
Rasa canggung menyelimuti Vivi membuat ia sulit memejamkan kedua matanya karena di kamar ada sosok asing baginya.
Jika tadi ia tertidur karena tak ada Edward dan juga kelelahan tapi kini ada Edward di dalam kamar itu.
Bukan hanya sekedar rasa canggung namun juga ada rasa takut yang terselip di hati Vivi membuat Vivi hanya bisa menautkan jari-jari nya.
Edward yang menyadari akan sikap Vivi yang aneh hanya bisa menghela nafas. Ketika sudah menikah Vivi benar-benar menjadi sosok pendiam, tak ada kecerewetan di bibir mungilnya yang selalu melawan setiap perkataannya.
Kini bibir itu hanya bisa merapat tanpa mengucapkan satu katakan pun.
"Tidurlah, ini sudah malam. Kau jangan takut aku akan tidur di sini!"
Ucap Edward sambil membaringkan badannya di atas shopa sana. Untung saja shopa nya panjang cukup untuk tubuh Edward walau kakinya terpaksa Edward takut karena tak cukup.
Edward memejamkan kedua matanya karena sudah merasa kantuk.
Vivi melirik Edward yang sudah tidur bukannya tenang Vivi masih saja merasa cemas.
Ia tak mau berada dalam posisi ini membuat Vivi merasa Dejavu dengan kejadian beberapa tahun lalu.
Keringat dingin mulai keluar suasana hening ini malah membuat Vivi semakin ketakutan. Takut jika Edward sama seperti yang lainnya.
Edward terpaksa bangun kembali karena merasa Vivi belum juga tidur. Entah kenapa bukannya tadi Vivi mudah sekali tidur kenapa sekarang belum tidur juga padahal ini sudah sangatlah larut.
"Kenapa belum tidur?"
Deg ...
Vivi terkejut melihat Edward bangun membuat Vivi langsung menarik selimut.
Edward menautkan kedua alisnya dengan mata memicing menatap Vivi yang bertingkah tidak seperti biasanya.
Edward berjalan mendekat semakin dekat membuat Vivi semakin ketakutan.
Sialnya kenapa trauma itu malah kambuh di saat seperti ini.
Edward duduk di bibir ranjang membelakangi Vivi.
"Bicaralah jika ada yang ingin kau katakan?"
Ucap Edward tegas seperti nya memang mereka harus bicara agar tahu bagaimana kedepannya nanti hubungan mereka.
Vivi masih saja terdiam sulit untuk sekedar mengucap. Vivi menatap punggung lebar Edward mencoba meyakinkan jika Edward tak akan macam-macam dengannya.
"Jika tak ada yang ingin kau katakan, aku akan kembali tidur!"
Cetus Edward karena sendari tadi tak ada tanda-tanda Vivi akan bicara.
"Kita akan kembali besok ke Jerman, jadi tidurlah!"
"Tunggu!"
Edward menghentikan langkahnya tanpa berbalik menunggu Vivi bicara lagi.
"Ap-apa aku boleh bertemu Arsen sebelum pergi?"
"Lakukanlah aku tak akan melarang, aku cuma minta patuhi apa yang sudah ku katakan sebelum kita menikah!"
"Terimakasih!"
Edward kembali meneruskan langkahnya merasa Vivi tak lagi bicara.
Vivi sedikit merasa lega karena Edward mau mengerti dirinya. Vivi menarik selimut kembali menutupi seluruh tubuhnya hanya menyisakan kedua matanya saja untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
Sebelum tidur Vivi melirik sekilas kearah Edward yang sudah memejamkan kedua matanya.
Seketika Vivi membalikan badannya membelakangi Edward sambil berusaha memejamkan kedua matanya.
.
.
Nampaknya salju turun di pagi hari membuat suasana nampak dingin. Vivi mengeratkan pelukannya pada guling yang menjadi teman tidurnya.
Namun, seketika Vivi terbangun ketika mengingat sang adik.
Vivi melirik ke sekeliling kamar tak ada Edward di sana. Entah kemana perginya pagi buta ini.
Edward benar-benar seperti hantu yang selalu menghilang dan datang mengagetkannya. Seperti nya Vivi akan terbiasa akan hal itu.
"What!!!"
Pekik Vivi terkejut melihat jam di layar ponselnya. Ini bukan pagi buta tapi Vivi bangun kesiangan.
Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi kurang satu menit. Vivi meloncat dari ranjang berlari kearah kamar mandi tak lama Vivi keluar mengambil handuk.
