
Aurora menatap sendu sang suami yang masih memejamkan kedua matanya. Walau alergi itu mulai menghilang menampilkan wajah tampan Kaka.
Aurora memegang erat lengan sang suami sesekali menciumnya penuh kasih.
"Apa sesulit itu membagi lelah dengan ku!"
Gumam Aurora gemetar walau sudah tak ada air mata yang mengalir karena terlalu banyak di keluarkan.
Selama ini Aurora mengenal sang suami tak pernah sekalipun mendengar keluhan dari mulutnya. Kaka terlalu pintar menyembunyikan segala rasa yang menyakitinya.
Kaka terlalu pintar membuat orang lain bahagia namun ia sendiri sulit membuat dirinya keluar dari zona kesakitan.
Kaka terlalu pintar mengerti orang namun ia tak peduli dengan apa yang dirinya butuhkan.
"By, kamu tak sendirian lagi, kini ada Rora di sini!"
"Apapun yang terjadi katakan ya! Aku bukan hubby yang selalu mengerti!"
Monolog Aurora mengajak bicara Kaka seolah Kaka mendengarkannya.
"Aku tak di ajarkan mengerti oleh keadaan yang aku tahu hanya berkorban!"
"Rora di sini, jangan anggap hubby sendiri!"
Aurora mengecup punggung tangan Kaka dengan bibir gemetar sungguh dada Aurora sangat sesak.
Entah butuh berapa lama lagi Aurora menunggu sang suami sadar.
Padahal sudah semalaman Aurora bergadang namun Kaka tak kunjung membuka matanya.
Rasa kantuk terus datang namun Aurora mencoba menahan. Ini sudah pukul dua dini hari namun mata Aurora tetap terjaga.
"By!"
Lilir Aurora gemetar ketika merasakan ada hal yang aneh.
Kaka mencengkram erat lengan Aurora membuat Aurora terhenyak. Suhu tubuh Kaka menjadi demam membuat Aurora tercekat.
"Jangan!"
Deg ...
Aurora semakin sakit melihat keadaan suaminya yang mengigau. Seperti nya di bawah alam mimpi Kaka sedang bermimpi buruk.
"By,, hubby ... Tenanglah!"
Gemetar Aurora mencoba melepaskan genggamannya dari cengkraman lengan Kaka.
Sudah berhasil Aurora langsung memeriksa keadaan sang suami. Suhunya semakin tinggi dengan mulut yang terus mengigau membuat Aurora sakit dan sesak mendengarnya.
"By, kau harus keluar dari trauma ini, apa yang harus Rora lakukan agar hubby bisa keluar dari trauma ini!"
Rasa panik, cemas, sedih dan juga marah bercampur jadi satu membuat Aurora berusaha menyadarkan kewarasannya. Jangan sampai ia kebawa tak fokus atas semuanya.
Aurora mencoba sebisa mungkin menanganinya memberikan sentuhan pertama.
"Jangan!"
"Lepaskan sialan ,,, tidak!"
Melihat Kaka yang semakin tak terkendali membuat Aurora mau tak mau turun tangan. Ia membuka bajunya naik ke atas ranjang lalu mendekap erat sang suami tak peduli jika tubuhnya sakit akibat penolakan Kaka.
"By, tenanglah ..,"
"Hubby ini Rora,,"
__ADS_1
"Bubby!"
Aurora terus saja membisik berharap ucapannya sampai ke alam bawah sadar sana.
"Ini Rora sayang, bangunlah!"
Aurora terus berbisik sambil mengeratkan pelukannya walau Aurora merasa panas akibat suhu tubuh Kaka yang tinggi.
Kaka seolah sedang melawan sesuatu yang menyakitkan di bawah alam sadar sana. Hingga ia mendengar bisikan suara lembut sang istri tercinta membuat Kaka menangis namun sulit keluar.
Sayang!
Jerit Kaka seolah minta tolong agar Aurora bisa mengeluarkannya dari derita ini.
"Hubby!"
Bisik Aurora lembut dengan pelukan yang semakin erat.
Tak pernah sekalipun Aurora melihat Kaka sehancur ini sungguh itu membuat Aurora ikut merasa sakit.
Hanya bisikan dan dekapan yang bisa Aurora lakukan berharap sang suami tenang.
Perlahan tangan Kaka mulai tak memberontak lagi walau air mata masih mengalir.
Aurora mencium seluruh wajah Kaka gemetar, menghapus air mata dengan kesesakan yang nyata.
