Kebencian: Peluruh Cinta

Kebencian: Peluruh Cinta
Bab 60 Kapan kau menikah!


__ADS_3

Aurora hanyut dalam pikirannya sendiri, setiap malam akan menatap rembulan di atas sana berharap Kaka akan segera pulang.


Entah sampai kapan Aurora harus menunggu kepulangan Kaka bahkan ini sudah satu bulan lamanya namun masih tak ada kabar kepulangannya.


Bahkan Aurora rela begadang hanya ingin bertemu Kaka berharap Kaka akan pulang namun semua itu lagi-lagi sia-sia.


Kepergian Kaka membuat Aurora terasa aneh. Biasanya ia akan di sambut oleh senyum hangat Kaka ketika bangun tidur dan salah tingkah ketika Kaka menatapnya.


Bahkan Aurora tahu ketika Kaka merengek sakit padahal enggak hanya karena ingin ia melakukannya lembut.


Kaka memang tak pernah menyakitinya bahkan ketika ungkapan cinta itu terlontar Kaka memperlakukannya dengan baik bahkan nada bicaranya begitu penuh kelembutan Aurora tahu itu sejak awal namun ia berusaha menyangkal semuanya.


Aurora tak tahu ia akan begini dan itu membuat Aurora prustasi. Tak pernah sebelumnya Aurora melakukan hal bodoh sampai se-frustasi begini bahkan rela menunggu Kaka pulang.


"Zilla hiks ,,,"


Rengek Aurora prustasi ia hanya bisa memanggil putri cantiknya.


Jika sedang begini hanya putrinya yang bisa menenangkan dia.


Seperti nya Aurora harus menemui putrinya agar hatinya tenang karena sudah lama ia tak memeluk putrinya.


Ya, Aurora memutuskan pergi detik ini juga tak peduli para penjaga menghalanginya. Aurora hanya ingin tenang tak mau terus memikirkan Kaka yang membuat hatinya semakin sesak.


Tanpa pikir panjang Aurora langsung keluar dari kamarnya tanpa mengganti baju. Hanya menggunakan piyama tidur di lapisi mantel hangat yang menutupi lekuk tubuhnya.


Tak pernah Aurora bertingkah seperti ini dan semuanya karena Kaka.


Aurora berjalan karena tahu di mana letak semua mobil berada. Ia memasuki salah satu mobil yang terparkir di sana.


Untung Aurora tahu di mana Kaka menyimpan kunci mobil.


Aurora mengendarai mobil tersebut menuju gerbang sana yang memang gerbang dengan kediaman sangatlah jauh.


Aurora menautkan kedua alisnya terasa aneh ketika tak ada satupun penjaga yang menghalanginya. Mereka hanya menunduk hormat tak berani lebih.


Aurora masa bodo ia terus melaju kan mobilnya keluar dari gerbang yang memang sudah otomatis.


Ia tak bisa begini terus bisa-bisa dirinya akan gila. Ia berharap setelah bertemu Zilla otaknya akan fresh kembali.


Jarak yang begitu jauh membuat Aurora tak peduli mengendarai mobil sendiri. Entah butuh berapa jam Aurora sampai di mana putrinya berada.


Daerah pinggiran pengunungan Bavaria di mana terletak dengan perbatasan pegunungan Ceko dan lintang selatan dekat dengan perbatasan Austria Hulu.


Jarak yang cukup jauh membuat Aurora tak peduli mau cape atau tidak yang penting bagi dia ia bisa ketemu putrinya. Padahal Aurora bisa memesan tiket pesawat supaya cepat sampai namun Aurora tak punya uang dan mana mungkin ia mengambil milik Kaka tanpa izin walau mobil ia terpaksa.


Bahkan Aurora menerjang rasa kantuknya berusaha fokus apalagi cuaca di malam hari begitu dingin.

__ADS_1


Aurora terus melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh apalagi di malam hari jalanan kosong membuat perjalanan Aurora tak terhambat dan mungkin lebih cepat sampai.


"Tunggu bunda sayang!"


Gumam Aurora sudah sangat rindu, Aurora tak berpikir dua kali sebelum bertindak.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya membuat Aurora bingung. Antara melepas dan di lepas keduanya sama-sama sulit karena Aurora akan berada di posisi itu.


Jam terus berputar sampai di mana mentari nampak malu-malu tersenyum menyapa dunia fana.