"Jika aku mandi, aku tak ada baju ganti lagi!"
"Apa aku harus memakai yang kemaren!"
Vivi kembali berlari keluar takut-takut Edward sudah datang.
Jika Edward sudah datang itu akan sangat berbahaya.
"Kau seorang dokter, kenapa jorok sekali!"
Deg ...
Kenapa Edward selalu saja hobi mengagetkannya. Jika seperti ini terus seperti nya Vivi mudah terserang penyakit jantung.
"Ini, pakailah! Yang ini buang saja!"
Vivi melongo melihat Edward memberikan sebuah Tate bag pada tangannya dan mengambil baju kemaren dia lalu membuangnya ke tong sampah.
Itu baju kesayangan Vivi, berani-beraninya Edward membuang baju itu.
"Hey, kenapa masih di situ! Pergilah mandi aku tak ada waktu untuk terus menunggu mu!"
"Kau!"
Pekik Vivi tak sadar menatap tajam Edward membuat Edward terkesiap.
"Baju kesayangan ku, kau berani sekali membuangnya!"
Kesal Vivi mengambil dress hitam tersebut lalu menepuk-nepuk seolah di sana ada debu.
Edward di buat melongo melihat tingkah absurd Vivi yang mengambil kembali baju yang sudah ia buang ke tong sampah.
"Baju jelek begitu!"
"Kau!"
"Apa!"
Tantang Edward menarik sudut bibirnya tanpa sadar. Edward memang selalu suka membuat Vivi seperti itu bukan Vivi yang ia lihat semalam.
Vivi menghela nafas berat tak mau berdebat di pagi hari. Dengan kesal Vivi pergi kearah kamar mandi sambil membawa baju itu.
__ADS_1
"Hey, pakai baju baru, jika tidak aku akan benar-benar membuang baju lusuh itu!"
Teriak Edward membuat Vivi tak peduli, hatinya sakit melihat baju kesayangannya Edward buang.
Brak ...
Vivi membanting pintu kamar mandi membuat Edward terperanjat.
"Gadis itu benar-benar!"
Kaget Edward tak menyangka jika Vivi akan semarah itu karena sebuah baju.
Karena tak mau peduli Edward memilih duduk di atas shopa sana sambil melihat ponselnya.
Wajah Edward nampak serius entah apa yang ia bahas. Seperti nya hal penting hingga membuat Edward hanyut dalam detik kan jam sampai tak sadar jika Vivi sudah keluar.
"Aku sudah selesai!"
Ucap Vivi karena sendari tadi ia sudah siap berangkat sambil menenteng Tate bag yang isinya baju kotor dia.
Edward tanpa melirik langsung beranjak dengan mata yang terus fokus pada layar ponselnya.
Vivi hanya bisa menghela nafas mengekor dari belakang kemana langkah Edward pergi.
Edward terus saja berjalan seolah tak peduli dengan Vivi yang kesusahan mengejar langkah lebarnya.
Bahkan mereka sampai mobil pun Edward langsung masuk membuat Vivi lagi-lagi menghela nafas.
Vivi bukan ingin di bukakan pintu atau semacamnya tapi kefokusan Edward pada layar ponselnya membuat Vivi kesal karena orang-orang melihat iba dirinya seolah ia kekasih yang tak di pedulikan.
Merasa Vivi sudah masuk mobil Edward langsung menjalankannya tanpa melihat Vivi sama sekali.
Hingga Edward menghentikan mobilnya di sebuah lestoran.
"Kenapa berhenti?"
"Kita belum sarapan!"
Vivi mengangguk mengerti langsung turun dari mobil. Vivi pikir Edward sangatlah kejam pada dia karena tak memberinya makan.
Nyatanya sesibuk apapun dunia Edward ia tetap tahu apa yang mereka butuhkan.
"Pilihlah apa yang kau suka?"
Tanpa menjawab Vivi mengambil buku menu yang Edward sodorkan padanya.
Sesaat Edward terdiam melihat Vivi mengenakan baju yang Qennan belikan tadi, sangat pas di badan Vivi yang semampai.
"Ada apa?"
Tanya Vivi merasa heran karena sendari tadi Edward terus memerhatikan dirinya.
Dengan wajah cueknya Edward mengambil buku menu dan memilih menu sarapan favorit nya.
Dasar aneh!
Gerutu Vivi mencoba masa bodo sama seperti yang Edward lakukan.
Laki-laki di depannya ini benar-benar sangat kaku dan dingin.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1