Sungguh Aurora benar-benar sudah jatuh kedalam cintanya Kaka. Tak pernah Aurora bisa sehancur ini melihat penderitaan orang lain selain dari pada keluarganya sendiri. Namun, Kaka satu-satunya orang asing yang masuk ke dalam kehidupannya. Mampu membuka balikan perasaan Aurora.
"Aku di sini by, aku di sini jangan takut ya!"
"Hm!"
Kaka antara sadar dan tidak ia mulai membalas pelukan Aurora seolah kehangatan ini yang sendari tadi ia cari.
Tubuh Aurora seolah magnet yang menyerap suhu di tubuh Kaka.
Wajah cemas dan ketakutan perlahan berubah damai dengan nafas yang mulai teratur.
Aurora bernapas lega melihat sang suami yang mulai kembali terlelap dengan damai.
Aurora mengusap-usap punggung Kaka berharap Kaka benar-benar tenang.
Entah berapa lama Aurora melakukannya bahkan membuat Aurora ikutan terlelap.
Sampai dimana mentari nampak muncul malu-malu di ufuk timur menyapa para penghuni bumi.
Senyum cerahnya menghangatkan jiwa-jiwa yang sedang menjalani aktivitas masing-masing.
Berbeda dengan dua pasturi yang masih terlelap di bawah selimut hangat.
Tak ada satupun yang berani mengusik mereka bahkan tuan pertama dan dokter Abe hanya bisa menunggu.
Mereka semua berharap keadaan Kaka mulai membaik.
Perlahan Kaka membuka kedua matanya mengeram tertahan merasa tubuh dan kepalanya sakit semua.
Deg ...
Kak tertegun hal pertama yang ia lihat wajah cantik sang istri yang berada dalam dekapannya. Kaka menatap pahatan sempurna tanpa celah ini dengan intens.
Tiba-tiba rahang Kaka mengeras mengingat kejadian itu, sampai di mana Kaka mengingat ketika dirinya tak terkendali.
Walau Kaka mengamuk namun Kaka mencoba sadar walau harus melawan sakit dan sesaknya alergi itu.
Tes ....
__ADS_1
Setetes air mata jatuh ketika dengan jelas Kaka mengingat tangannya mendorong sang istri membentur sana.
Sungguh Kaka tak berniat menyakiti sang istri namun emosi nya tak bisa terkendali.
Sayup-sayup Aurora mendengar suara isakan tangis yang begitu pilu membuat Aurora terpaksa harus membuka kedua matanya.
"By!"
Pekik Aurora tertahan melihat sang suami yang menangis. Aurora benar-benar terkejut bangun-bangun melihat suaminya menangis bahkan tubuhnya sampai terguncang.
"By, apa ada yang sakit katakan!"
Tubuh Aurora tertahan ketika mau bangun karena Kaka menahannya bahkan Kaka menarik Aurora kedalam pelukannya.
Aurora hanya diam membiarkan sang suami memeluknya dengan isakan tertahan.
"Tenang lah, by!"
Bisik Aurora sambil mengelus surai hitam sang suami.
Sitt!!
Pekik Aurora tertahan ketika sang suami memeluknya terlalu erat membuat punggung Aurora kembali sakit.
"Maafkan aku sayang maaf!"
Isak Kaka tak mau melepaskan pelukannya menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Aurora.
"By!"
"Aku monster, aku menyakitimu hiks ,,, aku menyakitimu!!"
Aurora terdiam paham apa yang di rasakan sang suami.
Kaka merasa bersalah dan juga takut, sungguh ia tak mau kehilangan Aurora. Apa Aurora akan meninggalkannya ketika Aurora tahu dirinya begini.
"By!"
"Jangan tinggalkan aku!"
Deg ....
Hati Aurora teriris mendengarnya sungguh Aurora merasa sesak dan sakit.
Ini tak bisa di biarkan trauma ini begitu besar Aurora takut ada orang yang memanfaatkan keadaan ini jika rahasia ini bocor.
Apalagi Aurora belum tahu kenapa alergi sang suami bisa kambuh bahkan separah ini.
"Kamu bukan monster, by! kamu tak menyakiti Rora!"
"Bohong!"
Aurora terhenyak ketika Kaka melepaskan pelukannya. Terlihat sekali kesakitan di mata itu, sebuah kesakitan yang amat dalam sungguh Aurora tak bisa membiarkan ini terjadi.
Aurora yakin Kaka pasti merasa insecure dengan apa yang sudah terjadi karena Aurora melihatnya dalam keadaan tak di sengaja.
"Kau pasti takut!"
"Tidak! By kau mau kemana?"
Bantah Aurora terkejut ketika Kaka malah beranjak dari ranjang.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1