Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 67 Memulai dari awal


__ADS_3

Langkah Kaka begitu cepat masuk kedalam bangunan khususnya yang memang di sediakan khusus di istana.


Dada Kaka semakin bergemuruh hebat ketika ia sudah ada di depan pintu.


Sejenak Kaka memejamkan kedua matanya sebelum masuk menyiapkan diri.


Krek ...


Pintu indah itu terbuka ketika Kaka mendorongnya.


Kaka melangkah masuk membuat para ajudan langsung merilekskan kembali tubuhnya.


Deg ...


Kaka diam mematung melihat siapa yang berdiri menatap ia tajam bahkan tatapan itu seolah ingin menelan ia hidup-hidup.


Aurora berjalan penuh emosi kearah Kaka yang sudah tega meninggalkan ia sendirian selama sebulan lebih.


Plak ...


Aurora menampar Kaka keras walau tak menggoyahkan sama sekali.


"Aku membenci mu, sialan!"


"Kau jahat sangat jahat ...,"


Bugh ...


Aurora meluapkan amarah dan kekesalannya terus memukul-mukul dada bidang Kaka yang hanya diam saja menerima amukan dari Aurora.


"Kenapa kau lakukan ini hiks .., aku membencimu!"


"Aku membencimu!"


Teriak Aurora terus memukul-mukul dada Kaka dengan tangisan yang tak bisa di bendung.


Sungguh Aurora sangat sakit akan hal ini, bahkan belum puas memukul Aurora mengupat juga dengan teriakan keras.


"Maaf!"


Hanya kata itu yang keluar ketika Aurora sudah lelah berteriak dan memukul hingga Aurora menyandarkan kepalanya di dada bidang Kaka dengan bulir bening yang terus berjatuhan ke atas lantai sana.


Sungguh Aurora tak mau berada di posisi ini, kenapa ini sangat menyakitkan.


Kepergian Kaka secara tiba-tiba kini membuat Aurora mengerti semuanya karena dirinya tapi Aurora membenci Kaka yang seperti ini kenapa harus meninggalkan ia secara halus.


"Aku membencimu ..,"


"Maaf!"


"Aku benar-benar membencimu hiks ,,"


Isak Aurora kembali memukul-mukul dada bidang Kaka lemah karena tenaganya sudah terkuras habis.


Grep ...


Kaka menahan kedua lengan Aurora hingga membuat Aurora menatap wajah yang sudah membuat ia prustasi.


Mata mereka saling bertemu mengunci satu sama lain.


Terpancar jelas kerinduan di balik mata biru ini. Sungguh Kaka sangat merindukan wanitanya namun Kaka masih takut.


Ia hanya bisa diam saja menatap pahatan cantik yang sudah menjungkir balikan emosinya.


"Kenapa kau lakukan ini?"


"Aku ingin kau bahagia!"


"Dengan cara menyakiti ku!"


Kaka terdiam bungkam tak mengerti dengan maksud Aurora. Bagaimana bisa ia menyakiti wanitanya. Bukankah Kaka selama ini sudah mengabulkan permintaan Aurora kenapa seperti ini.


"Bukankah ini yang kau mau!"

__ADS_1


Deg ..


Aurora melemah karena semuanya salahnya. Tapi Aurora sudah membuat keputusan jika ia akan merubah keinginannya dan memasukan Kaka kedalam daftar mimpinya.


Ya, Aurora yakin dengan keputusannya selama Kaka pergi Aurora menyadari jika ia sudah jatuh kedalam cinta Kaka. Karena tak pernah ada orang yang berani membuat ia uring-uringan bahkan sampai bergadang hanya menunggu ketidak pastian.


"Bolehkah aku memasukan mu kedalam keinginan ku!"


"Keinginan jika aku tak mau kau melepaskan ku!"


Duarr ...


Kaka membulatkan kedua matanya menatap Aurora intens seolah mencari kebohongan di balik netra hitam ke coklat itu.


Namun, nampaknya Aurora serius dengan ucapannya.


"Keinginan membangun rumah tangga normal, aku akan ikut kemana kaki mu melangkah!"


Sungguh Kaka di buat bungkam mendengar itu semua. Benarkah Aurora ingin hidup bersamanya membangun keluarga impian Kaka.


"Ini bukan mimpi kah!"


Ucap Kaka pelan namun masih terdengar oleh telinga Aurora.


Aurora tahu Kaka seperti ini karena sikapnya andai saja ia tak seperti ini sendari awal mungkin ceritanya berbeda.


Aurora berani menangkup wajah Kaka intens yang hanya diam tanpa bereaksi lebih.


"Maafkan aku, semua salah ku!"


