
London ...
Senyuman indah terukir di bibir dokter Emma melihat siapa yang berjalan dengan gagahnya ke arah dia.
Enam bulan mereka tak bertemu karena Hanz mendapatkan tugas membuat pernikahan mereka harus tertunda.
Rencananya setelah Hanz kembali pernikahan mereka akan segera di gelar.
Dokter Emma berlari kearah Hanz dan melompat membuat Hanz dengan senang hati menyambutnya.
"Welcome Dear!"
Dua manusia yang saling rindu berputar-putar dengan rona kebahagiaan yang tak bisa di sembunyikan lagi.
Dokter Emma tersenyum begitupun dengan Hanz. Dokter Emma menangkup wajah Hanz dengan Hanz perlahan menurunkan tubuh dokter Emma hingga wajah mereka sejajar.
Cup ...
Ciuman kerinduan mereka luapkan tak peduli pada orang-orang di sekitar mereka. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Kenapa kurusan, hm?"
"Selalu merindu!"
"Enam bulan nyatanya kau belajar menggombal bukan tugas!"
"Itu beda lagi honey,"
"Bahkan ini, jambang sudah lebat!"
"Apa kamu tak menyukainya, nanti aku bersihkan!"
"Tidak juga, kamu terlihat gagah jika begini hanya saja terlalu panjang!"
"Baiklah, tinggal potong sedikit bagaimana?"
"Hm!!!"
Dokter Emma berpikir sambil memainkan jambang milik Hanz membuat Hanz tersenyum.
Mereka sudah berada di dalam mobil dengan dokter Emma tak di biarkan duduk sendiri melainkan berada di atas pangkuan Hanz.
Dokter Emma tersenyum mengelus lembut wajah Hanz yang terasa geli menusuk telapak jari-jari dokter Emma akibat jambang Hanz yang terlalu panjang.
Muachhh ....
Dokter Emma mengecup dalam bibir Hanz membuat ia merasakan geli, seperti nya memang harus di potong karena akan menggangu aktivitas mereka nantinya.
Hingga sampailah mereka di kediaman Hanz, sebuah rumah yang sangat mewah walau tak sebesar kediaman jendral Kaka.
"Aku yang akan membersihkannya!"
"Serious!"
"Yes!"
Dengan senang hati Hanz duduk di atas kursi khusus dengan sedikit menurunkan kursinya hingga Hanz bisa baringan.
Dokter Emma memberikan krim pada jambang-jambang itu dan mendiamkannya sebentar.
Hanz hanya pasrah saja dengan apa yang Dokter Emma lakukan. Jarak yang begitu dekat membuat Hanz bisa leluasa menatap wajah cantik dokter Emma.
Rasanya Hanz tak sabar untuk menghalalkan kekasihnya ini dan ia sebaiknya harus bicara agar hari pernikahannya di percepat.
Mereka sudah sama-sama dewasa, Hanz hanya tak ingin lepas kontrol jika berdekatan seperti ini.
"Diam, dear!"
Cegah Dokter Emma menahan tangan Hanz yang terus berkeliaran di kedua sisi pinggangnya.
"Ini juga diam!"
"Cih!"
__ADS_1
Hanz terkekeh melihat reaksi dokter Emma yang tak terpancing sama sekali malah serius dengan pekerjaannya.
Tak cuma mencukur jambang Hanz, dokter Emma juga sedikit memotong rambut Hanz yang gondrong dan membersihkan rambut Hanz sambil memijatnya membuat Hanz terasa nyaman seolah beban di kepalanya menghilang.
Dokter Emma mengeringkan rambut Hanz dengan handuk kecil.
"Honey?"
"Hm!"
"Bagaimana kalau pernikahan kita di percepat?"
"Kenapa?"
Hanz menurunkan kepalanya dengan dokter Emma yang menunduk hingga mereka saling pandang.
"Cuma takut kebablasan!"
Jujur Hanz, dia laki-laki normal dan dewasa apalagi berdekatan seperti ini dengan dokter Emma membuat Hanz was-was.
Mereka tinggal di negara bebas akan hal yang berbaur s*** dan di sana hal itu seolah sudah biasa tidak lah tabu dengan hal kehormatan walau hanya sebagian orang saja yang memegang hal teguh seperti itu.
Dokter Emma hanya tersenyum menanggapinya lalu memutar kursi yang Hanz duduki hingga menghadap.
Dengan berani dokter Emma duduk di pangkuan Hanz sambil melanjutkan aktivitas nya.
"Honey kau menyiksaku!"
Kesal Hanz menunduk lesu membuat dokter Emma leluasa mengeringkan rambut Hanz sampai benar-benar kering. Lalu dokter Emma menyisir rambut Hanz dengan sepuluh jari-jari nya.
"Sabar!"
Kekeh dokter Emma mengelus rambut Hanz sambil beranjak dari pangkuannya.
