
Hari demi hari Edward dan Vivi menikmati acara liburnya. Beberapa tempat sudah mereka jelajahi dan itu benar-benar membuat Vivi bahagia bahkan Vivi sudah bisa melupakan kesedihannya.
Entah bagaimana kabarnya dokter Candra, jangan di tanya lagi Edward sudah mengurus semuanya bahkan bisa di pastikan dokter Candra tak bisa keluar dari penjara bahkan semua aset telah di sita kecuali satu rumah sakit besar yang memang sedang menunggu sang pemilik sesungguhnya.
Dari kejadian itu banyak oknum-oknum yang di rugikan bahkan mereka sekarang menjadi buronan tingkat A.
Edward benar-benar cerdik memanfaatkan situasi itu seolah-olah itu semua kerja keras aparat padahal semuanya anggota Edward yang bergerak dan di serahkan pada Qennan sekarang.
Seorang ahli IT tentu sangat mudah bagi Qennan membocorkan rahasia siapa saja dengan wujud di balik nama.
Edward hanya duduk diam saja menunggu berita selanjutnya memandang langit jingga. Hari ini Edward tak membawa Vivi keluar karena Edward sedikit kurang sehat akibat hujan-hujanan kemaren.
Demi menemani Vivi main hujan-hujanan di kebun teh Edward sampai memaksakan diri padahal Edward paling benci dengan hujan. Akibatnya sekarang Edward hanya bisa diam saja walau kondisinya tak parah.
Vivi baru selesai mandi terkejut tak mendapati Edward di atas ranjang. Mata Vivi berkeliaran hingga terhenti pada satu objek, balkon. Ternyata Edward berada di sana sedang duduk menikmati suasana sore.
Vivi segera memakai baju lalu menyusul Edward.
"Ed, kenapa duduk di sini?"
"Tak sepanas semalam!"
Ucap Vivi sambil memeriksa kening Edward karena takut Edward masih panas.
"Aku tak apa, tinggal pusing kepala saja, tidur membuat ku tak nyaman!"
Jawab Edward darat memaksakan senyum, Vivi duduk di samping Edward mencoba menatap kedepan seperti yang Edward lakukan.
"Langit sana sangat indah ya!"
"Hm!"
"Kenapa tak kamu lukis?"
"Sudah!"
"Boleh aku melihatnya?"
Edward menyerahkan buku berukuran sedang pada Vivi.
Hasil yang sangat bagus dan indah sungguh Vivi terpesona sama persis seperti aslinya.
"Ini sangat bagus Ed, kenapa kamu tak jadi seniman?"
Tak ada jawaban dari Edward membuat Vivi melirik ke samping. Ternyata Edward tertidur kembali pantas saja tak menjawab.
Vivi melihat buku Edward sangat penasaran apa saja yang Edward lukis di buku itu. Vivi perlahan membuka satu persatu lembar buku itu.
Apa ini kedua orang tuanya!
Batin Vivi menatap lukisan sepasang manusia yang sedang tersenyum. Di lihat dari segi semuanya mereka sangat mirip dengan Edward.
How do I hate you when you are the reason I exist!
Hati Vivi berdesir membaca kalimat yang Edward tulis, sungguh sangat dalam. Mengingat bagaimana kejahatan kedua orang tuanya ternyata Edward tak pernah membenci sama sekali. Sebegitu sayang kah Edward pada kedua orang tuanya sampai tak bisa membenci dengan apa yang telah mereka lakukan.
__ADS_1
Lantas, apa Vivi masih membenci kedua orang tuanya mengingat Edward jauh lebih menyedihkan dari pada dirinya.
Vivi masih bisa merasakan apa itu kasih sayang kedua orang tua tapi Edward tak sama sekali. Namun, Edward tak pernah memperlihatkan kekecewaan dan kesedihan itu dia seolah baik-baik saja dengan semuanya.
Vivi kembali membuka lembar selanjutnya masih sama lukisan kedua orang tuanya dengan kalimat berbeda.
I hate you guys, but I can't!
Vivi menatap Edward intens sungguh tak menyangka jika cinta Edward mengalahkan semuanya dengan apa yang mereka lakukan.
Deg ...
Vivi terdiam ketika ia melihat lukisan wajahnya namun Vivi mengerutkan kening melihat kalimat yang tertulis di bawahnya.
I found it!
Apa yang Edward maksud dengan kata itu 'menemukannya' apa yang Edward temukan di dirinya.
Karena penasaran Vivi kembali membuka lembar selanjutnya.
