
Dengan susah payah Vivi berjalan keluar kamar mandi sambil menggunakan handuk kimono.
Vivi menatap kamar yang sudah rapi, mata Vivi terus mencari di mana Edward. Hingga mata Vivi berhenti di balkon sana di mana Edward sedang berdiri sambil menelepon entah siapa yang bicara.
Namun dari ekspresi yang keluar bisa Vivi tebak jika Edward sedang membahas hal yang serius. Vivi tak bisa mendengar karena jarak mereka terlalu jauh apalagi pintu kaca balkon sana tertutup.
Tak mau semakin penasaran Vivi memilih segera mengganti baju saja sebelum Edward menyadari kehadirannya.
Namun telat, Edward sudah menyadari kehadiran Vivi ketika Edward berbalik. Wajah yang mengeras perlahan memudar ketika melihat jalan Vivi yang terasa aneh di pandangan Edward.
Edward langsung mematikan ponselnya begitu saja tak peduli dengan Qennan yang mengupat di ujung sana. Edward selalu saja begitu, mematikan ponsel tiba-tiba padahal mereka sedang membahas masalah serius.
Musuh akan segera beroperasi satu Minggu kedepan Qennan tak bisa bergerak tanpa perintah Edward. Namun Edward belum bisa memastikan kapan akan kembali.
Niat berlibur karena ingin menjauhkan Vivi dari masalah dan juga menyusun rencana yang memang sudah di rencanakan.
Vivi sudah selesai memakai baju dan juga mengeringkan rambutnya.
Deg ...
Vivi terkejut mendapati Edward sudah duduk di shopa sana entah sejak kapan Edward masuk kenapa Vivi tak menyadarinya.
"Sini!"
Panggil Edward membuat Vivi menunduk, dengan ragu mendekat. Lagi-lagi Edward mengulum senyum geli melihat jalan Vivi yang terasa aneh.
"Jangan jauh-jauh!"
Vivi terpaksa duduk di samping Edward di mana di atas meja sudah tersedia sarapan yang memang sudah Edward siapkan sendari tadi.
Mereka berdua memulai sarapannya dengan tenang walau Vivi nampak malu-malu karena belum terbiasa begini.
Sudah sarapan Edward membereskan semuanya dan mencegah Vivi melakukannya. Vivi hanya pasrah saja toh Edward tak bisa di bantah.
Vivi menatap buket bunga yang Edward berikan dan juga sebuah kotak yang belum sempat ia buka.
Vivi berjalan menuju ranjang lalu duduk di bibir ranjang. Vivi menatap kotak yang sudah berada di genggaman tangannya.
"Bukalah!"
Ucap Edward tiba-tiba membuat Vivi terkejut, Edward mendekat lalu berjongkok tepat di hadapan Vivi membuat Vivi terkejut namun Edward menahannya.
"Buka!"
Dengan ragu Vivi membuka kotak tersebut, sebuah cincin bertahta berlian membuat Vivi terdiam.
"Apa ini yang membuat tuan telat pulang?"
"Maaf, sudah membuatmu menunggu!"
Sesal Edward kemaren memang Edward pergi guna mengambil cincin pesanannya namun sampai di sana Edward murka karena salah satu karyawan melakukan kesalahan hingga membuat cincin yang Edward pesan salah kirim entah kemana.
Sebagai gantinya mereka harus membuat ulang dengan desain sedikit berbeda dan mereka harus menyelesaikan cincin tersebut dalam kurun waktu yang singkat itulah kenapa Edward telat pulang.
__ADS_1
Vivi merasa terharu dengan apa yang Edward lakukan. Kenapa Edward bisa sejauh ini melakukan semuanya untuk Vivi.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu datang!"
Deg ..
Vivi terkejut mendengarnya, bagaimana bisa bukan kah sejak awal Edward tak menyukainya bagaimana bisa Edward menyukai Vivi sudah lama.
Edward memegang lengan Vivi lembut, Edward tahu Vivi tak akan percaya itu.
"Aku tahu kamu tak akan percaya, tapi itu kenyataan nya!"
"Jangan permainkan ku, tuan!"
Edward menggelengkan kepala karena ia tak bohong sama sekali.
