
Vivi berusaha bersikap biasa seolah tak ada rasa takut sama sekali.
Vivi juga harus tahu siapa tuan muda yang Berto maksud bahkan Berto mewanti-wanti jangan sampai ia melakukan kesalahan apapun jika nyawanya ingin aman.
Sungguh sangat mengerikan sekali membuat Vivi penasaran juga siapa orang yang berkuasa itu.
Jika Aurora menghadapi ini semua pasti dengan mudah Aurora bisa memecahkannya.
Sesaat Vivi berdecak kagum melihat sebuah bangunan megah seperti istana di negri dongeng. Vivi tak tahu jika di balik keindahan itu menyimpan sesuatu yang mengerikan di dalam sana.
Deg ...
Vivi tercekat dengan bulu kuduk meremang ketika sudah masuk ke istana ini. Sungguh nampak berbeda dengan luar.
Banyak lukisan kuno dengan arsitektur klasik dihiasi patung-patung hewan buas seperti yang berada di musium.
Tenggorokan Vivi tercekat ketika masuk kesebuah ruangan yang begitu menyeramkan dengan aura merah pekat.
Belum lagi suara hewan-hewan buas seolah ingin memakan Vivi hidup-hidup.
Vivi menyipitkan kedua matanya melihat orang-orang lalu lalang dengan pakaian tertutup Vivi tahu pakaian apa yang mereka pakai.
Vivi di buat kagum melihat sebuah lab penelitian dengan alat-alat yang begitu canggih. Entah apa yang mereka teliti membuat Vivi penasaran namun tak bisa melihat dengan jelas.
"Diam jika kau ingin selamat!"
Jantung Vivi berdetak kencang ketika baja besi itu membawa mereka entah ke mana.
Pintu baja itu kembali terbuka tepat di dalam ruangan yang begitu luas tak se-menyeramkan tadi.
"Ingat kau boleh bicara jika di perlukan!"
Vivi hanya diam saja tak peduli menunggu pintu kaca di depannya terbuka.
Krek ...
Seketika pintu kaca itu terbuka membuat Vivi penasaran.
"Tuan!"
Ucap Berto merendah begitupun dengan Gerry namun tidak dengan Vivi yang berusaha tetap tenang walau ia tahu hidupnya dalam masalah.
Entah siapa yang berbaring di ranjang Vivi tak bisa melihat dengan jelas karena wajahnya terhalang punggung lebar seseorang.
"Dokter Jingga di sini!"
Vivi mencoba bersikap angkuh di hadapan semuanya jangan sampai mencurigainya.
Seseorang yang berdiri tegap perlahan berbalik menatap tajam Vivi dari atas sampai bawah.
Seorang dokter yang sudah lama ia cari-cari demi sang putra tapi nyatanya baru kali ini dia mendapatkannya.
"Berapa yang anda inginkan untuk menyembuhkan putraku?"
Ucap sang tuan angkuh membuat Vivi bergidik ngeri mendengar suara berat menyeramkan.
"Kau akan aman jika bisa menyembuhkan putraku, tapi--"
Sang tuan berjalan mendekat membuat Vivi terdiam santai sudah bisa berhadapan dengan manusia-manusia angkuh ini walau Vivi merasa ada hawa berbeda dari manusia satu ini.
"Kau akan bernasib sama seperti itu jika gagal!"
Deg ...
__ADS_1
Vivi mundur dengan mata membulat sempurna melihat seorang berjas putih tergeletak tak bernyawa membuat Vivi mulai ketakutan.
"Putraku sudah sepuluh tahun koma, namun tak ada satupun dokter yang bisa membangunkannya. Semuanya berkata, jika putra mahkota sudah tak ada, dia bertahan karena alat media mendengarnya membuat ku muak. Putra ku harus sadar dan kau dokter hebat bukan!"
Tenggorokan Vivi tercekat berusaha tetap tenang dalam situasi seperti ini. Ia tak boleh gegabah bisa-bisa nyawanya melayang.
"Akan saya usahakan!"
Tegas Vivi membuat sang Tuan tersenyum mengerikan.
"Dari data yang saya baca sedikit aneh dengan riwayat penyakitnya pasalnya itu tak ada di dunia ini. Kalau saya boleh tahu apa tuan muda pernah melakukan sebuah penelitian yang berbahaya?"
Ucap Vivi hati-hati membuat sang tuan tersenyum seringai sangat menyukai diagnosa yang tepat sasaran itu.
Tuan besar sekarang yakin jika dokter di hadapannya adalah Dokter Jingga yang selama ini ia cari.
"Berikan saya waktu untuk semuanya karena saya tidak mau gegabah!"