Aku alasan kamu bersedih!
Maaf atas semuanya!
Bolehkah aku menjadikan mu rumah untuk ku pulang!
Brak ...
Vivi menyimpan buku lukisan tersebut dengan hati berdebar. Vivi tak menyangka dengan apa yang ia baca.
Datar!
Itulah yang sering Vivi lihat, walau Edward selalu memperlakukan dirinya baik dan bersikap manis namun wajah datar itu tak pernah hilang.
Apa benar laki-laki di sampingnya ini benar-benar tulus, menginginkan dia tempatnya pulang.
Vivi masih tak menyangka jika Edward tak bohong akan semuanya, lantas apa yang membuat Vivi ragu akan semuanya.
Edward hanya manusia biasa, ia hanya merindukan rumah untuknya pulang. Edward hanya diam akan semuanya seolah semua baik-baik saja. Edward tak pandai mengungkap perasaan itulah dia. Edward hanya berusaha membuat orang lain nyaman berada di dekatnya berharap menemukan sebuah rumah yang membuka lebar untuknya.
Sulit memilih rumah yang nyaman ketika menemukan namun sayang sang pemilik masih menutupnya.
Vivi mengelus wajah Edward lembut membuat Edward terusik dari tidurnya.
"Sudah gelap, mandi ya!"
Ucap Vivi lembut dengan senyum menghiasi wajahnya. Edward hanya diam saja tak menanggapi ucapan Vivi.
Vivi menarik lengan Edward membuat Edward mau tak mau menurut karena malas bicara. Vivi menyiapkan semuanya sebelum Edward mandi.
"Mandilah yang bersih, aku akan menyiapkan makan malam!"
"Terimakasih!"
Vivi hanya tersenyum saja lalu keluar, sebelum masak Vivi menyiapkan baju untuk Edward. Ini kali pertama Vivi menyiapkan baju ganti untuk Edward tanpa ragu.
__ADS_1
Entah apa yang Vivi pikirkan ia melakukan apa yang harus ia lakukan saja.
Vivi melihat masih ada bahan apa saja yang tersisa. Ia sibuk dengan dunianya sendiri memasak untuk makan malam mereka.
Edward terdiam melihat baju yang sudah disiapkan Vivi, sangat aneh tapi Edward tak mau berpikir. Ia memakai saja tak perlu banyak berpikir.
Sesudah mandi badan Edward sedikit lebih baik bahkan pusing nya juga mulai berkurang.
Edward menyusul Vivi ke dapur ternyata Vivi sudah selesai masak tinggal menyajikannya saja.
"Apa badan mu sudah lebih baik?"
"Iya!"
"Duduklah di kursi!"
Edward menurut, ia duduk di kursi meja makan membiarkan Vivi menyajikan semuanya.
Bukan hanya itu Vivi juga mengambilkan makan untuk Edward.
"Makanlah!"
Edward terdiam sejenak menatap Vivi lalu pandangannya teralih pada piring yang sudah terisi.
"Mau aku suapi?"
"Tidak!"
Tolak Edward cepat, ia mengambil alih semuanya.
Mereka berdua makan dengan tenang walau Edward merasa heran dengan sikap Vivi yang sedikit berbeda. Edward pikir mungkin Vivi memperlakukannya begitu karena ia sakit.
Edward berusaha tak peduli dan tak mau berharap lebih.
Semenjak sakit Edward memang tak banyak bicara ia menjawab seperlunya saja toh Vivi juga tak mempermasalahkan akan hal itu.
Sesudah makan Edward mengambil laptop guna mengecek pekerjaan nya, Vivi membiarkan saja toh ia juga ada pekerjaan lain.
Nampaknya malam semakin larut namun belum ada tanda-tanda Edward kembali ke kamar.
Vivi menghampiri Edward yang masih sibuk dengan laptop nya.
"Sudah larut, kamu tak boleh bergadang!"
"Sedikit lagi!"
"Besok saja lanjutkan!"
Tegas Vivi menutup laptop Edward dan menarik Edward menuju kamar. Edward malas berdebat ia memilih menurut saja toh tak ada tenaga untuk berdebat ya.
Edward membaringkan tubuhnya namun tiba-tiba Vivi menarik lengan Edward menjadikannya bantal dengan tangan memeluk tubuh Edward.
Edward terkejut dengan apa yang Vivi lakukan biasanya Edward yang akan menarik Vivi kedalam pelukannya tapi malam ini Vivi yang masuk kedalam pelukan Edward.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...