
Dengan telaten dan hati-hati Aurora melakukan pijat pada kedua kaki Kaka agar Kaka bisa cepat berjalan.
Aurora sangat ahli seolah dia tahu di mana letak bagian-bagian yang harus ia terapi.
Kaka hanya diam saja melihat bagaimana istrinya bekerja, mengurus ia dengan baik.
Tangan lentik itu begitu cekatan seolah sudah biasa. Sungguh Kaka tak pernah menyangka jika ia akan beristri padahal tak pernah sekalipun Kaka memikirkan hal itu.
Bahkan yang kini menjadi istrinya adalah seorang dokter hebat mungkin kedepannya Aurora bisa mengembangkan penelitian dia.
Terlalu banyak rahasia yang belum Kaka ceritakan. Kaka hanya menunggu waktu yang pas mengatakan semuanya.
Kaka hanya tak ingin Aurora kaget jika mendadak begini.
Dret ...
Ponsel Kaka berdering terlihat jika Edward yang menelepon. Awalnya Kaka abai karena Aurora memelototinya tapi lama kelamaan Kaka mengangkatnya.
"Lord!"
"Hm,"
"Keadaan bocah itu semakin kritis kita tak bisa menunggu lagi. Operasi harus segera di laksanakan!"
Deg ...
Kaka terkejut mendengarnya, Aurora mengerutkan kening melihat wajah Kaka yang menegang.
Seperti ada sesuatu yang terjadi, namun Aurora segan bertanya apalagi obrolan itu belum selesai.
"Ada apa?"
Tanya Aurora ketika Kaka menatapnya rumit, sepertinya ini waktu yang tak tepat Aurora tahu. Namun kondisi membuat Aurora harus cepat tahu.
"Dengarkan baik-baik! Ada seseorang yang membutuhkan pertolongan mu!"
"Siapa?"
Krek ...
Pintu sana terbuka nampaklah Qennan dan Hanz masuk membawa kursi roda. Aurora terkejut melihatnya.
"Ikutlah, kamu akan tahu!"
Tegas Kaka membuat Aurora pasrah saja mengekor dari belakang di mana Hanz mendorong kursi roda.
Ting ...
Sebuah ruangan terbuka nampaklah itu sebuah lift. Aurora hanya bisa membulatkan kedua matanya tak percaya, selama ini dia berada di sini ia tak tahu jika di sini ada lift.
Lift tersebut membawa mereka kelantai dasar membuat Aurora takjub akan dekorasi ini. Pintu kaca sana terbuka membuat mereka langsung keluar dari area menara. Aurora hanya diam saja dengan rasa kesal, marah dan juga jengkel bercampur jadi satu.
Mereka terus berjalan ke salah satu bangunan kotak sana membuat rasa kesal itu menjadi penasaran karena baru kali ini ia di ajak ke bangunan unik itu.
krek ...
Pintu baja itu terbuka dengan sendirinya membuat Aurora kagum belum sampai di situ, Aurora kembali takjub melihat dalam bangunan ini yang nampak megah dan canggih tak se-menyeramkan di luar.
"Lord!"
Ucap salah satu yang berpakaian serba putih membuat Aurora tahu seragam apa itu.
"Kondisinya semakin memburuk, kita tak bisa menunggu lagi!"
__ADS_1
Aurora mengerutkan kening mendengar semua itu.
Siapa yang sakit!
Pikir Aurora bingung menatap Kaka penuh tanya.
"Masuklah, kamu akan tahu!"
Kaka mengisyaratkan dokter tadi membawa Aurora. Walau bingung namun ia menurut karena harus segera di tangani.
Aurora terus mengekor kedalam, yang pertama kali Aurora rasakan adalah ketegangan dengan bau obat yang meruak ke dalam indra penciuman.
Deg ...
Aurora membulatkan kedua matanya melihat siapa yang berbaring di atas bangkar sana. Sungguh Aurora tak menyangka jika orang yang Kaka maksud adalah Arsen adik Vivi.
Jika Arsen di sini di mana Vivi, namun pertanyaan itu Aurora tahan ketika melihat kondisi Arsen yang tak memungkinkan.
"Aku percaya, kamu mampu!"
Ucap Kaka memegang tangan Aurora membuat Aurora tersentak.
"Bantu istriku melakukan semuanya!"
Perintah Kaka membuat semua dokter yang ada di sana terkejut bukan main. Mereka menatap Aurora remeh pasalnya Aurora masih muda mana bisa menangani hal sebesar ini.
