
"Brengsek!!!"
Bentak dokter Candra sungguh murka, ia benar-benar merasa di permainkan oleh Vivi.
Bagaimana bisa Vivi membuat dokter Candra menunggu sampai sebulan ini. Bahkan nomor Vivi belum ada tanda-tanda aktif, sudah ratusan telepon tapi tak ada satupun telepon yang tersambung.
Bagaimana dia bisa menguasai semuanya jika Vivi belum ia kuasai.
Seperti nya ia harus beroperasi apalagi pihak lain sudah mendesak.
Bahkan operasi seminggu lalu gagal total entah siapa yang menggagalkan rencananya. Kegagalan itu membuat kerugian besar dan kali ini dokter Chandra tak boleh gagal lagi.
Dokter Candra yakin ada yang mempermainkannya bahkan jejak Vivi pun tak bisa ia lacak.
Dokter Candra yakin ini permainan seseorang yang ingin menghancurkannya lewat Vivi karena dari rekaman terakhir yang ia lihat Vivi sangatlah putus asa.
Dokter Candra harus segera menemukan Vivi bagaimana pun caranya Vivi harus ia dapatkan.
.
.
Belanda ...
Sebulan penuh Vivi dan Edward menghabiskan liburannya bukan hanya sebuah liburan biasa tapi luar biasa.
Edward tak menyangka ia benar-benar bisa mendapatkan hati Vivi.
Bukan hanya desa Kinderdijk dan juga taman keukenhof yang mereka kunjungi tapi tempat wisata lainnya seperti Amsterdam, Rijksmuseum, Frisian Island, museum Van Gogh dan tempat wisata lainnya.
Sungguh Edward membawa Vivi menjelajahi bukan sekedar liburan belakang.
Vivi menikmati itu semua bahkan Vivi sedikit melupakan tentang sang om yang ingin ia ketahui. Di samping Edward Vivi mulai lupa akan masalahnya.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Edward sengaja karena tahu jika sudah kembali ke Jerman ia akan di sibukkan dengan pekerjaan dan tentu akan ada sedikit waktu untuk Vivi mengingat ia sudah sebulan lebih meninggalkan pekerjaan di mana membuat Qennan kelabakan.
Andai saja Qennan bisa melawan tentu sendari awal ia akan menolaknya.
Bagaimana bisa Qennan mengunjungi istrinya jika pekerjaan selalu mengurungnya.
Pekerjaan yang membuat Qennan dan Eva berpisah di mana Eva adalah seorang inteljen khusus tentu di setiap bulannya ia akan berpindah-pindah tempat sesuai dengan agendanya.
Sedang Qennan seorang peretas handal yang di incar banyak negara. Qennan berada di Jerman adalah sebuah penyamaran dan mereka harus menerima itu jika tak mau membahayakan satu sama lain.
Qennan juga mantan pembalap handal yang sudah lama pensiun sedikit orang yang tahu siapa Qennan.
Bahkan anggota bawah pun hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Identitas Qennan di sembunyikan dari siapapun. Tentu jendral Kaka di balik semuanya atas permintaan Eva sendiri. Karena Eva anggota di bawah kekuasaan jendral Kaka.
Kisah cinta mereka bermula ketika Eva sedang menjalankan tugasnya dimana Eva harus menyamar masuk kesebuah sirkuit balapan liar mengintai targetnya dan rencana berjalan lancar ketika Eva bisa memanfaatkan salah satu pembalap handal yang tak lain adalah Qennan sendiri.
__ADS_1
Kisah cinta cukup rumit namun begitu lah mereka.
"Kapan aku bertemu dengan mu, baby!"
Gumam Qennan menatap Poto sang istri yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Edward sialan!!!"
Geram Qennan mengingat Edward terus saja menunda kepulangan. Qennan sudah pusing menghandle semuanya dan sialnya Edward malah bersenang-senang tanpa peduli dengannya.
Hacimmm ...
Edward mengucek hidungnya yang tiba-tiba bersin.
"Kenapa?"
"Tidak!"
Hacimm....
Lagi-lagi Edward bersin sampai hidungnya memerah membuat Vivi khawatir.
"Lebih baik kita kembali, udara semakin dingin nanti kamu semakin sakit!"
Cetus Vivi membuat Edward mengangguk pasrah apalagi tak hentinya Edward terus bersin.
