Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 128 K: PC 2 (Kebingungan)


__ADS_3

Sebuah restoran tempat mereka bertemu, jantung Vivi berdebar merasa gugup bertemu sang om.


Sungguh Vivi takut sang om tak mengenalinya mengingat ini sudah sangatlah lama.


Entah reaksi apa yang harus Vivi perlihatkan, rasa senang dan juga bingung bercampur jadi satu berharap tak ada yang berubah dari sang om.


Vivi menatap ke sekeliling restoran mencari dimana om nya berada.


Deg ...


Sebuah tangan melambai membuat Vivi mematung. Vivi menatap seorang paru baya yang nampak gagah tersenyum kearahnya.


Mata Vivi berkaca-kaca penuh haru, ia masih bisa melihat om nya lagi walau sudah lama. Wajah itu tak pernah berubah sama sekali walau nampak ada kerutan di bibir matanya dengan rambut sedikit beruban.


"Om!"


"Vivi!"


Dua orang yang lama tak saling bertemu berhambur kedalam pelukan. Vivi memeluk sang om erat dengan tangis yang tak bisa ia bendung lagi.


"Om sudah lama mencari-cari kamu nak, setelah kejadian itu. Sungguh om putus asa hiks .."


"Selama ini kamu di mana nak, bagaimana hidup kamu, dengan siapa tinggal, apa kamu makan atau tidak sungguh om khawatir dan cemas!"


Akting yang bagus bukan membuat Vivi merasa terharu jadi selama ini sang om mencari keberadaan nya juga.


Vivi bahagia ternyata om nya masih sama tak berubah sama sekali. Masih sama seperti om nya dulu yang selalu menyayanginya jika kedua orang tuanya sibuk.


"Benarkah om mencari Vivi selama ini?"


"Tentu, bahkan om menyewa detektif handal juga!"


Vivi sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi melihat omnya begitu menyayangi dia.


"Sekarang katakan, kamu tinggal di mana, sama siapa?"


"Ak-aku ..."


"Jika tak ada, kamu tinggal sama om ya. Om sudah janji pada almarhum kedua orang tuamu bahwa om akan menjaga kamu!"


Kali ini Vivi terdiam antara menceritakan atau tidak. Tapi Edward melarang dia membicarakan tempat tinggal mereka pada orang lain.


Entah apa yang harus Vivi katakan sungguh bertemu dengan om nya saja ia sangatlah senang.


Walau Vivi hanya tahu kedua orang tuanya membuang dia dan meninggal akibat kecelakaan itupun Vivi tahu dari Aurora. Selebihnya memang Vivi tak tahu apa-apa selain itu karena terhalang rasa benci membuat Vivi tak mau tahu tentang kedua orang tuanya.


Tapi, semenjak Edward menceritakan tentang kedua orang tuanya meninggal bukan karena kecelakaan melainkan melindungi Edward dari pembunuhan membuat Vivi ingin tahu alasan kenapa kedua orang tuanya mengasingkan ia dan Vivi hanya bisa bertanya pada om nya jika Edward tak memberi tahu dianya.


"Om turut sedih atas kematian kedua orang tuamu dan adik mu, andai saja waktu itu om bisa mencegah mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi!"


"Om!"

__ADS_1


"Sekarang katakan dimana kamu tinggal nak?"


"Apartemen!"


"Mulai sekarang kamu tinggal dengan om ya, Tante pasti senang melihat kamu kembali!"


Bujuk sang om memegang tangan Vivi membuat Vivi bingung harus bagaimana. Ia ingin sekali tapi Vivi sadar ia tak bisa apalagi mengingat status dia siapa.


"Aku berterimakasih sekali pada om yang selalu peduli pada aku, tapi aku tak bisa tinggal dengan om!"


"Kenapa nak, om cemas jika kamu tinggal di luar sana!"


 "Om tak usah khawatir, aku baik-baik saja kok. Yang terpenting aku sudah tahu om tinggal dimana, pantas saja aku mengunjungi kediaman dulu ternyata rumah itu sudah jadi milik orang lain!"


"Kalau boleh tahu, kenapa rumah itu bisa di jual om!"


Sang om menunduk sedih membuat Vivi semakin penasaran apa saja yang ia lewatkan.