Namun mereka tak berani membantah jika itu sudah keputusan sang lord.
"Lakukanlah!"
"Tap--"
"Demi sahabat mu!"
Aurora memejamkan kedua matanya ini kali pertama ia melakukan operasi besar lagi setelah tujuh tahun lamanya ia tak melakukan. Apa ia mampu, apalagi Aurora tak enak hati melihat dokter-dokter yang ada di sana.
Namun melihat kondisi Arsen yang seperti itu membuat Aurora langsung sigap.
"Baiklah!"
Kaka tersenyum tipis mendengar itu semua membuat Kaka langsung mundur. Sebelum itu Kaka menyuruh beberapa dokter ahli membantu sisanya Kaka menyuruh keluar.
Aurora langsung mengenakan alat yang di perlukan di mana salah satu dokter membantu Aurora.
Mereka semuanya siap dengan Aurora yang memimpin. Sejenak Aurora memejamkan kedua matanya lalu terbuka dengan helaan nafas dalam.
Aurora mencoba fokus di balik pikirannya yang berkecamuk dengan banyaknya pertanyaan.
Kenapa Arsen bisa ada di sini, dimana Vivi, bagaimana kondisinya dan kemana selama ini Vivi. Bagaimana bisa Arsen mengenal Kaka!
Sungguh Aurora mencoba fokus karena kali ini pasien yang harus ia selamatkan adik dari sahabatnya sendiri.
Kaka menunggu di luar dengan Qennan dan Hanz.
Mereka semua berharap jika Aurora mampu melakukannya.
Sedang Edward sibuk mengurus Vivi di mana keadaan Vivi mulai membaik namun Vivi tak di izinkan keluar dari kamar.
Entah sudah berapa lama Vivi terkurung dengan alat medis yang menempel di punggung tangannya.
Setelah tujuh hari sempat koma dan sekarang Vivi terlihat melamun memikirkan bagaimana kondisi Aurora.
Apa Aurora bisa di temukan atau tidak dan bagaimana keadaan adiknya.
__ADS_1
Siapa yang menemukan adiknya, apa Arsen masih hidup atau tidak.
Sungguh pikiran Vivi tak lekas dari Aurora dan sang adik.
Vivi menyesal sudah membocorkan identitas Aurora. Namun mau bagaimana lagi, waktu itu ia panik melihat kondisi sang adik membuat Vivi terpaksa.
"Ra, aku berharap kamu baik-baik saja!"
Gumam Vivi sakit ia harus segera keluar dari sini guna mencari sang adik.
Bahkan Vivi tak tahu di mana ia berada dan siapa yang menolongnya karena setiap kali bertanya semuanya bungkam.
"Apa kau mau jalan-jalan!"
Deg ...
Vivi terkejut mendengar suara bariton milik Edward.
Laki-laki yang entah siapa, kenapa bisa menolongnya.
"Tuan bisakah saya meminjam ponsel!"
"Mau atau tidak!"
Vivi menghela nafas kasar setiap kali ia meminjam ponsel Edward pasti akan bersikap seperti itu.
Vivi hanya mengangguk saja setidaknya ia bisa melihat taman indah sana agar pikirannya tak buntu.
Edward mendorong kursi roda keluar karena memang seminggu sekali Edward akan membawa Vivi ketaman sana atas perintah Kaka jika tidak mana mau.
"Tunggu!"
Pekik Vivi tertahan membuat Edward menggeram kesal karena terkejut.
"Ada apa?"
Ketus Edward kenapa tiba-tiba Vivi menghentikan langkahnya.
Aroma ini, aku tak salah cium! Apa Aurora ada di sini! mana mungkin!
Batin Vivi memejamkan kedua matanya meresapi ini semua.
Vivi sangat kenal sekali parfum yang sering Aurora pakai karena itu racikan ia sendiri khusus buat Aurora.
Walau sama namun nampak berbeda dan jika di resapi ini tak sama.
Mana mungkin Vivi tak mengenali produk ia sendiri.
Entahlah, mungkin Vivi merasa rindu pada sahabat nya itu. Bahkan Aurora lebih dari sekedar sahabat, Aurora bak Dewi keberuntungan bagi Vivi karena berkat Aurora ia menjadi seperti ini.
"Hey, kau kenapa!"
"Tidak!"
"Sial!"
Gerutu Edward membuat Vivi menunduk meremas maju pasien nya.
Edward sungguh menakutkan bahkan wajahnya selalu datar dan menyeramkan apalagi tatapannya yang sering melorot.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih....
__ADS_1