Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 29 Demi misi!


__ADS_3

"Nyonya!"


Rose terkejut akan kedatangan Aurora ke dapur bukankah nyonya sedang sakit, pikir Rose bingung.


"Aku mau bertanya?"


"Iya!"


"Kapan lord mu makan pagi, siang dan malam dan apa makanan kesukaannya?"


Rose mengerutkan kening bingung mendengar rentetan pertanyaan dari Aurora yang mana dulu yang harus ia jawab.


"Jawab Rose!"


Kesal Aurora yang melihat Rose malah diam seolah aneh menatap dirinya.


"Sebenarnya Lord jarang makan nyonya!"


"Jangan bohong Rose!"


"Betul nyonya, pagi-pagi lord akan pergi ke kantor lalu pulang larut malam, Lord tak sempat makan!"


Aurora terdiam memangut-mangut mengerti tapi aneh. Bagaimana bisa manusia jarang makan tapi mempunyai tubuh yang sangat bagus.


Aurora memicingkan kedua matanya menatap tajam Rose yang seketika tersentak.


"Katakan!"


Tegas Aurora menatap tajam Rose yang ketakutan apalagi di belahan sana sama-sama mencekiknya.


"Se-sebenarnya lord makan di masak oleh koki khusus!"


"Lalu!"


"Dengan dapur khusus!"


"Tunjukan!"


Duarr ..


Rose membulatkan kedua matanya gemetar mendengar permintaan Aurora yang mendadak seperti ini.


"Tunjukan Rose!"


"An-anu nyonya, saya belum pernah masuk ke sana hanya tuan Edward yang boleh masuk!"


Aurora mencoba mencari kebohongan di mata Rose namun hanya ada ketakutan di sana membuat Aurora penasaran seberapa kejam suami kertasnya itu hingga membuat Rose se-takut ini.


"Di mana tuan asisten itu?"


"Saya tidak tahu nyonya!"


"Ikut aku!"


Deg ..


Rose hanya pasrah saja ketika Aurora menarik lengannya membuat para koki hanya bisa diam tak berani bersua.


Aurora terus mengingat setiap lorong mencari Edward dan sekarang Aurora paham jika di setiap sudut lorong maka akan ada penjaga di sana.


Jika keamanan di sini sangatlah ketat bagaimana bisa Aurora keluar bahkan di setiap sudut ada cctv juga, benar-benar sial.


"Tuan Asisten!"


Teriak Aurora i setiap lorong terus berteriak mencari Edward. Sang penjaga hanya bisa menunduk hormat melihat istri sang lord yang mempesona itu namun mereka tak berani menatap lebih mereka terlalu sayang nyawa mereka sendiri.


"Tuan asisten!"


Aurora terus saja berteriak mencari Edward yang tak kunjung muncul sambil menarik lengan Rose menjadi pemandu.

__ADS_1


Kaki Aurora sudah sangat lelah sekali bahkan entah sudah berapa lorong yang ia lewati dan kenapa Aurora belum bisa melihat lantai dasar bukankah menara ini ada lima lantai lalu kenapa sulit bagi Aurora menemukan sebuah tangga membuat Aurora benar-benar kesal.


"Tuan Asisten keluar kau!"


"Jika tidak ak-aku aka--"


"Akan apa!"


Glek ...


Rose menelan ludahnya kasar melihat sang lord menatap dirinya tajam. Ingin sekali Rose menenggelamkan dirinya di lautan agar tak melihat wajah menyeramkan itu.


Deg ...


Kaka terkejut melihat Aurora malam tersebut manis begitu memabukkan berjalan anggun ke arahnya.


"Terimakasih!"


Ucap Aurora tulus memegang lengan Kaka membuat Rose membulatkan kedua matanya gemetar.


Seperti nya akan ada badai sebentar lagi membuat Rose perlahan mundur takut kena sasaran akan tempramen sang lord.


Namun anehnya tak terjadi apa-apa, Kaka terdiam seolah terhipnotis dengan wajah yang di buat polos ini. Genggaman hangat penuh kelembutan ini membuat Kaka terdiam dengan wajah datarnya tak lebih.


"Terimakasih sudah merawat ku!"


"Cih!"


Kaka berdecak sambil menghempaskan lengan Aurora walau tak se-kasar pertama.


"Hey lord, kenapa kau pemarah sekali!"


Kaka semakin menatap tajam Aurora yang tak takut sama sekali terus melebarkan senyum mautnya.


