Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 116 K: PC 2 (Apa dia sudah tidur!)


__ADS_3

Semenjak permintaan itu, sikap Edward memang betul-betul berubah, lebih hangat walau tampang itu masih datar.


Namun, Vivi bisa merasakannya oleh perilaku dan ucapan Edward yang sedikit merendah.


Walau begitu, Vivi masih membentengi hatinya karena tak mau terluka.


Begitulah keseharian yang mereka lakukan, setidaknya Vivi tak merasa takut itu jauh lebih baik bagi Edward.


Mereka tidur satu kamar walau tidak satu ranjang di mana setiap malam Edward akan tidur di atas shopa atau dia ketiduran di ruang lukisnya.


Itu sebuah perjuangan di mana Edward harus bangun sambil memegang pundaknya yang terasa nyeri akibat tidur seperti itu.


Entah sampai kapan Edward akan begitu, semuanya menunggu Vivi yang mengizinkannya.


Mereka memang melakukan aktivitas mereka masing-masing saling sapa sejenak di pagi hari dan akan bungkam di malam hari ketika akan tidur.


Edward biasa asalkan Vivi tak lagi pingsan jika ia dekati walau harus menahan kontak pisik.


Hal seperti yang mereka lakukan pagi ini.


Sarapan berdua di mana sudah terbiasa bagi Vivi menyiapkan sarapan untuk mereka. Walau Edward yang akan membereskannya sendiri.


Mereka seperti pasangan kompak akan hal itu, namun hanya sebatas itu tidak yang lain.


"Hari ini aku akan pulang telat, kunci lah kamar sebelum tidur!"


"Iya!"


"Aku berangkat!"


Edward berangkat ke kantor tanpa menunggu jawaban Vivi karena memang sudah tahu Vivi tak akan pernah menjawabnya kembali.


Hari ini Edward harus mengecek proyek baru tentu ia akan sibuk.


Vivi hanya bisa mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.


"Hati-hati!"


Jawaban itu hanya bisa Vivi keluarkan dalam hati. Pandangan Vivi tetap fokus pada punggung lebar Edward sampai menghilang di balik pintu.


Vivi baru memutus pandangannya ketika Edward menutup pintu itu rapat-rapat.


Hari ini Vivi sedikit senggang karena jadwal Pasien dia tidak terlalu banyak.


Vivi akan memanfaatkan kan waktu mencari keberadaan omnya. Di mana Edward memberi tahu jika om ia masih hidup.


Edward hanya memberi tahu sedikit tanpa minat menjelaskannya lagi membuat Vivi harus mencarinya sendiri.


Bukan Edward tak mau memberitahu, namun biarlah Vivi mencari tahu sendiri. Kebenaran itu lebih baik Vivi tahu sendiri dari pada dari dia.


Sudah selesai memeriksa pasien nya Vivi segera pergi karena takut kemalaman di mana Edward akan marah jika ia pulang telat.


Walau Edward tak tahu, namun banyak pasang mata yang mengawasinya.


Vivi mendatangai salah stau rumah sakit berharap omnya bekerja di sana. Namun, hasilnya nihil, tak ada nama omnya di sana membuat Vivi sedikit kecewa.


Vivi melirik jam pergelangan tangannya ini sudah sore, ia harus segera pulang takut-takut Edward akan marah.


Ia bisa mencarinya lagi besok, toh masih ada banyak waktu untuk itu. Berharap ia akan bertemu setelah sekian lama berpisah.


Vivi hanya ingin bertanya alasan logis apa orang tuanya sampai membuang dia. Ya, itu tujuan Vivi ingin bertemu omnya, sedikit banyaknya pasti tahu akan hal itu.


Percuma bertanya pada Edward, karena Edward tak mau menjawab. Edward seolah sengaja menyembunyikannya membuat Vivi harus nekad mencari tahunya sendiri.

__ADS_1


Hari mulai gelap, Vivi baru saja sampai di kediaman.


Edward belum pulang, berarti Edward benar-benar pulang telat. Vivi mencoba mengabaikan nama itu ia segera membersihkan tubuhnya agar kembali fresh.


Sudah selesai, Vivi memakai baju santai lalu pergi ke dapur guna membuat makanan untuk makan malam dirinya.


Abendessen makan malam tradisional Jerman terdiri dari roti gandum atau roti panggang, potongan daging dingin, keju, salad, acar sayuran, ikan kaleng.


Cuaca dingin seperti ini cocok di makan hangat-hangat.


Vivi menatap dua piring di atas meja makan, entah sadar atau tidak ia membuat dua piring untuk dirinya dan juga Edward.