Ucap Aurora sadar jika Kaka begini karenanya.


"Bolehkah aku memeluk mu?"


Aurora langsung mengangguk pasti membuat Kaka langsung menarik Aurora kedalam pelukannya.


Bulir bening keluar dari pelupuk mata Kaka entah kenapa Kaka menangis membuat Aurora tersentak.


Ini kali kedua Aurora melihat air mata Kaka membuat Aurora bertanya-tanya kenapa Kaka seperti ini.


"Terimakasih!"


Kaka semakin mengeratkan pelukannya posesif membuat Aurora membalasnya. Mereka berdua hanyut dalam sebuah rasa yang baru mereka bangun.


"Apa kau begitu mencintai ku?"


"Menurut mu!"


Aurora terdiam menatap manik biru indah ini yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Kau belum menjelaskan sesuatu?"


"Apa!"


Bingung Kaka menautkan kedua alisnya membuat Aurora geram.


Bugh ..


Awwss ..


Kaka meringis kesakitan ketika Aurora menendang kakinya.


Aurora tak peduli duduk di atas shopa sana membuat Kaka tertatih menghampiri sang istri.


"Sejak kapan?"


"Sejak pertama!"


"Kau!"


"Aku ingin memberi tahu mu di malam itu, tapi tak jadi karena aku bukan impian mu!"


"Maaf!"

__ADS_1


"Tak apa, terimakasih sudah merawatku dengan baik!"


"Apa benar-benar sudah sembuh!"


"Hanya kuat lima jam, selebihnya akan sakit!"


Aurora mengangguk paham karena memang Kaka terlalu di paksakan hingga begitu. Harusnya secara perlahan hingga semuanya membaik. Seperti nya Aurora harus melakukan pemeriksaan ke seluruh agar tahu bagaimana kondisi kaki sang suami.


"Apa kita akan tinggal di sini juga?"


"Menurut mu!"


Aurora menggeleng walau berharap karena ia ingin dekat dengan putrinya.


Tapi Aurora tak mau memaksa ini sudah cukup yang penting Kaka tak meninggalkannya lagi.


"Terimakasih sudah menjaga putri Arabelle selama ini!"


"Aku tahu!"


Sendu Aurora tak bisa jauh, ini seakan mimpi jika ia selama ini sudah membesarkan sang penerus kerajaan.


"Apa yang harus ku lakukan agar menghapus kesedihan mu?"


Aurora mengangkat wajahnya sambil menggeleng. Kaka tak perlu melakukan apapun untuk dia. Semuanya sudah cukup kejutan yang Kaka berikan. Dari mulai Arsen, Vivi dan juga profesor Tuner belum selesai di sana Aurora di buat terkejut lagi akan penelitian itu.


Kaka sudah melakukan semuanya demi dia, Bagaimana bisa Aurora harus meminta lagi sedang ia belum berbuat apapun.


"Semuanya sudah menjadi keputusan ku, begitupun dengan memilih kamu!"


"Apa kau tak menyesal, aku terlalu banyak musuh!"


"Asal kan kau yang bukan musuh ku!"


Kaka tersenyum hangat sehangat mentari pagi.


Aurora tertegun melihat senyuman itu lagi, senyuman yang sudah satu bulan lebih ia rindukan.


Kaka beranjak membuat Aurora diam, apa yang akan Kaka lakukan.


Tubuh tinggi atletis dengan seragam Jendral terpasang indah membuat penampilan Kaka nampak berbeda.


Kenapa wajahnya semakin terlihat tampan dengan seragam itu.


Batin Aurora tanpa sadar mengagumi suaminya sendiri.


Aurora membayangkan setiap hari ia akan memakaikan seragam itu seperti kebahagiaan kecil yang akan tercipta.


Apalagi Kaka berjalan kearahnya dengan gagah lalu Kaka berjongkok gentle.


"Willst du mich heiraten?"


Deg ...


Aurora tersentak dari lamunannya ketika Kaka melamarnya.


Aurora menatap kotak di tangan Kaka di mana ter-tahta cincin berlian limited edition.


"Aku ingin memulainya dari awal, tak ada paksaan dan terpaksa namun kita sama-sama sadar akan hal ini!"


Pinta Kaka masih setia berjongkok membuat Aurora berkaca-kaca. Begini kah rasanya di lamar oleh orang yang kita cintai, batin Aurora penuh haru.


"Ja!"


Senyum indah terbesit di bibir seksi Kaka mendengar jawaban Aurora.


Dengan penuh perasaan Kaka memasangkan cincin itu di jari manis Aurora yang pas.


"Indah!"


Ucap Kaka menatap cincin itu sudah terpasang pada pemiliknya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2