hubby adalah keputusan Rora hiks ..,"
"Rora hanya takut, apa begini sisi lain hubby!"
Ya, sumpah demi apapun Aurora tak marah ataupun kecewa ia benar-benar takut saja apa ia juga akan berada di posisi seperti itu jika berkhianat.
"Jangan takut sayang, hubby tak akan mungkin menyakiti kamu. Mereka pengkhianat mereka pantas seperti itu!"
Ucap lembut Kaka namun penuh kegeraman di akhir kalimatnya membuat Aurora mencoba memahami.
Ada kilatan kesakitan di mata ini seperti ada sebuah trauma besar yang belum Aurora ketahui.
By, kenapa Aku belum memahami mu!
Bersambung ...
Jangan lupa, Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1