"Kamu ingat pertemuan kita, ketika aku menyelamatkan kamu dari tabung itu. Awalnya aku malas kenapa harus aku yang sang lord perintah menyelamatkan kamu dan menjaga kamu. Setiap hari aku selalu mendengar kau mengigau memanggil-manggil nama Aurora terasa aneh bukan harusnya yang kau khawatir kan adalah Arsen bukan Aurora tapi kamu selalu saja memanggil nama itu. Hingga aku sadar jika hubungan kalian bukan sekedar sahabat. Di sana aku sadar kamu memang gadis yang berbeda gadis yang selalu membuat ku penasaran dengan segala kekhawatiran kamu pada orang lain tanpa peduli diri mu sendiri. Aku merasa mungkin aku akan menjadi seseorang yang beruntung menjadi alasan kekhawatiran kamu!"
"Tak masuk akal, sejak awal tuan!"
"Aku tahu, sangat tahu! maaf! aku bukan laki-laki seperti Qennan yang mudah menunjukan ketertarikan egoku terlalu gengsi dan malu yang bisa ku lakukan hanya membuatmu jengkel dan marah asal kau tetap di sampingku walau harus dengan cara licik!"
Vivi menautkan kedua alisnya menatap intens Edward.
"Profesor tun--"
"Tidak! Tapi Daddy tahu apa yang aku butuhkan!"
Akting nya sungguh hebat sampai Vivi tak percaya akan hal itu. Inikah cara Edward mencintainya sungguh unik benar-benar unik.
Vivi baru tahu ada orang yang seperti ini, mencintainya namun juga menyakiti nya.
"Akting tuan sungguh luar biasa!"
"Karena ini!"
Duarr ...
Vivi membulatkan kedua matanya melihat buku kecil yang Edward pegang.
...Cara-cara menaklukkan wanita...
Vivi seakan tak percaya dengan buku kecil ini tapi nyatanya ini memang kenyataan.
Sungguh Vivi merasa geli mengingat bagaimana sikap Edward dan dia berusaha berubah karena panduan-panduan buku kecil ini.
Pantas saja Vivi merasa aneh dengan apapun yang Edward lakukan, terasa kaku tapi Edward berusaha membuktikannya.
Edward menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa malu tapi Edward akui buku kecil itu sangatlah ampuh walau banyak sekali yang gagalnya.
Vivi akui Edward memang benar-benar berhasil memikat dirinya Vivi tak menyangkal itu walau pada dasarnya Vivi belum bisa menjawab perasaan Edward.
__ADS_1
Vivi hanya sedang meyakinkan dirinya sendiri apa yang ia rasakan sebuah cinta atau hanya rasa nyaman sesaat saja karena Edward laki-laki pertama' yang memperlakukan dirinya bak ratu.
"Harusnya aku memberikan ini ketika kita menikah!"
Vivi menatap jarinya dimana ada sebuah cincin yang melingkar indah di sana.
Entah sejak kapan Edward memasangkannya sampai Vivi tak sadar.
"Tapi ak--"
"Akan ku tunggu, biarkan aku terus menyembuhkan luka itu kamu cuma tetap diam di samping ku!"
Mohon Edward memegang tangan Vivi membuat Vivi serba salah.
"Apa tak ada rasa apapun setelah apa yang kita lakukan?"
Bluss ...
Wajah Vivi memanas mendengar kalimat itu, kenapa Edward harus membahas itu di saat seperti ini.
"Tak usah di jawab, karena tangan kamu masih belum sembuh benar kita akan menikmati momen liburan kita di sini saja!"
"Ikutlah!"
Vivi menatap tangan Edward yang terulur seketika Vivi tersenyum dan menyambut uluran tangan Edward.
Tak ada alasan Vivi untuk menolak toh semuanya sudah Vivi serahkan dan ia sudah tak punya apa-apa lagi kecuali ia punya Edward.
Edward membawa Vivi menuju belakang Villa di mana Edward sudah memasang tenda di sana.
Entah sejak kapan Edward memasangnya Vivi tak tahu. Di sana juga terdapat sebuah kursi goyang.
"Ini!"
"Untuk mu!"
Edward membantu Vivi duduk di susul oleh Edward sendiri. Edward menarik Vivi kedalam pelukannya membuat Vivi menyandar nyaman di dada bidang Edward.
Pemandangan yang sangat indah di pagi hari sungguh sangat memanjakan mata.
"Apa ini juga sebagian dari akting?"
"Tidak! Ini naluriku buku itu sudah tak penting karena aku sudah mendapatkan mu!"
"Dasar!"
Plak ...
Vivi memukul dada bidang Edward di mana membuat Edward malah tertawa sambil mengeratkan pelukannya.
Tertawa renyah, tawa yang baru pertama kali Vivi dengar.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...