Tegas Vivi mencoba bernegosiasi mengulur waktu agar semuanya aman.
"Tergantung cara anda!"
"Satu lagi, tuan harus menjamin keselamatan adik saya!"
"Saya suka itu ha .. Ha .. Namun saya tak suka di atur!"
"Terserah, maka saya juga tak mau!"
Berani Vivi membuat tuan besar mengepalkan kedua tangannya menatap horor Vivi yang terus menekan ketakutannya.
"Buktikan!"
Tegas tuan besar berlalu pergi meninggalkan Vivi di ruang putranya.
Kini tinggal Vivi berada di ruang itu, berkali-kali Vivi menghela nafas berat menatap rumit laki-laki yang berbaring di atas ranjang sana dengan alat yang menempel di tubuhnya.
Vivi mencoba mengecek kondisi tuan muda dan memeriksa bagian lainnya.
Seluruh tubuh ini begitu kaku bahkan sebagian alat vitalnya sudah tak berfungsi lagi walau detak ini masih terasa.
Namun Vivi menemukan sesuatu yang aneh tapi tak mau gegabah karena kasus seperti ini baru bagi Vivi.
Vivi memang tak se-ahli Aurora yang bahkan dengan menatap saja Aurora bisa mendiagnosa.
"Apa ada yang salah dengan alat yang di pasang!"
Gumam Vivi memicingkan kedua matanya menatap sambungan-sambungan kabel yang menempel pada bagian tubuh inti.
Ra, bantu aku! Andai aku tak bolos saat praktek akupuntur mungkin aku sudah bisa!
Batin Vivi tak mau gegabah berharap ilmu Aurora datang ke otaknya.
Selangkah saja Vivi salah maka nyawa dia akan melayang.
.
Jika Vivi di sibukkan dengan pemeriksaannya berbeda dengan Aurora dengan telaten mengurus suami kertasnya ini.
Entah ada dorongan dari mana Aurora mau mengurus Kaka padahal hubungan mereka tak sedekat itu.
Aurora seorang dokter tentu ia harus mengurus pasiennya tak lebih dari itu apalagi Edward sudah berjanji akan membelikannya ponsel.
Kaka hanya diam saja setia dengan wajah datarnya ketika Aurora mengganti perban lukanya.
__ADS_1
Ada beberapa goresan di lengan dan punggung Kaka membuat Aurora sendari kemaren bertanya-tanya apa yang terjadi.
Keingintahuan itu Aurora tekan menjadi malas melihat wajah datar di hadapannya ini bahkan bibir seksi sedikit tebal ini sendari kemaren hanya rapat saja seolah bisu.
"Kenapa kau selalu terluka?"
Tanya Aurora karena tak bisa terus diam, bibirnya terlalu gatal untuk di diamkan.
"Bagaimana kalau kakak mu tahu kau terus terluka dia pasti khawatir apalagi tuan putri!"
"Lakukan saja pekerjaan mu, jangan bawel!"
Huh ...
Aurora menghela nafas berat mendengar jawaban menjengkelkan itu membuat Aurora ingin rasanya menjitak kepala suami kertasnya ini.
"Apa kau sudah dapat kabar bagaimana sahabatku?"
"Tidak!"
"Kau!"
Kaka meringis tertahan ketika Aurora menekan lukanya.
"Bagaimana mencari tahu, sedang wajahnya pun tak tahu!"
Wajah Aurora menjadi muram karena benar adanya. Kaka tak mungkin bisa mencari tahu jika wajah Vivi tak di kenali.
"Boleh aku pinjam ponsel kau lagi, aku akan menunjukan foto nya!"
"Hm!"
Aurora mengikat perban tersebut hati-hati karena sudah selesai.
Dengan cepat Aurora mengambil ponsel Kaka saking girangnya membiarkan Kaka masih telanjang dada.
"Password nya?"
Dengan malas Kaka mengambil ponselnya lalu memasukan sidik jari.
"Lima menit!"
"Cih!"
Aurora duduk di samping Kaka segera mencari photo Vivi yang memang tahu di mana Aurora harus mendapatkannya.
"Ini!"
"Hm!"
"Lihat dulu, yang ini orang nya!"
"Malas!"
"Lihat!"
Tekan Aurora menarik wajah Kaka agar menatap layar ponsel namun apa yang Aurora lakukan justru membuat wajah mereka saling berhadapan.
Untuk sesaat mereka saling diam mengunci satu sama lain dengan tatapan entah.
Jarak mereka sangat dekat hanya ada ponsel di antara mereka yang menjadi pembatasnya.
Sial parfum ini!
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...