Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 74 Kecerdasan Aurora


__ADS_3

Seperti yang sudah di jadwalkan Aurora ia datang ke rumah sakit kemaren untuk melakukan tes. Entah tes apa yang akan ia jalani membuat Aurora deg-degan.


Dan anehnya kemana pun Aurora pergi tak ada yang mengikuti membuat Aurora senang karena suaminya mengerti dirinya.


Aurora mengekor kepala rumah sakit entah membawanya kemana.


Mereka masuk kesebuah ruangan khusus di sana terdapat dua jasad yang berbeda.


Aurora menatap intens dua jasad di hadapannya yang benar-benar berbeda. Bukan sekedar berbeda orangnya namun berbeda cara kematiannya juga.


"Tes pertama di mulai!"


Ucap kepala rumah sakit membuat Aurora menoleh.


"Bedah kedua jasad ini dan temukan apa penyebab mereka meninggal!"


Aurora terdiam seolah Dejavu dengan semuanya. Teringat jelas di ingatan Aurora ketika ia ingin menjadi murid profesor Tuner dan profesor Tuner memberikan tes yang sama.


Membedah mayat dan menemukan penyebab kematian itu hal yang sulit karena posisi sudah meninggal apa yang harus di periksa lagi. Berbeda dengan orang yang masih hidup lalu meninggal tentu Aurora langsung bisa tahu penyebabnya apa.


Huh ..


Sejenak Aurora menghela nafas berat sebelum memakai Sarung tangan. Bukannya langsung melakukan tugasnya Aurora malah menekan bagian-bagian tubuh tertentu dengan mata jeli nya.


Sang kepala rumah sakit nampak terdiam melihat apa yang Aurora lakukan. Cara yang di lakukan Aurora sangatlah berbeda dengan yang lainnya.


Terlihat unik namun waspada akan semuanya.


Sang kepala rumah sakit menjadi teringat akan adik tingkatnya yang begitu pintar dalam bidang medis. Tapi, sayang ia tak bisa melihat dengan jelas wajah adik tingkatnya itu karena selalu pakai masker.


Deg ...


Aurora terdiam sejenak melihat ada sesuatu yang aneh di bagian punggung salah satu jasad. Dengan cepat Aurora mengambil senter guna memperjelas. Dengan tangan yang terus menelusuri bagian urat-urat besarnya.


"Jasad ini meninggal bukan karena struk melainkan ada zat yang masuk kedalam tubuhnya dari bagian punggung kiri yang dengan cepat menyebar ke jantung hingga mengakibatkan kejang akut yang sekilas terlihat shok akibat suatu berita, korban pembunuhan berencana!"


"Dan, jasad satu ini dia meninggal karena alergi bunga bukan sesak nafas biasa karena dia kehabisan oksigen. Tapi ada orang yang sengaja meletakan bunga yang membuat alergi itu menyebar hingga menekan paru-paru terlihat dari luka di dadanya seperti nya orang ini berusaha menahan namun dengan sengaja bunga itu di letakan di sini hingga membuat orang tersebut menyingkirkannya. Ini bukan luka goresan kuku melainkan tangkai dari bunga itu!"


"Kedua jasad ini sama-sama korban pembunuhan berencana yang sangat sempurna. Mereka memanfaatkan keadaan ini untuk menutupi jejak!"


Jelas Aurora tenang menatap kepala rumah sakit yang nampak terdiam bungkam.


Kepala rumah sakit menatap Aurora rumit dengan kejelian matanya membuat Aurora merasa gugup di tatap seperti itu.


"Benarkah seperti itu!"


Remeh kepala rumah sakit membuat Aurora tersenyum lembut karena sudah bisa seperti itu bahkan profesor Tuner lebih parah dari ini.


"Jika kau dokter hebat, tentu anda tahu ketua!"

__ADS_1


Ucap Aurora santai namun penuh penekanan dan ketegasan.


"Lihatlah, di sini tak akan membiru hanya sekedar serangan jantung bukan!"


"Bahkan saya percaya anda sudah mengecek darahnya sebelum meninggal!"


Sang kepala rumah sakit nampak bungkam dengan semuanya. Tak ada satu orang pun yang bisa memecahkan masalah ini namun Aurora dengan mudahnya menjabarkan semuanya tanpa sebuah bedah ulang.


Sang kepala rumah sakit berjalan menghampiri Aurora dengan tatapan tajamnya.


"Sungguh luar biasa anda menyembunyikannya, suatu kehormatan bagi saya bertemu anda, DOKTER JINGGA!"


Ucap sang kepala rumah sakit ia yakin jika Aurora adalah dokter Jingga adik tingkatnya dulu. Walau belum pernah melihat wajahnya tapi cara Aurora dan tatapan itu sama seperti dokter Jingga.