"Apa dia benar-benar akan pulang malam!"


Gumam Vivi melihat waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Di luar salju belum juga reda bertaburan.


Vivi memutuskan makan malam duluan saja dan menutup untuk Edward menyimpannya di kulkas.


Sudah selesai ia langsung membereskannya kembali lalu beranjak menuju kamar.


"Apa aku harus benar-benar mengunci pintu ini!"


Gumam Vivi menatap pintu kamarnya nanar. Vivi memang masih merasa takut tidur satu ruang dengan Edward walau ada jarak di antara mereka.


Walau Vivi tahu dalam sebulan ini Edward tak pernah lebih mendekatinya. Seolah Edward hanya sengaja supaya dirinya terbiasa oleh kehadiran Edward.


"Jika aku tak menguncinya, dia akan besar kepala!"


"Tapi ... Ini kamar dia, kenapa aku yang lancang!"


"Andai saja di sini ada banyak kamar!"


Monolog Vivi terus bicara pada dirinya sendiri menimbang-nimbang keputusan apa yang harus ia ambil.


Tegas Vivi meyakinkan dirinya sendiri jika seperti nya ia perlu melakukan ini. Jika Edward selama sebulan ini berjuang maka dia akan melakukan hal yang sama.


Vivi memutuskan tak mengunci pintu kamarnya guna memastikan sesuatu. Berharap ia bisa mengukur akan hal itu.


"Selamat malam!"


Gumam Vivi pada dirinya sendiri karena itu hal yang sudah biasa.


.


.


Di sebuah perusahaan besar nampaknya Edward masih saja sibuk dengan layar di depannya.


Matanya begitu fokus membuat Qennan di ujung shopa sana mulai kesal. Entah apa yang akan Edward perintahkan, sendari tadi di panggil namun Edward belum juga memberikannya perintah malah di suruh duduk di sini.


"Ed, sialan! Apa yang kau inginkan!!"


Kesal Qennan merasa jenuh ini sudah setengah jam ia diam.


"Yang sopan!"


"Cih!"


"Ngomong-ngomong apa rencana mu, kenapa kau sengaja membiarkan Vivi keluar kastil tanpa penjagaan?"


Tanya Qennan tak habis pikir dengan jalan pikiran Edward. Bukankah Vivi harus bersembunyi kenapa sekarang Edward membiarkannya lepas.


"Urusan mu pantau tua Bangka itu!"

__ADS_1


"Cih, tangan ku sudah gatal ingin menghajarnya!"


Edward menatap tajam Qennan membuat Qennan masa bodo.


Edward menghela nafas berat lalu menutup layar laptop nya.


"Besok kau atur pertemuan tua Bangka itu dengan istri ku!"


"Hah, kau gila!"


"Lakukan saja, seolah tanpa sengaja!"


"Terlalu bahaya!"


"Tua Bangka itu tak akan berani menyakiti istriku, karena ada sesuatu yang dia inginkan dari istriku lebih dari rumah sakit itu!"


Qennan terdiam, seperti nya Edward memang sedang merencanakan sesuatu sialnya kenapa ia tak di beri tahu rencananya.


"Lakukan lah, semuanya harus sesuai rencana!"


Tegas Edward membuat Qennan mendelik malas. Sesuai rencana, cih! Dia hanya jadi mesin berjalan tanpa tahu rencana intinya seperti apa.


"Qennan!"


"Hm!"


"Kapan kau menikah!"


"Sialan!"


Bugh ...


Edward dengan enteng menangkis bantal shopa yang Qennan lempar.


"Hanz sebentar lagi akan menikah, kau harusnya mencari pasangan!"


"Maka, buatlah aku berlibur selama satu tahun!"


"Jangan mimpi!"


"Hey, bagaimana aku bisa menikah kekasih saja tak punya dan kau mengurungku dengan tumpukan pekerjaan!"


Teriak Qennan kesal melihat Edward malah pergi begitu saja meninggalkannya.


Benar-benar sahabat laknat, selalu saja begitu.


Qennan berlari mengejar Edward yang entah sudah kemana. Edward memang selalu saja begitu, bergerak cepat seperti hantu yang menghilang tiba-tiba.


"Sial!"


Umpat Qennan ketika melihat Edward sudah masuk kedalam lift sana yang artinya ia harus menunggu lama agar bisa turun kelantai bawah.


Edward tersenyum tipis karena berhasil mengerjai sahabat nya.


Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.


"Apa dia sudah tidur!"


Gumam Edward entah kenapa wajah Vivi terbayang di ingatannya.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ....

__ADS_1


__ADS_2