"Istirahat, kamu pasti cape, nanti aku bangunkan kalau makan malam!"
Dokter Emma mendorong Hanz menuju kamar agar Hanz istirahat setelah mendapatkan sedikit perawatan.
"Tidur!"
Dokter Emma menyelimuti Hanz, lalu beranjak keluar kamar Hanz. Ia akan menyiapkan makan malam untuk Hanz sebelum pulang.
Hanz benar-benar tertidur pulas setelah mendapatkan perawatan dari sang kekasih membuat tidur Hanz nampak nyenyak.
Dokter Emma sibuk menyiapkan makan untuk mereka berdua. Dokter Emma membuat makanan yang tak terlalu berat karena sudah malam.
Entah berapa lama waktu yang dokter Emma lakukan membuat makanan tersebut. Sudah selesai Dokter Emma menyiapkannya di meja makan dan menghiasnya seindah mungkin .
Makan malam romantis bukan, walau mereka akan makan di rumah.
Sebelum membangunkan Hanz, dokter Emma memilih membersihkan tubuhnya di kamar sebelah di mana kamar memang tempat dokter Emma istirahat jika sedang menunggu Hanz.
Sudah selesai dokter Emma segera bergegas menuju kamar Hanz. Senyuman indah terukir di bibir dokter Emma melihat Hanz tidur dengan damai.
Dokter Emma duduk di bibir ranjang mengelus lembut wajah Hanz.
Seperti nya dokter Emma harus siap berada di samping Hanz menjadi wanita yang tentu akan sering di tinggalkan karena tugas. Kecuali dokter Emma ikut kemanapun Hanz pergi namun itu membahayakan.
"Kenapa, hm?"
"Bangun, ayo makan?"
Perlahan Hanz membuka kedua matanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Sungguh indah bisa melihat sang kekasih ada di hadapannya.
"Ini seperti mimpi indah!"
"Sudah, ayo bangun!"
Dokter Emma menarik lengan Hanz agar terduduk. Dengan malas Hanz duduk walau memilih menyandar terlebih dahulu.
"Masih ngantuk, honey!"
"Makan malam dulu, baru boleh tidur lagi!"
__ADS_1
"Ya .. Ya ...!"
Dengan malas Hanz beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi terlebih dahulu guna mencuci muka. Sudah selesai Hanz segera menyusul dokter Emma menuju meja makan.
Hanz tersenyum melihat beberapa hidangan sudah tersaji di meja makan.
"Duduklah, jangan berdiri terus!"
Hanz langsung duduk di kursinya dengan dokter Emma menyiapkan semuanya. Mereka halnya sepasang suami istri sungguhan saja dimana dokter Emma melayani Hanz dengan baik.
"Makan yang banyak, agar tidak kurus lagi?"
"Apa kamu suka yang gendut?"
"Tidak juga, tapi setidaknya kau harus tetap gagah saat pernikahan nanti!"
"Baiklah, nanti aku akan rajin gym agar tubuhku kembali bagus!"
"Sudah ayo, makan!"
Mereka berdua makan dengan tenang tanpa bicara apapun.
Hanz terlihat lahap sekali bak orang kelaparan, tentu karena Hanz sudah sangat merindukan masakan calon istrinya ini.
Sudah selesai makan, dokter Emma membereskan kembali tempat makannya.
"Honey, apa kamu akan pulang?"
"Ya!"
Jawab dokter Emma sedikit berteriak karena posisi mereka sangatlah jauh. Dokter Emma berada di dapur sedang Hanz sudah duduk santai di shopa sana.
Bukan tanpa sebab Hanz bertanya seperti itu karena Hanz sudah tahu jika ada sebuah mobil yang baru terparkir di depan rumahnya.
"Kenapa tak menginap saja?"
"Lain kali saja Dear! Besok ada jadwal operasi!"
Hanz terdiam dengan wajah masamnya, ia tak ingin dokter Emma pulang. Mereka belum menghabiskan waktu bersama.
Dokter Emma tiba-tiba duduk di atas pangkuan Hanz dengan tangan yang melingkar indah di leher kokoh Hanz.
"Besok akan ku usahakan menginap!"
"Benarkah!"
"Hm!"
"Baiklah, sekarang beri aku salam pengantar tidur?"
Cup .. Cup ... Cup ...
Dokter Emma langsung mengecup semua permukaan wajah Hanz tanpa terkecuali.
Hanz sedikit menahan tengkuk dokter Emma agar ciuman terakhir tak lepas begitu saja bahkan Hanz malah memperdalamnya seolah ini belum cukup.
"Sudah!"
"Kurang honey!"
"Cih, yang ada aku tak akan pulang jika di teruskan!"
"Baiklah!"
Pasrah Hanz mengantar dokter Emma keluar bahkan sampai menuju mobil memastikan dokter Emma masuk.
"Love you!"
"Me too!"
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1