"Dokter Alden Tuner!"


Sang kepala rumah sakit tersenyum mendengar namanya di sebut. Jarang orang yang tahu dengan nama besar Tuner tapi Aurora.


Jadi sejak awal Aurora memang mengenali Kakak tingkatnya satu ini putra satu-satunya profesor Tuner, Aurora tahu semuanya hanya saja ia bungkam karena memang tak ada yang tahu siapa dia.


Aurora menyadari itu ketika sudah pulang dan ia ingat betul dulu kakak tingkatnya itu jadi idola semuanya. Walau dulu Aurora adalah satu-satunya anak kedokteran paling muda di antara yang lain.


Bayangkan saja di usinya yang baru menginjak dua puluh tahun ia sudah bisa menggeser tempat senior-senior dulu.


"Tolong jangan katakan pada siapapun!"


Dokter Alden tertawa lucu mana berani ia membocorkan itu bisa-bisa ia di penggal oleh saudara sepupunya itu.


"Rahasia anda aman Dokter!"


"Jangan begitu, anda lebih dari saya!"


Ucap Aurora merendah membuat dokter Alden tersenyum lembut.


Mereka seperti sedang reuni saja membuat orang-orang yang menunggu di luar terheran-heran kenapa sang ketua belum juga keluar.


"Suatu kehormatan bisa melihat wajah anda, tak hanya cerdas tapi juga cantik pantas saja sepupu kutub Utara itu bisa takluk!"


Aurora tersipu mendengarnya seolah dia wanita paling beruntung bisa mendapatkan dan melelehkan bekunya hati Kaka.


"Apa ada tes yang harus di lakukan lagi?"


Tanya Aurora berusaha profesional dengan semuanya. Karena memang sejatinya Aurora ketika kerja tak suka membahas yang lain.


"Bagaimana saya bisa mengetes lebih lanjut bahkan tes yang pertama pun sudah terpecahkan!"


"Perlakukan lah saya seperti orang asing!"


"Baiklah!"

__ADS_1


Dokter Alden membawa Aurora masuk keruang lab di mana di sana ada sebuah penelitian.


Sungguh Aurora di buat takjub melihat semuanya. Rumah sakit yang terlihat kecil di luar nampaknya mempunyai rahasia besar di dalamnya.


"Tumbuhan ini di dapatkan di Indonesia tepatnya di kehutanan Banten, banyak manfaat yang terkandung di dalamnya!"


Jelas dokter Alden membuat Aurora memangut-mangut mengerti. Ia mengecek semuanya ternyata memang benar dan terdapat kandungan senyawa untuk mengatasi alergi langka.


Melihat itu semua membuat Aurora teringat akan sang suami.


Apa tanaman ini Kaka yang mengambilnya langsung!


Batin Aurora yakin jika Kaka sendiri yang mengambil tanaman langka ini di saat semuanya berubah ketika lagi-lagi Aurora menyelamatkan Kaka waktu itu dan membuat mereka harus terikat dalam pernikahan.


Aurora berpikir keras mengenai DNA nya yang cocok dengan Kaka. Seperti nya Aurora harus meneliti lebih lanjut supaya bisa menemukan obatnya agar alergi sang suami sembuh.


Seperti nya Aurora akan bekerja keras mulai saat ini.


Dokter Alden terus memantau pergerakan Aurora dengan alat-alat itu. Kepulan zat menggombal ketika beberapa cairan Aurora satukan lalu mengeceknya ulang.


Seperti nya ini penelitian pertama Aurora setelah delapan tahun lalu dan ia akan menguji coba pada sang suami apa kah berhasil atau tidak.


Entah berapa jam mereka menghabiskan waktu di dalam lab bahkan Aurora melewatkan makan siang dan ini sudah sangatlah gelap.


Begitulah Aurora jika sudah asik dengan dunianya ia akan lupa semuanya.


Dokter Alden menghela nafas berat melihat kotak makan siang yang belum tersentuh sama sekali bahkan sekarang dia membawakannya lagi.


"Kamu memang pantas di juluki dokter Jingga!"


Ucap Dokter Alden membuat Aurora tak menggubris.


"Makanlah dulu, setidaknya satu atau dua suap!"


"Terimakasih senior, lihatlah apa ini sudah sempurna!"


Dokter Alden langsung mendekat memeriksa apa yang Aurora ciptakan.


Deg ...


Dokter Alden terdiam melihat cairan yang Aurora ciptakan sungguh sangat sempurna.


"Ini untuk daya tahan tubuh, cocok untuk kalian tenang cairan ini tak akan membahayakan!"


Jelas Aurora membuat Dokter Alden di buat terpesona.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2