"Om terpaksa menjualnya karena harus menutupi utang kedua orang tuamu!"


"Apa!"


Vivi membekam mulutnya seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar. Bagaimana bisa kedua orang tuanya terlilit hutang.


"Maaf kan om nak, tapi itu kenyataan nya. Bahkan waktu itu om marah besar mengetahuinya dan yang om tak bisa terima kamu menghilang begitu saja!"


"Terus bagaimana dengan hutang itu om?"


Drett ...


Ponsel Vivi berbunyi membuat pembicaraan mereka terhenti.


Vivi menatap ponselnya dimana supir pribadinya yang menelepon. Vivi melirik jam pergelangan tangannya.


"Ya ampun!!"


Pekik Vivi tak sadar jika ia harus segera kembali kerumah sakit.


"Ada apa?"


"Om, banyak yang ingin Vivi tanyakan tapi Vivi harus segera pergi!"


"Kita baru bertemu nak, ada apa? apa ada masalah?"


"Sedikit, om nanti Vivi telepon Vivi pergi dulu!!"


Vivi terburu-buru karena kecerobohan nya andai saja ia punya waktu banyak tentu Vivi ingin menanyakan banyak pertanyaan pada sang om. Namun terpaksa Vivi harus pergi, setidaknya Vivi tahu omnya masih peduli dan tahu di mana omnya tinggal sekarang.


Pantas saja Vivi tak menemukan keberadaan omnya, nyatanya Omnya pindah ke kawanan khusus yang hanya bisa masuk oleh kartu khusus.


"Lima belas tahun, akhirnya!"

__ADS_1


Gumam sang om menatap rumit kepergian Vivi yang terburu-buru.


"Apartemen!"


Gumam sang om lagi berpikir keras, apa Vivi sudah menikah atau belum namun melihat cincin yang Vivi pakai seperti nya Vivi sudah menikah atau bertunangan.


Sepertinya sang om harus mencari tahu bagaimana kehidupan Vivi sekarang.


Vivi terburu-buru masuk kedalam taxi nafasnya memburu dengan tatapan kosong. Entah apa yang Vivi pikirkan setelah pertemuan dengan sang om.


Tentu bahagia!


Walau harus sebentar setidaknya Vivi sudah bertemu dan sekarang ia harus segera sampai rumah sakit sebelum sang bodyguard cemas. Jika sampai terjadi maka tamatlah riwayat dia.


Vivi tahu sang bodyguard pasti akan melapor pada Edward jika ia tak segera sampai.


"Nona!"


"Ayo pulang!"


"Non, kenapa anda berkeringat!"


Glek ..


Vivi menelan ludahnya kasar berputar mencari alasan.


"Sedikit kecapekan memeriksa pasien!"


Sang bodyguard mengangguk tak bertanya lagi membuat Vivi sedikit lega.


Tadi Vivi berlari menyelinap jangan sampai sang bodyguard tahu jika dia habis di luar.


Hari sudah mulai gelap Vivi baru saja sampai di kediaman.


Karena belum sempat makan membuat Vivi jadi merasa lapar. Vivi melangkah menuju dapur mencari apa saja yang bisa ia makan.


Vivi menatap kesekeliling kediaman yang terasa sepi hanya ada dirinya saja.


Entah kapan Edward akan pulang Vivi tak tahu, berharap Edward jangan dulu pulang sebelum Vivi menemukan jawaban yang ingin ia dengar.


Alasan!


Vivi hanya ingin tahu apa alasan kedua orang tuanya mengasingkan dia. Banyak kejanggalan yang membuat Vivi tak bisa jujur apalagi setelah mendengar cerita dari sang om yang bertolak belakang dengan cerita Edward.


Jika Edward mengatakan kedua orang tuanya meninggal karena menyelamatkan dia dari pembunuhan. Sedangkan om nya mengatakan sebuah kecelakaan, di sini entah siapa yang benar Vivi tak tahu.


Karena tak mau terlalu banyak pikiran Vivi memutuskan segera tidur saja karena besok ia harus bekerja.


Tidur sendiri membuat Vivi sedikit tenang setidaknya ke tidak hadiran Edward membuat Vivi sedikit tenang.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2