Aurora baru memasuki area pegunungan, udara pagi hari nampak sejuk namun bagi Aurora nampak dingin karena memang ia menerjang udara dingin semalaman.


"Sebentar lagi!"


Gumam Aurora tak sabar padahal kondisinya sudah sangat lelah dan letih.


Sampai di mana Aurora menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah megah dengan desain klasik. Bangunan itu hampir 💯% terbuat dari kayu dan kaca. Banyak tanaman bunga yang menghiasi pekarangan rumah itu.


Sebuah rumah yang sangat asri di lengkapi cerobong asap.


Aurora melangkah dengan gontai menuju bangunan sana.


"Zilla!"


"Ezilla!"


Rasa rindu yang tak bisa terbendung lagi membuat ia tak peduli jika kedua kakinya ternyata tak memakai alas kaki.


Sebuah rindu yang membelenggu Aurora rasakan sama seperti yang saat ini Kaka rasakan namun Kaka bisa apa.


Kaka hanya bisa diam tanpa mau bertindak membuat Hanz sangat kesal dengan tingkah sang Jendral.


"Jendral, kenapa anda tak mencegah nyonya pergi?"


Rasa penasaran membuat Hanz tak bisa menjaga mulut lancangnya karena Hanz tahu sang Jendral tersiksa karena itu.


"Aku sudah mengabulkan apa yang dia inginkan. Kini biarkan dia yang memilih sendiri antara kembali atau tidak!"


Ucap Kaka tak mau memaksa, walau ia sudah sangat merindukan Aurora apalagi aroma tubuh Aurora yang selalu menenangkan jiwanya.


 "Tapi di sana-"


"Biarkan, hal yang paling menyakitkan di dunia ini ketika kita menyakiti orang yang kita cintai!"


Dam ....


Hanz sudah tak bisa berkata apa-apa lagi jika sudah begini. Hanz tahu sang Jendral pernah berada di posisi itu dan ia tahu bagaimana rasanya di sakiti oleh orang yang kita cintai.

__ADS_1


Hidup sang Jendral sangatlah sulit sendari dulu kepercayaannya selalu di khianati. Keluarga dan sahabat kini ia tak mau tersakiti lebih dalam dan menyakiti dalam hal ini. Kaka tak mau gegabah karena ini hal yang pertama baginya.


"Hanz!"


"Siap Jendral!"


"Kapan kau Menikah!"


Deg ...


Hanz membulatkan kedua matanya mendengar pertanyaan itu. Bagaimana bisa ia menikah bila hidupnya selalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan urusan asmara tak pernah lagi iya pikirkan.


"Menikah lah kau sudah tua!"


Duarr...


Lagi-lagi Hanz membulatkan kedua matanya bahkan kali ini bola matanya hampir saja meloncat.


Sungguh sang Jendral sangatlah keji mentang-mentang sudah menikah sekarang memojokkannya.


Mana ada sudah tua, ia baru beranjak tiga puluh tahun sedang sang Jendral sendiri usianya sudah beranjak tiga puluh lima tahun walau Hanz tahu wajah sang Jendral awet muda dengan tubuh gagah atletis bahkan tinggi tubuhnya beda 10 cm dari Hanz.


Sang Jendral memang sempurna bahkan pesonanya tak bisa di bantah. Namun sayang hatinya terlalu dingin untuk di lelehkan dan ketika mulai meleleh hubungan mereka masih rumit dengan keadaan.


Tepatnya Aurora yang belum bisa memutuskan, hatinya masih abu-abu.


"Jendral!"


"Hm!"


"Apa Jendral tak akan memberi tahu tuan putri tentang--"


"Diam Hanz!"


Hanz langsung merapatkan bibirnya takut melihat tatapan sang Jendral yang seakan mau mengulitinya.


"Jangan sampai ada yang tahu, keadaan belum stabil!"


Ucap Kaka menatap rumit, ia harus segera menyelesaikannya.


"Lalu kapan Jendral akan kembali!"


Kaka terdiam karena itu belum terpikirkan. Harusnya dari satu Minggu yang lalu Kaka saudah kembali untuk menyelesaikan semuanya hingga tak harus bulak-balik antara Jerman dan London.


Tapi karena ada sedikit insiden Kaka memundurkan nya dan entah sampai kapan.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...


__ADS_2