"Jangan marah, aku tahu hanya aku yang bisa menyentuh mu sepuasnya!"


Kaka hanya bisa menyeringai merasakan jika tubuh Aurora bergetar. Pertanda Aurora risih tak biasa melakukan hal begini. Entah apa yang di rencanakan Aurora sampai seberani ini bahkan melawan ketakutannya sendiri.


Baiklah kita lihat siapa di sini yang akan menang Kaka akan mengikuti alurnya saja.


"Katakan?"


Tegas Kaka dingin membuat Aurora mengerucutkan bibirnya gemas membuat Kaka membuang muka.


Aurora tak tahu apa yang ia lakukan justru mematik sisi lain dari Kaka yang berusaha tetap waras. Kaka laki-laki normal bohong jika tak tergoda oleh visual bak bidadari ini apalagi Aurora spesies yang cocok dengan DNA nya.


"Apa masih berlaku pertemanan itu?"


"Hm!"


"Terimakasih! Berarti hari ini kita berteman!"


"Cih!"


Kaka menepis jari kelingking Aurora yang kekanak-kanakan membuat Kaka muak.


"Hey, terima ini bukti kalau kita berteman!"


Teriak Aurora kesal mengejar Kaka yang pergi. Aurora tak mau kehilangan momen langka ini, Aurora harus tahu kemana Kaka pergi.


Woww ...


Pekik Aurora berdecak kagum melihat dapur yang begitu mewah dengan desain modern dan serba robot.


Aurora mengelilingi dapur ajaib ini sambil memegang peralatannya sungguh sangat bersih dan nyaman.


Satu yang bisa Aurora tangkap jika suami kertasnya ini suka akan kebersihan dan kerapihan.


"Kau ini pelit, ini begitu mewah tapi dapur buat para pelayan Sangat jelek!"

__ADS_1


"Kau!"


"Hanya bercanda!"


Kekeh Aurora sangat berani menggoda Kaka yang nyatanya sangat menyenangkan. Seperti nya Aurora mempunyai kebiasaan baru yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Aurora hanya ingin menggoda saja karena sebenarnya nya Dapur para pelayan tak kalah mewah dari ini hanya bedanya Kaka membuka dan menutup sendiri peralatannya.


"Sebagai ucapan terimakasih ku, dan pertemanan kita mulai hari ini aku yang akan memasak untuk lord!"


"Kau!"


"Kenapa marah!"


"Ubah panggilan mu!"


"Tapi mereka memanggilmu begitu!"


"Kau berbeda!"


Deg ...


Aurora terdiam sejenak ada kehangatan yang tiba-tiba menyapa hatinya. Berbeda! benarkah ia berbeda atau jangan-jangan Kaka menganggapnya istri tapi tak mungkin.


Aurora segera menepis pikiran dan rasa anehnya kembali menatap Kaka rumit.


"Lord!"


"Cari kata lain!"


Tegas Kaka tak mau di bantah membuat Aurora menghela nafas berat.


"Kaka! Itu nama mu, tapi tak sopan bukan memanggilmu begitu! Kau kan suami ku!"


"Apa ya!"


Aurora mencoba berpikir kata apa yang pantas untuk di sematkan pada Kaka.


"Keluar!"


"Hey, aku belum menemukan panggilannya!"


"Keluar!"


"Ya sudah Kaka saja, awas marah jika aku tak sopan!"


"Hm!"


"Sekarang tunjukan di mana bahan-bahan masakannya!"


Dengan lancang Aurora menarik lengan Kaka yang lagi-lagi terdiam melihat lengannya di tarik kesana kesini dengan bebas tapi anehnya Kaka hanya diam saja.


Edward tersenyum seringai di balik tembok melihat interaksi sang lord dan Nyonya. Edward berharap sang lord bisa meluluhkan hati nyonya keras kepalanya itu.


Bukan hanya itu Edward berharap Aurora orang yang tepat yang Tuhan kirim untuk menemani perjalanan sang Lord karena hanya Aurora yang cocok.


Demi misi!


Jerit batin Aurora menatap lembut Kaka yang selalu setia dengan wajah datarnya.


Terkadang membuat Aurora ingin tahu kenapa Kaka tak pernah senyum sama sekali bahkan wajahnya selalu seperti itu datar dan kaku.


Semangat Rora!


Aurora terus menyemangati dirinya sendiri harus sabar menghadapi suami kertasnya ini yang sulit di tebak.


Bersambung ....


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2