
Dengan gemetar Aurora berjalan kearah mobil tersebut. Masih sama tak ada yang berubah, kenapa Kaka bisa menyimpannya bahkan ini sudah tujuh tahun lamanya.
Belum selesai rasa terkejut Aurora kini Aurora di buat bungkam kembali ketika di sana juga ada mobil dia, sebuah mobil yang Aurora tinggalkan ketika menolong Kaka.
Dan yang terakhir ada mobil dia juga di mana mobil itu awal mula kisah mereka di mulai.
Sungguh Aurora tak menyangka jika Kaka sampai membawa kedua mobil dirinya ke Jerman dan di simpan di sini dengan beberapa koleksi mobil lain.
Aurora tak tahu jika itu bukan sebuah koleksi mobil namun sebuah kenangan di mana mobil-mobil yang berada di sana milik kedua orang tua Kaka dan juga Kaka iparnya.
Ya, Kaka menyimpannya guna mengenang dan bagi Kaka mobil itu sangatlah berharga bahkan tak ternilai harganya. Bukan hanya mobil semua kenangan ada di sana samun Aurora belum tahu itu.
Itu ruangan khusus Kaka menyimpan barang-barang orang-orang yang di sayangnya. Jika Kaka rindu maka Kaka akan berada di ruang ini seharian bahkan bisa tak makan.
Aurora mengedarkan penglihatannya di mana di sana ada kotak-kotak kaca di mana di dalamnya terdapat beberapa barang seperti baju-baju, jam tangan dan semuanya yang pernah di kenakan kedua orang tuanya. Hingga mata Aurora tertuju pada sebuah seragam militer lengkap dengan atributnya.
"Jendral Geoffrey Aldarberto!"
Gumam Aurora menautkan kedua alisnya bingung apa ini nama ayah Kaka.
Ternyata Ayah Kaka juga seorang Jendral membuat Aurora baru tahu.
Ia terus menelusuri kotak-kotak kaca itu hingga ia terhenti di sebuah kotak ujung sana di mana ada kotak obat dan Aurora tahu siapa pemiliknya.
Aurora tak menyangka jika barang-barang dia Kaka abadikan bahkan di museum-kan begini.
Jika begini harusnya ada jaket Aurora juga namun di sini tak ada membuat Aurora bingung.
Jika barang-barang Aurora yang lain ada kenapa hanya jaket yang tak ada di sini, apa Kaka membuangnya pikir Aurora.
Sungguh Aurora benar-benar tak menyangka Kaka akan melakukan hal begini membuat Aurora, entahlah.
Antara kagum dan juga tak menyangka jika bisa seperti ini.
Namun pertanyaan dimana Kaka sekarang, kenapa dia menghilang tiba-tiba.
Puas melihat semuanya membuat Aurora memilih kembali takut ketahuan jika ia menerobos masuk.
Aurora berharap Kaka sudah kembali ke kamar namun nyatanya belum juga entah kemana lagi Aurora harus mencari Kaka kenapa hilang bak di telan bumi.
"Kau di mana!"
Gumam Aurora lelah mencari terus namun tak kunjung ketemu. Bangunan ini sangatlah luas membuat Aurora bingung.
Aurora memutuskan kembali ke bangunan bawah di mana Vivi berada. Aurora yakin Vivi mencarinya karena ia pergi tak pamit.
.
Dan benar saja Vivi mencari keberadaan Aurora yang tiba-tiba menghilang.
Sesudah bisa mengendalikan diri Vivi memang langsung keluar namun Vivi tak mendapati Aurora di luar.
"Apa di taman tadi!"
Gumam Vivi langsung ke sana mencari Aurora. Vivi penasaran bagaimana bisa Aurora berada di sini juga tadi ia belum sempat bertanya dan siapa yang mengoperasi adiknya juga.
"Vi!"
"Ra!"
Panggil keduanya ketika mereka berpapasan.
"Dari mana?"
Tanya Vivi membuat Aurora tersenyum berusaha mengendalikan kegundahannya.
"Dari taman!"
__ADS_1
Jawab asal Aurora membuat Vivi mengerti.
Mereka berdua duduk di salah satu kursi di luar sana.
"Sejak kapan kamu ada di sini?"
Tanya Vivi penasaran kenapa bisa Aurora berada di sini bahkan dengan penampilan nampak berbeda.
"Lama!"
Jawab Aurora sambil mengigit bibir bawahnya. Apa Aurora harus menceritakan semuanya pada Vivi jika ia sudah menikah.
"Lama!"
Bingung Vivi tak mengerti walau Vivi memang sempat bingung kemana perginya Aurora bahkan nomornya sudah lama tak aktif.