Sial, siapa yang berani mengupat ku!
Kini Vivi yang membawa mobil dan menyuruh Edward duduk manis saja. Apalagi memang kondisi Edward sedikit menurun ketika terkena badai salju beberapa hari lalu.
Itulah salah satu yang membuat Edward menunda kepulangannya.
Vivi menyalakan cerobong asap agar badan mereka terasa hangat lalu mengambil air hangat dan memberikannya pada Edward.
"Sudah di bilangin, kita pergi besok saja jadi begini kan!"
Omel Vivi membuat Edward meringis, sipat cerewet Vivi mulai terlihat sedikit demi sedikit.
"Waktu kita cuma tinggal beberapa hari lagi!"
"Tapi jika kamu sakit yang ada kepulangan kita terus tertunda!"
Kesal Vivi karena ia ingin segera kembali tapi lagi-lagi selalu ada saja kendala.
Vivi mulai terbiasa menunjukan ekspresi dirinya dan juga rasanya bahkan Vivi mulai berani mengomel jika Edward melakukan kesalahan.
"Kenapa jadi cerewet, hm!"
Gemas Edward menarik Vivi kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Begini lebih hangat!"
"Dasar!"
Ketus Vivi dengan bibir tersenyum mengelus kepala Edward yang menyandarkan kepalanya dipundak Vivi dengan tangan yang memeluk lengan Vivi erat.
Perlahan Vivi mulai sadar jika Edward semakin manja padanya. Apalagi Edward sangat suka sekali tidur di atas pangkuannya atau sekedar menyandarkan kepalanya di bahu.
Semenjak saling memiliki Vivi selalu di buat kejutan oleh sikap-sikap Edward yang menggelikan dan Vivi mulai terbiasa dengan semuanya.
Kisah mereka mengalir begitu saja apalagi Edward tak pernah menuntut Vivi akan perasaan nya. Bagi Edward cukup melihat Vivi tak lagi takut atau membuat jarak antara mereka.
Walau sampai saat ini Vivi belum memberikan jawaban atas perasaan Edward tapi Vivi tak pernah menolak apapun yang Edward inginkan atas dirinya.
Vivi akan melayani Edward selayaknya ia seorang istri, cinta terlalu tabu bagi Vivi setelah cinta itu hilang sendari awal.
Kata orang, cinta seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri. Namun, bagaimana bisa Vivi percaya jika ayahnya sendiri yang mematahkan cinta itu.
"Ed!"
Lilir Vivi menahan lengan Edward yang mengelus perutnya. Lengan Edward terlalu lihai membuat Vivi merasa panas dingin.
"Aku ingin kamu mengandung Ed junior!"
Vivi terdiam mendengarnya, Edward ingin Vivi mengandung namun Vivi belum siap. Vivi masih merasa takut, takut bagaimana jika suatu hari nanti Edward meninggalkan ia dan anaknya. Vivi tak mau anaknya nanti merasakan apa yang ia rasakan.
"Apa kamu belum siap atau merasa takut aku meninggalkan mu?"
Edward paham apa yang Vivi takutkan karena Edward belum seratus persen menghilangkan trauma Vivi.
"Aku tak ingin nanti dia merasakan apa yang aku rasakan!"
"Apa kamu lupa aku sama, kita sama apa kamu akan menyerah merubah semuanya?"
Vivi menunduk menatap wajah Edward yang serius.
Apa Edward benar-benar bisa di percaya sungguh Vivi benar-benar mengunci hatinya.
Yang Vivi lakukan memang sebatas menjalankan kewajiban dia sebagai seorang istri masalah rasa Vivi tak tahu Vivi masih bingung dengan hatinya sendiri.
"Beri aku waktu!"
Lilir Vivi mengigit bibir bawahnya merasa tak enak.
Edward menghela nafas pelan, Edward pikir Ed junior akan segera hadir agar Vivi tak akan bisa pergi. Namun, satu Minggu yang lalu Vivi malah datang bulan dan Edward ingin memintanya tapi tak bisa jika Vivi tak mau.
Edward memilih membaringkan kepalanya di atas pangkuan Vivi menenggelamkan wajahnya di perut datar Vivi.
Vivi hanya diam saja menatap rumit Edward, sekarang apa yang akan Vivi lakukan. Vivi memejamkan kedua matanya bimbang.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...