"Ceritanya sangat panjang!"
Gumam Aurora menatap kedepan sana mengingat bagaimana perjalanan mereka sampai berada di titik sekarang.
"Orang yang menolong mu dia Kaka Aldarberto, orang yang sama membawaku ke sini!"
"Tapi aku tak mengerti kenapa mereka menolong kita, apa ada sesuatu yang mereka inginkan atau memang tulus!"
Ucap Vivi memang masih bingung dengan orang yang menolongnya. Mereka ikhlas atau ada balasan yang harus mereka lakukan apalagi mereka hanya orang asing yang tak kenal satu sama lain.
"Dia tulus!"
"Bagaimana kamu seyakin itu?"
"Karena dia suamiku!"
"What!!"
Pekik Vivi membulatkan kedua matanya tak percaya. Bahkan Vivi langsung tertawa seolah itu hanya sebuah lelucon.
Aurora bukan orang yang peka atas perasaan seseorang bahkan selama beberapa tahun Karl menyimpan perasaan untuk Aurora namun sayang Aurora tak pernah mengerti itu.
Bahkan tentang cinta!
Cih!
Vivi tak percaya itu, Aurora tipikal gadis aneh yang bahkan tak tahu cinta itu seperti apa. Aurora hanya tahu cara membalas Budi bukan membalas cinta.
Lalu bagaimana bisa Aurora mengatakan jika ia sudah menikah. Apa mereka di jodohkan atau di kawin paksa atas keadaan.
Hanya dua kemungkinan itu yang Vivi yakini karena tak mungkin Aurora jatuh cinta sedang bersama Karl saja Aurora tak tertarik.
"Aku serius!"
Tegas Aurora mengerucutkan bibirnya melihat reaksi Vivi yang meremehkannya.
"Ra, jangan bercanda!"
"Aku sudah menikah!"
Kekeh Aurora membuat Vivi terdiam karena tak mungkin Aurora berbohong apalagi wajah Aurora yang serius.
"Tapi kenapa tak memakai cincin!"
Deg ...
Aurora tertegun menatap jarinya yang memang tak ada simbol di sana. Entah kenapa Aurora merasa hal yang aneh harusnya dia baik-baik saja kan.
"Aku bilang ceritanya panjang, dan--"
"Apa kamu di jodohkan, atau menikah karena keadaan?!"
__ADS_1
"Yang kedua!"
"What!!"
Lagi-lagi Vivi membulatkan kedua matanya terkejut. Keadaan, insiden apa yang membuat Aurora harus terjebak di dalam pernikahan.
"Dia orang yang aku tolong, tapi --"
Aurora menghela nafas berat mengingat bagaimana insiden sampai ia di paksa menikah.
Aurora menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tanpa terkecuali membuat Vivi dia buat tak menyangka.
"Definisi jodoh yang unik!"
Gumam Vivi membuat Aurora mengerucutkan bibirnya gemas.
"Sudah berapa lama?"
"Mau delapan bulan!"
"What!!"
Untuk yang ketiga kalinya Vivi terpekik membuat Aurora mendengus kesal karena gendang telinganya sakit.
"Ra, aku tak tahu jika kamu sesulit ini. Maafkan aku tak ada di samping mu!"
"Tak apa, semuanya sudah terjadi!"
Aurora hanya sebatas menceritakan pertemuan mereka saja sampai menikah tanpa menceritakan lebih detailnya lagi. Karena ini masalah rumit.
"Terus kamu bertahan?!"
"Apa kau jatuh cinta pada suami mu itu seperti di film-film!"
"Gak tahu!"
"Sudah ku duga!"
Ketus Vivi menatap Aurora gemas entah bagaimana pernikahan mereka sampai bertahan delapan bulan sedang Aurora tak ada cinta sama sekali.
"Bagaimana dengan Karl?"
"Apanya, kenapa bawa-bawa dia!"
"Oh ya ampun!"
Kesal Vivi menepuk jidatnya sendiri gemas melihat kepolosan Aurora namun gadis ini sudah cukup umur untuk tak mengerti.
"Bagaimana dengan Karl!"
"Kenapa bawa-bawa dia!"
"Ra, kau ini. Selama ini Karl menyukai mu dodol!"
"Tak mungkin!"
"Benar Ra!"
Deg ...
Aurora terdiam menatap Vivi rumit, karena memang Aurora tak tahu.
Aurora sudah menganggap Karl kakak nya sendiri sama seperti Fatih tak lebih dari itu, apalagi selama ini Karl yang sudah membantu ia membesarkan Zilla.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1